Favorite Sin

Favorite Sin
NEW MISSION


__ADS_3

AUTHOR POV


"Saya ucapkan selamat untuk Pak Adrian dan juga Bu Nadine atas kelahiran putra-putranya. Semoga keluarga Bapak senantiasa diberkati dan dilindungi oleh Tuhan dalam setiap langkahnya." ucap Ray dengan tulus.


Nadine balas tersenyum ramah. "Terima kasih banyak ya Ray..doa yang baik-baik pasti akan kembali padamu."


Setelah baby Kian dan Kai kembali tertidur di baby crib mereka, Nadine sempat berniat mengajak sang suami untuk menonton film bersama di ruangan home theater. Sudah lama ia dan Adrian tidak menikmati quality time berdua saja semenjak twins lahir.


Namun rencana itu gagal total, karena salah satu pelayan mansion menginformasikan pada Nadine dan Adrian bahwa mansion mereka kedatangan tamu. Dan seseorang itu adalah Ray, asisten tangan kanan kesayangan Adrian.


"Maaf ya Pak..Bu, saya baru bisa datang sekarang." Ray menyampaikan rasa bersalahnya pada sang atasan karena baru bisa menjenguk si kembar setelah hampir 2 minggu mereka pulang dari rumah sakit.


Adrian menepuk pundak Ray pelan, "Tidak apa-apa. Kamu kan memang saya tugaskan dalam sebuah misi, Ray. Wajar kalau baru berkunjung sekarang."


Nadine refleks menatap keduanya bergantian. "Misi? Misi apa lagi? Aku enggak dikasih tahu nih?"


Adrian tak menggubris pertanyaan Nadine dan malah menggandeng tangan sang istri untuk mendudukkan diri di sofa. Begitupun juga dengan Ray yang ikut dipersilahkan duduk oleh Adrian.


"Sayang..jangan mengalihkan pembicaraan! Misi apa yang tadi kamu maksud?" desak Nadine dengan suara manjanya.


Adrian berdehem. "Ini urusan pria dan pekerjaannya, Nadine."


"Cihh..selalu saja begitu! Main rahasia-rahasiaan.." cibir Nadine sambil memanyunkan bibirnya.


Untuk mencairkan suasana, Ray kembali membuka obrolan agar tidak canggung.


"Oh ya Bu, ini saya kebetulan ada bingkisan juga untuk si kecil. Semoga Bapak dan Ibu suka. Mungkin hadiahnya tidak seberapa, tapi besar harapan saya agar Bapak dan Ibu berkenan untuk menerimanya."


"Ngomong apa sih Rey! Jangan terlalu formal begitu. Saya pasti terima kok hadiah dari kamu. Terima kasih ya. Hampers-nya lucu sekali. Kamu pintar deh Ray milihnya!" Nadine mulai lupa dengan pembahasan tadi dan mengalihkan fokusnya pada hampers khusus bayi yang dibawa oleh Ray.


"Sama-sama Bu, saya ikut lega kalau Ibu suka. Dan untuk hampers itu bukan saya yang milih Bu, tapi istri saya."


"Astaga Tuhan, pantas saja lucu ternyata istri kamu yang pilih!" Nadine tertawa kecil. "Saya itu kadang sampai lupa kalau kamu sudah menikah. Bagaimana kabar istri kamu? Terakhir yang saya dengar, istri kamu hamil ya?"


Ray balas mengangguk. "Betul, Bu. Istri saya sedang hamil 5 bulan. Beruntung selama kehamilan ini dia dalam keadaan yang sehat. Kebetulan dia sedang ada di rumah orang tuanya sekarang, maka dari itu saya kesininya sendiri."


Sebenarnya Ray dan istrinya yang bernama Helen itu menikahnya lebih dulu daripada Adrian dan Nadine. Tapi untuk urusan memproduksi anak, Ray kalah start dari bosnya itu karena Adrian telah menanam saham terlebih dahulu. Sampai-sampai keluarnya langsung dua bayi sekaligus.


