Favorite Sin

Favorite Sin
SOULMATE FOR NATHAN


__ADS_3

AUTHOR POV


"Anak kamu lucu-lucu banget Nad, Kakak gemas sekali! Pengen cubit dan gendong rasanya, boleh kan?!" celetuk Nathan yang sedang berbaring diatas kasur bersama baby Kian dan Kai.


Adrian menyela, "Jangan macam-macam Nathan! Anak-anak saya sedang tidur, nanti mereka bangun kalau kamu ganggu!" mode protektif Adrian sedang on sekarang.


Jangankan Nathan, bahkan orang tua dan adik-adiknya Adrian sendiri saja ikut kena semprot kalau berani iseng mengganggu ketenangan si kembar yang pulas tertidur.


Bukannya apa, Kian dan Kai ini termasuk bayi-bayi yang susah sekali memejamkan matanya. Seminggu berada di rumah, mereka seringkali rewel dan terjaga dari tidurnya ketika tengah malam.


Hal itu membuat Nadine dan Adrian sedikit kewalahan. Terutama Nadine yang suka repot kala menyusui si kembar secara bergantian. Pernah dicoba dengan botol susu, kedua bayi itu sama-sama menolak. Sepertinya mereka ingin langsung meminum air asi langsung dari sumbernya.


Itulah sebabnya mengapa ketika si kembar tampan ini sedang tertidur, jangan sampai diganggu. Supaya mereka bisa beristirahat dengan maksimal dan orangtuanya pun juga ikut tenang.


"Astaga Tuhan, galak sekali sih suamimu Nad! Bagaimana bisa kamu betah hidup dengan makhluk seperti dia!" Nathan sengaja mengejek adik iparnya itu yang terkenal garang dan temperamen.


Adrian hanya bisa berdecih menggelengkan kepalanya saja. Ia segera menarik tubuh Nathan untuk beranjak dari kasur dan pergi menjauhi anak-anaknya.


"Tubuh kamu itu besar dan kekar. Bergerak sedikit saja kasur pasti langsung goyang. Kian dan Kai bisa menangis lalu terbangun nantinya!" kata Adrian.


"Belum lagi tanganmu yang menopang dagu tadi juga jaraknya terlalu dekat dengan tubuh mungil anak-anakku. Kalau mereka kegencet bagaimana?" protes Adrian lagi.


"Dasar pelit! Berdekatan dengan ponakan saja pakai dibatasi!" sergah Nathan.


"Makanya, kamu buatlah anak sendiri yang lucu-lucu biar tidak mengusik anak orang!" ujar Adrian tak mau kalah.


Nathan kembali membuka suaranya, "Siapa takut! Tunggu tanggal mainnya saja. Aku bisa cari wanita cantik yang akan kujadikan istri lalu kami akan memproduksi anak-anak yang lucu dan menggemaskan."


Adrian tertawa masam. "Memproduksi kamu bilang? Kamu kira istrimu itu mesin? Seenaknya saja kalau bicara."


Nadine akhirnya turun tangan untuk menengahi sebelum perdebatan antara keduanya semakin sengit. "Kak Nathan..Adrian..udah dong, kenapa malah jadi berantem sih!"


"Iya..iya..kamu selalu saja menyela kalau Kakak mengusili suamimu. Tidak seru!" Nathan mencebik kesal.


"Daripada Kakak sama Adrian ribut seperti kucing dan tikus, lebih baik Kakak itu fokus cari pendamping hidup. Ingat umur Kak, udah tua!" tukas Nadine yang sengaja menyindir.


Glekk..


Nathan meneguk air liurnya kasar. "Berani ya kamu ngatain Kakak sendiri dengan sebutan tua! Ingat Nad, umur suamimu itu sepantaran sama Kakak. Kalau bilang Kakak tua, otomatis suamimu juga sama tuanya!" balas Nathan tak terima.

__ADS_1


Enak saja dirinya dibilang tua. Badan masih segar bugar dan kokoh begini dibilang tua? Keterlaluan sekali adik perempuannya itu, untung sayang.


Nadine terkekeh pelan mendengar Nathan yang menggerutu. "Masih mending Adrian yah Kak, dia itu seumuran sama Kakak tapi udah punya istri dan anak juga udah ada dua. Kalau Kakak? Masih betah single aja!"


Adrian tersenyum menyeringai karena Nathan balik disindir oleh Nadine. Puas sekali rasanya kala sang istri meng-counter Nathan dengan ucapan yang menohok.


Drtt...drtt...


Suara ponsel Adrian berbunyi menandakan adanya panggilan masuk.


"Nad, aku permisi sebentar dulu mau angkat telepon penting." ucap Adrian sambil mengelus pipi Nadine.


"Iya..enggak apa-apa. Biar aku tunggu sini sama Kak Nathan." Nadine meraih telapak tangan Adrian di wajahnya seraya tersenyum lebar.


"Ingat Nathan, jangan ganggu anak-anak saya yang lagi tidur. Titip Nadine dulu! " pesan Adrian sebelum ia keluar dari nursery room.


Nathan berdecih pada adik iparnya itu. "Dihh...Ngapain Adrian pakai titip-titip segala! Ditinggal telepon sebentar aja lebay-nya bukan main!"


