
AUTHOR POV
Saat tiba di kediamannya, Nadine memarkirkan mobil dengan ala kadarnya tanpa perduli untuk memasukkan mobil itu ke dalam garasi. Didepan pagar dengan hati yang dilanda kepanikan, Nadine merogoh tas nya untuk mencari kunci pagar.
Memasuki halaman rumah, Hatinya semakin risau karena dia tidak mendengar suara apapun dari dalam. Suasana rumah mendadak sunyi dan senyap.
Pintu depan tidak bisa terbuka, meski Nadine telah mencoba membukanya dengan kunci yang dia pegang. Nadine berpikir, mungkin kunci yang ada di dalam menyantol sehingga tidak bisa dibuka dari luar. Ingin hati mendobrak pintu, tapi apa daya..Nadine tidak memiliki tenaga yang kuat untuk itu.
Tidak kehilangan akal, Nadine bergegas menuju pintu belakang. Siapa tahu, pintunya tidak terkunci dari dalam..atau bahkan tidak dikunci.
Benar dugaan Nadine! Pintu belakang tidak dikunci rupanya. Pikirnya, ini pasti ulah Nathan yang memang suka ceroboh dan seringkali kelupaan mengunci pintu belakang.
Berhasil memasuki rumah, Nadine langsung menoleh kanan kiri untuk mengecek dimana keberadaan ayah dan kakaknya.
"Ayahhh...? Ayahhh??" tidak ada sahutan sama sekali ketika Nadine memanggil sang ayah.
"Kak Nathan? Kalian dimanaaa...?" kini giliran Nadine mencoba peruntungannya untuk memanggil Nathan, namun lagi-lagi..dia tidak mendapatkan jawaban.
Lalu, langkah Nadine terhenti saat ia melihat ayahnya tergeletak di ruang tamu dengan bersimbah darah. Ya, ayah yang dicintainya..ayah yang disayanginya, sedang terkapar di lantai seperti orang yang tidak berdaya.
Diraihnya tubuh sang ayah dan dipeluknya dengan erat.
"Ayah bangun, Ayah..? Ini Nadine disini...ayah...?!" Nadine menepuk-nepuk pipi ayahnya.
Mendengar suara putrinya Nadine secara samar-samar, Harun segera membuka matanya yang sayup sayu.
"Na...Na...di..ne.." ucap Harun dengan terbata-bata
Nadine semakin dikagetkan lagi dengan fakta bahwa rupanya terdapat dua luka tembak di dada sang ayah, bahkan satu peluru masih terlihat bersarang disana.
__ADS_1
Noda merah..
Tangan Nadine seketika penuh berlumuran noda merah, setelah dia melepaskan pelukannya dari sang ayah. Dia merasa tak percaya apa yang baru saja dilihatnya. Seumur hidup, dia tidak pernah melihat keanehan ini.
"Ayah kenapa bisa seperti ini?" tak terasa genangan air mata membasahi pipi Nadine. Ia menangisi ayahnya sesenggukan.
Dalam benaknya, siapa yang sudah tega melakukan hal ini pada sang ayah? Apa salah sang ayah sampai-sampai sang pelaku tega ingin mencelakainya.
Nathan.
Nadine terlalu fokus dengan ayahnya sampai dia tidak sadar bahwa Nathan juga tidak terlihat di rumah. Kemana kakaknya itu pergi? Tidak mungkin Nathan tidak menolong ayahnya yang sedang dalam kondisi seperti ini.
"Nad, putri ayah...kamu pergi jauh dari tempat ini nak...ayah mohon! Bawa semua surat-surat berharga dan brankas penting milik ayah didalam lemari" perintah Harun pada Nadine
"Ayah ngomong apa sih? Jangan pikirin hal itu!!" bentak Nadine.
"Ayah sudah enggak kuat sayang....apapun yang terjadi, Ayah sayang sama kamu. Kamu adalah putri kesayangan Ayah. Cari kakakmu Nathan, temukan dia...dan ingat pesan ayah yang tadi.."
Nadine sedih mendengar perkataan Harun yang seakan-akan mengisyaratkan bahwa Harun akan pergi selamanya dari sisinya.
"Enggak..Ayah gak boleh ninggalin aku, aku belum siap ditinggal Ayah...kita akan ke rumah sakit sekarang..!"
Untuk memberikan pertolongan pertama pada Harun, Nadine segera melepas jaket yang dipakainya untuk menghentikan aliran darah segar yang keluar dari dada Harun. Sesekali Nadine mengusap bekas darahnya juga.
"Ayah tetap pegang ini ya...ditahan, supaya darahnya gak keluar!"