Adrian melirik Nadine sebentar. "Nad, aku perlu membicarakan hal yang penting dengan Ray. Bisa tinggalkan kami berdua saja?" pintanya memohon.


"Okay. Aku tunggu kamu di nursery room ya!" Nadine terlanjur antusias mendapat hamper gifts dari Ray sehingga dengan mudahnya ia mengiyakan perintah sang suami.


"Perlu aku antar dulu kesana?" tawar Adrian.

__ADS_1


Nadine masih dalam tahap recovery pasca operasi melahirkan. Tidak salah jika Adrian bersikap protektif.


"Ngapain? Aku bisa jalan sendiri kok."


"Biar pelayan saja yang membawa hampers itu, kamu langsung jalan ke kamar saja sana! Jangan angkat-angkat."


"Ini ringan kok sayang...enggak berat. Aku bisa bawanya." dengan kuatnya dua hampers tersebut sudah ditenteng Nadine dengan tangan kanan dan kiri masing-masing.


Keras kepala sekali Nadine ini. "Ya sudah kalau gitu jalannya pelan-pelan saja, jahitan kamu belum benar-benar kering."


"Iya sayang, bawel banget sih kamu!"


Adrian memasang wajah datarnya. Tidak perduli meski dikatai bawel atau cerewet sekalipun. Dia begini juga karena kesehatan Nadine.


Cupp..cupp..


Nadine absen dulu untuk mengecup pipi Adrian dan juga menciumm sekilas bibir menggoda milik sang suami, sebelum akhirnya bergegas masuk ke dalam kamar bayi mereka.


Ray yang duduk di sofa seberang langsung membuang mukanya kesamping. Tak ingin melihat kemesraan dari kedua atasannya yang sedang terkena gejala bucin.


"Kenapa wajah kamu Ray?" tanya Adrian to the point.


Sekali-kali ia ingin mengerjai Ray, karena sebenarnya Adrian sadar diri akan gelagat aneh Ray setelah melihatnya berpagutan dengan Nadine.


Baru lihat ciumann saja sudah keder sendiri Ray, belum lagi kalau ia melihat bagaimana ganasnya Adrian saat di ranjang. Bisa-bisa pingsan di tempat anak itu.


"Ya sudah, lupakan saja! Informasi apa yang kamu bawa untuk saya?"


"Ini mengenai Kelvin, Pak."


Adrian memajukan tubuhnya kedepan. "Kelvin? Sudah kamu temukan dia? Dimana orang itu?"


"Vegas. Kelvin sedang berada di Las Vegas saat ini. Sudah sekitar 2 bulan menetap disana. Sebelumnya ia tinggal di Richmond dengan salah satu rekannya."


"Untuk apa dia ke Vegas?" tanya Adrian penasaran.


"Seperti yang kita ketahui selama ini Pak, Kelvin tergabung dalam anggota organisasi dengan koneksi kriminal dan ******* yang dibuat oleh para pengusaha. Salah satu pendiri yang terlibat itu Galih dan David."


"Bukan berarti karena keduanya mendekam di balik jeruji besi, maka organisasi itu bubar begitu saja. Tidak, Pak. Tidak begitu cara kerjanya. Masih ada oknum lainnya yang bergerak aktif mengelola bisnis terlarang ini. Lokasinya berpusat di area Nevada," jelas Ray terperinci.


Tangan Adrian terangkat untuk menopang dagunya. "Hmm...jadi itu alasan mengapa Kelvin masih mengincar hard drive milik Ayah mertua saya?"


"Iya, Pak. Didalam hard drive itu terdapat list jaringan bisnis terlarang milik Galih. Dulu kita pernah mengeceknya. Ada pula daftar nama-nama agen rahasia yang mereka perlukan untuk tetap menjalankan bisnis ini sebagaimana mestinya." Ray menjeda ucapannya sejenak.

