Favorite Sin

Favorite Sin
SUDDEN ATTACK


__ADS_3

AUTHOR POV


"Gimana..apa kamu bersedia?"


Nadine tidak menjawab pertanyaan Adrian, dia malah sibuk memainkan jari-jarinya sambil menggigit bibirnya yang berwarna pink merona itu.


Adrian menghembuskan nafasnya secara kasar melihat Nadine yang masih bimbang. "Sekarang bukan waktu yang tepat untuk merasa bingung."


"Ya gimana saya tidak bingung..dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, hidup saya mendadak jungkir balik! Ayah saya meninggal, kakak saya menghilang..dan sekarang saya harus berurusan dengan kamu, yang notabene hanya orang asing..tiba-tiba ingin mencari flashdisk milik Ayah saya, yang sama sekali tidak saya ketahui!!" bentak Nadine.


"Belum lagi saya harus dihadapkan sama teror atau apalah itu tadi!! Terus dengan tanpa beban, kamu minta saya untuk ikut kamu? Bagaimana saya tidak takut?"


Nafas Nadine mulai tersengal-sengal setelah menceramahi Adrian tanpa jeda, matanya pun juga mulai berkaca-kaca.


Sebenarnya saat ini Adrian sudah sangat kesal melihat Nadine yang mengomeli dirinya. Baru kali ini ada seseorang yang berani memperlakukannya seperti itu. Tapi dia mencoba untuk menahan amarah dan egonya sejenak, demi meyakinkan wanita keras kepala didepannya ini agar mau ikut bersamanya. Adrian masih membutuhkan jasa wanita itu untuk memecahkan kode brankas milik Harun.


Ray sendiri cukup terkejut melihat pemandangan yang sangat jarang ditemuinya ini. Normalnya, boss-nya Adrian itu akan langsung mengamuk dan bersikap kasar ketika ada orang yang berani meragukan, menolak, atau melawan perintahnya.


Kali ini berbeda, Adrian malah diam berdiri tanpa menggubris omongan Nadine sama sekali..seolah-olah dia membiarkan wanita itu mengeluarkan uneg-uneg dalam hatinya.


"Bukan salah saya jika kamu terlalu mendramatisir ini semua. Saya sudah memberikan kamu pilihan yang enak, mau ikut saya atau tidak...keputusannya ada di tangan kamu. Saya tidak memaksa!! Jadi silahkan tentukan pilihan kamu..."


Bagi Adrian..dirinya memang tidak memaksa, tapi berbeda dengan persepsi Nadine. Dia merasa bahwa Adrian bukanlah tipikal orang yang menerima penolakan. Pernyataannya tadi terdengar seperti sesuatu yang harus dituruti.


Dengan terpaksa, Nadine menyetujui ajakan Adrian itu. "Okay, saya akan ikut kamu. Tapi jangan berani macam-macam ya!!" ancam Nadine.


Adrian mengangguk dan meminta Nadine untuk segera bersiap. "Kemasi barang-barang kamu! Kita berangkat sekarang juga!"


"Semuanya sudah siap kok! Saya baru pindah kesini beberapa jam yang lalu. Barang-barang saya masih di koper dan belum sempat dikeluarkan karena keburu kalian datang." Nadine langsung pergi ke kamar dan menarik keluar 2 buah koper besar yang berwarna kuning dan hijau tosca miliknya.


"Lebih bagus kalau begitu, tidak memakan waktu. Kita pergi sekarang aja!!" Kemudian Adrian meminta Ray untuk membawa koper Nadine ke mobil. "Ini kamu langsung bawa ke mobil aja Ray, sekalian sama brankas nya..bisa kan?"


"Bisa..!!" dengan sigap Ray membopong dua koper besar tersebut beserta brankas-nya.


"Yakin bisa bawa sendiri? Mending kita bagi saja bawanya..itu kamu terlihat keberatan!", ucap Nadine. Ray pun hanya tersenyum tipis kearahnya. "Saya sudah biasa kok, tenang." Meski Ray sudah menyanggupinya, Nadine tetap merasa bahwa Ray seperti orang yang kerepotan sendiri.


"Koper saya yang kuning itu isinya tidak terlalu banyak! Biar memudahkan kamu untuk membawanya, lebih baik brankas-nya dimasukkan ke koper sekalian!" sela Nadine.

__ADS_1


Bagi Ray, itu ide yang bagus juga rupanya. Akhirnya dibukalah koper yang berwarna kuning tersebut oleh Nadine dan langsung saja brankas itu dimasukkan kedalamnya.


"Ehmm..tunggu dulu!! Tadi aku sudah terlanjur pesan makanan online, tapi belum datang-datang juga kurirnya. Boleh kita tunggu sebentar?"


"Huh..dasar merepotkan. Kalau bukan karena aku butuh..sudah aku tinggal daritadi" batin Adrian dalam hati.


Adrian dan Ray saling tatap satu sama lain. "Kamu duluan saja Ray, saya menyusul nanti!" Ketiganya pun sepakat, dan Ray segera melangkah keluar dari ruangan itu untuk menuju parkiran. Sedangkan Adrian memilih untuk menemani Nadine. "Saya harap kita tidak menunggu lama!"


Nadine membuka ponsel miliknya dan mengecek lewat aplikasi, sampai dimana kurir yang bertugas untuk mengantar makanan pesanannya. "Ini orangnya udah dekat kok, sedang menuju kesini. Tunggu sebentar lagi."


"Oh ya..saya mau cuci tangan sebentar. Dimana letak kamar mandinya?" tanya Adrian.


"Ada didalam kamar, kamu masuk aja kesana!" ujar Nadine.


TINGG..TONGGG....


