Favorite Sin

Favorite Sin
BADMOOD OR BABY BLUES?


__ADS_3

AUTHOR POV


"Kamu sembarangan banget deh, itu tatonya masih basah jangan dipegang-pegang dulu! Mana masih merah-merah tuh!" gerutu Nadine yang melihat Adrian tengah menekan pelan hasil tatonya.


Sepulang dari rapat pertemuan keluarga di rumah kebesaran Willy Natadipura, Nadine dan Adrian memang langsung bertolak ke tempat tato artis sesuai permintaan Adrian sebelumnya.


"Ini tidak sakit karena aku sudah terbiasa," jawab Adrian santai sambil pandangannya merujuk pada tato di bagian bawah perutnya yang tengah dibalut lapisan pelindung berbentuk perban plastik.


Ucapan Adrian tak membuat Nadine puas. Wanita anak dua itu justru mengerucutkan bibirnya dan memasang wajah yang sama sekali tidak terlihat ramah. Datang ke tempat ini pun juga sebenarnya dengan perasaan penuh ogah-ogahan.


Bagaimana tidak badmood, sejak awal Nadine sendiri sangat antipati dengan keputusan Adrian yang hendak membubuhkan gambar tinta permanen pada tubuhnya lagi.


Alih-alih hanya menato perut bagian kiri bawah seperti kesepakatan awal, Adrian justru memperbanyaknya lagi.


Alhasil jadilah, tambahan tato pada masing-masing pergelangan tangannya. Yang kiri bertuliskan Kylian, lalu satunya lagi Malakai. Keduanya ditulis menggunakan font Sacramento. Lengkap pula dibawahnya ada keterangan tanggal lahir twins dengan angka romawi.


Terkesan berlebihan bukan? Tapi itulah Adrian. Mau dibantah juga tidak bisa karena pria itu keras kepala.


"Jangan melengkungkan bibir kamu kebawah, mau aku ciium disini huh?" goda Adrian seraya tersenyum menyeringai hingga alis kanannya terangkat.


"Ishh...kamu semakin malam semakin absurd tahu enggak! Nyebelin!" omel Nadine.


Suara kekehan pun keluar dari mulut Adrian, "Hmm..meskipun kesal juga kamu cintanya sama aku kan?"


Kini Nadine kapok mau menanggapi lagi. Sikap playful Adrian yang seperti ini justru membuatnya kesal.


Melihat perdebatan diantara sepasang suami istri yang tak berujung membuat sang tato artis yang masih berada ditempat merasa canggung.


"Saya permisi keluar saja kalau begitu." pria itu mengalah, membiarkan Adrian dan Nadine melanjutkan adu mulut mereka lebih lanjut hanya berdua saja.


Adrian hanya balas mengangguk. Pekerjaan orang itu memang sudah selesai sehingga tak masalah jika dia keluar. Pembayaran atas jasanya juga sudah ditransfer dari jauh-jauh hari. Bisa dikatakan semuanya clear.


"Harus tunggu berapa jam lagi itu perbannya bisa dibuka?" Nadine datang mendekat menghampiri Adrian lalu mendudukkan tubuhnya pada tepi ranjang kecil.

__ADS_1


"Sekitar 3 jam lagi."


Sesuai anjuran dari tattoo artist itu sendiri, setelah area kulit yang ditato dibersihkan dan diolesi dengan salep antibakteri, perban tato tersebut tidak boleh dibuka secara sembarangan.


Kurang lebih harus menunggu 3 sampai 5 jam dulu menurut aturan, sebab perban ini berfungsi untuk melindungi tato dari debu dan bakteri sehingga. Maka itu, alangkah baiknya dibiarkan dulu dibalut sebelum dibuka.


"Ya sudah, kamu buruan pakai bajunya. Aku mau cepat-cepat pulang!" celoteh Nadine sambil menyerahkan kaos polo hitam.


"Kenapa buru-buru sekali? Santai saja sedikit. Di rumah tidak ada twins. Mereka pasti belum pulang." balas Adrian.


Memang betul twins sedang tidak berada di rumah. Kedua bayi gembul itu sedang dikuasai oleh Mama Diana dan Papa Alan. Bilangnya sih tadi mau diajak pergi bermain. Adik-adik Adrian juga dikabarkan ikut serta.


Namun entah apa yang diperbuat oleh orang tua Adrian terhadap cucu mereka sendiri, dia tidak tahu. Yang jelas sepulang dari sini Adrian akan bertanya pada para bodyguard yang diutusnya untuk mengawal keluarganya ketika bepergian, tentang apa saja kegiatan yang dilakukan mereka.


