
AUTHOR POV
"Kamu benar-benar menguji kesabaranku Adrian!!" sentak Galih.
Galih berjalan mendekat pada Adrian dan mengeluarkan pistol miliknya dari dalam kantong. Kemudian ia todongkan senjata api kecil tersebut tepat di dahi Adrian.
Ceklek...
Galih hendak menarik pelatuk nya dan bersiap untuk melepaskan tembakan, diikuti oleh bodyguard di belakangnya.
Tak ingin tinggal diam, Ray beserta bodyguards Adrian di tempat langsung memasang kuda-kuda dan ikut berbalik mengarahkan pistol mereka masing-masing kepada Galih dan rekanannya.
"Sekali aku lepaskan jariku ini, maka habislah kau!" Galih merasa diatas angin karena jumlah pasukannya lebih banyak.
Adrian tak bergeming. Dia hanya mengangkat tangan kanannya menahan Ray untuk tidak terpancing emosi sembari menampakkan senyuman menyeringai.
"Yakin bisa mengalahkan saya?" tantang Adrian balik.
"Tent--"
Tanpa diduga, Adrian langsung menyikut kepala Galih sebelum ia menyelesaikan perkataannya.
Bughhh....
Adrian mengambil alih senjata yang dipegang Galih, mengunci tangan pria paruh baya itu dari belakang dan balik menodongnya tepat di pelipis.
"Jika kalian berani mendekat atau melepaskan tembakan...maka Galih akan habis di tangan saya sekarang juga!" ancam Adrian pada anak buah Galih yang sedang membidiknya.
Adrian lalu memborgol tangan Galih dan melempar jauh kuncinya ke arah deretan kontainer bekas yang terjajar di gudang lama tersebut.
Galih pasrah, tak bisa berbuat apapun. Faktor usia membuatnya tak bisa bergerak lincah dan cepat sehingga kalah langkah dari Adrian yang memiliki skill tangan lebih mumpuni.
"Perintahkan anak buahmu untuk mundur dan menjatuhkan senjata mereka!" bisik Adrian dengan pelan, tepat di telinga Galih.
Galih terdiam, tak mau menjawab.
"Cepat lakukan, atau kamu akan tahu akibatnya!" Adrian semakin mendesak seraya menekan pistolnya lebih dalam di pelipis Galih.
Merasa tak punya pilihan lain, Galih mengalah.
__ADS_1
"Letakkan senjata kalian dan turunkan!" perintah Galih pada anak buahnya.
Meskipun raut wajah mereka menunjukkan keterkejutan, mereka tetap menurut. Perintah Galih adalah mutlak.
"Ray, amankan senjata mereka! Lucuti semuanya, periksa di bagian tubuh mereka.. barangkali ada yang tersembunyi!" ucap Adrian pada Ray.
Ray mengangguk paham, namun tiba-tiba Galih menyela.
"Hey, ini tidak adil! Kita hanya sepakat untuk menurunkan senjata, bukan malah melucutinya!" Galih tak terima dipermainkan.
"BERISIK!!" bentak Adrian kasar. "Turuti saja...atau putrimu dan kau menjadi taruhannya!"
"Kau tidak lihat jumlah anak buahku Adrian? Mereka terlalu banyak..tidakkah kau takut?" lirih Galih menyeringai mencoba mengecoh Adrian, sayangnya tidak mempan.
"Tidakkah kau ingat akan kemampuanku Galih? Dengan tangan kosong pun, aku bisa mengalahkanmu seperti membalik telapak tangan!" sindir Adrian.
Dengan berat hati Galih menuruti Adrian meski terpaksa. Nyawa putrinya diambang kematian jika dia melawan.
"Serahkan pada mereka.." lirih Galih.
Pasukan bayangan Adrian mulai muncul ke permukaan dan diam-diam menyerang anak buah Galih dari belakang, sehingga mereka semua bisa dilumpuhkan hanya dengan satu kali suntikan obat bius di tengkuk leher mereka. Dalam sekejap saja, mereka semua tertidur melemas dan terbujur kaku tak sadarkan diri.
"Keterlaluan kau Adrian! Kau licik!!" Galih mengerang.
Adrian tertawa jahat. "Kau yang lebih licik, tapi meneriaki aku dengan sebutan licik? Hipokrisi!!"
Galih tak mampu berkutik. Entah strategi apa yang akan dilakukannya kedepan untuk bisa bebas, saat ini dia sudah terpojok.
Tak lama setelahnya, datanglah asisten kesetiaan Galih yang bernama Miko beserta pengacaranya Graham.
