Favorite Sin

Favorite Sin
ESCAPE PLAN


__ADS_3

AUTHOR POV


Drtttt....


Ponsel Adrian bergetar karena adanya pesan masuk.


"Pak, saya ingin mengabarkan bahwasanya Tuan dan Nyonya besar beserta istri dan adik-adiknya Bapak sudah aman dibawah pengawasan saya. Kami semua sedang dalam perjalanan menuju penthouse sesuai perintah. Perkiraan waktu tiba, sekitar 30 menit lagi. Saya sudah siapkan mobil di pintu belakang untuk Bapak dan Den Arga pergi, kunci mobil ada di dashboard--Ray."


Begitulah bunyi pesan yang dikirimkan oleh Ray via chat.


Arga melirik penasaran, "Dari siapa Kak?"


"Ray,"


"Dia bilang apa?"


"Papa dan yang lainnya sudah aman. Mereka semua sedang dalam perjalanan menuju penthouse Kakak. Ray juga sudah menyediakan mobil untuk kita kabur, ada di pintu darurat rahasia yang di belakang."


"Huhh...syukurlah! Orang bawahan Kakak hebat juga, bisa mengeluarkan keluarga kita dari mansion ini tanpa ketahuan!" Arga mengelus dadanya.


"Kalau tidak hebat, buat apa Kakak merekrut mereka!" ketus Adrian.


"Santai...jangan galak Kak! Daripada kita berdebat, lebih baik kita keluar sekarang lewat pintu rahasia yang tadi! Mobilnya sudah siap kan?!"


"Tidak Arga, kita tidak akan lewat situ."


"Serius Kak?" Arga menatap Adrian tak percaya.


"Serius. Kita tidak akan keluar lewat pintu yang sama seperti keluarga kita, dan kita juga tidak akan menggunakan mobil yang disiapkan oleh Ray untuk pergi dari sini."


"Maksudnya? Terus, ini gimana keluarnya?" Arga memiringkan kepalanya kebingungan.


"Kita pakai itu!" Adrian tersenyum miring dan menunjuk salah satu mobil milik penyusup.


"Hahhh??? Kakak sudah gila? Itu namanya cari mati Kak!" rahang Arga mengeras karena menahan diri untuk tetap bersuara pelan agar tidak ketahuan.


Adrian memilih tak menggubris omelan Arga. Dalam otaknya, Adrian sudah memikirkan ini semua dengan matang-matang.


"Kakak masih normal dan tidak gila! Kamu pikir buat apa Kakak melakukan itu semua kalau tanpa sebab!"


"Aku masih enggak paham Kak!" Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Adrian hanya menghela nafasnya kasar melihat Arga yang lemot, "Sudahlah ikuti perintah saja! Kita akan berjalan mengendap-endap ke arah halaman depan, lewat jendela ini."


Adrian kemudian menyibak tirai panjang yang menutupi jendela berukuran besar. Dengan gerakan perlahan, Adrian membuka jendela tersebut dan keluar bersama Arga dari sana.


"Aduhh..gimana ini Kak, kita udah dalam keadaan terkepung! Para penyusup itu udah mulai menyebar! Lagian kenapa sih kita enggak lewat pintu darurat!" keluh Arga.


Saat ini keduanya sedang bersembunyi dibalik semak-semak taman agar tak terlihat.


"Bisa diam? Kamu terlalu berisik! Tahu begitu Kakak meminta Arjuna saja yang mendampingi!" Adrian menyentak pelan.

__ADS_1


Arga hanya bisa melenguh kesal dan tak berani protes lagi. Arga takut membangunkan singa yang sedang tidur, yang tidak lain tidak bukan adalah kakaknya sendiri.


Adrian membuka fitur kamera di ponselnya, kemudian memperbesar layar kamera tersebut. Melalui layar, Adrian dapat melihat keadaan gerbang depan rumah, yang ternyata tidak terkunci.


Adrian tersenyum tipis, "Ini kesempatan bagus untuk kita Arga, gerbang depan sudah terbuka lebar. Kita hanya tinggal mengalihkan perhatian mereka saja."


***


Sementara itu di Penthouse.


Nadine beserta seluruh anggota keluarga Adrian tengah berada di ruang tamu. Mereka sama-sama menanti kedatangan Adrian dan Arga.


Fiona memeluk Mama Diana yang terlihat gelisah, sedangkan Nadine bercengkrama dengan Athena. Arjuna dan Papa Alan melipat kedua tangannya diatas dada sembari melihat pemandangan kota dari arah luar jendela.


"Ray, apa kamu sudah dapat kabar dari Adrian? Dimana dia dan Arga? Mereka selamat kan? Mereka baik-baik saja kan?"


Ray yang baru saja masuk kedalam penthouse setelah mengangkat panggilan telepon, langsung mendapat cecaran pertanyaan dari Nadine.


"Belum Bu, pesan terakhir yang saya kirim untuk Pak Adrian belum dibalas..tapi beliau sudah membacanya," jawab Ray jujur.


Nadine begitu panik hingga memegangi kepalanya yang mulai pusing.


"Tapi kenapa Adrian dan Arga belum sampai? Apa jangan-jangan sesuatu yang buruk terjadi?" kini giliran Mama Diana yang mencemaskan keadaan kedua putranya.


"Nad, sebaiknya kita semua tenang dulu ya..Papa yakin mereka akan baik-baik saja kok!"