__ADS_1


"Jadi untuk memastikannya, saya ingin bertanya sekali lagi pada Bapak. Apa hare drive itu masih ada pada anda?"


Adrian mengangguk singkat. "Semuanya masih aman, ada sama saya."


"Syukurlah kalau begitu, Pak." Ray lega mendengarnya. Sebab jika hard drive itu hilang maka Adrian dan timnya tak akan punya pegangan.


"Masih kuat juga ya Kelvin bertahan tinggal di luar negeri. Padahal aset miliknya sudah disita negara. Bahkan orang tuanya harus iku menjadi korban atas tindakan anaknya." celetuk Adrian.


Rahman dan Arin, selaku orang tua kandung Kelvin, sebenarnya adalah orang yang baik. Beberapa bulan yang lalu mereka datang ke kediaman Adrian dengan maksud untuk meminta permohonan maaf pada Nadine yang menjadi korban dalam kasus ini.


Mereka begitu shock mengetahui fakta bahwa putranya sudah bertindak diluar kendali. Keduanya sama-sama sepakat untuk membiarkan Kelvin diproses hukum sesuai pelanggaran yang ia lakukan.


"Apa lagi Ray, berita yang kamu dapatkan mengenai Kelvin?" barangkali ada info yang tertinggal.


Ray menjelaskan, "Kabar terakhir yang saya dapat, seminggu yang lalu Kelvin baru kehilangan investasi ratusan juta dolarnya akibat pesawat prototipe yang mengangkut persenjataan terlarang milik organisasinya gagal dihancurkan."


"Hal itu membuat para klien yang sudah terlanjur investasi murka. Sebagai upaya untuk mengganti uang kliennya itu, Kelvin mengakalinya dengan menyelenggarakan turnamen poker di Vegas," lanjut Ray.


Adrian tersenyum menyeringai. "Jadi dia ikut berkompetisi dalam turnamen itu juga?"


"Tentu saja, Pak. Darimana lagi dia mendapat uang sebanyak itu kalau tidak ikut bertanding!" timpal Ray.


"Kalau begitu saya harus pergi ke Vegas, Ray. Pesankan saya tiket untuk kesana minggu depan." kata Adrian dengan santainya.


Glekk....


Ray meneguk air liurnya kasar. "Bb--bapak serius?"


"Serius." jawab Adrian singkat.


Adrian berteori, "Untuk menangkap Kelvin, satu-satunya cara adalah dengan membuatnya miskin. Kalau dia kehabisan uang, maka otomatis dia kehabisan akal. Saya juga akan ikut bertanding dalam turnamen poker itu."


"Kalau saya bisa menang. Maka kekalahan ada pada pihak mereka. Para klien Kelvin akan semakin marah karena uang mereka tak kembali. Ditambah lagi dia akan jadi buronan karena para klien mengejarnya." sambungnya lagi.


Ray sedikit paham akan rencana Adrian, tapi hal ini tetap saja terdengar riskan. "Bu Nadine bagaimana, Pak? Apa beliau sudah setuju dengan keputusan anda?"


Jujur saja Ray takut. Bukan dengan Adrian melainkan Nadine. Kalau saja istri bosnya ini tahu, bisa-bisa Ray akan ikut didamprat oleh ibu beranak dua tersebut.


Adrian sendiri hampir saja melupakan hal itu. Dia adalah seorang suami dan juga ayah dari dua anak sekaligus sekarang. Tentunya Adrian tak bisa bersikap seenaknya sendiri tanpa mendiskusikan hal ini pada Nadine.


"Kamu tetap pesankan saya tiket. Soal Nadine itu biar jadi urusan saya."


Ray pun menuruti perintah bosnya. Tinggal Adrian yang harus mempersiapkan diri untuk menghadapi Nadine sekarang.

__ADS_1


"Nanti malam jangan lupa, temui saya di markas sesuai rencana Ray! Saya harus menghukum anak buah Kelvin sebelum menangkap bos besarnya." titah Adrian degan tegas.


***


__ADS_2