Favorite Sin

Favorite Sin
NEW FAMILY MEMBER


__ADS_3

AUTHOR POV


Setelah selesai menikmati sarapan pagi didalam kamar, Nadine segera menuruni anak tangga. Seperti kata Adrian kemarin, Bibi Magda akan mengajaknya house tour.


Seluruh karyawan yang bekerja di mansion Adrian, sengaja dikumpulkan di taman belakang atas perintah Bibi Magda sejak tadi. Dia berniat untuk memperkenalkan Nyonya barunya tersebut pada orang-orang.


"Selamat pagi semuanya, mohon kalian sambut kedatangan Nyonya Nadine Natadipura sebagai anggota baru di keluarga ini."


Mendengar nama Natadipura disematkan sebagai nama belakangnya, membuat Nadine sedikit tidak nyaman. Nadine merasa tidak pantas dan rendah diri karena dia bukan siapa-siapa. Andai mereka tahu...jika dirinya hanyalah seorang istri kontrak..maka ceritanya akan berbeda.


"Senang bertemu dengan anda Nyonya. Nama saya Anto, kepala keamanan di mansion ini bersama dengan ketiga anggota saya..ada Jino, Samir, dan Koko. Mansion ini ada dibawah perlindungan kami, bila ada sesuatu yang dibutuhkan maka anda bisa menghubungi kami 24/7." Anto menundukkan kepala sebagai bentuk salam.


"Terima kasih Anto, senang bertemu dengan kalian juga."


"Kalau nanti Nyonya mau bepergian keluar, mereka yang akan antar kemanapun. Asalkan mendapat persetujuan dari Tuan Adrian!" kata Bibi Magda.


"Mohon bantuannya ya...semoga saya tidak terlalu merepotkan kalian," ucap Nadine.


"Pindah ke sebelah sini Nyonya, ada Ratri selaku Head Cooking Chef. Dia dipekerjakan oleh Tuan Adrian bersama dengan Maria, asistennya. Mereka akan memasak untuk anda dan menyediakan setiap makanan di rumah ini. Jika anda membutuhkan sesuatu yang berhubungan dengan makanan atau minuman, solusinya adalah mereka berdua," jelas Bibi Magda.


"Apakah kalian berdua yang membuat waffle saya untuk sarapan tadi pagi?" tanya Nadine.


"I..iya..Nyonya.." Ratri dan Maria tergugup.


"Rasanya enak sekali...saya sangat menyukainya! Makan malam yang kalian masak kemarin juga enak..kapan-kapan beri resepnya pada saya ya! Tolong ajari sekalian.."


Ratri dan Maria menghela nafasnya lega. "Dengan senang hati Nyonya." Mereka sempat berpikir jika masakan mereka tidak cocok di lidah Nadine, ternyata majikannya itu malah suka.


"Kalau yang ini perkenalkan Nyonya..dari kiri ke kanan, ada Sinta, Roro, Chika, dan Asti. Mereka adalah asisten rumah tangga disini, mereka berempat berada dibawah naungan saya sebagai kepala pelayan."

__ADS_1


Nadine mengulurkan tangannya untuk berjabat. "Halo, salam kenal...mohon bantuannya disini ya, saya tidak yakin bisa mengurus mansion sebesar ini."


"Itu pasti Nyonya! Memang sudah kewajiban kami..." sahut Sinta..salah satu ART yang usianya kurang lebih sepantaran dengan Nadine. Tak hanya Sinta, sepertinya Roro, Asti, dan Chika juga umurnya tak jauh berbeda dengan Nadine.


"Untuk semuanya, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih atas sambutan hangatnya. Saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik untuk mengelola household ini. Jangan terlalu tegang dan kaku ya sama saya...saya enggak gigit kok, santai saja!" canda Nadine yang mengundang gelak tawa dari para karyawan yang tadi sudah diperkenalkan.


"Kalau begitu, kalian semua bisa kembali bekerja sekarang."


"Permisi, Nyonya..."


Satu persatu para karyawan yang ada dihadapan Nadine melenggang pergi untuk kembali mengerjakan job desc masing-masing. Nadine tak mungkin menahan mereka terlalu lama.


"Bagaimana kesan pertama dari anda Nyonya?" tanya Bibi Magda.


"Saya agak sedikit kesulitan untuk mengingat nama masing-masing dari mereka. Jumlah mereka sangat banyak, tapi akan saya usahakan untuk menghafalnya satu-satu. Saya aku mengaturnya nanti, entah bagaimana?!" ucap Nadine yang diselingi tawa kecil.


