Favorite Sin

Favorite Sin
FORCED


__ADS_3

...NADINE...


Cobaan apa lagi Tuhan? Rasanya aku benar-benar tidak kuat untuk menjalani hidup ini. Tak pernah kusangka jika Kelvin adalah salah satu orang yang berkontribusi dibalik aksi penembakan yang terjadi pada Ayah.


Bukan hanya itu saja, berdasarkan percakapan Kelvin dan Romy yang kudengar tadi...Kelvin juga berpotensi sebagai orang yang menculik Kak Nathan.


"Intinya semua kejadian buruk yang menimpa kamu dan keluargamu, itu semua karena hasil perbuatan tangan panasku ini..."


Begitu kira-kira dialog Kelvin. Bodohnya aku, tidak sempat bertanya padanya soal dimana keberadaan Kak Nathan. Tapi, mana mungkin juga dia mau memberitahuku.


Jujur, aku bingung harus apa saat ini! Aku benar-benar tidak mengerti dengan semua kejadian yang menimpaku sekeluarga. Semua kepingan puzzle yang ada membuat kepalaku pening.


Aku bahkan sampai tidak sempat untuk memiliki waktu yang tenang untuk berduka cita atas kepergian Ayah. Karena setiap kali aku ingin tenang, yang ada aku selalu dihantam dengan fakta-fakta baru yang mengejutkan.


"Setelah ini kita langsung pulang aja! Enggak perlu ke kantor polisi!" ucap Adrian.


Sedari tadi aku baru sadar jika Adrian berada di sebelahku. Pikiranku yang sedang melalang buana membuatku lupa kalau aku semobil dengannya.


"Kenapa?" tanyaku heran.


Bagaimanapun juga aku harus tetap pergi ke kantor polisi. Aku tak mau menundanya lagi. Meskipun aku baru saja mengalami shock, aku harus tetap kesana untuk mencari titik terang soal keberadaan kakakku.


"Nanti biar Ray yang jelaskan di rumah."


Aku dibuat penasaran olehnya. Kenapa jadi Ray yang akan menjelaskan? Tapi aku menurut saja. Tidak ada gunanya juga bertanya lebih lanjut pada Adrian, dia pasti tidak akan menjawabnya sampai benar-benar sampai di rumah.


"Oh ya...Adrian, makasih ya..tadi kamu sudah mau nolongin saya. Kalau enggak ada kamu tadi, saya enggak tahu gimana jadinya..."


Aku sangat berhutang budi pada Adrian. Sudah terhitung dua kali dia menolongku hari ini. Pertama saat percobaan penculikan di apartemen siang tadi. Dan yang kedua, barusan dia membantuku untuk bisa lolos dari perbuatan ganas Romy si kepala plontos perut buncit.


"Iya." jawabnya singkat.


Menyebalkan sekali sikapnya! Setiap kali aku mengucapkan kata terima kasih, jawabannya selalu 'iya' saja. Singkat, padat, dan tidak ada kata-kata tambahan. Ahh..tapi ya sudahlah, harusnya aku ingat kalau orang yang ada disampingku ini irit bicara.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, bagaimana bisa kamu kembali lagi ke rumah tadi? Saya pikir kamu sudah pergi jauh karena ada urusan!!" mulutku gatal dan tak tahan ingin mengajaknya bicara.


Padahal beberapa detik yang lalu niatku ingin diam saja sepanjang perjalanan. Nyatanya tidak sesuai ekspektasi.


Adrian menoleh ke arahku sekilas, "Dompet kamu jatuh di mobil. Didalam dompet kan ada kartu identitas kamu dan lain-lain, pasti kamu butuh. Makanya saya kembali, karena belum jauh. Ada di dalam situ." Adrian menunjuk dashboard.


Aku langsung merogoh dompetku yang tersimpan disitu. Dompet ini sangatlah penyelamat. Untung saja jatuh tertinggal. Kalau tidak, bisa habis aku kena pukul Romy...


***


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya aku kembali lagi di rumah Adrian. Sudah gagal mengambil mobil, gagal pula pergi ke kantor polisi. Hanya pergi ke pemakaman Ayah yang terealisasi.


"Kenapa diam? Turun..." Adrian menyadarkan lamunanku. Aku pun mengiyakannya.


Saat masuk, kami berdua langsung disambut oleh Ray yang sedang asyik duduk di ruang tengah sambil berkutat dengan laptop miliknya.


"Duduk dulu, akan saya jelaskan." Seperti cenayang saja, Ray sudah bisa mengerti apa yang ingin aku tanyakan hanya dengan melihat tatapanku.


"Jadi, kenapa saya enggak perlu datang ke kantor polisi Ray?" tanyaku tanpa berbasa-basi.


"Saat saya pergi kesana, polisi bilang..kasus kakak anda sudah terselesaikan. Dengan kata lain, laporannya sudah dicabut. Polisi menerangkan bahwa sang pelapor sudah menemukan kakak anda sehingga kasus ini tidak diperpanjang lagi.."


"Bahkan sang pelapor bisa menunjukkan bukti pada polisi jika Nathan Bimantara sudah ditemukan dalam keadaan yang baik-baik saja. Asumsi saya, kakak anda pasti diancam atau dipaksa untuk bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja," lanjut Ray.


