
AUTHOR POV
Saat ini Adrian dan Nadine sudah berada di dalam mobil jemputan Ray setelah bertemu di persimpangan jalan besar. Nadine yang kelelahan akibat berlarian dan faktor lain-lain, langsung ketiduran di jok belakang.
"Apa kita perlu ke rumah sakit Pak?" melihat tangan Adrian yang luka-luka membuat Ray merasa nyeri sendiri.
"Enggak perlu, kita langsung ke mansion saja!"
"Ke mansion Pak? Membawa Nona Nadine?" Ray terkaget.
"Iyalah..mau bagaimana lagi! Kamu pikir saya bakal ninggalin dia? Tidak ada tempat yang aman lagi selain di mansion."
"Bukan begitu Pak, hanya saja saya memikirkan bagaimana reaksi keluarga Bapak!! Kalau Tuan Alan dan Nyonya Diana tahu, Pak Adrian membawa Nona Nadine ke mansion...pasti akan ada kehebohan nantinya."
"Biarlah mereka semua tahu. Tidak akan ada yang ditutupi lagi, saya akan perkenalkan Nadine ke keluarga saya sebagai istri."
"Bapak serius?" pernyataan Adrian semakin menambah keterkejutannya.
"Kapan saya pernah bercanda? Saya serius!" tekan Adrian.
Ray meneguk air liurnya dengan kasar. "Apakah tidak terlalu terburu-buru Pak? Nona Nadine pasti akan kaget mengetahui identitas Bapak yang sesungguhnya."
"Saya sudah memperhitungkan semuanya Ray! Hidup menyamar seperti kemarin-kemarin malah membuat Nadine dalam keadaan yang bahaya. Paling tidak, jika semua orang tahu dia adalah istri saya.. orang akan berpikir dua kali untuk mengusiknya."
"Baik Pak, saya mengikut perintah Bapak saja."
Sejujurnya ini hal yang tidak biasa terjadi. Ray agak sedikit bingung dengan perubahan sikap Adrian yang begitu signifikan. Ray merasa, jika Adrian tampak begitu perduli terhadap Nadine. Dia mulai berpikir apakah antara atasannya dengan Nona Nadine sudah timbul benih-benih suka?
Tapi balik lagi...Ray tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan pribadi mereka.
***
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam, akhirnya mereka sampai di mansion megah milik Adrian.
"Nad..bangun Nad.." Adrian menepuk-nepuk pipi halus Nadine.
Dengan mata yang masih mengerjap-ngerjap, Nadine mencoba untuk bangun dengan mengucek-ngucek matanya.
"Kita dimana?"
"Keluar dulu dari mobil, nanti saya jelaskan."
Baik Adrian maupun Nadine menurunkan kakinya untuk melangkah keluar.
"Wow...ini rumah siapa?" Nadine menoleh kearah Adrian untuk bertanya. Dia cukup takjub melihat pemandangan yang ada didepannya.
"Rumah saya."
JLEBBB....
__ADS_1
Rahang wajah Nadine turun kebawah. Dia tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Adrian. Rumahnya? Bukankah Adrian hanya seorang bodyguard? Dan rumah sederhana yang sebelumnya mereka tempati itu adalah rumah aslinya? Lalu kenapa jadi begini?
"Kamu langsung ke kantor saja Ray, wakili saya untuk rapat hari ini. Saya mau urus Nadine dulu..."
"Baik Pak, saya pamit dulu..mari Bu Nadine.." ucap Ray ramah.
Nadine menjadi kikuk. "Ehh..i-iya.."
"Kenapa Ray tiba-tiba memanggilku Ibu? Kemarin Nona..sekarang Ibu, memang aku sudah tua apa?" gumam Nadine dalam hati.
"Ayo masuk.." ajak Adrian.
Nadine menghampiri Adrian dan melingkarkan tangannya ke lengan kekar itu.
Adrian melirik ke lengannya yang dipegang oleh Nadine. "Ngapain kamu?"
