
AUTHOR POV
Baru saja Adrian mengantarkan Nadine pulang. Barang belanjaan mereka tadi juga sudah diturunkan. Kini Adrian sedang berada di kantornya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan menumpuk yang telah lama tertunda, akibat dirinya terlalu sibuk dengan urusan Nadine dan lain-lain.
"Berikut pak, beberapa dokumen yang harus ditandatangani" ucap Deni, sekretaris pribadi Adrian di kantor.
"Rapatnya nanti diadakan jam berapa Den?" Adrian bertanya sembari sibuk menandatangani dan mengecek surat-surat penting.
"Mohon maaf Pak, rapatnya sudah selesai dilaksanakan sejak tadi. Saat Bapak datang ke kantor, bersamaan dengan itu rapatnya sudah rampung."
"Ahhh..saya telat lagi!! Ya sudah, nanti berikan notulen rapatnya pada saya, kirim lewat email saja."
"Baik Pak, akan saya laksanakan. Lalu untuk perkembangan surat proposal pengajuan dari PT. Rhode Glam bagaimana pak? Sejak kemarin pihak sana terus mendesak kami untuk segera memberikan jawabannya."
Adrian memijat pelipisnya. "Saya belum yakin sama mereka, proposalnya kurang menjanjikan. Prospek nya juga kurang..nanti akan saya review lagi. Beritahu mereka, saya akan beri jawabannya lusa."
"Saya mengerti pak."
Setelah semua berkas sudah ditandatangani dan sudah dicek dengan seksama, Deni kemudian pamit undur diri dari ruangan Adrian. Tak lama setelah Deni keluar, suara tombol pintu berbunyi lagi.
"Permisi Pak Adrian, selamat sore..saya Roni Pak, saya datang membawa informasi baru." suara Roni muncul dari intercom.
Sudah menjadi kebiasaan bagi seluruh karyawan Adrian Corps, jika hendak bertemu Adrian harus menyampaikan alasannya terlebih dahulu lewat intercom setelah menekan bel pintu. Jika diizinkan, baru bisa masuk.
"Masuk Ron..kita duduk disana" kehadiran Roni memang sudah ditunggu-tunggu oleh Adrian. Keduanya pun langsung mendaratkan tubuh mereka di sofa untuk tamu.
"Langsung saja Pak, berikut ini adalah hasil temuan dari tim kami. Ternyata halaman-halaman yang dirobek pada buku novel milik Pak Harun itu adalah sebuah angka-angka koordinat."
"Bapak masih ingat dengan judul-judul buku novel milik Pak Harun? Seperti yang bapak katakan, kami harus mencari pola urutannya. Easter Island, Firestarter, Gone Girl, Hidden, dan Insurgent. Buku-buku tersebut urut sesuai dengan abjad, E..F..G..H..I.."
"Iya saya ingat, lalu bagaimana kelanjutannya Ron?"
"Tim kami sudah mengurutkan dan membuka bukunya satu persatu, Pak. Dan dari situ, kami baru sadar jika nomor halaman yang dirobek dari setiap buku-buku itu ternyata adalah angka-angka koordinat."
__ADS_1
"Maksudnya bagaimana?" Adrian masih tidak mengerti.
Seperti contoh Pak, dalam buku Easter Island ini. Halaman yang dirobek adalah halaman 78 dan halaman 34. Dalam buku Firestarter yang dirobek halaman 9 dan 51. Untuk buku Gone Girl ada di halaman 13 dan 17 yang dirobek." Roni menjeda ucapannya sejenak dan mengambil dua buku novel lain.
"Lalu di buku Hidden ini, halaman yang hilang adalah halaman 37. Terakhir, buku Insurgent. Yang dirobek itu halaman 16."
"Ketika digabungkan, urutan angkanya menjadi 78, 34, 9, 51, 13, 17, 37, dan 16. Angka-angka tersebut adalah angka koordinat yang menunjukkan titik lokasi dimana flashdisk itu berada."
Adrian mengusap kepalanya kasar seakan tidak percaya. "Astaga...kenapa saya enggak kepikiran sampai situ ya!! Terus lokasinya dimana? Udah ketemu berarti...?!"
"Sudah ditemukan, Pak. Titik koordinat nya mengarah di daerah Singaraja. Saya sudah meminta tim kami untuk cek ombak kesana, dan hasilnya..itu adalah rumah seorang pengacara, bernama Ida Bagus Aditya Bagja. Kemungkinan besar, Pak Harun pernah menyewa jasa pengacara tersebut dan beliau ada kaitannya dengan ini."
"Kita ke Singaraja sekarang juga! Kamu ikut saya Ron, karena Ray masih di Jogja untuk mengurus sidang putusan pidana pelaku pembunuhan Pak Harun" perintah Adrian.
"Kalau begitu, mari pak. Saya siap menemani Bapak." Roni mempersilahkan Adrian untuk jalan lebih dulu didepannya.
***
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam akhirnya Adrian beserta rombongannya telah tiba di Singaraja. Sungguh perjuangan untuk bisa sampai di tempat ini.
"Ada Pak, beliau ada di rumah. Sebelum keberangkatan kita kesini, saya sudah menghubungi beliau untuk meminta janji temu" jawab Roni.
