
AUTHOR POV
"Oh ya, aku mau tanya sesuatu sama kamu!" Nadine bertanya secara spontan pada Adrian setelah keduanya hanya berdua didalam kamar.
Beberapa menit lalu masih ada Bibi Magda yang mengantarkan susu almond hangat pesanan Nadine.
"Mau tanya apa?" jawab Adrian sembari mengendurkan dasi dari kerah kemejanya.
Baru saja pulang kerja, Adrian sudah ditodong sebuah pertanyaan oleh istrinya. Padahal dia sendiri belum sempat mandi dan berganti pakaian.
Niat hati ingin pergi ke kamar untuk buru-buru bebersih supaya dia bisa cepat-cepat menengok si kembar harus diurungkan demi meladeni wanita kesayangannya ini.
Untuk jas serta rompi vest yang dikenakannya di kantor tadi sudah dilepas dan langsung dimasukkan kedalam keranjang pakaian kotor oleh Nadine.
"Itu yang soal Vegas, kamu benar-benar jadi ya mau kesana? Udah pesan tiket tapi enggak bilang-bilang!" sindir Nadine ketus seraya matanya melirik tajam.
Posenya berkacak pinggang dengan kedua tangan masing-masing bertengger pada pinggang. Raut wajahnya datar agak sedikit menyeramkan. Nampaknya ada sesuatu tidak bagus akan datang menghampiri.
Adrian menarik nafasnya dalam-dalam dan memejamkan mata. "Arga sama Arjuna baru mengadu ya?" tebak Adrian yang langsung tepat sasaran.
"Ckk..jangan mengalihkan pembicaraan! Jawab dulu pertanyaan aku tadi!"
"Dasar tukang ngadu!" gumam Adrian merajuk pada dua adik laki-lakinya yang badung itu. Sedikit jelas Nadine sebenarnya masih bisa mendengar umpatan Adrian meski pelan.
Nadine berencana akan berterimakasih dan memberi reward pada kedua adik iparnya itu nanti karena telah membocorkan rahasia negara tentang keberangkatan Adrian ke Vegas.
"Kamu enggak perlu ngamuk sama Arga dan Arjuna ya! Nanti aku marah!" ancam Nadine lagi.
"Iya tidak marah." jawab Adrian yang sudah selesai berganti dan tubuhnya kini berbalut jubah mandi. Alas kakinya ikut berganti sandal santai ala rumahan.
"Jadi benar ya kamu Vegas?" tanya Nadine sekali lagi mencoba peruntungannya.
"Memangnya kapan aku pernah tidak serius? Hidup bukan sebuah candaan Nadine."
"Ckkk...emangnya enggak bisa ditunda dulu apa?"
__ADS_1
"Aku tidak mau menunda-nunda urusan ini lagi. Aku ingin semuanya segera tuntas dan selesai. Semakin cepat aku pergi ke Vegas, maka semakin cepat pula Kelvin bisa ditangkap. Setelah itu kita bisa memulai hidup baru kita dengan tenang bersama twins seperti impian kita." Adrian yang tadinya berbicara tanpa menatap Nadine, kini balik menoleh. Menfokuskan tatapannya pada sang istri.
Nadine melengkungkan bibirnya kebawah, "Tapi aku enggak mau kamu berangkat Senin."
"Jika bukan Senin, lalu kapan hmmm...?" Adrian meraih kedua bahu Nadine dan memberikan sedikit pijatan gemas.
"Kalau misalnya diganti minggu depannya lagi gitu gimana?!"
"Tidak bisa, Nadine istriku sayang. Jadwal penerbangannya sudah diatur untuk Senin depan ini."
"Tapi kamu kan naik jet pribadi. Pasti bisa reschedule dong?"
"Teori dari mana itu! Meski pesawat itu punya aku, tapi pilot beserta kru-nya bukan aku. Tidak mungkin bisa sembarangan membatalkan seenaknya. Kesannya seperti menyepelekan mereka. Harus ada prosedur pasti kalau mau dicancel. Minimal jauh-jauh hari memberi kabar."
