Favorite Sin

Favorite Sin
WHEN PAPA ALAN IS ANGRY


__ADS_3

AUTHOR POV


"Mama..Papa? Kenapa kalian bisa ada disini?"


Adrian terkejut mengetahui kehadiran orang tuanya di Rio, bukankah mereka ada di LA? Apalagi mereka mendatangi Adrian secara langsung tanpa memberi info terlebih dahulu.


Saat ini ketiganya bertemu di bungalow Adrian yang baru saja disewanya 2 hari yang lalu, setelah Adrian meninggalkan Nadine di hotel.


"Keterlaluan kamu Adrian!!" Papa Alan berteriak seraya berjalan mendekat pada Adrian.


"Ada apa Pah? Kenapa datang-datang sudah marah? Bagaimana Papa bisa tahu aku disini?" Adrian merespon.


Tak menunggu lama lagi, kepalan tangan besar dari Papa Alan mendarat sempurna di wajah tampan Adrian.


Bughhh..


Adrian tersungkur ke lantai karena tidak siap menerima pukulann dari Papa Alan.


"Pahh.." Mama Diana memekik kaget. "Udah Pah..stop, kita bicara baik-baik sama Adrian!"


"Biarin aja Mah, yang tadi itu tidak seberapa dengan rasa sakit yang dirasakan Nadine sekarang! Kebangetan kamu Adrian! Papa selalu mengajarkan kamu untuk menghormati wanita. Kamu ini terlahir dari rahim seorang wanita, kamu punya Mama, punya dua adik perempuan! Apa pantas kamu bersikap keterlaluan terhadap wanita? Apalagi wanita itu istri kamu sendiri, Nadine?" ucap Papa Alan lantang.


Bughhh...


"Pah cukup! Kamu mau mencelakakan anak kamu sendiri apa?!!" gerakan tangan Papa Alan ditepis oleh Mama Diana.


"Papa mau tanya sekarang, kamu pergi kemana aja 3 hari tidak ada kabar? Tidak perduli dengan istri yang sedang hamil! Apa kamu sudah tidak waras, meninggalkan istrimu sendirian di negara orang yang sama sekali dia tidak tahu?! Kalau Papa dan Mama tidak datang kesini kemarin...mungkin Nadine sudah tiada!!" cerocos Papa Alan.


Sudah 3 hari ini Adrian sengaja mematikan ponselnya karena ingin menenangkan diri sejenak dan menjauh dari Nadine agar dapat berpikir jernih.

__ADS_1


Namun kini Adrian dikagetkan dengan kemarahan Papa Alan yang sudah berada di puncak kepala. Tidak biasanya Papanya itu suka marah-marah. Sosok yang terkenal bijaksana, tenang, dan sabar bisa berubah 180 derajat hanya karena Nadine.


"Kamu pasti tidak tahu kan, kalau istri kamu itu hampir saja meregang nyawa karena ada berandal yang berniat mencelakainya! Tahu tidak?"


Tenggorokan Adrian terasa tercekat mendengarnya. Nadine dalam bahaya? Bagaimana bisa?


"Nadine hampir diculik? Bagaimana bisa?" Adrian bertanya-tanya seraya mengusap noda darah di sudut bibirnya dan bangkit berdiri.


"Papa mendapat laporan dari anak buahnya, hari Selasa Nadine diculik oleh supir taksi. Kejadian ini berlangsung pagi hari, H+1 setelah kamu meninggalkan Nadine. Istrimu itu pergi ke naik taksi SENDIRIAN, tanpa pengawasan!" jelas Papa Alan penuh penekanan.


Kedua mata Adrian terbelalak lebar. Mendengar Nadine sedang dalam bahaya menimbulkan gelanyar aneh dalam tubuhnya. Rasa takut, risau, panik, bercampur aduk menjadi satu.


"Padahal aku sudah mengirimkan bodyguard untuk menjaganya, seharusnya itu tidak terjadi!" Adrian melakukan pembelaan.


"Istrimu itu dibekap sampai kehabisan nafas di jok belakang mobil taksi. Untungnya ada bodyguards papa di tempat kejadian yang sengaja Papa suruh mengawasi Nadine. Kalau saja mereka telat 1 menit, istri kamu sudah dibawa oleh berandal itu tahu enggak!"


