Favorite Sin

Favorite Sin
COMING HOME


__ADS_3

AUTHOR POV


"Siapa yang mengizinkan kalian membawa Nadine pergi sembarangan?" ucap Adrian dengan suara tegasnya dari kejauhan.


Nadine, Arga, dan Arjuna terkesiap dan langsung membalikkan tubuh mereka untuk menoleh pada sumber suara bariton tersebut.


"Adrian..."


"Kak Ian..."


Ketiganya sama-sama memekik berbarengan saking terkejutnya melihat Adrian yang sudah hadir di depan mata.


Nadine kemudian berlari kecil untuk segera mendekat pada Adrian. Dia ingin cepat-cepat memeluk suaminya setelah 3 hari lamanya berpisah tanpa ada kabar sedikitpun.


"Nadine...jangan lari, kamu sedang hamil!" teriak Adrian.


Sayangnya ucapan Adrian sama sekali tidak diindahkan oleh Nadine, justru ia semakin melangkahkan kakinya dengan cepat.


Grebb....


Nadine melompat ke pelukan Adrian yang membuatnya segera menangkap tubuh Nadine agar tidak terjatuh. Sebisa mungkin Adrian melakukannya dengan hati-hati agar perut Nadine tidak tertekan. Lalu Nadine mengalungkan lengannya ke leher Adrian dan menyadarkan kepalanya di bahu sang suami.


"I miss you..." lirih Nadine dengan mata yang berkaca-kaca. Dia meluapkan semua rasa rindu yang telah dipendamnya selama ini.


Adrian tak membalasnya, hanya merespon dengan senyuman tipis saja.


"Where have you been? Kemana aja kamu selama ini, enggak ada kabar...enggak telepon aku! Keterlaluan banget sih!" celoteh Nadine.


"I'm home now," jawab Adrian singkat.


"Kamu enggak kangen sama aku?" Nadine sedikit merenggangkan pelukannya dan menatap Adrian tajam.


"Action speak louder than words. Kalau aku sudah disini, kamu bisa simpulkan sendiri."


"Enggak romantis! Apa susahnya sih bilang kangen sama istri sendiri, that won't hurt you Adrian..."


Adrian menggeleng. "Lupakan tentang itu, bagaimana keadaan kamu selama aku tidak ada? Sehat-sehat saja bukan?"


"Kamu mau jawaban jujur atau yang bohong?"


"Maksudnya?" Adrian memandang keheranan.

__ADS_1


"Jujur, aku merasa enggak baik-baik aja selama kamu enggak ada disamping aku. Aku merasa hilang arah, hatiku rasanya kosong, entahlah...mungkin karena pengaruh hormon kehamilanku." Nadine mengedikkan bahunya.


"Speaking about pregnancy, how's our little one?" tanya Adrian yang masih menggendong Nadine.


(Berbicara tentang kehamilan, bagaimana keadaan si kecil kita?)


"Aku belum memeriksakan kandunganku lagi sejak tiba di LA. Aku terlalu cemas menunggu kamu pulang, so I don't have any opportunity. Tapi karena sekarang kamu sudah disini, kita periksakan lagi besok. Boleh ya?" pinta Nadine memohon.


"Oke, aku akan temani kamu besok."


"Really??" kedua bola mata Nadine berbinar-binar.


Adrian mengangguk mengiyakan permintaan Nadine.


"Astaga...semakin dibiarkan, Kak Ian dan Kak Nadine semakin menjadi-jadi nih! Tega banget kita berdua diabaikan!" celetuk Arga yang kini ikut menimbrung diikuti oleh Arjuna yang mengekor di belakang.


Kedua adik Adrian itu memang sengaja menghampiri untuk menggoda dan merecoki sang Kakak yang sedang asyik menikmati momen berduaan dengan iparnya.


Arjuna menimpali, "Sudahlah Arga, jangan iseng. Biarkan Kak Ian sama Kak Nadine melepas rindu yang membuncah, lihat saja..mereka sudah tak tahan."


"Iya Kak Juna, buktinya itu gendong-gendongan! Asyik banget kayaknya sampai enggak mau lepas!" sindir Arga lagi.


"Ahhh...enggak seru lagi, gara-gara kamu sindir tuh jadi dilepas kan pangku-pangkuannya!" ucap Arjuna.


Adrian melirik ke arah Nadine yang menundukkan kepalanya karena menahan malu. "Berhentilah menggoda kakak iparmu, dia merasa tak nyaman nantinya."


"Iya Kak, maaf! Kita cuman bercanda aja kok. Habisnya, jarang-jarang sih lihat Kak Ian lagi romantis-romantisan sama perempuan!" tukas Arga.