"Ya ini...lagi gandeng kamu!! Kenapa emang?" Nadine sudah mulai berani dan tidak merasa canggung lagi pada Adrian.
"Siapa bilang kamu boleh pegang-pegang tangan saya begini! Jangan macam-macam, lepasin!"
"Ayolah..boleh ya, kita kan suami istri jadi sah-sah aja dong kalau gandengan begini. Lagian juga ini tempat yang baru buat aku, aku takut.." Nadine memanfaatkan wajah melasnya untuk memohon pada Adrian.
Karena sudah lelah dan tak ingin berdebat dengan Nadine lebih jauh, Adrian menurutinya saja. Kemudian, mereka berdua melenggang masuk ke dalam mansion megah itu.
Tiba di ruang tamu, para pelayan yang jumlahnya belasan sedang berdiri berjejer menyambut kedatangan Adrian.
Beberapa dari mereka memancarkan senyuman ramah nan hangat, walaupun tidak digubris oleh Adrian..yang masih kokoh mempertahankan wajah datar dan dinginnya.
"Adrian...?!!" sapa Papa Alan yang ternyata sedang menunggunya di sofa ditemani Mama Diana.
"I-iya sayang..Mama sama Papa memang mau main-main ke rumah kamu," sahut Mama Diana.
Pandangan Papa Alan dan Mama Diana tertuju pada sosok perempuan yang berdiri bersanding dengan Adrian. Mata mereka juga tak lepas dari tangan Nadine yang melingkar di lengan Adrian.
"Kalian semua bisa tinggalkan ruangan ini dan kembali bekerja" pinta Adrian pada belasan pelayannya.
Mendapatkan perintah itu, mereka langsung pamit undur diri dan bergegas menuju paviliun belakang..tempat khusus yang tersedia untuk para karyawan disini.
"Perempuan yang di sebelah kamu itu siapa Ian?" tanya Papa Alan yang merasa tak asing dengan wajah Nadine. Ia merasa mereka pernah bertemu tapi lupa dimana.
Hal yang sama berlaku pada Nadine. Dia masih ingat betul siapa pasangan paruh baya yang ada di depannya ini. Mereka adalah orang tua dari kedua gadis yang pernah ditolong Nadine saat di pantai, dan ternyata sekarang mereka menjadi mertuanya, alias orang tua Adrian.
Berarti, yang ditolongnya saat itu..adalah adik-adiknya Adrian?!!! Nadine mendadak gugup seketika.
Tak pernah terlintas di benaknya untuk berjumpa dengan mertuanya dalam situasi yang cukup canggung seperti ini. Sebelum menikah dan selama menikah, Adrian tidak pernah membahas apapun perihal latar belakang keluarganya. Setiap kali ditanya, ia selalu mengalihkan pembicaraan itu.
"Tunggu...kamu Nadine bukan? Nadine yang pernah menolong kedua putri saya saat berlibur di beach house beberapa bulan lalu?"
"I-iya..Tante..saya Nadine yang sama, yang kebetulan menolong kedua putri Tante waktu itu." lirih Nadine.
Adrian kebingungan. "Papa dan Mama mengenal Nadine?"
__ADS_1
"Iya sayang..kami pernah bertemu dengannya. Nadine itu yang menolong Fiona dan Athena dulu, kamu ingat kan?" ucap Mama Diana.
"Ada hubungan apa kamu dengan Nadine, Adrian?" Papa Alan bertanya kembali.
"Dia istriku, Pah..."
JEDARRRRR....
Bagaikan disambar petir di siang bolong, fakta yang diungkapkan Adrian membuat Papa Alan dan Mama Diana sangat terkejut. Putra sulung mereka telah menikah? Kapan, dan dimana? Mereka terus bertanya-tanya dalam lamunannya sendiri.
Tidak ada angin, dan tidak ada hujan...tiba-tiba Adrian memutuskan untuk menikah, dan tidak memberi kabar pula. Dada Papa Alan menjadi sedikit sesak tapi beliau mencoba untuk tenang.