Lalu dengan cepatnya, Nadine memutar kunci pintu depan yang tadi sempat terkunci dari dalam. Dia segera berlari keluar untuk mencari pertolongan pada siapapun yang bisa membawa ayahnya ke rumah sakit.
Tak disangka-sangka..Nadine ternyata tidak perlu repot-repot untuk mencari bantuan kesana kemari, karena kebetulan saja, sahabat Nadine yang bernama Kelvin sedang ada di depan rumahnya.
__ADS_1
"Kelvin..?!" pekik Nadine.
"Nad, kamu kenapa nangis?" tanya Kelvin.
"Vin bantuin aku please, ayahku...ayahku di dalam harus dibawa ke rumah sakit!!" Nadine menjelaskan pada Kelvin dengan tangis yang tiada henti.
"Okay..okay..kita harus cepat!" Kelvin menyahuti.
Entah apa yang menjadi awal mula tujuan Kelvin untuk datang ke rumah Nadine, dia tidak tahu. Saat ini yang ada di pikiran Nadine hanyalah keselamatan ayahnya. Dia tidak perduli dengan apa-apa sekarang. Paling tidak, dengan datangnya Kelvin ke rumahnya sedikit membantu meringankan beban Nadine yang pikirannya sedang kalut. Rupanya Tuhan tahu bahwa Nadine sedang membutuhkan pertolongan. Maka dari itu tidak ada angin tidak ada hujan, Kelvin sudah standby.
Kelvin mengangkat tubuh Harun dari tempatnya tergeletak tadi. Sedangkan Nadine membantu memegangi kakinya Harun. Saat itu kompleks rumah sedang sepi dan tidak ramai, besar kemungkinan para tetangga tidak mengetahui kejadian yang menimpa Harun.
Dengan langkah cepat, Kelvin dan Nadine keluar dari rumah sambil menggendong Harun sampai ke mobil. Nadine duduk di kursi penumpang dengan memangku kepala Harun di pangkuannya. Kelvin segera menyalakan mesin dan melajukan mobil menuju rumah sakit terdekat.
Kejadian ini sungguh membingungkan bagi Nadine. Tak hanya Nadine, Kelvin pun bertanya-tanya pada dirinya sendiri, bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah kemarin-kemarin semuanya baik-baik saja?
Di mobil, Nadine masih saja terus mencoba menghubungi ponsel Nathan. Tapi hasilnya nihil! Nathan tidak mengangkat panggilannya. Hanya suara operator yang terdengar, 'Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi atau berada di luar jangkauan. Silahkan coba lagi.'
Rasa kekhawatiran Nadine semakin bertambah sebab terakhir kali dia menelepon Nathan, dia mendengar Nathan sedang berteriak kesakitan. Suara teriakan itu masih terdengar jelas dalam ingatannya. Merasa frustasi, Nadine menghentakkan kakinya membuat Kelvin yang menyetir sedikit terkejut.
Waktu terasa begitu cepat. Untuk memecah keheningan dalam perjalanan, Kelvin tadinya berniat untuk bertanya pada Nadine mengenai kronologi kejadian ini. Bagaimana Harun bisa terluka? Kelvin bukanlah orang yang bodoh, dia tahu persis bahwa luka yang terdapat di dada Harun adalah luka dari tembakan. Dia memperhatikan detail itu saat menggendong Harun masuk ke mobil.
Namun melihat kondisi Nadine yang terlihat seperti orang hilang arah, Kelvin mengurungkan niat tersebut. Dia tidak ingin menambah beban pikiran Nadine. Baginya, kalau Nadine sudah merasa siap...dia pasti berkenan untuk bercerita pada dirinya. Saat ini yang Nadine butuhkan adalah ketenangan.
"Nad, kamu minum ini dulu ya..." Kelvin menawarkan sebotol air mineral yang tersedia di mobilnya pada Nadine. Pikirnya, supaya Nadine lebih rileks, sebab air mata Nadine masih mengalir deras di pipinya. Kelvin bisa melihat itu dari rear-vision mirror mobil.
Nadine hanya menganggukkan kepalanya dan tidak membalas perkataan Kelvin. Pikirannya sudah kacau dan tak tahu arahnya kemana. Dalam perjalanan, dia terus memanjatkan doa pada sang Kuasa agar sang Ayah bisa tetap selamat.
Tak hanya mendoakan sang ayah, dia juga senantiasa berdoa agar sang Kakak bisa diketahui dimana keberadaannya.
__ADS_1
***
Jangan lupa untuk like dan vote ya teman-teman, support tersebut akan sangat membantu :) Terima kasih