Favorite Sin

Favorite Sin
THE KISS


__ADS_3

...NADINE...


"Ayo..jalan ke gate-nya sekarang!" Adrian beranjak dari tempat duduk di ruang tunggu.


"Iya..sebentar" aku langsung buru-buru memasukkan pigura foto milikku ke dalam tas yang ku-jinjing.


Sejak tadi aku terus memandangi foto kenangan ku bersama Ayah dan Kakak sampai lupa waktu kalau sebentar lagi pesawatnya akan berangkat.


Aku dan Adrian berjalan berdampingan tanpa bergandeng tangan. Jelas saja, aku memang bukan temannya, bukan pula kekasihnya. Tapi kenapa juga aku berpikir untuk bergandengan tangan dengannya?


Kejadian yang menimpaku akhir-akhir ini membuat otakku menjadi tidak karuan. Random sekali pemikiran-ku.


Saat masih fokus berjalan menuju gate, tiba-tiba aku merasa ada orang yang sedang mengawasi kami berdua dengan seksama dari arah berlawanan. Tatapannya sungguh tidak enak dilihat.


"Adrian, dua orang pria yang berkacamata hitam itu kenapa mencurigakan ya..mereka seperti sedang melihat kearah kita terus" aku berbisik pada Adrian.


"Bersikap biasa saja, jangan terlalu mencolok" balas Adrian.


Sepertinya Adrian juga menyadari hal itu. Dia mulai menurunkan topi hitam yang dikenakannya agar wajahnya semakin tertutup meski sudah dibalut masker. Tapi kepalanya tetap tegak, supaya kedua pria yang melihat kearah kami tidak curiga.


Aku pun melakukan hal yang sama, menegakkan kepalaku dan menaikkan sedikit masker penutup wajah yang sempat melorot kebawah hidung.


Entah setan apa yang merasuki Adrian, dia langsung menggandeng tanganku begitu saja..seakan mengajakku untuk berjalan cepat agar kedua pria aneh didepan yang seperti mengawasi kami tidak curiga.


Kami berdua semakin mendekatkan diri dengan rapat. Berkamuflase dengan kerumunan orang-orang yang sedang ada persiapan study tour sedikit membantu menyembunyikan tubuh kami agar tak terlihat. Dan benar saja, kami berhasil lolos dari penglihatan kedua pria itu.



Gate pesawat yang akan kami tumpangi jaraknya memang agak jauh. Alhasil kami harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk berjalan kesana. Tanpa aku sadari, tanganku dan tangan Adrian masih saling bertaut meski dua pria aneh tadi tidak lagi mengawasi. Adrian menggenggam tanganku dengan sedikit erat.


Tak bisa aku pungkiri, hatiku menjadi berdesir dibuatnya. Cara Adrian yang protektif ini membuatku kagum. Sudah wajahnya tampan, tubuhnya tegap, kekar, dan tinggi...sangat mempesona.

__ADS_1


Ditambah lagi dia sudah beberapa kali menolongku dan menghajar pria-pria aneh yang hendak berbuat macam-macam padaku. Semakin menambah nilai positif saja yang ada pada dirinya.


Walaupun Adrian adalah tipikal pria yang cuek, dingin, dan angkuh..tetap saja, akan sulit untuk tidak terbawa perasaan jika berada didekatnya.


***


Kami berdua sudah berada di dalam pesawat dan sedang duduk manis di seat masing-masing. Tidak seperti tadi, saat ini tautan tangan kami telah terlepas. Dan tak tahu kenapa, tanganku rasanya hampa dan dingin ketika tidak digenggam olehnya.


Kenapa aku jadi begini sih? Apa mungkin ini karena efek aku lama menjomblo? Atau karena selama 3 hari terakhir ini aku selalu bersamanya, sehingga aku mulai terbiasa?


Ahh..tidak..tidak...


Tidak biasanya aku cepat tertarik pada seorang pria seperti ini. Saat berpacaran dengan Sean dulu, aku bahkan harus melalui proses pendekatan selama 3 bulan dulu sebelum aku benar-benar yakin untuk mengencaninya.


Tapi Adrian...sungguh berbeda. Pesona dan kharisma nya membuat hatiku sedikit kelabakan. Padahal itu aku baru digandeng saja olehnya, belum yang lain-lain.


"Kenapa lihat muka saya begitu?" ketus Adrian.


"Eng..eng..enggak kok, saya cuman lagi lihat orang yang sedang jalan di lorong seat."


Aku duduk di posisi yang dekat dengan jendela, sedangkan Adrian di tengah. Lalu untuk seat yang pinggir masih kosong.


Ramainya orang yang sedang mencari tempat duduk mereka kujadikan sebagai tumbal alasan agar Adrian tidak curiga aku memandanginya sejak tadi. Bisa habis aku!