"Miko...Graham...mengapa kalian ada disini?" Galih mengernyitkan dahinya bingung. Dua orang kepercayaannya datang tak diundang.
"Bukankah sudah jelas pernyataanku sebelumnya? Aku menginginkan aset milik Papaku dan Imelda kembali ke tanganku. Itu sebabnya aku membawa mereka kemari."
Galih membelalakkan matanya lebar. Hatinya remuk dan hancur berkeping-keping. Lututnya seketika lemas tak berdaya. Miko dan Graham telah membelot dan berpihak pada sisi Adrian.
"Kenapa Galih? Kaget ya, kamu pasti bingung kan kenapa mereka mengkhianatimu?" kata Adrian.
Rahang Galih mengeras. Emosinya meluap-luap.
__ADS_1
"Ada yang ingin kau sampaikan pada mereka Galih? Akan kuberi waktu 5 menit...waktu dan tempat dipersilahkan..." kata Adrian yang tak henti-hentinya menyunggingkan senyum dari tadi. Dia cukup puas karena sejauh ini rencananya sudah separuh berhasil.
Galih menatap nanar ke arah Miko dan Graham. "Bagaimana mungkin kalian mengkhianatiku? Bukankah kita sudah sepakat sedari awal? Kenapa jadi begini..kalian sudah aku anggap saudara!"
"Maafkan kami Galih, kami terpaksa! Adrian memberikan penawaran yang lebih menggiurkan...kami tak bisa mengelak ataupun menolak!" jawab Graham, si pengacara.
"Anda terlalu serakah Pak Galih, anda tidak pernah bersifat terbuka pada kami tentang pembagian imbalan harta yang telah anda janjikan! Anda raup semua keuntungannya sendiri tanpa memikirkan kami, jadi jangan salahkan jika saya dan Pak Graham membelot..." Miko ikut menimpali.
Galih menggeleng tak percaya. Tubuhnya bergetar tak percaya akan sabotase ini, benar-benar diluar prediksi.
"Sudahi dramanya sekarang, langsung saja tanda tangani pemindahan aset tersebut! Tidak pakai lama!"
Adrian mendorong tubuh Galih untuk mendekat pada Graham yang telah membawa tumpukan berkas berisikan sertifikat, surat pemindahan aset, dan lain-lain yang berkaitan untuk ditandatangani.
"Tanganku di borgol...bagaimana bisa aku bergerak untuk menandatanganinya!" Galih memutar bola matanya malas.
"Itu urusan anda, pokoknya harus bisa! Miringkan saja tangannya, karena sampai matipun tidak akan aku lepaskan kau!" sentak Adrian balik.
Adrian mendudukkan tubuh ringkih Galih secara kasar dan meminta Ray membawakan meja kecil untuk diletakkan di hadapan Galih.
"Sudah ada kursi, meja, sebuah bolpoin kecil, dan tumpukan kertas yang harus kau tandatangani segera. Lakukan sekarang!" Adrian tak sabaran.
Galih mulai menggerakkan tangannya untuk mengambil bolpoin dan menolehkan kepalanya ke arah belakang untuk mulai menandatangani surat-surat tersebut satu persatu, dengan diawasi Adrian secara seksama. Adrian tak perduli meski Galih sedikit kesulitan, ia tak berniat membantu.
10 menit berlalu, surat-surat beserta berkas tersebut telah selesai ditandangani. Kini semua aset Alan dan Imelda yang sempat tertahan di kantong penyimpanan Galih, telah resmi jatuh ke tangan Adrian.
"Sekarang apa lagi yang kamu inginkan dariku? Semuanya habis tak bersisa, lepaskan putriku!" mohon Galih dengan mata sayunya.
"Kau pikir ini akan selesai? Tak semudah itu Galih...urusan kita belum sepenuhnya berakhir." Adrian menyunggingkan sudut bibirnya. Dendamnya belum puas terbalaskan.
Hati Galih mencelos. Pikirnya, apalagi yang akan direncanakan oleh Adrian? Apa Adrian akan menyiksanya lagi? Atau mengusik putrinya...entahlah..Galih hanya mengikuti permainan Adrian.
Sebuah permainan yang memang belum selesai.
***
Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up😊
Hey guys I'm back, aku udah selesai sidang skripsi! Bisa upload rutin sekarang..jangan di unfav ya..aku bikinnya perjuangan nih! Terimakasih, sudah mau setia untuk baca! Kedepannya bakalan lebih seru...
__ADS_1