Padahal tanpa diminta pun, Nathan pasti akan menjaga Nadine dan kedua keponakan laki-lakinya. Lagipula mereka juga sedang tidak pergi keluar. Semuanya masih berada di dalam mansion Adrian yang sudah seperti benteng pertahanan perang dengan tingkat keamanan tinggi.


"Aku baru tahu Nad kalau suami kamu itu tipe orang yang posesif. He's the definition of Alpha Male judging by the way he treats you." ujar Nathan.


"Kamu sungguh mencintainya ya? Tatapan matamu terlihat jelas menunjukkan bahwa kamu sedang jatuh cinta."


"Tentu aku cinta. Sulit rasanya untuk tidak jatuh cinta sama Adrian. Pesonanya itu terlalu sayang untuk kuabaikan." ungkap Nadine.


"Ishh..kamu sudah tertular virus cinta akut rupanya. Tapi tak apalah, Kakak senang kalau kamu happy. That's what matters for me. Kakak lega melepaskan kamu pada orang yang benar. Diatas sana Ayah pasti juga ikut senang melihatmu seperti ini."


Nadine tertawa pelan. "Makanya, Kakak buruan cari istri dong, biar tahu gimana rasanya kalau lagi in love. Hidup sendirian itu enggak enak. Lihat aku sekarang Kak, betapa bahagianya aku setelah punya keluarga kecilku sendiri."


"Ya itu karena kamu yang beruntung dapat jodohnya cepat. Sedangkan proses yang harus Kakak lalui itu tidak mulus. Tuhan masih menginginkan Kakak untuk berpetualang mencari cinta!"


"Berpetualang sih boleh, tapi ya usaha juga dong! Aku tuh kadang suka kepikiran. Andai aku sedang tidak disamping Kak Nathan, siapa yang bakal urusin Kakak? Kalau Kak Nathan punya istri atau minimal pacar, Nadine pasti senang. Setidaknya Kakak ada yang mengurus," sambung Nadine lagi.


"Udah ah! Kenapa malah jadi bahas jodoh Kakak? Lebih baik kamu fokus dengan dua krucilmu ini! Kakak sudah bawa hadiah yang banyak untuk mereka diluar. Tadi ada dua pelayanmu yang menerima bingkisannya." Nathan lagi-lagi mengeles agar adik perempuannya ini tidak bertanya-tanya lagi.


"Jangan coba-coba menghindar, Kak! Atau gini deh, mau aku bantuin cari jodoh? Adrian kan punya channel yang luas dan banyak kenalannya. Dari situ, nanti aku bisa minta tolong dia untuk carikan wanita cantik yang sekiranya compatible sama Kakak. Sounds good?" Nadine masih berusaha meyakinkan kakaknya untuk segera mencari pasangan.


"Sounds good apanya?! Sounds bad iya! Enggak perlu lah jodoh-jodohan begitu. Kesannya kakak seperti tidak laku saja!"

__ADS_1


"Kan emang enggak laku?" Nadine mengedikkan kedua bahunya sambil mengangkat tangan.


"Berisik kamu! Sudah ah..aku mau fokus memandangi twins saja daripada ngomong sama kamu. Bikin sakit hati tahu enggak!" Nathan mendengus sebal dan mengabaikan Nadine begitu saja. Dia kembali berjalan mendekat menuju ranjang baby Kian dan Kai.


***


Sementara disisi lain, Adrian kini sedang mengangkat telepon dari asistennya Ray.


📱


"Halo, Ray?"


^^^"Selamat siang Pak Adrian, maaf menganggu waktunya. Apakah Bapak sedang sibuk?"^^^


"Tidak, saya sedang free sekarang. Kenapa memangnya?"


^^^"Begini Pak, setelah melalui proses yang cukup rumit dan panjang akhirnya saya dan tim sudah berhasil menangkap berandal yang kemarin menyerang Bapak dan Ibu Nadine pada saat anda berdua hendak pergi merayakan Hari Natal."^^^


"Ahhh...kalian sudah dapatkan orangnya? Bagus kalau gitu, berarti penyelidikan berjalan lancar. Total ada berapa orang mereka Ray?"


^^^"Delapan orang, Pak. Mereka sudah ditahan di markas seperti biasa."^^^


"Dari kedelapan orang tersebut, apakah sudah kamu identifikasi mana orang yang saat itu memecahkan kaca mobil saya dan menyeret Nadine keluar hingga ia terjatuh di jalanan?"


^^^"Sudah, Pak. Namanya Jonah Wang. Saya juga sudah melakukan background check tentang riwayat hidupnya beserta informasi tentang keluarganya."^^^


"Jonah Wang, saya akan ingat nama itu baik-baik. Dia harus membayar mahal atas apa yang sudah ia lakukan terhadap istri saya. Gara-gara dia, Nadine mengalami pendarahan hebat sehingga dengan terpaksa kedua bayi kami lahir secara prematur."


^^^"Selanjutnya bagaimana, Pak?"^^^


"Nanti malam pukul 11 saya akan datang ke markas. Sudah lama sekali saya tidak bermain-main dan menghajar orang. Mungkin hari ini adalah waktunya saya melampiaskan seluruh amarah saya yang terpendam pada Jonah-Jonah itu! Tunggu saya malam ini."


^^^"Baik, Pak..siap laksanakan."^^^


**


ADRIAN & NADINE


__ADS_1


__ADS_2