
AUTHOR POV
"Aku akan pergi ke Vegas dalam waktu dekat." ungkap Adrian blak-blakan yang membuat kedua bola mata Nadine melotot tajam.
"Apa? Kamu mau ke Vegas?" sentak Nadine kaget. Ada apa disana? Apa tujuannya? Nadine bertanya-tanya dalam hati.
"Jangan berteriak Nadine, kita sama-sama lagi menggendong anak-anak. Suaramu itu bisa membuat mereka terkejut!" Adrian tak menggubris istrinya yang emosinya sedang meletup-letup. Pandangannya fokus pada putra sulungnya yang sedang didekapnya saat ini. Pipi gembul Kian lebih menggoda untuk dimainkan.
Sembari menggendong Kai dan menimang-nimang Nadine berkata, "Tatap aku Adrian, kita sedang berbicara! Jawab aku, kenapa kamu mau ke Vegas?!"
"Hmm..aku mau mengejar Kelvin." sahut Adrian santai.
"Kamu sudah gila?" Nadine sekali lagi memastikan apakah Adrian benar-benar akan pergi ke Vegas.
"Tidak. Aku masih sadar sesadar-sadarnya."
Detik berikutnya, Adrian meletakkan baby Kian kembali ke stroller-nya. Hal yang sama dilakukan Nadine. Kai juga ikut dibaringkan pada bagian sisi sebelahnya.
Sebelumnya keduanya pernah membuat kesepakatan untuk tidak akan berdebat ataupun bertengkar di hadapan anak-anak. Sekalipun twins masih belum mengerti apa-apa.
Sumpah demi apapun, Adrian tidak akan pernah membiarkan anak-anaknya melihat dirinya meninggikan suara pada ibu mereka.
"Let's say kamu pergi ke Vegas, terus kamu dengan gampangnya mau tinggalin aku disini? We've just had babies...Adrian! Umur mereka masih tiga bulan dan kamu dengan entengnya mau pergi ke luar negeri seenaknya? Jangan egois kamu!" cerocos Nadine panjang lebar.
"One step closer Nadine...one more step, aku akan menangkap Kelvin dan kita sekeluarga bisa hidup tenang."
"Apa kamu enggak bisa suruh orang lain aja?" pinta Nadine memohon. Matanya menunjukkan puppy eyes.
Adrian balas menggeleng. "Tidak bisa, Nad. Kelvin mengadakan turnamen poker di salah satu kasino yang terletak di pinggiran kota Vegas. Dia terlibat dalam kasus penggelapan dana investor disana. Satu-satunya cara agar aku bisa menjebloskan dia ke jeruji besi hanya dengan ikut serta dalam turnamen tersebut. No one plays poker better than me, dan kamu tahu itu."
"Tap--" Nadine ingin melanjutkan kata-katanya namun tidak jadi karena suara smartphone milik Adrian menginterupsinya.
Drtt...drtt...
Papa Alan menelpon. Adrian buru-buru mengangkatnya siapa tahu penting.
📱
"Halo Pah..?"
__ADS_1
^^^"Halo Adrian...Opa kamu sakit, beliau meminta semua anggota keluarganya berkumpul di rumahnya sekarang. Kamu datang kesini ya.."^^^
"Besok saja Pah aku kesana..sekarang aku masih repot dengan si kembar."
^^^"Tolong nak..kamu kesini saja ya, Papa minta tolong sebentar. Opa kamu ingin bertemu. Bawa Nadine sekalian sama baby Kian dan Kai. Nanti Mama dan adik-adikmu akan bantu jaga mereka. Papa akan siapkan kamar supaya baby kamu bisa istirahat di rumah Opa.^^^
"Baiklah, tunggu kalau begitu."
^^^"Terima kasih ya, Papa tunggu kehadiran kalian."^^^
Percakapan telepon terhenti.
"Papa kenapa? Ada masalah?" tanya Nadine penasaran. Sedikit yang ia tahu, tadi itu pasti Papa mertuanya yang menelpon.
"Opa sakit. Papa minta aku untuk datang ke rumah beliau sekarang juga." jawab Adrian.
Nadine menutup mulutnya dengan tangan karena terkejut dan ikut prihatin. "Memangnya Opa sakit apa?"
"Entahlah, Papa tidak memberitahukan detailnya padaku. Mungkin saja karena gula darahnya Opa naik. Beliau kan punya riwayat diabetes." Adrian menjelaskan. "Kamu ikut aku ya, aku tidak bisa meninggalkan kamu sendiri disini. Hati aku tidak tenang."
Nadine menurut. "Iya, aku tidak masalah kalau ikut. Lagipula Opa kan belum pernah bertemu dengan twins. Sekalian saja pertemuan nanti jadi ajang untuk memperkenalkan keduanya."
"Kenapa begitu?" Nadine menatap suaminya menyelidik.
Adrian menghela nafasnya kemudian bergerak mendekat untuk meraih tangan Nadine. "Percayalah Nad, di rumah Opa nanti akan ada banyak orang-orang yang tidak suka denganku hadir. Mulai dari Om Farhan, Tante Mawar, Timo, dan lain-lain. Mereka punya ambisinya masing-masing."
Nadine bertanya, "Ambisi apa maksud kamu? Bukankah kita hanya murni menjenguk Opa? Kenapa urusannya jadi merembet ke yang lain?"
"Ini bukan sekedar tentang membesuk Opa yang sakit. Pasti mereka akan membahas tentang pembagian warisan Natadipura Group. Itu sebabnya kenapa aku diminta datang. Aku kan jarang sekali ikut pertemuan keluarga. Sekalinya mereka menuntut aku untuk datang, maka ini adalah hal yang penting," raut wajah Adrian berubah serius.