Setelah lorong pesawatnya agak lowong, lagi-lagi..muncul dua pria aneh dengan cara berpakaian mirip dengan dua orang sebelumnya yang sempat memperhatikan gerak-gerik kami sebelum masuk pesawat.


Mereka berdua celingukan kanan-kiri seperti mencari sesuatu. Yang aku yakini 100%, mereka mengincarku dan Adrian.


Ketika mereka mulai melangkah mendekat ke arah seat-ku dan Adrian, tiba-tiba saja Adrian menoleh padaku sejenak. Dia menatap mataku dengan intens. Aku membalas tatapan matanya yang berwarna blue-greenish itu. Wajah kami sangat dekat, bahkan nafasnya bisa kurasakan menyapu pipi merahku.


Tak lama setelah beradu pandang, secara mendadak Adrian langsung menarik tengkuk leherku dan mendaratkan ciumannya di bibirku. Terkejut adalah satu kata yang menggambarkan perasaanku saat ini.

__ADS_1


Bagaimana tidak, tanpa aba-aba dan persiapan..Adrian menyambar bibirku begitu saja hingga tubuhku ikut menegang dan hatiku bersorak riuh didalam sana.


Tangan Adrian pun sudah berpindah dari leher menuju pipi kiriku. Perlahan dia mulai memagut bibirku dengan lembut. Jari-jari panjangnya mengelus pipiku dengan sentuhan yang tak bisa aku jelaskan.


Setelah aku pulih dari keterkejutan-ku, aku pun menutup mataku dan membalas ciumannya. Tanpa terasa ciuman kami berdua begitu dalam dan saling menuntut. Bahkan Adrian sampai memiringkan kepalanya untuk membenamkan bibir kami agar semakin menempel.


Hal ini membuatku tersentak kaget. Wajahku sudah memerah seperti kepiting rebus atau semerah buah tomat. Tubuhku bergetar hebat. Jantungku sudah terasa mau copot dari tempat semestinya. Tuhan, apa yang terjadi pada diriku? Teganya Adrian yang sudah membuatku tak karuan begini.


Cukup lama bibir kami berdua saling bertaut, akhirnya bisa terlepas juga setelah beberapa detik. Aku pun bisa sedikit bernafas lega dan mencoba mengatur pernapasanku yang sedang naik turun ini.


Dengan tangan Adrian yang masih menempel di pipiku, dia berbisik, "Jangan kegeeran, saya melakukan itu tadi untuk menghindari dua pria aneh yang sedang menengok kanan kiri untuk mencari kita."


Aku menengokkan kepalaku ke lorong, dan benar saja...dua orang pria tadi sudah berjalan melewati kami tanpa menaruh kecurigaan.


"Ta..ta..tapi kenapa harus begitu caranya?" ucapku terbata-bata. Nampaknya aku belum begitu pulih dari apa yang baru saja kami lakukan.


"Tidak ada pilihan lain, mereka sudah mendekat dan kita berdua sedang tidak memakai masker penutup wajah. Jalan satu-satunya untuk menutupi wajah kita dnegan cepat ya dengan cara melakukan tadi," jawab Adrian santai.


Masuk akal juga yang dikatakannya. Saat sudah duduk dalam pesawat, kami memang melepaskan masker kami dan memasukkannya kedalam kantong masing-masing.


Maklum, menggunakan masker itu sedikit tidak nyaman. Bagi yang tidak terbiasa, rasanya pasti sesak dan susah untuk bernapas.


Kalau menunggu mengambil masker terlebih dahulu, sudah pasti akan ketahuan dan dua pria aneh tadi semakin curiga. Jadi alternatif terbaiknya ya dengan kami berciuman.


Aku melirik Adrian yang langsung meluruskan pandangannya setelah adegan kami tadi. Berbeda denganku, Adrian tampak tidak terpengaruh sama sekali. Habis mencium anak perempuan orang sembarangan, dengan seenaknya dia bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa.


Apa dia tidak mau bertanggung jawab sudah membuat kepalaku cenat-cenut dibuatnya?


Terlepas dari sandiwara atau bukan, aku tidak akan munafik. Ciuman yang diberikannya padaku tadi sungguh memabukkan. Perasaan ini adalah pengalaman baru untukku. Bahkan ketika aku masih berpacaran dengan Sean, aku tidak pernah merasakan degup jantungku bisa berdebar kencang ketika kami berciuman.


Ini aneh. Lagi dan lagi, pesona Adrian mampu mengalihkan duniaku. Bayangkan, hanya kenal dalam 3 hari saja, aku sudah dibuat kelimpungan olehnya. Bagaimana nanti kedepannya saat kami tinggal bersama? Bisa mati gaya aku...

__ADS_1


__ADS_2