Favorite Sin

Favorite Sin
NEW CHAMBERS


__ADS_3

AUTHOR POV


"Kamar ini akan menjadi milikmu. Meskipun kita berdua sudah menikah sekarang, kita tidak akan tidur di kamar yang sama. Saya menghormati privasi kamu dengan memberikan ruang sendiri. Dan saya harap, kamu melakukan hal yang sama sebagai balasannya."


Adrian menunjukkan Nadine sebuah kamar yang akan ditempatinya selama dia tinggal di mansion megah bak istana ini. Kamar yang dipilih bernuansa full white dengan sentuhan gaya modern. Ukurannya 2 kali lipat jauh lebih besar dari kamar Nadine di rumah sebelumnya. Dilengkapi dengan kamar mandi dalam juga.



"Di sebelah sini ada connecting door, akses ke kamarku."


Pintu yang tadinya Nadine kira akan mengarahkannya pada kamar mandi dalam, ternyata adalah connecting door.


"Untuk apa? Bukankah kamu sendiri yang bilang, kalau kita berdua harus saling jaga privasi? Kalau ada connecting door..nanti aktivitas satu sama lain akan terdengar!!"


"Orang-orang diluar sana mengira kita benar-benar menikah, begitu juga dengan keluarga dan staf saya. Untuk berjaga-jaga jika keluarga saya datang lalu masuk ke area ini tanpa pengawasan. Kamu bisa langsung pindah ke kamar saya lewat pintu ini. Supaya mereka tidak curiga kamar kita terpisah! Masing-masing kamar kita kedap suara, jadi aman."


Yang dikatakan Adrian cukup masuk akal.


"Setelah bertemu Papa dan Mama, saya yakin mereka akan mengirimkan mata-mata untuk mengawasi gerak-gerik kita. Meski karyawan saya di rumah ini setia dan tidak mungkin punya mulut ember, tetap saja...waspada itu perlu."


"Seberapa yakin kamu, kalau karyawan di rumah ini tidak akan menemukan kebenarannya dan lapor ke Mama sama Papa soal hubungan kita?" tanya Nadine.


Setelah menerima pengkhianatan berkali-kali, Nadine mulai berpikir jika semua orang sulit untuk dipercaya. Sekali dapat tawaran kucuran uang, maka orang akan cepat tergoda.


Tidak menutup kemungkinan jika orang tua Adrian akan menyuap para karyawan disini untuk membeberkan fakta hubungan pernikahan mereka yang sebenarnya, kalau mereka ketahuan.


"Staf dan karyawan saya hanya tahu apa yang saya pilih untuk diberitahukan kepada mereka. Kesetiaan adalah nilai yang saya junjung tinggi daripada kecerdasan. Jika saya tidak merekrut orang yang tepat untuk bekerja dengan saya, maka saya tidak akan bisa sukses seperti ini!" timpal Adrian.

__ADS_1


"Hanya ada beberapa karyawan tertentu yang bisa memasuki area lantai ini. Yang paling sering adalah Ray dan Bibi Magda. Di rumah ini, hanya mereka berdua lah yang tahu tentang kebenaran dari status kita," lanjutnya seraya memasukkan kedua tangannya ke saku depan celana.


"Apa kamu enggak takut mereka akan.."


"Bibi Magda sudah bekerja dengan saya sejak saya berusia 10 tahun. Untuk Ray, dia bisa diandalkan. Mereka berdua adalah orang yang paling saya percayai daripada semua staf di sini. Jadi berhentilah mengkhawatirkan mereka!" Adrian memotong ucapan Nadine yang masih menaruh rasa cemas.


"Okay.." Nadine mengangguk paham. "Oh ya..Adrian..soal barang-barangku gimana? Sekarang aku enggak ada baju ganti. Pas kabur tadi, kita enggak bawa apa-apa!" tanya Nadine.


"Saya sudah menyuruh orang untuk mengambil barang-barang kamu di rumah lama beberapa jam yang lalu. Mungkin sebentar lagi akan sampai," jawabnya.


"Jika kamu merasa tidak nyaman dan ingin langsung mandi silahkan saja, di kamar mandi sudah ada peralatan mandi yang lengkap dan masih baru. Untuk baju ganti sementara saya ada, nanti Bibi Magda yang akan mengantarkannya kesini."


Nadine menghela nafasnya. "Baiklah, terima kasih."


Ceklek..


Badannya terasa lengket dan penuh keringat, setelah seharian ia dan Nadine berlari-lari dari kejaran penyusup. Belum lagi buku-buku tangannya juga sedikit memar akibat perkelahiannya dengan para penyusup tadi. Bagi Adrian rasanya tidak sakit, hanya perlu dibersihkan saja.


Sebelum keluar dari kamar Nadine, Adrian menghentikan langkahnya yang sudah diujung pintu dan menoleh kearah Nadine.


"Makan malam dimulai jam setengah 7. Saya mau di jam itu kamu sudah harus siap dan langsung turun ke meja maka," titahnya.


Dan pintu pun tertutup.


Mendapat ultimatum dari Adrian, berarti Nadine hanya punya waktu kurang lebih setengah jam lagi untuk bersiap-siap.


Nadine mendengus kesal karena waktu yang tersisa terlalu sedikit. Padahal dia sangat suka berlama-lama di kamar mandi. Tapi demi menghindari amukan Adrian, dia menurut saja kali ini.

__ADS_1


***


TOK..TOKK..TOKK


"Iya masuk..pintunya enggak dikunci.." sahut Nadine dari dalam kamar mandi. Dia sedang mencuci tangannya.


"Permisi Nyonya, selamat malam..maaf saya mengganggu waktunya. Saya hanya ingin mengantarkan baju ganti ini, perintah dari Tuan Adrian."


Sebuah slim fit dress tanpa lengan berwarna light blue dengan panjang dibawah lutut diberikan pada Nadine, lengkap beserta keperluan lain-lain yang berkaitan tentang wanita.


"Oh iya, terima kasih ya..anda pasti Bibi Magda kan?"


"Iya Nyonya, nama saya Bibi Magda..kepala pelayan yang ada di rumah ini."


"Ahh...iya Adrian sudah cerita sedikit mengenai hal itu. Dan tolong jangan panggil saya Nyonya, saya kan lebih muda dari Bibi Magda!" Nadine tertawa kecil.


"Maaf Nyonya bukannya saya menolak, tapi memang sudah aturannya begitu. Nyonya kan sekarang sudah menikah dan menjadi istrinya Tuan. Rasanya akan terdengar aneh kalau manggilnya tidak sepasang..Tuan dan Nyonya..begitu..." jawab Bibi Magda.


"Ya sudah enggak apa-apa. Tapi saya mohon ya Bi, kalau sama saya jangan bersikap terlalu formal dan kaku. Dibawa santai saja."


Bibi Magda tersenyum. "Baik Nyonya. Kalau begitu saya permisi dulu."


"Sekali lagi terima kasih ya Bi."


"Sama-sama Nyonya."


Nadine segera kembali ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2