
AUTHOR POV
Sesampainya di rumah sakit, Nadine sudah tak bisa menahan kesabarannya lagi untuk bertemu sang kakak. Dia buru-buru berjalan menuju lift dan mengabaikan keadaan sekitar. Intensinya saat itu hanyalah untuk cepat-cepat bertemu dengan kakaknya.
"Kamu ini berjalan cepat seolah-olah tahu saja dimana kamar inap kakakmu!" sindir Adrian saat keduanya sudah berada didalam lift.
"Maaf, aku terlalu excited untuk bertemu Kak Nathan!!"
Adrian hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan polos Nadine. Dia tampak begitu bersemangat ketika tahu kondisi Nathan sudah membaik dan operasinya berjalan lancar kemarin.
Saking semangatnya, Nadine sempat salah memakai sepatu ketika hendak berangkat
tadi. Kaki kiri menggunakan wedges, sedangkan kaki kanan menggunakan sneakers.
Untung saja Adrian memperhatikannya dan menyuruh Nadine cepat-cepat berganti. Kalau tidak, Nadine bisa malu karena pergi ke rumah sakit dengan sepasang sepatu yang modelnya berbeda.
"Yang ini kamarnya?" tanya Nadine saat mereka berdua berdiri di sebuah pintu kamar inap yang VVIP.
"Iya, masuk sana!" Adrian memberikan dorongan pelan di punggung Nadine seraya membuka pintunya.
"Kamu enggak ikut masuk?" bisik Nadine.
"Saya tunggu diluar saja, kamu pasti butuh privasi untuk bertemu kakakmu!"
"Okay, aku masuk dulu..kamu tunggu ya!"
"Hmmm.." Adrian mengangguk.
Saat Nadine memasuki kamar inap Nathan, dia melihat sosok kakaknya yang sedang terbaring lemas di kasur rumah sakit. Terdapat juga seorang perawat yang menemani disampingnya.
"I guess your sister is already coming right now, so I'll excuse myself Mr. Bimantara," ucap perawat tersebut yang diangguki oleh Nadine dan Nathan.
(Adik Anda sudah datang sekarang, jadi saya permisi keluar dulu Mr. Bimantara)
"N-nn-naddine...." lirih Nathan dengan suara serak khas orang yang baru saja bangun tidur.
Nadine berjalan mendekat ke sisi ranjang Nathan, "Kakak udah bangun?"
__ADS_1
Nathan mengangguk pelan, "Hmmm..."
"Kak..aku kangen..." Nadine menggenggam erat tangan Nathan dan mengusap rambutnya.
"K-k-kaakkak...j-jju-ga..ri-nnduu," ucap Nathan terbata-bata.
Nathan mengalami kesulitan saat berbicara karena lehernya mengalami patah tulang akibat sebuah benturan. Untungnya semua tidak apa-apa, hanya terdapat pembengkakan saja. Leher Nathan bisa kembali normal seiring berjalannya waktu.
"Aku pengen peluk kakak..tapi aku takut kakak kesakitan!!" lirih Nadine yang matanya sudah tergenang dengan buliran air.
Kondisi Nathan memang sudah membaik pasca operasi. Namun masih ada beberapa bekas luka dan gips yang terpasang pada bagian tubuh tertentu. Nadine takut menyakiti tubuh kakaknya yang masih lemah.
Karena belum bisa terlalu banyak bicara, Nathan hanya memberikan sinyal pada Nadine dengan gerakan tangannya. Jari-jemari Nathan terangkat sebagai tanda jika dia ingin adik perempuannya itu mendekat untuk memeluknya.
Tangis Nadine pun akhirnya pecah juga. Hatinya menolak untuk menumpahkan air mata, namun kesedihannya tak bisa dibendung lagi. Perlahan, ia menghamburkan pelukannya pada Nathan sambil menangis tersedu-sedu. Air mata Nadine luruh membasahi jubah pasien yang dikenakan Nathan.
Setelah lama saling berdekapan dan saling melepas rindu satu sama lain, Nadine mulai melepaskan pelukan mereka agar tubuh Nathan tidak tertindih.
"Sekarang kakak makan dulu ya, biar aku yang suapin! Tuh lihat, makan pagi kakak udah disiapkan!" senyuman Nadine merekah lebar.
"Iy-iyy-iyya..."
***
"Bagaimana perkembangannya Ray? Apa sudah kamu tangani orang-orang itu?"