Raut wajah Adrian berubah pias. Bibirnya pucat pasi. Adrian tidak menyangka jika meninggalkan Nadine sebentar saja bisa berdampak seperti ini.


"Inilah akibat kamu yang mengedepankan dendam dan ego demi menangkap Galih di Rio, akhirnya siapa yang kena? Istri kamu jadi korbannya. Sekarang pun kamu belum dapar apa-apa juga? Mana yang katanya nangkap Galih? Zonk kan?" Papa Alan tak berhenti mengomeli Adrian habis-habisan.


"Pah udah!" Mama Diana menahan emosi suaminya.


"Biarin aja, biar seorang Tuan Adrian Natadipura yang terhormat didepan papa ini sadar akan kesalahannya!" Papa Alan begitu kesal luar biasa. "Istri dibawa ke luar negeri tapi ujung-ujungnya diabaikan, percuma kamu bawa dia kesini! Lebih baik dia ikut kami ke LA kemarin!"


Beralih ke Mama Diana.


"Adrian..selama ini Mama sangat menyayangi kamu Adrian! Bahkan rasa sayang itu melebihi sayang mama pada anak-anak kandung Mama sendiri! Apapun kesalahan yang kamu perbuat, Mama selalu berusaha membela kamu mati-matian! Tapi untuk kali ini, Mama akan melawan!" ucap Mama Diana lirih.


Adrian menyipitkan matanya, "Maksud Mama apa?"

__ADS_1


"Adrian, Mama dan Papa sudah tahu tentang kebenaran dari pernikahan kamu dengan Nadine."


Adrian tergelak. "Tahu dari mana?"


"Tidak perlu tahu bagaimana kami bisa tahu, yang jelas Mama benar-benar sedih sayang..kenapa semuanya harus begini?" kedua mata Mama Diana berkaca-kaca.


"Apa benar kamu nggak menginginkan anak yang dikandung Nadine?" Mama Diana bertanya pelan.


Adrian memalingkan wajahnya. "Aku hanya belum siap Mah."


"Kalau kamu belum siap untuk punya anak, jangan berbuat! Pake pengaman atau lakukan program penunda kehamilan. Papa dan Mama disini juga enggak ada yang memaksa kalian untuk cepat-cepat memberi kami cucu! Akibatnya begini..udah kejadian hamil, kamu malah siksa perasaan Nadine dan mencampakkan dia begitu saja!" Papa Alan menyahuti dengan kata-kata pedas.


"Sekarang Nadine dimana Mah?" Adrian mendadak kepikiran dengan Nadine dan janin yang sedang dikandungnya.


Perasaan Adrian gelisah tak menentu. Meski secara terang-terangan menolak kehamilan Nadine kemarin, entah kenapa saat ini Adrian malah ingin tahu kondisi keduanya.


"Tidak perlu tanya-tanya Nadine lagi! Mulai detik ini, Papa larang kamu bertemu sama dia. Jangan coba berani menunjukkan batang hidungmu di hadapannya. Karena kamu tidak perduli dengan Nadine dan bayi yang dikandungnya, biar Papa dan Mama yang akan menanggung biaya hidup mereka!" hardik Papa Alan tegas.


"Aku tetap harus ketemu Nadine, ini tentang pernikahanku dan rumah tanggaku. Aku yang akan menyelesaikannya sendiri!"


"Pernikahan? Pernikahan macam apa yang kamu berikan ke Nadine? Rumah tangga macam apa yang bisa kamu banggakan? Lebih baik kamu jauhi Nadine untuk saat ini! Jangan memancing amarah Papa!"


Bentak Papa Alan yang kemudian menggandeng tangan Mama Diana untuk langsung pergi meninggalkan Adrian, tanpa mau memberitahu kabar istrinya itu.


Bukan Adrian namanya kalau dia gampang menyerah. Walaupun tidak mendapatkan info mengenai bagaimana kabar Nadine dan dimana keberadaannya sekarang, Adrian masih bisa tetap melacak Nadine meski sampai ke pelosok-pelosok sekalipun.


***


Sengaja double up karena udah absen 2 hari 😊 Biar gak bingung, chapter ini itu kejadian setelah Nadine diculik..untuk detail gimana bisa selamat ada di next chapter nanti 👀

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up😊


Sempatkan juga untuk membaca karya author yang lain ya, judulnya "Om Duda I'm Coming", di apk ini juga kok. Terimakasih


__ADS_2