Favorite Sin

Favorite Sin
NATHAN AND NADINE ARGUING


__ADS_3

AUTHOR POV


Mobil berjenis Audi R8 yang dikendarai Adrian dan Nadine sudah tiba di area drop off lobby penthouse Nathan.


"Sorry, aku tidak bisa mengantar kamu naik keatas...aku harus buru-buru pergi," ucap Adrian.


"Enggak apa-apa, nanti aku sampaikan salamnya ke Kak Nathan."


Nadine cukup paham kalau suaminya ini super sibuk. Kehadiran Adrian bahkan sudah ditunggu oleh Ray. Nadine tahu itu karena ponsel Adrian tak kunjung berhenti berdering.


Andai saja Nadine dan Adrian tak melakukan pergulatan panas pagi-pagi, mungkin Adrian sudah sampai di bengkel saat ini.


"Nanti kamu pulangnya dijemput sama supirku saja karena urusanku selesainya masih lama. Kalau ada apa-apa, kamu segera kabari aku!" tegas Adrian.


"Iya...kamu juga jangan lupa untuk berkabar. Kalau bisa secepatnya pulang karena besok kan mau berangkat ke Brazil, jadi kita perlu berkemas. Aku sebenarnya bisa packing-in baju-baju kamu, tapi aku enggak tahu barang apa aja yang mau kamu bawa..makanya nunggu kamu pulang deh..." cerocos Nadine tanpa jeda.


"Aku terserah, urusan koper biar kamu yang mengatur. Bawalah barang yang sekiranya penting saja, kalau kurang nanti bisa beli disana!" kata Adrian dengan entengnya.


Ketika sedang mengobrol, mata Nadine tak sengaja tertuju pada dua pria kekar dengan tampang seram sedang memandanginya tajam.


"Adrian..sepertinya ada 2 orang yang lagi mengamati kita, mereka ada di arah jam 9!" Nadine seketika gugup dan menggenggam tangan Adrian kencang.


Adrian menoleh pada dua orang pria yang dimaksud oleh Nadine, dan ternyata mereka adalah orang suruhan yang sengaja disiapkan untuk menjaga keamanan Nadine.


"Ohhh..itu bukan orang jahat, mereka itu bodyguards sewaanku! Aku sengaja menugaskan mereka berjaga-jaga disini," ungkap Adrian jujur.


"Are you serious? Enggak salah kan mereka orangnya?" Nadine ragu.


"I'm being serious Nad! Dari perangainya saja aku bisa tahu kalau mereka itu bawahanku! Terlihat dari earpiece merah yang mereka kenakan dan tattoo kecil di leher. Dua hal itu menjadi trademark tersendiri agar aku bisa mengenali anak buahku," jelas Adrian.


"Okay," Nadine mengangguk. "Aku cuman parno aja, takut ada apa-apa karena sekarang siapapun bisa jadi musuh. Aku sendiri bingung membedakannya..."


Adrian menyunggingkan senyumannya tipis dan mengusap lembut puncak kepala surai Nadine. "You have to go Nad, I'm late..."


Nadine terkekeh pelan, "See you at home then.."


Cupp....


Nadine menangkup sisi kanan wajah Adrian dan mengecup sekilas bibirnya. Setelah berpamitan, Nadine segera beringsut turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam lobby.


Dari balik kaca, Adrian memandangi Nadine berjalan memunggunginya. Adrian enggan melajukan mobilnya, sebelum memastikan Nadine benar-benar sudah masuk.


***


TINGG....TONGG...


Nadine menekan tombol bel yang ada di depan pintu penthouse Nathan.


Tak lama setelahnya, nampak seorang perempuan cantik dengan rambut yang dikepang menyamping membukakan pintu.


Nadine bisa menebak kalau perempuan itu adalah perawat yang disewa Adrian untuk mengurusi Kak Nathan.

__ADS_1


"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" perempuan itu memberikan salam yang ramah.


"Pagi, saya Nadine adiknya Nathan.. kedatangan saya kesini untuk bertemu dengan Kakak saya,"


"Ohhh..mari Nyonya silahkan masuk, Tuan ada di dalam sedang bersantai di ruang tamu.."


Tanpa berbasa-basi lagi Nadine berjalan masuk dan melewati perempuan itu yang masih berdiri dibalik pintu.


"Hello Kak, I miss you..." Nadine berlari kecil menghampiri Nathan yang sedang duduk manis di depan televisi memegang semangkuk popcorn.


"Hey..Nad, miss you too.." Nathan tersenyum sumringah.


Nathan dan Nadine berpelukan erat.


"Gimana, Kakak sudah sehat?" tanya Nadine.


"Sudah kok Nad, kaki kanan ini udah mulai bisa digerakkan lagi. Saraf-saraf tangan Kakak kembali normal juga," kata Nathan.


Nadine lega mendengarnya.


"Berarti udah ada kemajuan ya Kak, tinggal yang kaki sebelah kiri ini masih di gips. Kalau dipakai jalan udah lumayan bisa kan ya?"


Nathan mengangguk mengiyakan.


"Permisi, maaf saya mengganggu...Tuan dan Nyonya mau dibuatkan minuman apa?" tanya perempuan tadi yang membukakan pintu untuk Nadine.


"Ohhh..saya sampai lupa, sini dulu Jas, saya mau kenalkan kamu dengan adik saya!" Nathan memerintahkan Jasmine untuk mendekat.


Jasmine tersenyum menunduk. "Salam, perkenalkan nama saya Jasmine."