"Tapi ini udah hampir 1 jam Pah, kenapa belum ada kabar sama sekali?" Nadine membalikkan badannya menghadap Ray. "Cepat Ray, ayo kamu harus kesana...kamu harus cek keadaan mereka, apa disana ada bodyguards yang berjaga-jaga?"


"Hmmm...maaf Bu, saya hanya menjalankan perintah Pak Adrian untuk tetap disini dan tak boleh pergi kemana-mana. Untuk keamanan, Pak Adrian telah meminta saya mengirimkan bodyguards bayangan. Jumlahnya tidak terlalu banyak dan belum ada kabar juga dari mereka, tapi saya yakin mereka pasti bisa mengatasi," begitu kata Ray.


"Kak Nadine, kita disini berbicara tentang Kak Adrian...dia bukanlah orang yang mudah kalah! Aku yakin dia akan kembali, kita tunggu mereka sama-sama Kak," kata Arjuna.


"Iya Jun.." pasrah Nadine.


Papa Alan sependapat juga dengan Arjuna. Adrian adalah pria yang tangguh yang tidak pernah mau menerima kekalahan dalam seumur hidupnya.


***


Krekkk...Krekk....


"Argh---"


Dua orang pria sedang merintih kesakitan akibat tulang leher mereka yang patah setelah ditikam dari belakang.


Sebelum mereka sempat mengeluarkan suara teriakan yang mampu mengundang atensi, mulut keduanya telah dibekap oleh Adrian dan Arga. Dua penyusup itu telah pingsan akibat kehabisan nafas.


Kemudian tubuh kedua penyusup itu diseret dan direbahkan di semak-semak taman secara perlahan. Tak selesai sampai disitu, kini kakak beradik tersebut beraksi lagi dengan menyikut kepala penyusup lainnya.


Berbeda dengan Adrian yang bergerak dengan hati-hati, Arga nampak sedikit impulsif kali ini. Arga menghajar lawannya hingga babak belur karena orang itu sempat melawan, mengakibatkan sudut bibir Arga sedikit mengeluarkan darah.


Bughh...bugh....

__ADS_1


"Arghhhhh..." suara erangan kesakitan dari penjahat itu tak terelakkan lagi.


"HOYYY....SIAPA DISANA??" seseorang berteriak dari arah rumah dalam.


Sepertinya salah satu teman dari komplotan para penyusup ini sudah menyadari adanya ketidakberesan terjadi di area luar.


"Ayo Arga, kita masuk ke mobil.." perintah Adrian.


Dengan tergesa-gesa, Adrian dan Arga berlari kearah mobil. Karena mobil masih terkunci dari dalam, Arga menendang kaca mobil tersebut hingga pecah. Keduanya berhasil masuk sembari membawa tentengan tas jinjing milik para perempuan.


"Kak, mereka mendekat..gimana ini?!" ucap Arga.


"Jangan panik..kamu bisa menyalakan mobilnya atau tidak?" tanya Adrian.


"Kalau enggak ada kunci ya enggak bisa Kak! Aku mana ngerti mesin!"


"Kita tukar tempat sekarang, mobil biar Kakak yang handle. Kamu urus mereka, jika ada yang mendekat...langsung tembak!"


"Iyy--iyaa..Kak," Arga begitu gugup.


Baru kali ini Arga berkesempatan untuk menembak secara sungguhan, selama ini dia hanya latihan di arena biasa yang tidak berbahaya.


Adrian sudah memegang kendali dan segera membongkar kotak setir berwarna putih agar mesin mobil dapat menyala tanpa perlu menggunakan kunci.


Setelah terbuka, Adrian mengurai beberapa komponen kabel didalamnya untuk menemukan kabel starter. Berbagai macam kabel berwarna-warni yang terhubung soket membuat Adrian sedikit kesulitan. Dia kurang begitu familiar membongkar kabel dari jenis mobil ini.


Ketika mereka mulai diserang, Adrian memerintahkan Arga melepaskan tembakan.


"Tembak Arga!!!" pekik Adrian.


Dorrr...dorr.....


Arga melesatkan pelurunya pada para penjahat dihadapan mereka.


"Belum nyala ya kak?"


"Sebentar lagi!" seru Adrian.


Setelah kabel starter ketemu, Adrian segera menyambungkannya dengan kabel arus agar mesin terpancing menyala. Adrian menempelkan kabel pada seluruh bekas solderan di kontak hingga percikan api mulai muncul.


Dan mesin pun akhirnya menyala.


"Wohoooo...berhasil nyala Kak!" Arga puas kegirangan melihat kakaknya berhasil.


Brrooomm....bbrooomm.....


Para penyusup lainnya mulai berkeliaran lagi dan mengepung mobil. Arga yang kebetulan dipasrahi memegang senjata terus melakukan perlawanan untuk membalas penyerangan.


Tak butuh waktu lama, Adrian segera menginjakkan pedal gas dan bergegas keluar dari rumah kebesaran orang tuanya. Adrian tak perduli jika ia harus menabrak para penjahat yang menghalangi jalannya kendaraan yang disetirinya.


Adrian dan Arga berhasil melarikan diri.

__ADS_1


***


Jangan lupa untuk memberi like, vote dan hadiah ya..agar author lebih semangat dalam berkarya. Terima kasih 😁


__ADS_2