Favorite Sin

Favorite Sin
WHO IS THE GUEST?


__ADS_3

AUTHOR POV


"Kenapa mukanya ditekuk begitu?" Adrian melirik Nadine yang mood-nya sedang tidak bagus.


"Cckkk...aku masih pengen kangen-kangenan sama Kak Nathan! Dia masih sakit, jadi aku khawatir...nanti gimana dia sendirian?! Kenapa sih dia enggak boleh tinggal sama kita?" protes Nadine.


"Kamu sudah tahu aturannya Nadine, semua yang sudah aku tetapkan..itu tidak bisa diganggu gugat."


"Mansion kamu itu kan gede, banyak space dan kamar kosong disana, tapi kenapa malah beli penthouse baru untuk Kak Nathan? Terus kamu juga sewa perawat buat dia, ngapain? Andai dia tinggal di mansion sama kita, aku pasti bisa mengawasi dan merawat Kak Nathan sendiri! Pemborosan banget tahu enggak!"


Nadine rupanya masih kesal dengan keputusan sepihak Adrian yang menentukan semuanya sendiri tanpa melibatkan dirinya.


"Aku bukan orang susah. Membelikan Nathan sebuah penthouse dan menyewa perawat untuknya tidak akan membuat aku miskin!" pamer Adrian.


"Ya enggak gitu konsepny--"


Adrian memotong ucapan Nadine, "Bisa jangan terlalu banyak protes?! Apa susahnya menurut? Aku sudah berbaik hati menyiapkan kakakmu tempat tinggal yang nyaman, menyewa perawat yang berkompeten di bidang kesehatan, semua aku yang tanggung...kurang apa?"


"Ini bukan tentang pemberian fasilitas itu, Adrian. Aku itu cuman mau selalu ada buat kakakku disaat senang maupun susah. Apalagi di kondisi kita yang sekarang rawan teror. Berpisah dengan kakakku walau hanya sedetik aja, itu udah bikin aku trauma! Kalau dia tinggal bersama kita, setidaknya aku bisa sedikit tenang."


"Aku lagi enggak pengen berdebat Nad, so please..cut that crap for a while! Kita lagi ada di depan rumah orang tuaku sekarang, bahasnya nanti aja!" Adrian mengabaikan Nadine dan langsung keluar dari mobilnya.


Nadine memilih untuk tak melawan dan mengikuti langkah kaki Adrian di belakang, mengingat sikon-nya tidak pas saat ini. Keduanya sedang berada di halaman rumah Papa Alan dan Mama Diana, Nadine tak mau mertuanya melihat keributan diantara mereka.


"Pasang wajah senyum dan bahagia, nanti orang tuaku mengira kalau aku habis ngapa-ngapain kamu!" Adrian menyindir.


"Hemmm...nihh..senyum kann..hemmm,"


Nadine meringis menunjukkan senyumnya yang sedikit palsu karena hatinya masih diliputi kekesalan.


Adrian kemudian menggandeng tangan Nadine dan berjalan menuju kedalam rumah. Tapi sebelum mereka masuk, Nadine menghentikan langkah mereka berdua.


"Stop..stop..." Nadine menahan perut Adrian.


"Kenapa lagi?" Adrian menarik nafas dalam-dalam.


"Kayaknya aku baru sadar sesuatu.."


"Sesuatu apa?"


Nadine menyipitkan matanya dan tersenyum menyeringai.

__ADS_1


"To the point aja Nad, aku tidak punya banyak waktu meladeni kamu!"


"Tuhh..tuhh..tuh..itu maksudku!" Nadine menoel-noel lengan Adrian dengan tangannya yang tidak digandeng.


"Apa sih kamu? Jangan jadi orang yang tidak jelas!"


Adrian tidak paham dengan Nadine yang senyum-senyum sendiri sembari menaik-naikkan kedua alis tebalnya.


"Kamu udah mulai enggak kaku lagi sama aku. Barusan kamu pakai sebutan 'aku', bukan 'saya' lagi..."


DEGGHHH......


Perkataan Nadine membuat Adrian tertampar seketika. Matanya terbelalak lebar. Adrian baru sadar jika dia telah menggunakan kata ganti 'aku' menjadi 'saya' saat berbicara dengan Nadine. Bahkan dia telah menyebutkannya sejak mereka masih berada di penthouse Nathan tadi.


"Iy--iya..it--itu karena biar terbiasa saja! Intensitas kita untuk bertemu dengan orang luar itu semakin tinggi. Ada keluarga saya, kakak kamu, kemudian relasi bisnis. Kalau mereka tahu aku masih pakai sebutan 'saya', itu akan terdengar aneh. Harus dibiasakan.." Adrian beralasan.


Nadine dapat menangkap kalau Adrian hanya mengelak saja. Ego dan gengsinya terlalu tinggi, jadi mana mungkin suami kontraknya itu mau mengakui. Padahal jelas-jelas Adrian terlihat salah tingkah.