"Sudah Pak, semua orang yang terlibat dalam kasus penculikan Nathan Bimantara sudah saya laporkan pada pihak berwajib. Mereka sudah dibekuk ke dalam penjara. Untuk penjatuhan hukuman mereka, sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab Kepolisian Turin. Dalam minggu ini, semuanya akan beres."
"Bagus."
Beberapa menit yang lalu, Adrian memerintahkan Ray untuk datang ke rumah sakit menemuinya. Dan kini, keduanya sedang berbincang-bincang serius di kursi ruang tunggu luar, sembari menunggui Nadine yang masih ada di dalam kamar inap menemani Nathan.
"Lalu, apa rencana Pak Adrian selanjutnya untuk Pak David? Kenapa sampai sekarang mereka tidak dilaporkan Pak? Padahal kita sudah memiliki bukti yang kuat untuk menjeratnya!"
"Belum saatnya Ray! Terlalu mudah jalannya jika dia langsung masuk penjara! Sebelum dia membusuk disana, saya akan menyiksanya terlebih dahulu dengan cara saya. Dia sudah merencanakan pengeboman di perusahaan Papa saya, yang akan di eksekusi seminggu lagi. Kita akan lihat dari situ untuk lanjutannya,"
"Bagaimana dengan Pak Alan? Apakah beliau mengetahui hal ini?"
__ADS_1
"Tidak, Ray. Papa saya tidak tahu, dan saya harap beliau tidak akan pernah tahu. Saya tidak ingin membuatnya panik atau khawatir. Minggu depan, saya akan mengalihkan perhatian mereka dengan memberikan hadiah liburan."
"Maksud Bapak?" tanya Ray dengan bingung.
"Saya akan memberi tiket liburan untuk keluarga saya pergi ke Los Angeles. Itu adalah impian mereka sejak lama yang belum kesampaian, jadi mereka tidak mungkin menolak."
Dalam 2 tahun terakhir, kedua orang tua Adrian memang berencana untuk pergi liburan ke Amerika. Namun karena ada kendala satu dan lain hal, rencana tersebut harus kandas di tengah jalan.
Itu sebabnya, sekarang Adrian akan mewujudkan impian mereka dan memanfaatkan hal ini untuk mengirim keluarganya pergi menjauh dari huru-hara yang akan timbul dalam beberapa hari kedepan.
"Setahu saya, minggu depan Pak Alan memiliki agenda penting di kantor. Ada acara semacam peresmian yang mengharuskan beliau agar hadir."
"Soal itu gampang! Papa saya bukanlah orang yang gila kerja seperti saya Ray. Beliau akan meninggalkan semua pekerjaannya demi keluarga, berbeda dengan saya. Jadi tidak masalah kalau dia tidak hadir..."
"..Toh Natadipura Group, itu bisnis keluarga yang pengelolaannya kolektif. Diurus sama adik-adiknya Papa juga bisa, mereka kan sangat ambisius. Mereka pasti lebih senang kalau Papa tidak datang, supaya bisa leluasa untuk mencari muka pada klien dan investor yang hadir," jelas Adrian.
"Saya khawatir jika Pak Alan akan curiga. Pak Alan juga punya insting yang kuat dan tidak gampang percaya ataupun luluh. Beberapa kali terakhir, Pak Alan selalu tahu tentang permasalahan anda dengan Galih dan Pak David."
"Tidak akan. Saya punya cara tersendiri untuk meyakinkan keluarga saya agar mereka percaya," Adrian menarik sudut bibirnya keatas.
"Dengan cara apa Pak?"
"Nadine." jawab Adrian singkat.
"Bu Nadine?" Ray menatap Adrian keheranan.
"Iya, Nadine adalah jawabannya. Mereka akan luluh kalau dia yang berbicara. Kamu lihat saja nanti..."
Adrian hanya mengangguk dan mengikuti alur permainan Adrian saja. Dia tahu kalau bos nya itu lebih paham atas langkah apa yang akan diambil untuk kedepannya.
"Bagaimana soal hardisk yang belum bisa diretas kemarin? Pito sama Andro sudah temukan solusinya?"
"Sudah Pak, mereka sebenarnya ingin bertemu dengan anda untuk membahasnya. Tapi karena anda harus terbang ke Turin, semuanya jadi ditunda."
"Siapkan saja meeting lewat video conference malam ini. Kita akan bahas bersama-sama nanti."
"Baik Pak, siap laksanakan!" tegas Ray.
__ADS_1
***
Mohon kesediaannya untuk teman-teman agar memberi like, vote dan hadiah ya teman-teman..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Terima kasih.