Ray menyebutkan sang pelapor, yang berarti itu Kelvin. Aku baru ingat saat aku masih berada di rumah sakit menunggui Ayah, dia adalah orang yang aku pasrahkan untuk mengurus kasus menghilangnya Kak Nathan ke polisi.


"Ini pasti ulah Kelvin!! Dia pasti sudah melakukan sesuatu...tadi pas saya ke rumahnya untuk mengambil mobil, dia mengaku kalau semua hal buruk yang menimpa saya belakangan ini itu ada campur tangan darinya. Mulai dari penembakan Ayah, teror dan percobaan penculikan di apartemen, itu semuanya ulah dia".mataku mulai berkaca-kaca dan meneteskan sedikit bulir air mata. Aku memang perempuan emosional, yang sedikit-sedikit selalu menangis.


Sekilas aku melirik Adrian dan Ray yang saling melirik satu sama lain, saat aku mengusap mataku. Mereka bagaikan telepati yang saling memahami dan tahu betul apa yang akan mereka lakukan kedepannya.


"Kamu selesaikan semua urusan kamu di kota ini, lalu lusa kita pergi dari sini!" Adrian mulai membuka mulutnya.


Belum sempat aku bicara membalasnya dia sudah berucap lagi. "Kalau kamu saat ini bekerja, segeralah resign! Harta benda kepemilikan kamu disini juga sekalian diurus, seperti rumah dan mobil."

__ADS_1


"Ini maksudnya bagaimana?" tanyaku kebingungan.


Adrian menjawab, "Saya dan Ray itu sebenarnya tidak tinggal disini, kami berdua hanya perantau yang ditugasi untuk mencari tahu keberadaan flashdisk milik Ayah kamu oleh atasan kami."


"Memang kalian aslinya tinggal dimana?"


"Bali."


Astaga semakin runyam juga urusannya. "Jadi maksud kamu, saya harus ikut kamu ke Bali begitu?"


"Iya, kamu ikut saya ke Bali...dengan batas waktu yang tidak bisa saya tentukan. Itu alasan kenapa saya menyuruh kamu untuk mempersiapkan semuanya dan resign dari pekerjaanmu yang sekarang jika memang ada."


"Kalau saya tidak mau bagaimana? Ini terdengar seperti pemaksaan" lirihku.


"Dengar Nadine, kota ini sudah tidak lagi aman untuk kamu. Bisa lihat sendiri kan, sejak kemarin kamu selalu tertimpa masalah. Kalau kamu berlama-lama disini, saya tidak bisa jamin keselamatan kamu setiap saat. Karena memang tidak setiap hari saya dan Ray bersama kamu. Disamping itu, beberapa petunjuk mengenai keberadaan flashdisk ayah kamu juga mengarah di Bali. Jadi suka tidak suka, turuti ucapan saya."


"Tapi Bali itu tempat yang jauh, dan kita juga baru kenal. Kalau saat ini, saya mungkin masih bisa memaklumi kita bertiga tinggal bersama. Tapi untuk pergi jauh dengan kalian, saya tidak yakin. Kalian pasti mau berbuat jahat kan?" aku belum mau mengalah.


Aku masih trauma. Kelvin yang orang dekatku saja bisa melakukan hal seperti itu, apalagi mereka berdua yang bukan siapa-siapa. Mereka berpotensi untuk berbuat macam-macam pastinya.


"Kalau kami memang jahat, untuk apa saya menolongmu dua kali. Lebih baik saya biarkan kamu dibawa orang gak jelas itu, kurang kerjaan sekali! Sudah bagus saya menawari kamu untuk ikut. Disini kamu itu sendiri. Ayahmu sudah tidak ada, kakakmu menghilang, jadi bagaimana bisa kamu melawan orang yang akan mencelakai kamu?"


"Soal biaya hidup dan lain-lain tidak usah kamu pikirkan, saya dan Ray akan bantu soal itu. Yang saya perlukan, kamu ikut kami! Biar kasus ini cepat selesai, dan kamu pun bisa hidup tenang."


Aku bisa melihat kalau Adrian mulai tampak kesal karena aku sedikit alot untuk diajak negosiasi. Ya bagaimana lagi, belakangan ini banyak sekali orang-orang aneh dan pengkhianat mendekat padaku. Aku bahkan tidak tahu lagi harus percaya pada siapa. Pada Adrian?


"Lalu soal kakak saya gimana? Dia kan masih menghilang, kalau saya pergi dari kota ini, akan susah proses mencarinya."


Kali ini Ray yang menjawab. "Akan saya pikirkan nanti, hal itu bisa didiskusikan dengan atasan saya. Dia akan membantu."


Aku perhatikan sejak tadi Adrian dan Ray selalu menyebutkan atasan-atasan terus. Semoga saja atasan mereka berdua benar-benar memiliki power atau koneksi yang kuat dan luar biasa supaya kakak bisa cepat ditemukan.


"Oke, saya setuju. Saya akan ikut kalian ke Bali dan mengurus surat resign secepatnya. Saya akan persiapkan juga yang lain-lain."

__ADS_1


"Dari tadi kan enak!" ketus Adrian.


Mau tidak mau aku harus setuju akan usulannya. Mungkin ini adalah opsi terbaik yang harus kulakukan. Aku tidak punya pilihan lagi. Sebenarnya aku belum sepenuhnya percaya pada Adrian dan Ray, tapi saat ini aku tidak punya tumpuan pada siapapun. Mereka berdua adalah pilihan yang meyakinkan.


__ADS_2