"Nyebelin banget!"
"C'mon, Nad...we've talked about this before? Kamu sudah setuju waktu itu."
"Kata siapa aku setuju? Kamu tuh yang tiba-tiba memutuskan semuanya sendiri tanpa rundingan dulu. Waktu itu aku masih minta waktu untuk berpikir. Tahu-tahu kamu sudah pesan tiket aja!"
Lagi-lagi Adrian menghela nafasnya kasar dan coba menetralkan emosinya agar tidak meletup-letup. Kesabarannya yang setipis tisu lagi-lagi sedang diuji. Dan pengujinya masih tetap orang yang sama. Nadine Zerina Natadipura.
"Sini deh...." tanga Adrian mendayu-dayu mengajak Nadine untuk bergegas duduk disampingnya.
Adrian akan coba mengajak Nadine berkomunikasi dari hati kehati agar wanitanya ini sedikit melunak.
"Apa?" ketus Nadine.
"Sini dekat aku..." pinta Adrian sekali lagi.
"Enggak mau ah! Kamu nyebelin.."
"Nadine..." panggil Adrian dengan nada penuh penekanan yang kesannya sedikit memaksa.
Dengan berjalan gontai dan raut wajah malas Nadine dengan berat hati tetap menuruti Adrian untuk duduk diatas kasur disampingnya.
__ADS_1
"Now tell me, sebenarnya kamu kenapa hari ini? Kenapa tiba-tiba ngambek tidak jelas? Kemarin kamu sepertinya sudah setuju padahal, dan sekarang keputusan jadi berubah lagi. Tell me why?"
"Ya aku kesel aja!"
"Kesal bagaimana?"
"Aku enggak mau kamu pergi." Nadine refleks memeluk Adrian erat seakan-akan enggan berpisah. Matanya sedikit berkaca-kaca seperti orang yang sedang mellow.
Kini Adrian paham. Nadine sedang ingin dimanja dan diperhatikan. Wajar, akhir-akhir ini kesibukannya makin tidak terkontrol harus diakui itu. Menjadikan dirinya jarang berada di rumah bersama anak dan istri.
Apalagi lusa Adrian akan melancong ke Vegas selama 5 hari. Semakin terpangkas saja momen kebersamaan mereka.
"Kalau tidak pergi, nanti Kelvin bagaimana? Siapa yang mengurus?"
"Anak buah kamu kan ada banyak sayang! Enggak cuman satu atau dua. Bisalah kamu suruh mereka urus itu semua. Jadi enggak perlu repot-repot terbang ke Vegas. Kamu bahkan punya Ray yang bisa disuruh untuk handle masalah Kelvin." Nadine masih mencoba bernegosiasi.
Dengan rayuan mautnya ia berharap Adrian tidak jadi pergi. Maunya di rumah saja dengan twins menghabiskan waktu weekend bersama.
"Ray sedang aku kasih cuti. Dia minta izin libur untuk menemani istrinya yang sedang hamil besar."
Mengingat Helen sudah mendekati hari perkiraan lahir, Ray tidak mau ambil resiko. Itu sebabnya dia memberanikan diri mengajukan cuti yang untungnya di acc Adrian tanpa ada kealotan dalam prosesnya.
Beda dengan dulu. Meski sakit sampai tak bisa bangun dari kasur saja tetap disuruh masuk dan bahkan work from home.
Nadine mendongakkan kepalanya keatas, "Oh iya aku lupa..Helen memang hamilnya bareng sama aku. Berarti sebentar lagi dia mau melahirkan ya?"
"Itu dia! Tinggal beberapa Minggu lagi Helen diprediksi akan melahirkan anak pertama mereka. Kasihan kalau dia tidak ada yang menemani."
"Tumben kamu baik?"
"Karena kamu."
"Kok aku?"
"Ya semenjak menikah sama kamu, tingkat kesadisann aku jadi berkurang!" ujar Adrian sambil mencubit gemas hidung Nadine.
__ADS_1
"Hmm...bisa aja!" balas Nadine dengan tawaan pelan.
***