Adrian memang sengaja menyiapkan pengamanan ketat untuk mereka. 6 orang pengawal beserta 4 mobil iring-iringan. Tak perduli mau dikata berlebihan karena mustahil baginya untuk bersikap lepas tangan.


Apalagi ini adalah pertama kalinya twins bepergian tanpa dirinya dan Nadine setelah mereka lahir ke dunia. Rasa khawatir pasti ada.


"Iya ngerti..Kian dan Kai memang lagi sama Mama Papa. Tapi aku serius pingin cepat-cepat pulang. Aku mau rebahan di rumah sayang..badan aku pegal-pegal!"


Baginya, mumpung anak-anak sedang dititipkan pada sang mertua setidaknya ia bisa istirahat sejenak. Maklum, semenjak memiliki bayi perasaan letih dan lelah menderanya.


Selama 24/7 yang mengurus twins hanya Nadine seorang. Sesekali juga pernah dibantu oleh Bibi Magda dan asisten rumah tangga lainnya, namun tidak sering. Hitungannya malah jarang. Justru lebih sering ia bergantian dengan Adrian menjaga twins saat sudah pulang dari bekerja.


Untuk saat ini Nadine dan Adrian masih konsisten pada prinsip mereka yang tidak mau memperkerjakan babysitter. Mereka tidak percaya dengan orang luar dan melarang siapapun menyentuh anak-anak mereka tanpa izin.


Adrian menghela nafasnya pelan. Tangan kanannya terulur meraih pundak Nadine. Kemudian ditariknya lah tubuh istri tercintanya itu agar merangsak masuk dalam dekapannya.


"Kamu lelah ya? I'm sorry okay...kalau begitu kita pulang sekarang."


Sekilas Adrian mengecup pelipis Nadine dari samping sebelum beranjak berdiri dari tempat. Lalu dengan sembrononya ia memakai kaos polo yang tadi sudah diberikan tanpa perduli pada bekas tato yang masih kemerahan.


"Tuh..baru aja tadi aku omelin, tapi kamu mulai lagi mancing-mancing amarah aku!" sindir Nadine.

__ADS_1


Adrian memutar badannya dan menoleh kearah wanitanya, "Kenapa lagi aku?" merasa tidak ada yang salah, Adrian semakin bingung atas hal apa yang membuat Nadine mengoceh lagi.


"Pakai bajunya pelan-pelan dong Adrian, apa enggak sakit itu tato kalau kesenggol baju?"


"Kan aku sudah jelaskan tadi, ini tidak sakit. Aku sudah terbiasa. Ingat ya, aku sama sekali tidak sakit. Paham?" Adrian bahkan rela berjongkok mensejajarkan posisi tubuhnya menghadap Nadine.


"Terus ini kamu bisa menyetir pulang kan? Kita datang enggak sama supir..."


Adrian mengerutkan keningnya, semakin tidak paham kemana arah pembicaraan istrinya. "Tentu bisa, memangnya kenapa tidak bisa?"


"Ya kan tangan kamu.."


Belum sempat kalimat tersebut diselesaikan, Adrian langsung menyela, "Karena tanganku ditato gitu? Jadi aku tidak bisa menyetir?"


Nadine mengangguk polos mengiyakan.


"Sayang...tanganku normal. Tidak patah tulang. Tidak ada luka. Jelas aku bisa menyetir pulang. Tatonya pun juga kecil. Kalaupun aku merasa kesakitan, mobil kita kan ada fasilitas autopilot. Bisa digunakan kok." Adrian mendekat dan menangkup wajah Nadine.


Entah mengapa Adrian merasa ada yang tidak beres dengan wanitanya. Tergurat sebuah pancaran aura kegelisahan dan kecemasan pada wajahnya.


"Kamu sebenarnya kenapa huh? Tiba-tiba mendadak sensitif. Padahal tadi pagi sampai siang aku terus yang dibuat emosi karena kelakuan Opa, Tante Mawar, dan Om Farhan.."


"Tapi sekarang, kenapa jadi kamu yang badmood? Kamu tidak suka ya nemenin aku kesini? Atau kamu tidak suka karena aku menambah tato?"


Tidak ada jawaban dari Nadine. Yang ada hanyalah keheningan yang menyeruak. Namun detik berikutnya, Nadine merespon.


"Bukan..aku cuman enggak ngerti. Rasanya aku kayak ingin marah sekarang. Enggak tahu kenapa. Mood aku sedang buruk..."


Adrian jadi menerka-nerka sendiri dibuatnya. Dia mulai berteori jika Nadine bisa saja sedang ada tamu bulanan. Atau mungkin terkena baby blues. Bisa jadi bukan?


***


VISUALS

__ADS_1



__ADS_2