Arjuna pun langsung menepuk bahu Arga dengan keras. "Shhtt...mulut itu dijaga, jangan asal ceplas-ceplos. Mau bangunin singa yang tidur kamu?" bisik Arjuna pelan di telinga Arga.


"Ya maaf.." lirihnya.


Melihat kelakuan kedua adiknya yang semakin absurd membuat Adrian hanya geleng-geleng saja.


"Kakak dengar tadi kalian berdua mau mengajak Nadine pergi ke pantai, benar begitu?" tanya Adrian untuk mengalihkan pembicaraan.


"Betul Kak, tadi sebelum Kak Ian datang rencananya aku dan Arga mau ajak Kak Nadine untuk pergi ke pantai dekat-dekat sini," jawab Arjuna.


"Mau apa kalian kesana?" tanya Adrian lagi.


"Ya buat refreshing dong Kak Ian! Di pantai itu bisa piknik sekaligus melihat sunset karena hari sudah mau sore, mumpung timing nya pas begini. Biar Kak Nadine enggak stress dan galau mulu karena enggak dapat kabar dari suaminya!" lagi-lagi perkataan Arga sengaja menyindir kakak sulungnya itu.

__ADS_1


"Arga...stop!" Nadine membelalakkan matanya dan menegur Arga.


"Kan emang bener Kak, pas Kak Ian masih di Rio kakak suka melamun sendiri tuh di taman belakang lihatin kebun mawar. Makan enggak teratur, tidur juga susah...karena terlalu kangen. Sekalian aja aku lapor ke Kak Ian, kebetulan orangnya ada di depan mata tuh!" ujar Arga blak-blakan.


Hati Adrian sedikit menghangat mendengar pengakuan dari adiknya yang mengatakan jika Nadine begitu rindu akan kehadirannya. Baru kali ini Adrian merasa terbawa perasaan saat keberadaannya diinginkan oleh seseorang. Dan orang itu adalah istrinya sendiri, Nadine.


"Apa benar yang dikatakan Arga, Nad?" Adrian ingin memastikan kebenarannya.


Nadine tak menjawab, ia malah terus menerus memainkan jari-jemarinya dan terlihat kebingungan. Nadine begitu gengsi untuk mengakui perasaan gelisahnya selama ditinggal Adrian di hadapan ketiga pria ini.


Adrian menarik sudut bibirnya keatas, menyeringai. "Diam kamu aku anggap sebagai jawaban iya."


Suasana berubah menjadi hening. Kedua netra Adrian dan Nadine saling bertemu, memancarkan sebuah pesan cinta yang hanya bisa diartikan oleh keduanya sendiri.


"Aihhh..kakak dan kakak ipar malah diam tatap-tatapan macam pasangan yang ada di film! Intinya jadi enggak nih kita ke pantai?" protes Arga.


Adrian kini mengalihkan pandangannya pada sang adik, "Jadi. Kamu aturlah semuanya, Kakak akan ganti baju dulu dan menemui Mama Papa, setelah itu kita berangkat."


"Widihh...asyikkk! Kak Ian join kan....momen langka ini! Ya sudah Kak Juna, kita langsung bilang sama Fio dan Athena untuk menyiapkan snack makanan dan minuman untuk kita disana nanti!"


"Okay siap, kita ke dalam dulu aja Kak! Papa masih ada urusan diluar, tapi Mama ada di balkon atas tadi." Arga mengajak Adrian masuk.


"Ya sudah, ayo."


Adrian lalu refleks menelusupkan lengannya ke lingkar pinggang Nadine. Mereka berdua berjalan memasuki rumah dengan mesra dan saling merapatkan tubuh satu sama lain.


Jantung Nadine berdentum lebih cepat dari biasanya setelah mendapat perlakuan manis dari suaminya. Hal-hal kecil inilah, yang membuat Nadine tak mungkin berpaling dan menyerah dengan hubungannya dengan Adrian.


Akan selalu ada momen dimana sikap dan sifat Adrian yang mampu meluluhkan hati Nadine dan merengkuhnya semakin dalam hingga tak bisa lepas. Pesona Adrian menariknya dengan sangat kuat, membuatnya jatuh cinta hingga ke dasar palung hatinya.


Sedangkan Arga dan Arjuna hanya bisa menatap iri melihat kemesraan yang ditampilkan oleh Adrian dan Nadine. Maklum, mereka berdua masih single dan tak memiliki kekasih saat ini. Sehingga bawaannya selalu jealous kala melihat ada pasangan yang sedang beradegan romantis.


***


VISUAL ARGA & ARJUNA



Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up 😊


Maaf kalau hanya bisa upload satu bab sehari karena kesibukan di real life..jangan di unfav ya..aku bikinnya perjuangan nih! Terimakasih, sudah mau setia untuk baca! Kedepannya bakalan lebih seru kok...

__ADS_1


__ADS_2