
AUTHOR POV
"I'm nervous..ini pertama kalinya aku datang ke acara seperti ini!" telapak tangan Nadine berkeringat.
"Lingkarkan tanganmu di lenganku!" ucap Adrian. Nadine lalu mencengkeram erat lengannya.
"Ingatlah bahwa kamu adalah istriku di mata dunia, bersikaplah seperti itu sepanjang acara berlangsung. Tetap tersenyum dan pasang wajah ramah pada semua orang."
"Sepertinya semua orang menatap ke arah kita?" Nadine mengedarkan pandangannya ke arah sekitar dan meringis memaksakan senyumnya.
"Mereka hanya penasaran dengan kita. Biasanya saya tidak pernah membawa wanita ke acara-acara besar. Jadi ini adalah penampilan pertama kita di publik sebagai pasangan setelah menikah hampir sebulan yang lalu."
Tangan kiri Nadine memegangi perutnya. "Aku jadi mual rasanya!"
Adrian dan Nadine saling berbalik untuk bertatapan. Netra keduanya tertambat dengan lekat satu sama lain.
"Jangan rusak rencanaku kali ini. Ingat yang sudah aku sampaikan di mobil. Lihat ke arah jam 9, ada Sean disana. Kamu harus gerak cepat!" Adrian berbisik.
"Wish me luck.." balas Nadine.
Tanpa diduga Adrian tiba-tiba mengecup puncak kepala Nadine. "All the best!" ucapnya singkat seraya mengelus pipi kanannya dengan gerakan tangan yang lembut.
Kemudian Adrian beranjak pergi untuk melancarkan rencana mereka yang lain.
Relung hati Nadine berdesir karena ia baru saja mendapat perlakuan manis dari Adrian yang jarang sekali ia terima. Dia bahkan tersenyum-senyum sendiri memikirkannya.
Pemandangan itu pun tak luput dari mata Sean Malik-Santoso, mantan kekasih Nadine yang sedari tadi sudah mengincar Nadine sejak dia memasuki ballroom.
"Halo Nadine..?!" sesuai rencana..Sean rupanya terpancing.
Nadine merasa tidak perlu repot-repot untuk mendekatinya terlebih dahulu. "Oh..hi Sean."
"Musiknya sudah dimulai, boleh kita berdansa. Kita perlu bicara."
"Okay."
Sean menjulurkan telapak tangannya yang disambut oleh Nadine. Mereka bergandengan ke area tengah ballroom untuk berdansa.
"Kamu kok bisa ada disini?" tanya Sean.
"Aku datang kesini untuk menemani suamiku."
Sean membelalakkan matanya. "S--suami? Kamu sudah menikah?!"
"Iya, aku sudah menikah."
"Aku tidak sengaja melihat kamu datang bersama Adrian Natadipura. Apa dia... orangnya?" tanya Sean berhati-hati.
"Iya..Adrian Natadipura adalah suamiku."
DUUAARRRR.....
Bagaikan didera oleh ribuan ombak pantai, pernyataan Nadine barusan menusuk jantung Sean menembus ulu hati hingga ke akarnya. Perempuan yang sangat dicintainya ini, sudah menjadi milik orang lain sekarang.
"Kamu serius Nad?!" Sean masih tak percaya.
__ADS_1
"100% serius."
"Kenapa kamu tega?!" lirih Sean yang kini melepaskan dekapannya dari Nadine.
"Tega apa? Hubungan kita sudah berakhir Sean, jadi wajar saja kalau aku menerima pinangan orang lain!"
"Aku masih cinta sama kamu Nad!" Sean memegang kedua tangan Nadine.
"Cinta? Apa kamu tahu apa itu arti cinta? Kalau kamu cinta..kenapa selingkuh?"
"Aku terpaksa." sebuah rasa penyesalan tampak jelas di wajah Sean.
"Mana ada terpaksa tapi menikmati. Lebih baik kita tidak usah meneruskan dansa ini, berbahagialah dengan Gadis...perempuan pilihan orang tua mu. Selamat tinggal!" Nadine melepaskan genggaman tangan Sean secara kasar.
Mata Sean berubah nanar menatap kepergian wanita yang dicintainya sudah terlihat jauh dari jangkauan. Berbeda dengan Nadine yang tak bergeming sedikitpun. Reuni singkatnya dengan Sean tak berpengaruh apa-apa pada dirinya.
Sean itu hanya seonggok masa lalu. Habis sudah cinta dan kasih yang tersisa. Yang ada hanyalah goresan luka hati yang masih terasa membekas.
GREPP....
Sebuah gerakan tangan menarik tubuh Nadine saat ia hendak pergi ke kamar mandi.
"Astaga Adrian...kamu bikin kaget tahu enggak!"
"Shtt..jangan keras-keras. Bagaimana, sudah belum?"
"Sudah aku tempelkan dot nya di tubuh Sean, sesuai perintah kamu."
"Bagus! Dot kecil itu akan bekerja 15 menit setelah tertempel. Saya yakin sebentar lagi Sean akan menemui David di kamar presidential suite miliknya. Lewat dot itu, kita bisa mendengar percakapan mereka yang terkoneksi lewat recorder. Ray sudah mengurusnya."
"Saya sudah pesankan kita kamar di hotel ini untuk semalam. Kita naik sekarang."
Nadine mengangguk. Lagi-lagi dia dan Adrian berjalan bersama seraya bergandengan tangan memasuki lift.
Kamar yang dipesan Adrian berada di lantai paling atas dan bersifat private. Tidak banyak yang menyewa kamar di lantai tersebut.
