Favorite Sin

Favorite Sin
LIVING TOGETHER


__ADS_3

AUTHOR POV


"Sepertinya sudah aman, mereka tidak mengikuti mobil kita lagi!" Ray sesekali menoleh ke belakang untuk mengecek apakah mereka masih diikuti atau tidak.


"Tapi kita tetap ambil jalan tikus saja Ray, saya masih belum yakin!" seru Adrian.


"Okay, siap..."


Ray membelokkan mobil untuk melewati jalanan yang cukup kecil dan sempit. Dari segi penampilan, jalanan itu memang tidak meyakinkan, tapi Nadine mempercayakan itu semua pada Adrian dan Ray.


"Minum ini..!!" Adrian memberikan Nadine sebotol air mineral yang diambilnya dari dalam dashboard.


Dari raut wajahnya, Adrian bisa melihat bahwa Nadine masih shock dengan kejadian barusan. Itu sebabnya Nadine sedikit memucat. Wajar saja, mungkin dia tidak pernah menemui hal-hal yang aneh sebelumnya.


"Terima kasih."


Nadine langsung menegak air minum tersebut sampai habis tak bersisa. Efek habis berlarian menuruni tangga darurat membuatnya kehausan juga rupanya.


"Apartemen yang kamu tinggali itu apa memang sepi?" tanya Adrian.


"Kata teman saya yang menyewakannya, di lantai yang saya tinggali itu sebenarnya tersedia 6 kamar. Tapi hanya 2 kamar saja yang berpenghuni. Kamar di sebelah kanan kiri saya kosong, jadi bisa dibilang sepi! Katanya, pengurus apartemen juga sedikit apatis" jawab Nadine.


Pantas saja..saat ada kejadian kaca jendela kamar apartemen yang pecah, tidak ada satupun orang sekitar yang bereaksi. Padahal suaranya cukup keras, mengingat yang dilempar itu adalah batu besar.


Bahkan sekelompok penyusup bisa dengan mudahnya mendapatkan akses masuk dan membuat Nadine hampir diculik. Tapi disisi lain Adrian juga berpikir bahwa bisa saja semua yang terjadi ini sudah ada yang merencanakan.


"Kalau seperti itu, percuma juga kamu minta bantuan sama security tadi..pasti tidak ada penanganan ujung-ujungnya!!" sahut Adrian.


Nadine hanya bisa menelan ludahnya mendengar ucapan ketus dari mulut Adrian.


"Kenapa memilih tinggal disitu?" Adrian bertanya kembali.


"Rumah saya kan sedang dalam proses penyidikan oleh pihak kepolisian, jadi saya butuh tempat tinggal sementara dengan cepat! Kemudian ada teman kantor saya yang menawarkan untuk menyewa apartemennya, jadi ya kita sepakat untuk bertransaksi" jelas Nadine.


Seperti yang pernah dijelaskan sebelumnya, hunian apartemen tersebut memanglah milik teman kantor Nadine. Sistem sewanya itu dibayar per tahun dan kebetulan sudah dilunasi diawal. Tapi belum sampai setahun, temannya sudah memutuskan untuk pindah.


Hunian apartemen itu sendiri masa sewanya habis bulan ini. Daripada merugi tidak terpakai di masa akhir-akhir sewa, akhirnya temannya Nadine menawarkan tempat itu untuk disewa oleh Nadine yang sedang butuh tempat tinggal. Semacam simbiosis mutualisme.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong ini kita mau pergi kemana?" Nadine celingukan melihat kanan-kirinya.


Sudah sekitar 20 menit mobil ini berjalan, tapi belum juga ada tanda-tanda mau berhenti.


"Lihat saja nanti!!" ucap Adrian dengan nada yang dingin.


Tak lama setelah itu, mobil yang dikendarai oleh Ray ini mulai memasuki area rumah pedesaan. Nampak terlihat jelas banyak pepohonan yang tumbuh dengan rindang di sekitar jalanan. Udaranya terasa segar dan sejuk meski ini siang hari.


Yang lebih menarik lagi, rumah-rumah yang ada di daerah ini jaraknya berjauhan dari satu rumah ke rumah yang lainnya. Sehingga setiap pemilik rumah memiliki privasi yang cukup. Suasananya cukup menenangkan...



Mereka bertiga pun akhirnya sampai dan berhenti tepat di depan sebuah rumah yang bergaya sederhana. Sambil menunggu Ray menurunkan koper-koper di bagasi, Adrian mengajak Nadine untuk masuk kedalam terlebih dahulu.


Memasuki rumah mungil itu, Nadine cukup terkesan dengan interior didalamnya. Simple, minimalis, dengan sedikit sentuhan classic. Ukuran rumahnya memang tidaklah besar meski 2 lantai, konsep rumah ini jatuhnya seperti Tiny House kurang lebih. Tapi soal kenyamanan, ini tidak perlu diragukan karena rumahnya tergolong homie dan bersahabat.


"Rumahnya bagus...kalian berdua tinggalnya disini?"


"Iya, kami berdua tinggal disini" bohong Adrian.


Rumah ini saja baru disewa oleh Ray sekitar satu jam yang lalu atas permintaan Adrian. Bersamaan setelah dirinya memasukkan koper-koper milik Nadine ke dalam bagasi saat di parkiran apartemen tadi. Jadi sama seperti Nadine, Adrian dan Ray baru menginjakkan kakinya di rumah kecil ini sekarang.


