
AUTHOR POV
Akhir pekan ini, Nadine menyempatkan diri pergi ke supermarket untuk belanja bulanan dan keperluan sehari-hari. Bisa saja sebenarnya jika ia menyuruh pelayan di rumahnya, tapi dia tidak mau.
Nadine ingin refreshing sekalian, karena sedang bosan di rumah. Kesibukan Adrian di kantor membuatnya jarang bisa mengajak Nadine bepergian kemana-mana.
"Makasih ya Jun, kamu sudah mau antar Kakak hari ini. Harusnya sama bodyguard aja cukup kok.." ujar Nadine.
Di belakang sudah ada 4 bodyguards yang mengekorinya untuk mengawal.
"Enggak bisa Kak, bahaya kalau Kak Nadine belanja sendirian meski ada bodyguard. Musuhnya Kak Ian itu dimana-mana, sangat riskan kalau membiarkan kakak pergi tanpa pengawasan!" balas Arjuna.
"Suami kakak yang galak itu nanti akan mengomeli aku dan adik-adik kalau sampai kita kecolongan!" tukas Arjuna lagi.
Adrian awalnya tidak setuju Nadine pergi keluar karena alasan keamanan dan juga kehamilannya. Tapi karena Nadine ngotot memaksa, akhirnya Adrian mengirimkan Arjuna yang sedang libur kuliah untuk menemani Nadine berbelanja. Dengan begitu ia akan sedikit tenang.
Nadine terkekeh pelan mendengar celotehan Arjuna. "Adrian itu curang! Harusnya dia tuh yang temani kakak, dia kan suami kakak. Tapi malah kamu yang repot."
"Enggak apa-apa Kak, lagipula aku mana tega...lihat Kak Nadine lagi hamil terus pergi sendirian."
Nadine berdehem. "Andai aja Adrian itu bisa bersikap so sweet seperti kamu ini, mungkin kakak akan jadi wanita paling bahagia deh kayaknya!"
"Kak Ian itu memang spesies yang beda! Dia itu sedikit antipati kalau disuruh nge-treat wanita dengan perlakuan manis. Sikapnya yang dingin dan cuek seperti sudah mendarah daging..hahahaha!" Arjuna melontarkan candaan seraya mendorong trolley.
"Hebat Kak Nadine bisa betah sama Kak Ian yang setiap hari wajahnya serius dan tegang kaku begitu!"
"Kakak udah biasa Jun, udah kebal sama sikap kakakmu yang nyeleneh itu!" timpal Nadine.
"Nih ya Kak, Kalau itu perempuan lain, mungkin udah kabur duluan kali! Kak Ian kan seram..mantannya dulu aja berkali-kali kabur dan putus nyambung sama Kak Ian karena enggak betah dengan hubungan tanpa status!" celetuk Arjuna kembali.
Nadine melirik Arjuna dan sedikit berpikir. "Oh ya? Kakak baru tahu. Adrian soalnya jarang ngomongin soal Naomi sama aku."
Arjuna seketika sadar jika kelepasan berbicara. Tak seharusnya dia membawa nama Naomi dalam pembahasan mereka. Arjuna takut Nadine tersinggung dan salah-salah cemburu.
"Ehh..maaf Kak, aku gak bermaksud!" Arjuna pura-pura menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Santai aja Jun, itu kan masa lalu. Naomi sudah tenang diatas sana, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Justru Kakak senang kamu mau cerita, kadang aku tuh suka penasaran. Adrian terlalu misterius!" ucap Nadine seraya memasukkan dua buah box sereal dari merk kesukaannya.
"Enggak banyak juga sih sebenarnya yang aku tahu. Kak Naomi tidak begitu dekat sama kita, beda dengan Kak Nadine yang bisa langsung masuk di circle keluarga. Enggak pernah dikenalin, enggak pernah dibawa ke rumah atau acara-acara besar, pokoknya statusnya rahasia."
"Intinya dulu mereka itu menjalani hubungan tanpa status dalam jangka waktu lama karena Kak Ian menolak menikah." Arjuna menjeda ucapannya.