Sesampainya disana, keduanya menyusuri lorong untuk mencari nomor kamar mereka. Adrian hanya memesan satu kamar, karena dia tak berniat untuk tidur malam ini. Biar Nadine saja yang beristirahat, pikirnya.
Namun, langkah kaki mereka harus terhenti saat mendengar ada suara keributan di pojokan. Adrian yang menyadari hal itu, mengarahkan telunjuknya ke bibir Nadine sebagai tanda untuk diam menutup mulut.
"Shhtt...." bisik Adrian.
DOR..DOR..DOR
"ENYAHLAH KAU!"
Tak lama suara tembakan dan suara bentakan seseorang terdengar.
"Adrian aku takut..itu ada apa?!" tubuh Nadine gemetaran.
"Benar kan kataku, belum apa-apa kamu sudah takut duluan!" ejek Adrian.
"Ckk..dalam situasi genting seperti ini kamu masih sempat-sempatnya meledekku!!"
"Diamlah. Nanti ketahuan!"
__ADS_1
Keduanya lanjut melangkahkan kaki mereka dengan mengendap-endap tanpa melihat ke belakang.
"Hey Stop!! Kalian menguping ya tadi..jangan kabur!!"
DEGHHH....
Tubuh Nadine membeku. Dia merasa ketakutan setengah mati sekarang. Sedangkan Adrian menanggapinya dengan santai. Ia tak mau gegabah meski sudah tertangkap basah.
Pria yang berteriak tadi berjalan mendekat ke arah Adrian dan Nadine bersama keempat bawahannya. Pria itu berniat menghabisi Adrian dan Nadine karena keduanya telah memergoki aksi mereka walau hanya sekedar menguping.
Insting Adrian sangat kuat. Dia sadar bahwa kini dia sudah terjebak dan tak punya pilihan lagi selain melawan. Perlahan, ia mengambil sebuah pistol yang tersimpan dalam balutan tuxedo-nya itu. Dengan gerakan cepat, ia membalikkan badannya dan melesatkan tembakan pada orang-orang itu.
DOR..DOR..DOR
Terjadilah baku tembak antara Adrian dan kelima pria berjas tadi. Nadine memilih untuk bersembunyi di balik tembok, dia mencoba mengirim pesan pada Ray untuk meminta bantuan.
"Arghhh..." karena sedikit lengah...betis kaki Adrian terkena tembakan lawan yang meleset. Adrian pun membalas aksi mereka dan melepaskan tembakan lagi hingga kelima pria itu akhirnya tumbang menggelepar.
Dirasa kondisi sudah aman, Adrian memanggil nama Nadine sedikit berteriak dari balik tembok.
"Nad..Nadine..." lirihnya dengan suara serak.
"Ya ampun Adrian..kaki kamu!!" tubuh Nadine berjongkok ke lantai dan seketika lemas melihat banyaknya darah yang keluar dari kaki Adrian.
"Papah aku ke kamar..nomor 802," pinta Adrian.
"Okay..." Nadine membantu Adrian untuk bangkit dan mengalungkan lengan Adrian di lehernya.
Keduanya bergegas pergi dari tempat kejadian perkara, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
***
Ini adalah kali ketiga Nadine merawat dan mengobati Adrian yang terluka akibat berkelahi dengan lawan. Dia sudah hampir kebal dan lebih tenang menghadapinya meski sisa-sisa ketegangan masih membekas. Nadine sungguh takut terjadi sesuatu yang buruk pada Adrian.
"Mereka itu siapa lagi? Kenapa harus selalu kita yang kena...lihat kan! Kamu terluka lagi!!" Nadine mendadak mellow melihat luka Adrian.
"Nanti saya akan cari tahu. Jangan dipikirkan.."
"Gimana aku enggak mikir saat tahu suamiku hampir bertaruh nyawa diluar sana! Dan siklusnya selalu aja begini..kapan ini berakhir!!" Nadine tak kuasa menampung air matanya.
Tetesan air mata turun begitu saja membasahi pipi Nadine tanpa permisi terlebih dahulu.
"Hapus air mata kamu. Saya tidak suka melihatnya" Adrian paling tidak bisa melihat perempuan menangis.
Nadine mengusap kasar pipinya yang terlanjur basah karena tangisannya.
Suasana berubah dingin dan sunyi. Tak ada lagi interaksi dari keduanya. Mereka sama-sama memilih untuk diam dan duduk di ranjang tanpa tahu harus melakukan apa.
Lama termenung dalam lamunannya masing-masing, kini mereka kembali beradu tatap. Dan tiba-tiba, Adrian menangkup tengkuk kepala Nadine dan menyambar bibirnya secepat kilat.
Tubuh Nadine membeku. Jantungnya terpompa naik turun. Walau sempat tertegun dengan apa yang dilakukan Adrian, rupanya Nadine tak kuasa menolaknya. Nadine membalas perlakuan Adrian dengan memegang sisi kanan-kiri wajah tampannya itu.
Adrian tak bisa lagi menahan jiwanya yang sudah tersulut gairah membara. Dipagutnya bibir lembut Nadine dengan sentuhan penuh kasih sayang. Adrian menarik pinggul Nadine agar lebih mendekat dan tak lagi menyisakan sebuah jarak.
Mereka saling membalas ciuman satu sama lain, melahap bibir masing-masing, dan menautkan asmara yang bergelora seakan-akan tidak ada lagi hari esok.
__ADS_1
Kedua insan manusia yang sedang memadu kasih ditemani dinginnya malam pun akhirnya terlena untuk melanjutkan aksi mereka dalam meneguk kenikmatan dunia...