
AUTHOR POV
Sekitar satu jam yang lalu, Adrian berkata pada Nadine bahwa malam ini dia akan lembur untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Maka dari itu, Nadine berinisiatif membuatkan secangkir kopi espresso favorit Adrian agar tidak mengantuk.
Dan disinilah Nadine berada sekarang, tepat di depan pintu ruang kerja Adrian untuk mengantar kopi tersebut beserta makanan pendampingnya.
"Hi...good evening!!" sapa Nadine ceria sambil membawa nampan panjang.
Adrian sontak menoleh pada sumber suara tersebut. "Evening too...kamu belum tidur?"
Nadine menggeleng. "Belum mengantuk. Aku tadi tidur siang, jadinya melek deh sekarang!"
"Bawa apa itu?" selidik Adrian penuh tanya. Pasalnya dia tidak memesan apa-apa untuk dibawa ke ruangan.
"Nih, aku sudah buat espresso spesial untuk kamu. Diminum ya..." Nadine meletakkan secangkir kopi tersebut diatas meja Adrian. "Ada strawberry cheesecake juga..tadi waktu dinner kamu enggak makan dessert!"
"Aku tidak terlalu suka makanan manis, Nadine.."
"Shttt..sekali-kali coba! Ini aku yang buat sendiri lho, kamu harus apresiasi dong! Cicipin aja sedikit..."
"Memangnya tidak ada pelayan di dapur sampai harus kamu semua yang buat sendiri?!" Adrian tidak suka jika Nadine terlalu kelelahan karena terlalu banyak beraktivitas.
Minggu lalu saja, Adrian sampai memasang lift di rumahnya agar Nadine bisa naik-turun dengan aman dan nyaman.
Pikir Adrian, dia sudah menggaji para pelayan dan koki pribadi di mansion dengan biaya yang tinggi untuk mengerjakan semua urusan rumah tangga. Seharusnya, Nadine tidak perlu direpotkan.
"Ada...mereka bantuin aku kok tadi! Tapi dikit-dikit, karena emang akunya aja yang sengaja ingin buat cake spesial untuk kamu dengan tanganku sendiri," balas Nadine.
"I'm flattered." Adrian merespon singkat.
Pancaran senyum manis mengembang di bibir Nadine. "Of course you are.."
"Come here..." Adrian menepuk-nepuk pahanya, meminta Nadine agar duduk diatas pangkuannya.
Dengan senang hati Nadine tak menolak dan langsung mendudukkan diri menyamping diatas paha sang suami seraya mengalungkan lengannya pada tengkuk leher Adrian. Tangan Adrian bergerak terulur untuk mengelus perut Nadine yang tampak mulai membuncit. Hati Nadine selalu damai, saat Adrian melakukannya.
"Soal Sean dan Valerie kemarin bagaimana? Sudah ada perkembangan? Kenapa bisa mereka menguntit aku dan Arjuna di supermarket?"
__ADS_1
"Pergerakan mereka sejauh ini belum terbaca. Tidak tahu motifnya apa, tapi mungkin saja Arjuna benar. Mereka berdua ingin balas dendam padaku," ungkap Adrian jujur.
Balas dendam.
Dua kata yang membuat Nadine selalu gelisah. Tidak bisakah ia dan keluarga kecilnya hidup tenang tanpa adanya embel-embel orang yang berniat jahat? Itu tidak mungkin.
"Hey..aku sudah minta anak buahku untuk mengintai mereka beberapa hari belakangan. Kamu tidak usah khawatir, aku bisa atasi Valerie dan Sean. Tidak akan kubiarkan dia mendekat pada kita walaupun itu satu inci saja. Aku pastikan itu," ujar Adrian untuk menghapus keraguan Nadine.
"Aku percaya kamu." Nadine tersenyum masam dan berdehem. "Hmm..ini kerjaan kamu belum selesai? Udah jam 10 loh, enggak mau dilanjut besok aja?" tanya Nadine.
"Tanggung, sebentar lagi pasti selesai kok. Cuma tinggal input laporan keuangan saja. Karyawan akuntan di kantor sedang ada problem, jadi harus aku yang handle." curhat Adrian.
Nadine menyugar rambut lebat hitam Adrian ke belakang. "Kamu jangan capek-capek ya, nanti sakit lho kalau terlalu memaksa!"
"Harusnya itu buat kamu. Lagi hamil aja, kamu tidak bisa diam! Dikit-dikit ke dapur, bikin kue, bikin ini itu, terus berkebun sampai lupa waktu & lupa minum vitamin!" cibir Adrian.
"Ya habis aku enggak ada kerjaan di rumah! Yang bisa aku lakuin cuman itu. Kamu sih pake ngelarang aku ngapa-ngapain!" protes Nadine balik.
"Itu karena kamu lagi hamil Nadine, anak kembar pula!" Adrian mengingatkan.
Dokter kandungan pribadi Nadine mengatakan jika keduanya akan memiliki bayi kembar. Padahal saat Nadine opname dan melakukan check-up pertama di Rio, kantung janinnya hanya terlihat satu waktu USG. Begitupun juga dengan check-up kedua di LA yang menunjukkan hasil sama.