"Dibilang pacaran itu iya, tapi disisi lain enggak juga. Belum lagi problem Kak Ian dengan mental health-nya, Naomi sempat kabur dan menolak untuk menerima kekurangan Kak Ian. Pokoknya hubungan mereka itu enggak jelas dan toxic!" lanjut Arjuna lagi.
__ADS_1
Nadine menyipitkan matanya. "Rumit juga ya hubungan mereka! Endingnya juga tidak bersama."
"Ya iya, karena jodohnya Kak Ian ternyata adalah wanita cantik disampingku." Adrian menaik-naikkan alisnya menggoda Nadine.
Nadine menggeleng sambil menepuk pundak Arjuna. "Apasih kamu! Bisa aja deh gombal! Ikut-ikutan Arga pasti!"
"Ih serius Kak, Kak Nadine itu cantik. Makanya Kak Ian luluh sampai memutuskan mau nikah! Kita sekeluarga waktu itu kaget banget karena tiba-tiba Kak Ian pulang bawa istri, tapi ya enggak apa-apa juga kalau dia bahagia."
"Seheboh itu ya memangnya?" Nadine tertawa kecil. "Enggak salah juga sih, soalnya kita nikahnya emang mendadak."
"Kak Nadine dapat jurus jitu dari mana bisa menaklukkan Kak Ian? Dia itu padahal enggak mau nikah dan punya anak lho. Eh sekarang malah udah ada istri, plus ada baby on the way di perut!"
"Rahasia hidup enggak ada yang tahu Jun, emang udah jalannya begitu."
Gelak tawa menguar dari mulut keduanya. Percakapan mereka dilanjutkan dengan berbagai pembahasan lain-lain yang tergolong random sembari memilih-milih barang yang hendak dibeli.
Nadine dan Arjuna begitu hanyut dalam obrolan hingga tak sadar jika dari seberang lorong supermarket, tampak ada dua orang perempuan dan laki-laki yang mengamati interaksi antara keduanya.
"Kak, aku mau kesana dulu ya cari biskuit dan snack kesukaanku dan Athena. Rasanya enak banget, Kakak harus cobain nanti!"
"Iya, Kakak tunggu disini aja.." Nadine mengangguk.
Tak lama setelah Arjuna melipir menuju lorong sebelah untuk mencari snack kesukaannya, tiba-tiba saja Nadine dikejutkan oleh kehadiran Adrian yang baru saja datang dari belakang.
Fuhhh..
"Astaga Tuhan!" Nadine menjatuhkan barang yang dipegangnya. "Kamu bikin kaget aja tahu enggak! Aku pikir siapa tadi!" Nadine mengelus-elus dadanyaa yang berdegup kencang.
Bukan tanpa alasan Nadine kaget. Banyaknya musibah kejahatan yang menimpa mereka, membuat Nadine agak sedikit parno.
Adrian sendiri hanya membalasnya dengan tersenyum jahil sambil menyeringai lalu mengecup kening Nadine sekilas.
"Kamu ngapain ada disini? Bukannya ada meeting ya?" tanya Nadine memiringkan kepalanya.
"Kamu tidak suka aku datang?" Adrian dengan tampilan formalnya sedang berdiri gagah di hadapan Nadine. Kedua tangannya dimasukkan ke kantong celana.
Nadine mengulum senyumnya seraya memegangi luar pinggir jas Adrian. "Ya senang lah! Senang banget malah, I'm beyond happy that you're coming. Cuman ya...aku enggak expect kamu sampai nyusul kesini!"
"Meeting-nya sudah selesai. Makanya aku bisa menghampiri kamu kesini." Adrian mengedarkan pandangannya menengok kanan-kiri. "Arjuna mana? Kenapa dia tinggalkan kamu sendiri?"
"Dia ada di lorong sebelah, ambil snack katanya...sebentar lagi juga balik!"
"Tetap saja, harusnya kamu ikut sama dia dan tidak sendirian begini!"
__ADS_1
"Kan ada bodyguards 4 orang di belakang, apa masih kurang?"
"Bodyguards jaraknya tidak terlalu dekat dengan kamu. Mereka mengawasi dari jauh agar tidak menarik banyak atensi. Beda dengan Arjuna yang memang harus dekat kamu." Adrian membuang muka dan berdecak kesal.
