
AUTHOR POV
"Amplop ini isinya apa?"
Digoyang-goyangkannya amplop cokelat berukuran A4 tersebut dengan gerakan maju mundur karena Nadine penasaran dengan isinya.
Adrian menyahuti, "Kamu buka saja sendiri!"
Nadine kemudian segera merobek bagian atas amplop yang di lem dengan perekat. Setelah terbuka, tangannya dimasukkan untuk meraih isi didalamnya.
"Tickets to Switzerland?" Nadine melihatnya seksama untuk memastikan. Takut kalau ia salah lihat.
"Hmm." Adrian menjawab dengan sebuah deheman. "Kita sekeluarga akan pergi liburan kesana. Hanya berempat. Aku, kamu, Kian, dan juga Kai.
"Untuk apa, kok mendadak sih?" disisi lain Nadine merasa senang, tapi disatu sisi ia juga kebingungan mengapa tiba-tiba diajak pergi liburan ke Swiss. Ini diluar pemikiran nalarnya.
"Nothing. Aku hanya ingin membawa kalian bertiga kesana. Ya walaupun sebenarnya ini adalah salah satu cara untuk mewujudkan keinginan yang sempat tertunda," jawab Adrian lagi.
"Keinginan tertunda yang seperti apa maksudnya?" Nadine semakin tertarik mendengar cerita suaminya.
Ia merapatkan duduknya. Mengikis jarak antara satu sama lain. Wanita itu menatap suaminya serius seakan-akan menyiratkan rasa keingintahuannya yang begitu besar.
Adrian menjelaskan, "Aku punya rencana, h+1 setelah perayaan Natal, aku berniat memboyong kamu ke Swiss. Aku sempat berpikir, pasti akan seru kalau kamu melahirkan disana. Waktu itu aku sudah mengantongi izin dari dokter disini. Kamu diperbolehkan naik pesawat meski sedang hamil besar."
Nadine terhenyak diam. Melirik sekilas kearah Adrian, lalu pandangannya kembali fokus pada lembaran-lembaran kertas yang sedang dipegangnya.
"Serius? Kok aku bisa enggak tahu sih?" Nadine terkekeh tak percaya. "Kenapa enggak pernah bilang sama aku? We've never had this conversation."
"Initially, it's just a wildest dream. Tapi lama kelamaan aku menanggapinya dengan serius. Aku benar-benar terobsesi kala itu. Prinsip aku, bisa atau tidaknya, Kian dan Kai harus terlahir di Swiss bagaimanapun caranya." ucap Adrian penuh keyakinan.
"Aku sampai bela-belain ngurus visa secara diam-diam supaya tidak ketahuan kamu. Aku juga persiapkan asuransi kesehatan sebagai jaminan agar kamu bisa melahirkan di luar negeri. Yang terakhir, aku bahkan sudah booking kamar inap ke pihak rumah sakit di Swiss dan konsultasi dengan dokter ahli sana yang menangani proses persalinan kamu nantinya," katanya panjang lebar.
"Wow, I'm just speechless right now..." Nadine tak menyangka jika suaminya itu sampai totalitas melakukan semuanya.
"Mungkin kedengarannya agak sedikit berlebihan. But that's the truth and I won't be ashamed. Sayangnya, ekspektasi aku tak sesuai dengan realita. Belum genap 9 bulan, kamu harus melahirkan lebih cepat dari ketetapan waktu awal."
Adrian tertawa kecil jika mengingat-ingat tingkah konyolnya itu, sambil tangannya terulur untuk memberi usapan lembut pada pipi Nadine. "But that's okay, I'm happy either way. Buatku, yang terpenting kamu dan si kembar bisa selamat. Perasaanku sudah cukup tenang dan lega,"
__ADS_1
"Saat libur Natal dan tahun baru kemarin, kita kan tidak pergi kemana-mana karena fokus dengan recovery kamu dan si kembar. So I think, our time has finally come. To go on a vacation as a whole pack." sambung Adrian lagi.
Sebuah senyuman manis merekah di bibir Nadine. Pikirnya, bagaimana bisa Adrian selalu berkata kalau dia bukanlah tipe pria romantis namun bertingkah seperti ini.
"I do really appreciate for everything what you've done. Tapi anak-anak kan masih kecil sayang..kita enggak mungkin ajak mereka kesana sekarang."
"Si kembar lahir secara prematur. Dokter menyarankan mereka untuk tidak bepergian kemana-mana terlebih dahulu. Karena kondisi daya tahan tubuh mereka berbeda dengan anak-anak lainnya saat ini."
Nadine sebenarnya benci kalau harus menghancurkan rencana Adrian yang sudah disusun matang dari jauh-jauh hari. Tapi kondisi tidak memungkinkan.
Adrian merangkul bahu Nadine dan mengelus lengannya. "Aku tahu Nad, maka dari itu berangkatnya tidak sekarang. Harus menunggu sekitar 3-4 bulan kedepan."
"Ya terus kenapa tiketnya udah dipesan duluan kalau berangkatnya masih lama?" ada-ada saja Adrian ini, pikir Nadine.
