Favorite Sin

Favorite Sin
GETTING RELEASED


__ADS_3

AUTHOR POV


"Kamu percaya saya?"


Nadine menimbang-nimbang ucapan Adrian. Bukan dia tak ingin percaya, hanya saja saat dia melihat pistol di tangan Adrian..hatinya menjadi goyah. Tapi kembali lagi, tak ada pilihan lain bukan selain memercayai Adrian?


Selama ini Adrian lah orang yang selalu ada sebagai penyelamat. Terlebih Adrian sudah berbaik hati dengan menanggung segala kebutuhan sandang, pangan, dan papan atas dirinya.


"Ini bukan waktunya untuk berpikir Nadine! Jika ingin kita berhasil, kuncinya kamu harus percaya sama saya."


Nadine mengangguk setuju.


"Kalau begitu kamu pegang ini!" Adrian mengeluarkan sebuah pistol kecil lagi dari kotak brankas yang menempel di dinding tadi.


"Astaga..memang ada berapa banyak didalam sana?" batin Nadine.


"T-tapi k-kk-kenapa harus? Kamu kan udah pegang...apa aku harus juga?"


"Untuk perlindungan diri. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti, jadi berjaga-jaga saja."


Sebisa mungkin Nadine menetralisir pikirannya. Ini adalah pertama kalinya dia memegang benda berbahaya tersebut dalam hidupnya.


"Yang kamu pegang itu jenis semi otomatis. Pertama-tama, kamu wajib mengecek apakah pistolnya sudah terisi peluru atau belum. Pastikan pengamannya aktif."


Adrian mulai mendemonstrasikan cara kerja penggunaan senjata yang dipegang oleh Nadine.


"Kamu lihat itu, peluru nya sudah terisi! Cara pengisian amunisinya dengan menekan tombol ini untuk melepaskan magazen-nya, kemudian masukkan selongsongnya. Kunci posisi bagian belakang dengan tombol di bagian samping. Dengan begitu pistol siap digunakan!" jelas Adrian.


"Kalau sudah, gerakkan bagian atas pistol secara mundur atau slide. Ketika hammer telah terpasang, maka tahanlah. Hammer ini akan membentuk tekanan agar peluru terdorong keluar. Tarik kokang ke belakang. Kemudian tekan pemicunya dengan jari telunjuk. Peluru akan keluar!" lanjutnya.


Meski menjelaskannya dengan tergesa-gesa, Nadine mulai mengerti apa yang harus dilakukannya. Dia sendiri adalah penggemar film action, jadi paling tidak Nadine cukup paham akan dasar-dasarnya walaupun tak pernah mempraktekkannya secara langsung.


DORRR....DORRR


BRAKKK...BRAKKK

__ADS_1


Pintu depan telah dibobol oleh penyusup yang suara grusak-grusuknya terdengar sebelumnya tadi. Bunyi tembakan demi tembakan menggema dan memenuhi seisi rumah.


"Kita akan pergi lewat pintu belakang. Ponsel dan dompetmu ada dimana?"


"Ada di saku celana jeans yang kupakai ini."


"Bagus, itu memudahkan kita untuk cepat pergi. Ayo.." Adrian menggandeng tangan Nadine.


Untuk dokumen-dokumen penting milik Nadine, tak perlu dikhawatirkan. Sebab semua itu telah disimpan di bank atas saran Adrian. Sehingga ketika ada situasi mendesak seperti ini, mereka bisa langsung pergi.


Derap langkah kaki keduanya sengaja dipelankan. Mereka berdua merayap-rayap di tembok bagaikan cicak. Tak banyak yang bisa mereka lakukan karena saat ini posisinya terkepung.


"Adrian aku takut..." mata Nadine berkaca-kaca. Dari genggaman tangannya, Adrian bisa tahu jika Nadine gemetaran.


Adrian menangkup wajah Nadine. "Hey..look into my eyes..we can do this!" (Lihat mataku...kita bisa melakukan ini!)


Seperti mendapat suntikan semangat, Nadine mengangguk-anggukan kepala setelah Adrian meyakinkan dirinya. Tangan keduanya kembali bertaut, dan kini semakin erat.


Aksi mengendap-endap yang mereka lakukan akhirnya menuntun mereka sampai di pintu belakang, tanpa harus terlihat oleh para penyusup.