Pucuk dicita ulam pun tiba, Arjuna yang sedang dibicarakan datang mendekat dengan membawa belasan snack dan biskuit yang diraup dengan kedua tangan.
"Waahhh...ada angin apa nih Kak Adrian ikut nyusul! Tumben Kak?" ucap Arjuna.
"Dari pada banyak bicara, lebih baik kamu masukkan dulu itu makanan ke dalam troli. Kalau jatuh bisa remuk semua nanti!" tukas Adrian.
"Datang-datang sudah mengomel aja nih! Iya ini lagi dimasukkin!" Arjuna bersungut dan langsung menaruh beberapa snack yang dipegangnya ke troli dorong.
"Dibayar belanjaannya sekarang. Kita harus segera pergi dari tempat ini," ucap Adrian tegas.
"Kenapa? Aku belum selesai, ini masih separuh jalan lho. Aku belum beli stok peralatan untuk mandi!" balas Nadine.
"Masih bisa kembali besok. Atau biarkan pelayan di rumah saja yang belanja kalau ada yang kurang. Kamu ini sedang hamil, tidak baik jika terlalu letih." wajah Adrian berubah serius.
"Tanggung Adrian...ini mumpung sekalian disini!" rengek Nadine.
Adrian menyanggah, "Nurut Nadine, aku tidak akan mengulanginya lagi. Pulang sekarang,"
Adrian memerintahkan salah satu bodyguard-nya untuk membawa troli belanjaan Nadine ke kasir dan membayarnya. "Biar dia saja yang urus belanjaan kamu, kita langsung ke parkiran sekarang."
Melihat gerak-gerik Adrian yang sedikit mencurigakan, Arjuna dapat menyimpulkan jika ada yang tidak beres disini. Pasti ada sesuatu yang menyebabkan Adrian tiba-tiba datang menyusul ke supermarket.
Arjuna tahu betul bahwa Adrian tidak mungkin repot-repot begini kalau itu hanyalah hal biasa. Adrian tipe orang yang suka bergerak cepat dalam mengatasi masalah yan menyangkut urusan keluarga atau orang yang disayanginya.
Dengan langkah cepat, Adrian menggandeng tangan Nadine keluar dari supermarket, dengan Arjuna yang mengekor di belakang bersama ketiga bodyguards. Ketiganya berjalan beriringan dengan kepala menunduk atas perintah Adrian agar tidak dikenal publik.
"Adrian, apa kamu mau jujur sama aku...ada apa ini? Kenapa kita harus keluar dengan cara seperti ini?" tanya Nadine ketika mereka semua sudah masuk ke dalam mobil selamat.
"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Yang terpenting adalah keselamatan kamu. Tadi di dalam supermarket, ada dua orang yang mengintai kamu dan Arjuna."
"Siapa Kak?" Arjuna penasaran.
"Valerie dan Sean, mantan kekasih Nadine." jawab Adrian. "Bodyguards kita yang melaporkannya padaku, makanya aku langsung datang menjemput kalian."
Nadine menarik napasnya dalam-dalam dan menyandarkan tubuhnya ke belakang jok. "Kenapa sih mereka masih menganggu!"
"Mungkin Sean sakit hati karena melihat kebahagiaan kalian berdua Kak, bukankah Sean sangat mencintai Kak Nadine terakhir yang kudengar? Valerie juga masih mencintai Kak Ian!" Arjuna berspekulasi.
Teori Arjuna terdengar masuk akal. Valerie dan Sean adalah kumpulan barisan sakit hati karena tujuan mereka yang tidak tercapai. Valerie tidak bisa mendapatkan cinta Adrian, begitupun juga Sean.
__ADS_1
Terakhir kali, Valerie sempat datang ke rumah Mama Diana sambil menangis memohon maaf. Nyatanya itu hanyalah bualan semata, alias air mata buaya.
Sedangkan Sean, tentu dia akan menuntut balas dendam setelah Adrian menjebloskan ayahnya--David, ke dalam penjara dan membangkrutkan bisnis keluarganya.