Ditambah dengan Mama Diana yang mengelus-elus punggung Papa Alan sebagai bentuk pemberian support pada suaminya yang masih dalam mode terkejut.
"Kita duduk dulu Pah..Mah..Adrian akan jelaskan," Adrian mempersilahkan kedua orangtuanya untuk mendudukkan diri ke sofa.
"Baiklah, Papa juga tidak akan menghakimi kamu tanpa mengetahui kebenarannya terlebih dahulu."
Keheningan menyelimuti suasana di ruang tamu. Nadine yang tidak tahu harus berbuat apa, hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa berani bertatap mata pada kedua mertuanya yang sedang duduk diseberang. Tangannya menggenggam erat jari jemari Adrian, seakan-akan tidak ingin terlepas.
"Bisa tolong jelaskan pada Papa dan Mama...apa yang telah terjadi?"
Adrian melirik Nadine sejenak.
"Aku dan Nadine sudah menikah pada tanggal 5 kemarin...sekitar 2-3 Minggu yang lalu. Kami menikah di gereja sederhana, yang tidak dihadiri oleh tamu siapapun. Hanya ada Ray dan Roni, dua karyawan di kantorku, yang bertindak sebagai saksi."
Papa Alan dan Mama Diana saling menoleh satu sama lain. Pelan-pelan mereka mulai mencerna berita informasi yang disampaikan Adrian.
"Atas dasar apa kamu menikahi Nadine secara mendadak? Apa jangan-jangan..istri kamu, s-sudah..?"
"Tidak Pah..Nadine tidak sedang hamil. Pernikahan kami murni atas dasar keinginan sendiri."
"Benarkah?" Papa Alan menaruh kecurigaan besar terhadap putranya itu.
Bagaimana tidak, selama ini Adrian selalu menentang keras soal pernikahan. Berdekatan dengan perempuan saja dia alergi. Tapi sekarang, dia memutuskan untuk menikah?
"Iya Pah..Adrian sudah dewasa, inilah waktu yang tepat bagi Adrian untuk membangun sebuah keluarga dan membuka lembaran kehidupan yang baru. Adrian harap, Papa bisa menerima keputusan ini."
"Jujur, Papa merasa senang kalau kamu memang sudah menikah. Papa bahagia sekali malah! Hanya saja, Papa cukup kecewa dengan kamu yang bahkan tidak mau memberi tahu tentang pernikahan kamu pada Papa, Mama, dan adik-adik kamu.."
"Sebenci itukah kamu pada kami Adrian? Sampai-sampai hal yang besar seperti ini kamu tidak berdiskusi dengan kami sebagai orang tua! Apa kamu sudah tidak menganggap kami keluarga?" lirih Papa Alan.
Nadine semakin panik dibuatnya. Belum apa-apa, dia sudah menjadi menantu yang durhaka dan mengecewakan mertuanya.
"Semuanya terjadi begitu cepat Pah..ada satu dan lain hal yang membuat Adrian harus menikahi Nadine secepatnya. Itu sebabnya Adrian tidak melibatkan Papa dan Mama. Untuk saat ini, Adrian belum bisa cerita pada kalian secara detailnya, jadi tolong jangan memaksa," timpal Adrian.
"Sudahlah Pah..beri mereka sedikit waktu. Kalau Adrian siap, dia pasti akan cerita sama kita. Yang penting Adrian sekarang sudah menikah..Mama senang mendengarnya," tukas Mama Diana tulus.
Sepanjang hidupnya, dia selalu menantikan hal ini. Kebahagiaan Adrian selalu ada dalam doanya pada Tuhan. Dan saat ini, perlahan semua doa dan harapan itu akan terwujud.
"Pah..ada satu hal yang harus Papa tahu. Nadine ini anaknya Harun Bimantara..Papa pasti kenal kan dengan nama itu?"
__ADS_1
Papa Alan membelalakkan kedua bola matanya. Hatinya tercekat dan tangannya bergetar.
"H-Ha-Harun Bimantara...?"