Favorite Sin

Favorite Sin
FIRST PHOTO TOGETHER


__ADS_3

...NADINE...


"Pelan-pelan saja makannya! Tidak ada yang akan merebut es krim-mu.." Adrian berbisik tepat di telingaku, hingga membuat sekujur tubuhku meremang.


Lagi-lagi tubuhku selalu bereaksi tak karuan bila berdekatan dengan Adrian. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Pria yang statusnya sebagai suamiku ini seakan memiliki kekuatan magis yang mampu menghipnotis. Setiap kali berada disampingnya, selalu timbul rasa aneh yang membuncah di dada.


"Kita foto yuk? Mau enggak? View-nya luar biasa bagus disini!" ajakku pada Adrian untuk mengalihkan perhatian supaya rasa gugupku tak terlihat.


"Saya tidak mau mengambil foto atau gambar apapun!" Adrian menolaknya mentah-mentah.


Mama Diana memang pernah bercerita padaku jika Adrian paling tidak suka berfoto atau difoto. Alasannya karena itu tidak begitu penting bagi kehidupannya.


"Kenapa enggak?" aku tetap bertanya pada Adrian meski sudah tahu jawabannya.


"Karena saya tidak terlalu suka di foto! Kalau kamu ingin mengambil gambar, berikan saja ponsel kamu! Nanti saya akan memotret kamu.."


"Kamu yakin enggak mau?"


"Saya sudah bilang tidak, itu berarti ya tidak!"


Aku bergelayut manja di lengan Adrian untuk memaksanya, "Sekali aja, mau ya please? Cuman satu foto doang, kamu mau kan melakukannya untukku?!"


"Tidak, Nadine." Adrian mengeraskan rahangnya menahan amarah, aku tahu itu.


"Ayolah, aku janji akan cepat! Kita cuman ambil satu atau dua foto, supaya itu bisa menjadi kenang-kenangan yang baik untuk kita berdua!" rengekku pada Adrian. "Dari awal pernikahan sampai sekarang kita enggak ada foto berdua lho!"


"Jangan memandangku dengan tatapan seperti itu!" Adrian mengalihkan matanya agar kami tak saling bertatapan.


"C'mon..ini yang pertama dan terakhir kali! Sini, pakai ponselmu aja!" aku merogoh paksa saku Adrian untuk mengambil ponsel miliknya.

__ADS_1


Meski kesal Adrian tetap membiarkan aksiku dalam merogoh kantongnya, "Kenapa pakai ponsel saya sih?"


"Baterai ponselku low-batt nih, terus aku lupa bawa power bank karena ketinggalan di mobil!" itu memang fakta, aku lupa men-charge ponselku sejak semalam.


Adrian mendengus kesal, "Oh God!"


Aku segera menaikkan ponsel Adrian untuk berpose selfie dan mengambil gambar dengan cepat sesuai janji. "Kamu yang senyum dong! Masa wajahnya datar begitu!"


Adrian menurutiku dengan tersenyum canggung dan meringis seperti dipaksakan. Meski posenya aneh, tapi tidak apalah. Setidaknya aku punya foto kenangan bersamanya. "Hasilnya ternyata bagus..."


"Kamu mau ngapain lagi itu?"


"Aku mau langsung kirim gambarnya lewat iMessage! Nunggu kamu malah lupa nanti, enggak dikirim tahu-tahu dihapus pasti!"


"Ckk.. terserah kamu saja lah!"


Lagi dan lagi, Adrian membiarkanku mengutak-atik ponselnya dengan sesuka hati. Setelah aku mengirimnya, aku langsung mengembalikan ponselnya.


"Apa lagi?" lirik Adrian.


"Terima kasih untuk hari ini, aku senang kita punya kesempatan untuk jalan-jalan bersama. Terima kasih karena sudah menghiburku sejenak dan mengalihkan perhatianku dari kesedihan karena Kak Nathan masih terbaring di rumah sakit,"


Tindakan Adrian yang mengajakku jalan-jalan hari ini patut untuk diapresiasi. Meski dari casingnya dia terlihat cuek dan tidak perduli, aku sangat yakin kalau Adrian melakukan ini semua agar aku tidak terlarut dalam kesedihan melihat keadaan kakakku yang sedang sakit.


"Itu bukan apa-apa kok!" ucapnya santai sembari kedua tangannya dimasukan kedalam saku.


"No! Kamu tidak tahu betapa berartinya hari ini buatku. Dan kamu sadar enggak, ini itu sebenarnya pertama kalinya kita berkencan dengan tepat!"


"Kencan? Apa yang membuat kamu yakin bahwa tadi itu adalah kencan?"

__ADS_1


"Karena kita melakukan aktivitas seperti orang berkenan. Makan di restoran, kamu membelikanku topi dan es krim, dan terakhir kita berfoto di Turin Street! Itu termasuk kencan tipis-tipis dong?!" aku menaik-naikkan kedua alisku.


"Itu menurutmu saja..bukan saya!"


"Terserah, yang penting itu tetap masuk dalam kategori kencan di kamusku! Jadi aku benar-benar ingin mengucapkan terima kasih.."


"Hmmm.." Adrian hanya berdehem dan tak mengucapkan kata-kata lagi. Dia langsung berjalan begitu saja meninggalkanku yang masih senyum-senyum sendiri.


***


Kami berdua sudah kembali di mobil saat ini setelah puas berjalan-jalan selama kurang lebih 4 jam.


"Kita pergi ke hotel dulu saja untuk membersihkan diri dan istirahat sejenak. Seharian kita belum mandi dan tidur. Saya sudah menempatkan Ray dan anak buah saya untuk menjaga kakakmu."


Sebenarnya aku ingin sekali untuk kembali pergi ke rumah sakit. Aku ingin tahu bagaimana kondisi kakakku yang terkini. Meski Adrian sudah memberikan jaminan kalau Kak Nathan baik-baik saja, tetap saja aku khawatir.


Tapi aku sadar kalau aku tidak boleh egois. Perjalanan kami menuju Turin memakan waktu yang cukup lama, hampir sekitar 20 jam berada di udara. Hal itu tentunya sungguh melelahkan bagiku, terutama Adrian.


Saat di dalam pesawat aku tak pernah melihatnya tidur atau sekedar memejamkan matanya sejenak. Dia selalu fokus dan sibuk berkutat dengan laptop dan berkas miliknya.


"Kamu tenang..dokter disana sudah bilang kalau kondisi kakakmu semakin membaik. Tinggal menunggu waktu untuk dia sadar dari obat bius pasca luka di punggung dan pergelangan kakinya dijahit."


"Okay...kita ke hotel saja, aku juga harus mandi dan ganti baju setelah seharian kita jalan-jalan. Koper kita bagaimana?"


"Sudah dibawa oleh orang suruhanku ke hotel, kita terima beres seperti biasa."


Aku mengangguk paham. Adrian lalu menambahkan laju kecepatan mobil yang kami tumpangi agar kami segera sampai di hotel.


***

__ADS_1


Mohon kesediaannya untuk teman-teman agar memberi like, vote dan hadiah ya teman-teman..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Terima kasih.


__ADS_2