Nampaknya, jalannya pelarian mereka tidak terlalu mulus. Para penyusup yang mengepung rumah mereka tadi sekarang balik mengejar mereka di belakang. Begundal-begundal itu tak menyerah mengejar Adrian dan Nadine.


Jika bos mereka tahu bahwa tangkapannya kabur dan terlepas, maka mereka tidak akan bisa tidur nyenyak. Siap-siap terkenal amukan dan tak mendapat kompensasi.


"Hoy.. percuma kalian berdua lari...pasti gue bakal tangkap, hahahahaha!!!"


Ancaman yang terlontar dari mulut mereka membuat Nadine semakin panik. Bagaimana jika itu kenyataan? Jumlah mereka semakin banyak.. melawan pun tak akan mampu. Pasti akan kalah jumlah!


"Mau lari kemana hah? Buru-buru banget?"


Ketakutan Nadine terjadi juga. Para penyusup akhirnya menghadang mereka. Masing-masing dari mereka membawa senjata yang ditodongkan ke arah Adrian dan Nadine.


"Apa mau kalian?" Adrian memasang wajah dinginnya, sedangkan Nadine yang ketakutan semakin mengeratkan pelukan di lengan Adrian.


"Serahkan flash disk dan hard disk milik Harun pada kami..."

__ADS_1


Suasana berubah hening. Tak ada satupun orang yang berbicara.


"Gue bukan patung! Jawab!!!" teriaknya sambil menekan-nekan ujung pistol ke pelipis Adrian.


Lagi-lagi Adrian tak menggubrisnya. Tekanan yang diberikan mereka sama sekali tak mempengaruhinya. Dia sengaja untuk memancing amarah mereka. Membiarkan mereka untuk terus berbicara tanpa menjawab satu pertanyaan pun.


Mereka pikir mereka siapa? Adrian bukanlah pria bodoh yang dengan mudahnya memberikan flashdisk dan hardisk itu pada musuhnya walau dalam keadaan terpojok sekalipun. Lagipula..keberadaan benda rahasia itu telah diamankan di tempat lain. Dia tak memegangnya sekarang.


Komplotan penjahat itu saling menoleh dan berbisik-bisik. Mereka seperti merencanakan sesuatu agar Adrian dan Nadine tidak bungkam. Keadaan itu dimanfaatkan oleh Adrian dengan baik.


Dengan gerakan cepat, Adrian menampik senjata yang dipegang oleh musuh dan berbalik menghajar mereka. Nadine yang mencari aman, memilih untuk menghindarkan tubuhnya dari pertikaian itu.


Nadine merasa tidak berdaya. Ia hanya bisa melihat keributan didepan mata tanpa bisa ikut membantu.


Satu persatu, penjahat-penjahat itu mulai berjatuhan. Adrian mampu melumpuhkan mereka semua dengan tangan kosong. Ada yang pingsan, luka-luka, bahkan ada juga yang patah tulang. Entah dari mana kemampuan bela diri yang dimilikinya sampai membuat Nadine begitu impresif.


Saat Adrian mengira bahwa semuanya sudah berakhir, tiba-tiba dari arah belakang ada yang ingin menusuk punggungnya dengan pisau belati.


Nadine yang memperhatikan itu dari kejauhan langsung memiliki inisiatif untuk mengambil batangan kayu yang tersedia didekatnya. Dengan keras ia layangkan pukulan itu pada musuh...


BUGHHH..BUGHHH....


Akibat pukulan maut Nadine yang bertubi-tubi, orang itu terkapar lemah hingga kepalanya mengeluarkan darah.


"That was a good shot.!!" (itu pukulan yang bagus) puji Adrian yang berkacak pinggang sembari mengatur nafasnya.


PRAKKK...


Batangan kayu itu terlepas dari tangan Nadine.


"Apa aku baru saja memukulnya?!" tanya Nadine tak percaya.


"Ayo pergi sekarang!"


Tanpa lelah sehabis berkelahi, Adrian menarik tangan Nadine dan menggandengnya untuk berlari cepat. Dia sungguh mengabaikan luka-luka sayat di lengannya.

__ADS_1


Kali ini, tak ada satupun orang lagi yang mengikuti langkah mereka di belakang. Semua penjahat itu habis tak tersisa. Rasa lega menghampiri Nadine, paling tidak untuk saat ini..karena dia tak tahu apa yang akan mereka hadapi kedepannya.


__ADS_2