Hal ini tentu membuat Adrian shock dan lemas dibuatnya. Ekspresi wajahnya sulit untuk diartikan kala itu. Menjadi seorang ayah anak satu saja sudah membuatnya ketar-ketir, apalagi anak dua?!
Pasca mengetahui informasi tersebut, Adrian bahkan mengalami serangan panik dan sering mengigau saat tidur malam selama semingguan penuh. Mimpi-mimpi buruknya kembali muncul berdatangan menghantuinya.
Banyak hal yang menjadi sasaran pelampiasan Adrian. Seperti duduk termenung di balkon sambil merokokk atau melepaskan emosinya dengan semalam suntuk berada di ruang gym untuk boxing. Yang paling parah, Nadine pernah mendapati Adrian beberapa kali renang saat tengah malam. Ajaib bukan?
Berbeda dengan Nadine yang bersikap santai dan menerima takdir. Dia tak masalah mau hamil kembar atau tidak. Yang terpenting, bayinya sehat-sehat saja. Itu sudah lebih dari cukup. Secara mental dan fisik, Nadine bertekad untuk mempersiapkan semuanya dengan matang saat lahiran nanti.
Lambat laun Adrian sudah mulai bisa menerima fakta kehamilan kembar Nadine sekarang. Dia berusaha keras untuk melawan rasa takutnya dengan melakukan terapi yang didampingi oleh psikiater khusus juga dukungan moril dari keluarga dan Nadine.
"Aku itu sebenarnya bosan tahu, kamu selalu nyuruh aku di rumah terus..tapi kamunya sibuk, enggak pernah ajakin aku jalan-jalan!" Nadine menggerutu.
"Emang kamu mau pergi kemana?" tanya Adrian yang sedang mematikan laptop-nya.
"Aku sih terserah kemana, yang penting perginya sama kamu!"
__ADS_1
"Bagaimana kalau candle light dinner? Kita ke restoran favorit kamu besok?" tawar Adrian.
Nadine menepuk pelan pundak Adrian. "Kalau dinner kan di rumah juga bisa! Setiap hari di meja makan juga konsepnya table setting!"
"Kamu sendiri yang tadi bilang terserah?"
"Ya jangan dinner ke restoran juga, kan udah sering. Kita ke luar negeri lagi aja yuk, kita babymoon!" Nadine memainkan kedua alisnya naik-turun.
Adrian menggeleng dan berdecak. "Aku sibuk Nadine. Mana bisa merencanakan liburan dalam waktu dekat? Lagipula kamu sendiri yang bilang kalau kamu mau merayakan Natal dan Tahun Baru bersama keluargaku, jadi buat apa ke luar negeri?"
"Tapi aku pengen...kita aja pas menikah juga belum honeymoon! Please ya...aku mau liburan! Masih ada waktu 2 bulanan lagi sebelum perayaan Natal," rengek Nadine dengan tatapan puppy-eyes andalannya.
Adrian mendengus pelan menahan kesabarannya. "Fine, kamu mau ke negara apa?"
Mata Nadine memancarkan binar-binar kebahagiaan setelah Adrian menuruti permintaannya. "Spanyol & Italia seru kayaknya, aku pengen kesana!"
"Yakin ke luar negeri? Tidak mau yang lokal atau liburan di tempat yang dekat-dekat saja?" Adrian mencoba bernegosiasi.
"Nope, biar sekalian aja kita liburan yang jauh!"
Tampaknya Nadine masih tetap pada pendiriannya yang ingin liburan jauh. Kalau sudah keras kepala begini, Adrian tidak bisa menolaknya. Jika tidak dikabulkan, maka Nadine akan menangis dan berdrama sendiri didalam bathtub seharian.
"Okay. Tapi, sebelum berangkat nanti kamu wajib check-up kandungan. Karena kita travelling pas kamu lagi hamil. Aku tidak mau ambil resiko. Andai kata dokter tidak mengizinkan kamu untuk terbang, maka terpaksa kita batalkan atau staycation saja. Deal?"
"Thank you so much baby!" Nadine mengecupi seluruh wajah Adrian berulang-ulang hingga membuatnya sesak.
"Berhenti melakukan itu Nadine, aku tidak bisa bernafas!" keluh Adrian yang sedikit menjauhkan bibir Nadine dari wajahnya.
"Aku kelewat happy, makanya jadi excited begini!" sahut Nadine dengan nada riang. "Biasanya juga kamu suka kalau aku ciumm!"
Adrian membuang muka sejenak kemudian berkata, "Aku akan minta Ray untuk mengurus visa dan mengatur perjalanan kita selama di Spanyol dan Italia. Dan, sepertinya aku juga harus reschedule jadwal kerja dan meeting aku untuk beberapa hari ke depan."
"Okay...holiday, we're coming!!!!" pekik Nadine semangat.
Hati Nadine sungguh berbunga-bunga saat ini. Tidak ada satupun kata yang mampu menggambarkan perasaannya. Keinginan untuk pergi berlibur berdua dengan Adrian akhirnya kesampaian juga.
Sebenarnya momen liburan ini akan Nadine manfaatkan untuk menghabiskan waktu berdua saja dengan suami. Sesekali Nadine ingin memiliki quality time dengan Adrian, bermanja-manja atau beromantisan agar hubungan keduanya senantiasa rekat dan berkembang.
__ADS_1
***