Satu yang pasti, hati Nadine menghangat kala Adrian mulai bersikap melunak seiring bertambahnya hari. Walaupun Adrian masih konsisten dengan wajahnya yang datar dan dingun, lalu sikap kaku, cuek dan acuhnya...setidaknya Adrian perduli.


"Jangan melihatku seperti itu, kita masuk sekarang..aku tidak mau berlama-lama disini!"


Nadine menahan tawanya, "Iya..iya.."


"Masuk."


Adrian menanggapinya singkat. Dia tak ingin berlama-lama berdiri diluar karena udara hari ini cukup terik. Meski hari sudah sore, panas matahari nampaknya masih betah bertengger di langit.


***


"Haii sayangg...ya ampun!! Sayang-sayangnya Mama, akhirnya datang ke rumah!!"


Mama Diana menyambut heboh kedatangan anak dan menantu tercintanya. Bahkan ia sampai berjinjit lari saking antusiasnya.


"Halo Mah..apa kabar? Mama dan Papa sehat-sehat kan? Adik-adik juga gimana kabarnya?" Nadine bercipika-cipiki dengan Mama Diana.


"Sehat dong sayang..kita semua disini aman terkendali. Apalagi kalau dikunjungi begini terus sama kalian! Makin semangat Mama!"


"Hi Mah.." kini giliran Adrian yang mengecup pipi Mamanya dan berpelukan menyamping.


"Ini kalian kok tumben, datang kesini enggak bilang-bilang? Biasanya Adrian akan telepon dulu..Papa masih keluar sama Arjuna dan Arga sebentar. Kalau Fiona dan Athena lagi shopping," cerita Mama Diana yang nampak sumringah.

__ADS_1


"Iya Mah...tadi aku dan Nadine habis berkunjung ke rumah kakaknya Nadine. Sekarang dia sudah sembuh dan akan menetap di Bali sementara. Karena sekalian dekat dengan rumah Mama, aku dan Nadine mampir dulu kesini."


Mama Diana sedikit tahu cerita mengenai Nadine dan Nathan, serta apa yang terjadi pada keluarga mereka lewat Papa Alan.


"Ohh.. Nathan ya? Mama senang mendengar kabar baiknya! Besok Mama dan Papa akan menyempatkan waktu untuk bertemu Kakak kamu Nadine, boleh kan?" pinta Mama Diana.


Nadine menoleh Adrian untuk meminta persetujuan darinya terlebih dahulu. Adrian mengangguk memperbolehkan.


"Boleh Mah, nanti kita kesananya sama-sama ya.." kata Nadine.


Ooeekkkk...


Ooeekkkk...


Tiba-tiba terdengar suara bayi yang datangnya dari arah ruang tamu.


"Suara bayi? Mama..ada tamu?" selidik Adrian curiga.


"Hmm...iya..it--itu, Mama memang sedang ada tamu.." ucap Mama Diana gugup.


"Siapa?" desak Adrian curiga.


"Valerie..." lirih Mama Diana. "Dia datang membawa bayinya kemari..."


Nadine seperti tidak asing dengan nama Valerie. Bukankah dia adalah perempuan yang tak sengaja pernah bertemu saat Adrian dan Nadine sedang ada di Bandara Turin? Mengapa dia ada disini? Nadine jadi penasaran tentang hubungan perempuan itu dengan keluarga ini.


Berbeda dengan Nadine yang sedikit kebingungan, Adrian malah menunjukkan ekspresi sebaliknya. Dia tampak tidak suka dan sangat antipati saat mendengar nama Valerie disebut. Reaksi yang sama seperti saat di Bandara beberapa waktu yang lalu.


"Valerie??! Mau apa dia kesini!!" amarah Adrian memuncak. Wajahnya memerah menahan emosi.


"Adrian, Mama bisa jelaskan...kita duduk dulu yuk, tolong tenang sebentar!" Mama Diana mencoba menenangkan Adrian.


"Mana bisa aku tenang!! Untuk apa dia menginjakkan kaki lagi di rumah ini?" ketus Adrian tak suka.


Dari yang bisa Nadine tangkap, Adrian sepertinya tidak memiliki hubungan yang baik dengan perempuan bernama Valerie itu. Buktinya, Adrian terlihat sangat marah ketika mengetahui perempuan itu sedang ada di rumah orangtuanya.


"Minggir...aku mau menemuinya!!"


Mengabaikan keberadaan Nadine dan Mama Diana, Adrian berjalan cepat menuju ruang tamu untuk menghampiri Valerie dan melabraknya.


***

__ADS_1


Mohon kesediaannya untuk teman-teman agar memberi like, vote dan hadiah ya teman-teman..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Terima kasih.


__ADS_2