Tak lama setelah Adrian masuk ke kamar mandi, Nadine mendengar pintu bel yang berbunyi. "Kayaknya itu makananku sudah datang!" gumam Nadine. Lalu dia berjalan cepat menuju pintu untuk mengambil makanan yang dipesannya lewat aplikasi tadi.


"Permisi, selamat siang! Saya dari kurir Ahsedap mau mengantar makanan."


Belum sempat Nadine menerima uang kembalian dari kurir tersebut, tiba-tiba tangannya ditarik begitu saja dan mulutnya langsung dibekap oleh seseorang yang ternyata bersembunyi dibalik badan sang kurir sejak tadi. Nadine tidak tahu karena dia tidak membuka pintu secara lebar, hanya separuhnya saja.


Dengan sekuat tenaga, Nadine berusaha keras untuk melepaskan diri dari orang asing yang tidak dikenalnya ini. Nadine mulai kesulitan untuk bernapas sampai dia memukul-mukul tangan orang tersebut dengan harapan akan dilepaskan. Sedangkan kurir yang mengantarkan makanannya tadi malah melenggang pergi begitu saja, tidak membantunya sama sekali.


Adrian yang baru selesai dari toilet tak sengaja mendengar suara rintihan Nadine secara samar-samar. Pikirnya, pasti ada sesuatu yang janggal. Dan benar saja, ketika Adrian keluar, dia melihat Nadine sudah tidak berdaya karena seseorang membekap mulutnya dan menyeret tubuhnya keluar. Adrian berlari cepat menghampiri mereka sebelum Nadine dibawa pergi jauh.


Tanpa basa-basi, saat sudah mendekat Adrian menarik kerah pakaian penjahat itu dan mendaratkan bogem mentah di wajahnya yang tertutupi dengan balaclava hitam. Hal ini dimanfaatkan Nadine untuk meloloskan diri dari cengkeramannya. Dan ketika sudah terlepas, langsung saja Nadine berlindung diri di belakang tubuh tegap Adrian.


Belum puas dengan pukulannya yang tidak seberapa tadi, Adrian kembali menghujani penjahat itu dengan hantaman keras dari tangannya. "BUGHH...BUGHH..BUGHH". Tidak ada kata ampun bagi Adrian, sekalipun lawan didepannya itu sudah terkapar hanya dalam sekali pukulan. Nadine hanya bisa menutup mulutnya dengan perasaan shock melihat pemandangan didepannya itu.


Tak mau kalah begitu saja, pria itu melakukan perlawanan pada Adrian dengan mengeluarkan pisau kecil dari sakunya.


"Adrian..awas!!!" teriak Nadine.


Pisau ditodongkan kearah perut Adrian dan hampir saja dia kena tusuk. Untungnya, Adrian tidak mudah dikelabui. Dengan tangan lihainya dia berhasil merampas pisau itu dari tangan si penjahat. Kalau lengah sedikit, mungkin ceritanya akan berbeda.


Karena penasaran dengan wajah begundal yang sedang dihajarnya, Adrian menarik balaclava hitam yang dipakai pria itu untuk menutupi wajahnya. Saat dibuka, ternyata pria itu bukanlah orang yang pernah dikenalnya. Hanya pria berkumis biasa dengan usia kira-kira sepantaran dengannya.

__ADS_1


"Adrian, sebaiknya jangan diteruskan..kita harus segera pergi! Itu di belakang masih banyak orang-orang mereka..bisa habis kita kalau kamu melawannya sendirian!!"


Kali ini Adrian setuju dengan ucapan Nadine. Bukan karena Adrian tidak sanggup melawan mereka yang berjumlah banyak, sebenarnya bisa saja Adrian menghabisi mereka dengan tangan kosong sekalipun, tapi kali ini dia harus menyimpan tenaganya banyak-banyak.


"Kita lewat tangga darurat!! Lift nya pasti sudah dikepung mereka.." sahut Adrian.


Dan tanpa disadari, Adrian menggandeng tangan Nadine sambil berlari menuju tangga darurat. Anak tangga yang harus dilalui mereka pun cukup banyak, sebab hunian apartemen yang disewa Nadine terletak di lantai 6. Membuat mereka harus mengeluarkan tenaga ekstra, belum lagi ada sekitar 4 orang yang mengejar mereka di belakang.


Setibanya mereka di lantai dasar, Adrian mengajak Nadine untuk pergi dari tempat itu lewat lobby. "Kenapa enggak lewat pintu belakang?" dengan polosnya Nadine bertanya sambil keduanya berjalan cepat.


"Pintu belakang itu pasti ada jebakannya. Mereka sudah memprediksi kita akan lewat sana, maka dari itu kita harus melakukan kebalikannya dengan lewat depan, dengan lewat lobby..."


Adrian sudah pro dalam urusan seperti ini. Analisanya benar! Tidak ada kendala apapun saat mereka berjalan keluar lewat lobby depan. Sekelompok orang yang mengejar mereka tadi pasti sudah terkecoh, mengira bahwa mereka akan lewat pintu belakang.


"Itu mobilnya, kamu langsung masuk dan duduk di back seat nya...go!!" Adrian memerintahkan Nadine dan mendorong tubuhnya untuk masuk kedalam mobil. Sedangkan dia beralih untuk duduk di passenger seat, persis disebelah Ray yang sedang menyetir.


"Jalan Ray, cepat!!!" Ray pun menginjakkan pedal gas mobil tersebut dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.




**VISUAL**



![](contribute/fiction/4607704/markdown/23700509/1652951276704.jpg)



*RAYMOND ADEMIAR*



\*\*\*


**Ini dia visual asisten sekaligus tangan kanannya Adrian, yang selalu senantiasa membantunya dalam hal apapun** :)

__ADS_1


__ADS_2