Nadine beranjak berdiri dan mengulurkan tangannya pada Jasmine. "Halo, nama saya Nadine..kamu pasti tahu karena tadi saya sudah menyebutkan nama saya,"


Walaupun awalnya Jasmine sedikit ragu karena takut tidak sopan, dia membalas uluran tangan Nadine pada akhirnya.


"Buatkan saja 1 milkshake vanilla untuk adik saya Jas!" sahut Nathan.


"Baik Tuan, saya permisi ke dapur dulu. Permisi Nyonya Nadine.." Jasmine pamit undur diri.


Nadine menyipitkan matanya ke arah Nathan dan menyeringai curiga.


"Kenapa lihatnya begitu? Ada yang salah?"


"Jasmine...cantik juga ya Kak, masih muda kayaknya. Umur berapa dia?"


"Iya dia memang cantik, umurnya 2 tahun diatasmu. Adrian pintar juga mencari perawat, orangnya cukup telaten dan cekatan. Kakak suka kinerjanya. Sampaikan ucapan terima kasih Kakak ke suamimu!" puji Nathan.


Nadine menghempaskan tubuhnya duduk di sofa kembali.


"Ohh ya Kak, sampai lupa..aku tadi sebenarnya datang kesini diantar Adrian. Tapi maaf dia enggak ikut karena sibuk, jadinya cuman bisa drop off aja! Ada salam untuk Kakak dari dia."


"Kakak maklum kok, dia sudah banyak membantu. Fasilitas yang diberikan suami kamu bukan kaleng-kaleng. Mulai dari penthouse ini, terus kirim perawat sekaligus ART yang bisa 24/7 diandalkan."

__ADS_1


"Dan kamu tahu..selama Kakak enggak ada, cafe-cafe dan usaha travel milik Ayah itu di takeover sama Adrian sementara. Hebat suamimu.." lanjut Nathan menjelaskan.


Nadine tercengang kaget, "Serius Kak? Aku bahkan enggak tahu apa-apa? Adrian enggak ada tuh cerita ke aku.."


"He works in silence, maybe?!" canda Nathan.


Keduanya larut dalam gelakan tawa meskipun terdengar receh. Nadine rindu momen-momen seperti ini. Sudah lama mereka tak tertawa bersama.


"Kak...besok aku dan Adrian akan ke Brazil." Nadine mulai membuka omongan.


Ini adalah waktu yang tepat bagi Nadine untuk memberitahu Nathan.


"Brazil? Mau ngapain?" Nathan keheranan.


"Menangkap Galih," jawab Nadine santai.


Rahang Nathan seketika menegang.


"Kak, enggak perlu ditutupi lagi. Aku sudah tahu bagaimana hubungan Ayah, Kakak, dan Galih. Aku tahu semuanya. Maka dari itu, besok aku harus pergi ke Brazil untuk menangkap Galih dan menjebloskannya ke penjara."


"Kakak enggak setuju, kamu tidak boleh kesana! Itu terlalu berbahaya Nadine, kamu gila? Membiarkan kamu ikut kesana itu sama saja menyuruhmu masuk ke dalam kandang buaya! Big No!" Nathan meninggikan suaranya.


Permintaan konyol Nadine ditolak mentah-mentah.


"Aku berangkatnya sama Adrian Kak, dia pasti bisa melindungiku! Everything will be fine selama ada Adrian! Ini satu-satunya cara agar aku bisa membalaskan dendam atas kematian Ayah! Adrian akan membantu.." balas Nadine.


Sebelummya Adrian dan Nathan sempat berbincang-bincang secara privat tanpa sepengetahuan Nadine. Mereka membahas tentang kelakuan busuk Galih dan seluk beluknya yang memiliki tujuan untuk mencelakai Adrian dan Nadine sekeluarga.


Nathan sedikit tahu perihal rencana Adrian dalam menjebak dan membalaskan dendamnya pada Galih. Hanya saja, Nathan tak mengira jika Adrian akan mengeksekusi Galih secepat ini.


"Emang kamu enggak bisa stay disini aja? Biar Adrian yang berangkat sendiri, lebih baik kamu temani Kakak disini! Kakak bahkan belum mengunjungi makam Ayah, Nadine..dan sekarang, Kakak harus melepasmu pergi ke Brazil? I can't..." lirih Nathan dengan nafas menggebu-gebu.


Nathan tidak suka dengan ide gila Nadine yang meminta ikut ke Brazil dalam upaya penangkapan Galih dan komplotannya. Dia menentang keras hal itu.


***


Sementara di tempat bengkel servis mobil.


"Benar dugaan Pak Adrian, kami sudah membuka kap mobil ini dan menemukan sebuah chip dekat radiator," Ray menyerahkan chip tersebut pada Adrian.


"Apa kamu sudah cek ini chip apa?" tanya Adrian pada tim IT nya yang turut hadir disana.


"Chip ini memiliki cara kerja untuk meretas semua jenis teknologi dengan kamera lewat pelacakan satelit. Dari situ, penggunanya dapat mengumpulkan informasi untuk digunakan sesuai keinginan. Lewat chip ini, pengguna dapat melacak target dan dapat menemukan orang tertentu pada jarak yang jauh. Siapapun yang memiliki chip ini, dapat dipastikan memegang kendali penuh atas sistemnya," Pito menerangkan panjang lebar.


"Kerja bagus...kita akan lacak Galih lewat chip ini."


Adrian tersenyum licik. Sebentar lagi, Galih akan jatuh terpuruk di genggamannya. Adrian bersumpah untuk tidak memberi ampun pada Galih kala keduanya bertemu nanti.


"Your time is coming to an end, Galih..." ucap Adrian.


***

__ADS_1


Jangan lupa untuk kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya teman-teman..supaya Author lebih semangat untuk up nya 😊 terimakasih.


__ADS_2