"Sengaja, biar bisa dipersiapkan. Kamu tahu aku orangnya super sibuk. Jadi apa-apa itu harus prepare mulai dari sekarang."
"Kamu emang beda ya dari pria-pria diluaran sana, selalu saja punya pemikiran unik," ledek Nadine. "Tapi ngomong-ngomong, kamu tumben banget ngajak liburan naiknya pakai pesawat komersial. Kamu kan punya private jet sendiri, enggak mau pakai itu aja?"
"Sekali-kali tak apa kan, liburan selayaknya orang sipil?" celetuk Adrian. "No bodyguards, no helper, no babysitters, just four of us."
Nadine mengaitkan tangannya pada lengan Adrian dan menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. "Aku enggak masalah naik pesawat komersial. Justru aku suka dengan ide liburan yang intim seperti itu, hanya kita dan anak-anak. Kamu juga pasti pesannya tiket First Class, jadi sama aja nyamannya. Cuman aku penasaran alasannya apa!"
"Penggunaan pesawat pribadi yang terus menerus itu tidak ramah bagi lingkungan hidup dan dapat memicu perubahan iklim serta pemanasan global."
"Aneh ih, kenapa jadi serius banget omongan kamu?" Nadine mencubit pelan perut sixpack Adrian.
"Bukan aneh, nyatanya memang begitu. Kalau kita bepergian dengan pesawat komersial, hitung-hitung kita ikut andil dalam perlindungan iklim," terang Adrian.
"Ya..ya..ya..terserah kamu deh mau apa, aku ngikut aja!" Nadine dibuat pasrah dengan pemikiran Adrian. "Terus yang itu apa? Hadiah juga apa bukan?" Nadine menunjuk pada kotak kecil berukiran kayu diatas nakas.
Adrian segera mengambilnya karena letak kotak itu persis ada disebelahnya. "Iya, ini juga hadiah. Just open it!" perintahnya.
Setelah dibuka Nadine mendapati kotak tersebut berisikan dua buah kunci dengan gantungan infinity.
"Kunci...kunci apa ini?" Nadine meraba-raba kunci kecil itu sambil menganalisanya dalam-dalam.
"Aku baru saja membeli sebuah resort dan beach house." jawab Adrian dengan entengnya.
__ADS_1
"WHATTT?!!!" mata Nadine terbelalak lebar. "Is this for real? You're joking..."
"I'm not. Kamu bisa lihat surat-suratnya ada di laci."
Sekujur badan Nadine meremang lemas," Buang-buang duit banget sih kamu!"
"Tidak ada istilah buang duit. Itu bagus untuk investasi masa depan anak-anak kita."
Bagian inilah yang paling tidak Nadine sukai dari Adrian. Selalu saja mengambil keputusan secara sepihak. Tak pernah mengajaknya berdiskusi. Memang sih uang itu milik Adrian, tapi sesekali Nadine juga ingin ikut serta dilibatkan.
"Terus ini kamu beli propertinya dimana?" tanya Nadine malas. Ia masih menyayangkan sikap Adrian yang semaunya sendiri.
"Kalau beach house ada di Ibiza. Untuk yang resort aku belinya di area pedesaan Grindelwald."
Nadine melongo tak percaya. Rahangnya turun jatuh kebawah mendengar pernyataan sang suami. Apakah Ibiza yang dimaksud itu ada di negara Spanyol? Dan apa Grindelwald yang dimaksud itu di Swiss? Nadine rasanya ingin pingsan saja. Otaknya terasa penuh memikirkan ini semua.
Owekkkk...owekkk
Owekkkk...owekkk
Suara isak tangis bayi yang meraung membuyarkan lamunannya.
Tokk..tok..tokk..
Suara pintu kamar mereka diketuk dari luar. Diikuti oleh alunan suara tangis yang terdengar begitu jernih.
Ceklek..
"Maaf menganggu waktunya Nyonya, ini adek menangis terus. Saya dan Sinta tidak bisa menenangkan keduanya. Sudah saya kasih susu ASI botolan, tapi sepertinya mereka tidak mau, Nya.." ucap Bibi Magda.
"Ya sudah enggak apa-apa Bi, sini kasih ke saya. Mungkin mereka mau minum langsung dari sumbernya." Nadine mengulurkan tangannya untuk menggendong si kecil.
Dibantu oleh Adrian yang ikut mengekor di belakang, keduanya saling bahu membahu untuk membopong tubuh mungil Kian dan Kai yang langsung dibawa masuk kedalam kamar.
"Terima kasih ya Bi, Sinta..sudah berkenan menjaga Kian dan Kai selagi saya tidak ada."
"Sama-sama Nyonya, kami permisi dulu." Bibi Magda dan Sinta menunduk hormat lalu pamit undur diri.
__ADS_1
Nadine kini mengalihkan fokusnya pada sang buah hati. Mungkin dilain waktu, ia akan coba bicarakan lagi pada Adrian soal resort dan beach house tersebut.
***