Hal ini memang sengaja dilakukan oleh Adrian, dengan alasan karena dia tidak ingin identitas dan latar belakangnya diketahui lebih dalam oleh Nadine. Yang dia mau, Nadine mengenalnya sebagai Adrian orang biasa...bukan Adrian Natadipura yang notabenenya adalah seorang CEO dan business tycoon dengan banyak perusahaan multinasional dimana-mana. Semakin sedikit fakta yang diketahui oleh Nadine tentangnya, maka itu akan semakin lebih baik.


"Ray, tolong kamu beli makanan sekarang! Yang banyak sekalian..untuk makan malam biar enggak keluar-keluar lagi. Biar nanti tinggal dihangatkan saja!"


"Baik, saya tinggal sebentar dulu. Permisi." Ray melangkahkan kakinya menuju pintu keluar untuk pergi membeli makanan.


Mendengar percakapan Adrian dan Ray barusan, membuat Nadine menatap keduanya dengan aneh. "Kenapa lihat saya begitu?" Adrian merasa tidak nyaman.


"Ehh..enggak kok, saya cuman sedikit heran aja melihat kamu dan Ray. Apa benar kalian berdua itu berteman?"


"Kami memang berteman, memangnya kenapa?"


"Enggak ada apa-apa sih, hanya saja saya merasa kalau kamu dan Ray itu memiliki hubungan yang kaku untuk ukuran seorang teman. Ray kelihatannya seperti hormat dan sungkan sekali sama kamu. Dia juga kayaknya nurut banget kalau kamu suruh-suruh."


Wajar saja Nadine berpikir seperti itu, karena faktanya hubungan Adrian dan Ray hanyalah sebatas atasan dan asisten pribadi saja..tidak lebih dari itu.

__ADS_1


"Kami itu bertemannya dengan gaya formal. Itu menjadi ciri khas tersendiri untuk pertemanan kami."


Meski tidak yakin, Nadine mengiyakan saja atas perkataan Adrian. "Hmmm...begitu.."


Berbicara tentang teman, Adrian sendiri tidak pernah memiliki teman dekat yang spesifik. Dia memang tipikal orang antisosial dan tidak suka bersosialisasi. Dulu ada sih, satu orang yang cukup dekat dengannya saat dia masih berkuliah. Tapi semenjak hari kelulusan, mereka sudah lost contact.


"Oh ya, saya mau tanya apa rencana kamu selanjutnya! Bagaimana cara kamu memecahkan teka-teki pesan yang ditinggalkan oleh Ayah saya?"


Saat ini Adrian dan Nadine sedang duduk di sofa ruang tengah untuk berbincang-bincang.


"Belum ada gambaran. Nanti malam akan saya coba lagi periksa satu-satu isi brankas milik Ayah kamu,"


Nadine menghela nafasnya sejenak, "Kalau bisa..secepatnya kamu harus temukan flashdisk itu. Karena saya sendiri juga enggak mungkin berlama-lama tinggal sama kamu!"


"Saya juga maunya ini semua cepat terselesaikan, tapi apa boleh buat? Ayah kamu sendiri yang mempersulit kita untuk menemukan flashdisk-nya!" sindir Adrian


"Tolong jangan berbicara buruk tentang Ayah saya. Beliau juga pasti punya alasan yang kuat! Kalau saja teka-tekinya mudah dipecahkan...pasti orang yang namanya Galih-Galih itu juga akan lebih mudah mendapat flashdisk-nya!" Nadine mulai emosi.


Berani-beraninya Adrian mengatai Ayahnya itu mempersulit orang. Nadine jengah dengan sikap Adrian yang menyebalkan. Kalau sebelum-sebelumnya dia bisa menahan diri..kali ini tidak. Ingin rasanya dia meninju wajah Adrian yang tampan itu.


Tidak bisa dipungkiri, walaupun Nadine kesal dia tidak bisa bohong kalau pesona yang dimiliki Adrian memang sangat kuat. Kharisma nya bukan kaleng-kaleng, dan perangainya sangat mengintimidasi.


"Jangan terlalu sensitif, bukan maksud saya menyinggung Ayah kamu. Lebih baik kita tunggu Ray datang membawa makanan..soal itu bisa dibicarakan lagi nanti."


Nadine hanya bisa mengangguk pasrah dan sepakat mendengar ucapan Adrian. Mendebatnya saat ini pun juga percuma, karena Nadine sedang tidak ada tenaga, moodnya sedang buruk.


"Adrian...."


"Apa lagi?" Adrian masih fokus mengutak-atik ponselnya tanpa peduli untuk menoleh kearah Nadine.


"Boleh enggak, saya pinjam mobil kamu nanti sore?"


"Buat apa?"


"Saya mau mengunjungi makam Ayah saya, lalu sekalian..pulangnya saya ke kantor polisi untuk follow up mengenai laporan kasus yang menimpa ayah dan kakak saya. Karena saat ini mobil saya masih ada di rumah teman dan belum diambil. Daerah sini sepertinya susah kalau mau pesan taksi online..jadi boleh kan saya pinjam mobil kamu sebentar?"


Nadine sudah harap-harap cemas saat akan mendengar jawaban Adrian. Entah kenapa melihat sosok pria yang ada didepannya ini membuat dirinya takut. Apalagi wajah Adrian sangat sulit untuk ditebak. Tapi yang jelas, nampaknya Adrian masih mempertimbangkan permintaan Nadine itu.

__ADS_1


__ADS_2