"Mari kita lanjutkan house tour nya Nyonya, agar anda lebih tahu seluk beluk yang ada di mansion ini..."


Keduanya pun berjalan dan keliling mengitari mansion.


***


Di kediaman Alan Natadipura.


"Mah, aku masih enggak percaya kalau Kak Ian udah nikah. Penjelasan Mama kemarin itu enggak masuk di kepala aku.." Athena bersuara.


"Terakhir pas aku bahas soal nikah, dianya ngamuk..eh sekarang dah sold out aja! Aneh bin ajaib!" sahut Fiona.


"Papa sama Mama juga shock banget pas kakakmu ngomong begitu, udah hampir mati berdiri pas dia bilang udah menikah. Tapi ya memang itu kenyataannya..waktu Papa ajak Adrian ngobrol di ruang kerjanya, dia menunjukkan ke Papa akta nikah mereka, dan itu asli."

__ADS_1


Tak hanya mengobrol tentang kematian Harun Bimantara dan kehidupannya dalam beberapa tahun terakhir. Papa Alan juga mendesak Adrian untuk menunjukkan dokumen keaslian pengesahan pernikahan mereka. Hal itu dilakukan karena Papa Alan sedikit curiga akan tindak-tanduk dari pasutri baru itu.


"Gila sih Kak Ian, gerak cepat dia! Enggak pakai acara pacaran, tunangan, lamaran, bla..bla..bla..udah diembat aja! Langsung nikah gak tuh!" Arga menggeleng-geleng.


"Pake jurus apa ya Kak Nadine bisa mengubah mindset kolot Kak Ian..yang tadinya nolak mentah-mentah untuk menikah..malah jadi mau!" Fiona penasaran.


Mama Diana mulai bersuara. "Enggak penting bagaimana Adrian menikah..kalau sudah jodoh ya begitu, akan mengalir saja. Yang terpenting sekarang, Mama lega kalau Adrian menikah dengan orang yang tepat. Yaitu, Nadine! Dia adalah perempuan baik-baik, Mama bisa merasakan ketulusan dari dirinya."


"Papa percaya itu Ma, Ayahnya Nadine yang bernama Harun..itu dulu asisten Papa yang setia dan baik hati. Dia pasti sudah mendidik putrinya dengan baik."


Mama Diana dan Papa Alan saling mengusap punggung tangan masing-masing.


"Kalau aku sih pokoknya Kak Ian bahagia... siapapun perempuan yang dipilihnya pasti bukan kaleng-kaleng. Dengan Kak Ian memutuskan untuk menikahi Kak Nadine..dari situ kita bisa menilai kualitasnya. Kak Ian kan orangnya pemilih, enggak mungkin dia nikahin Kak Nadine kalau enggak ada perhitungannya.." Arjuna yang sedang membaca majalah ikut menimbrung.


"Mah..Pah..kalau kita berkunjung ke mansion mereka, kira-kira boleh enggak ya?! Mumpung kita semua lagi pada enggak sibuk...aku pengen ketemu Kak Nadine nih!!" kata Athena.


"Sama, aku pengen ketemu juga Mah!! Lupa-lupa ingat sama mukanya Kak Nadine. Pas ketemu di beach house, aku enggak terlalu memperhatikan!" ucap Arga.


"Bener tuh...sekalian perkenalan keluarga kayak acara ramah tamah gitu! Ya kali enggak kenal sama kakak ipar.." sahut Fiona.


Papa Alan menengahi anak-anaknya yang berkeinginan untuk menemui menantu baru nya itu.


"Ya sudah, siap-siap aja sekarang... kita langsung kesana!" ajak Papa Alan.


Mama Diana ragu. "Apa kita sebaiknya hubungi Adrian dulu Pah? Takutnya dia enggak berkenan..nanti jadi salah paham."


Mama Diana hafal betul jika Adrian tak suka jika privasi dan rumahnya didatangi secara tiba-tiba dalam konteks yang dianggap menganggu.


"Soal Adrian gampang Ma...nanti Papa yang ngomong. Paling itu anak juga enggak ada di rumah, tapi di kantor!"

__ADS_1


Kelimanya bersiap untuk pergi menuju mansion kebesaran Adrian untuk menemui anggota keluarga baru mereka itu.


__ADS_2