"Aku hanya takut ada makanan atau minuman yang diracun. Salah-salah kita mati muda. Tak ada yang pernah tahu bagaimana pikiran orang bukan? Semua harus diantisipasi," lanjutnya lagi.
Nadine menjadi ketar-ketir. Konspirasi apa lagi kali ini? Menjadi bagian dari keluarga pesohor seperti Natadipura memanglah tidak semudah yang dibayangkan.
Bergelimangan harta tak membuat individu didalamnya bisa hidup tenang. Setiap harinya, akan ada bahaya yang selalu mengancam setiap saat. Waspada adalah kunci utamanya.
"Kalau membahas tentang warisan, bukankah ini akan lebih berdampak ke adik-adik kamu? Mereka kan pewaris Natadipura Group selanjutnya setelah Papa Alan turun takhta kepemimpinan. Kamu sudah punya Adrian Corps, seharusnya kamu lepas tangan soal ini kan?" Nadine mengeluarkan asumsinya.
"Jika terbukti ada keluargamu yang berniat jahat, maka yang harus dipikirkan itu ya keselamatan Mama, Papa dan adik-adik. Mereka lebih perlu perlindungan dari kamu, Adrian.." ucap Nadine lirih.
__ADS_1
Adrian menyibak helaian anak rambut Nadine yang menutupi matanya sebelum lanjut berbicara. Pagi ini angin lumayan berhembus kencang.
"Aku pasti akan lindungi mereka tanpa harus diminta, Nad. Tapi ini tidak begitu konsepnya. Aku berani jamin seratus persen kalau adik-adik Papa tidak akan mencelakai mereka. 35% aset Natadipura Group itu masih atas nama Papa yang sudah dihibahkan ke Mama dan Adik-adik. Bahkan Arjuna ada kepemilikan 5% saham disana sebelum di hibah."
"Mereka tidak mungkin macam-macam, karena kalau mau akuisisi pasti butuh tanda tangan kita sekeluarga. Beda sama aku, yang bisa terancam setiap saat. Aku punya aset sendiri yang nilainya jauh lebih tinggi dari Natadipura Group, dan semuanya belum dipindah nama."
"Dipindah nama? Untuk apa?" Nadine menerka-nerka kemana arah pembicaraan pria dihadapannya ini.
"Aku akan mewariskan seluruh harta kekayaanku untuk kamu dan anak-anak kita. Bahkan aku berencana balik nama sertifikat mansion menjadi namamu dan membuat wasiat untuk berjaga-jaga. Sayangnya rencana itu belum terealisasi karena aku masih repot."
"Opa punya ambisi untuk merger perusahaan Natadipura Group dengan Adrian Corps sejak lama. Aku yang selalu menolak. Katakanlah jika aku celaka atau meninggal dunia, maka semua asetku berpotensi untuk jatuh ke tangan Keluarga Natadipura. Apalagi aku belum mengurus pemindahan asetnya. Itu sebabnya aku, kamu, dan anak-anak bisa dijadikan sasaran empuk." jelas Adrian panjang lebar.
Kali ini Nadine mulai mengerti pola permainannya. Ucapan suaminya itu terasa masuk akal di telinganya sekarang.
"Kamu sudah sarapan kan tadi?" tanya Adrian.
"Sudah." jawab Nadine singkat.
"Bagus kalau begitu. Nanti sebelum berangkat kita mampir saja dulu beli kue, buah atau makanan apapun yang bisa di takeaway untuk bekal kamu. Setahuku ibu menyusui itu mudah lapar dan butuh banyak asupan. Jadi jangan sampai perut kamu kosong," Adrian mengingatkan agar Nadine tak melewati jam makannya.
Diam-diam dia sering memergoki istrinya itu mengurangi porsi makan karena takut gendut. Padahal Adrian tidak pernah mempersoalkan itu. Baginya tak masalah mau bentuk tubuh Nadine seperti apa. Ramping, zigzag, kotak-kotak. Adrian tetap cinta.
"Hmm..iya boleh..." sahut Nadine lagi.
Akhir-akhir ini selera makan Nadine memang sedang tinggi-tingginya. Sedikit-sedikit lapar dan dia kerap mengkonsumsi berbagai keripik camilan namun masih dalam kategori sehat.
Berat badan Nadine bahkan sampai belum kembali normal pasca melahirkan twins. Mengandung bayi kembar membuat berat tubuhnya agak naik drastis. Perasaan insecure mulai menggerogoti dirinya.
"Aku siap-siap dulu ya..mau gantiin baju twins sekalian mengemasi beberapa barang mereka yang mau dibawa," ucap Nadine sambil mengusap-usap dada bidang Adrian dengan penuh kelembutan.
"Iya..minta tolong sama Bibi Magda atau Sinta untuk dibantu. Aku gaji mereka bukan hanya untuk diam saja!" tegas Adrian.
"Iya..iya..tapi ingat, perbincangan kita soal Vegas masih akan berlanjut. Aku belum menyetujui kamu untuk pergi kesana!" setelah mengatakan hal itu Nadine melepaskan belitan lengan Adrian di pinggangnya.
Nadine kemudian mendorong stroller si kembar, melenggang masuk kedalam dan mengabaikan Adrian begitu saja.
Adrian sendiri hanya bisa menyunggingkan senyumnya melihat kelakuan menggemaskan sang istri.
***
__ADS_1