Ketika turun dari mobil, Adrian langsung mendapat sambutan hangat dari pria paruh baya yang usianya mungkin sekitar 45 tahun. Beliau sudah tegap berdiri tak jauh dari hadapannya ditemani oleh sang istri, seakan-akan kehadiran Adrian sudah lama dinanti.
Kemudian, pria paruh baya tersebut mengajak Adrian untuk masuk ke dalam rumahnya. "Selamat datang di rumah sederhana kami, semoga suasananya membuat anda merasa nyaman. Perkenalkan, nama saya Ida Bagus Aditya Bagja. Panggil saya Ajik Adit."
"Saya Adrian Natadipura."
"Mari silahkan duduk dulu. Tentu saja saya tahu siapa anda. Tidak mungkin keluarga pesohor seperti Keluarga Natadipura tidak dikenal, Benar begitu?" canda Ajik Adit.
Meski sudah duduk manis di sofa, rasa ketidaknyamanan menyelimuti tubuh Adrian.
"Mohon maaf sebelumnya, saya tidak bisa berlama-lama disini, to the point saja. Anda pasti sudah tahu maksud kedatangan saya kesini untuk apa."
__ADS_1
"Iya saya juga tahu itu. Sekretaris anda, Pak Roni, menghubungi saya 2 jam yang lalu. Kalau begitu kita bisa langsung mulai!" Ajik Adit menata berkas-berkas dokumen yang dikeluarkannya dari map secara rapi di meja.
"Saya tahu betul jika maksud kedatangan Pak Adrian kemari, pasti ingin menanyakan perihal flashdisk dan hardisk milik Pak Harun. Betul?"
Adrian mengangguk. "Betul, saya memang sedang mencarinya. Apakah anda menyimpan kedua barang tersebut?"
"Mendiang Pak Harun Bimantara sengaja menitipkan kedua barang itu pada saya 3 tahun yang lalu. Beliau berpesan, akan tiba waktunya ada seseorang yang akan mengambilnya. Hanya jika, orang itu mampu memecahkan pesan tersembunyi dari brankas miliknya yang tersimpan di Jogja. 3 tahun berlalu, ternyata anda adalah orang yang berhasil menebak pesan itu sendiri, yaitu angka koordinat dari tempat dimana flashdisk dan hardisk tersebut disembunyikan" terang Ajik Adit.
"Bisa anda tunjukkan pada saya dimana kedua barang itu?" sifat tidak sabaran Adrian pun mulai muncul.
Ajik Adit menyunggingkan senyum tipisnya. "Tidak semudah itu Pak Adrian."
"Apa maksud anda?" Adrian menyipitkan matanya. Dia merasa Ajik Adit sedang mempermainkannya saat ini.
"Flashdisk dan hardisk tersebut, tersimpan didalam Safe Deposit Box. Untuk membukanya perlu persetujuan dari ahli waris Pak Harun Bimantara itu sendiri, yaitu putra atau putrinya. Berdasar informasi terakhir yang saya dapatkan, putranya menghilang. Sehingga alternatif lain, hanya putrinya lah, Nadine Bimantara, yang bisa membukanya."
"Nadine Bimantara ada bersama saya. Tapi sayangnya dia tidak ikut kemari. Apakah memang harus menunggu Nadine dulu untuk membukanya? Tidak bisakah langsung dibuka sekarang?" tawar Adrian.
"Prosedurnya seperti itu. Saya adalah pengacara kepercayaan Pak Harun. Sebelum beliau meninggal, beliau sudah menyiapkan surat wasiat. Didalamnya tertulis poin-poin pembagian harta warisan yang tidak bisa saya sebutkan pada anda karena sifatnya pribadi. Yang jelas, Safe Deposit Box yang sedang anda cari tersebut..termasuk kedalam harta benda yang diwariskan Pak Harun pada anak-anaknya. Maka dari itu, tanda tangan dan kehadiran putrinya Pak Harun sangat penting" Ajik Adit tetap pada pendiriannya.
"Oke..saya akan pulang sebentar. Lalu saya kembali lagi kesini dengan membawa Nadine. Jadi segera siapkan semuanya, karena malam ini juga saya pastikan agar flashdisk dan hardisk tersebut jatuh ke tangan saya! Se..ce..pat..nya!!" kalimat yang diucapkan Adrian terdengar penuh penekanan.
"Maaf Pak Adrian Natadipura yang terhormat. Ada satu hal lagi yang perlu saya sampaikan. Syarat yang sangat penting."
"Syarat apa? Kenapa jadi semakin dipersulit?" emosi yang ditahan Adrian sejak tidak semakin berada di pucuk.
"Seperti yang saya katakan sebelumnya, flashdisk dan hardisk yang anda cari itu tersimpan didalam Safe Deposit Box. Itu bisa didapatkan, ketika ahli waris yang dipasrahi sudah menandatangani surat persetujuan harta warisan atas permintaan Pak Harun. Tapi...itu semua tidak serta merta bisa dilakukan dengan mudah. Hanya tanda tangan, lalu selesai...Tidak. Tidak bisa seperti itu."
"Lalu apalagi yang harus dilakukan?!!" pekik Adrian.
"Harta warisan Pak Harun tersebut bisa dicairkan, jika sang ahli waris sudah MENIKAH."
DUARRRRR!!!!!!!
__ADS_1
Mendengar kata 'menikah' membuat tubuh Adrian bergetar hebat serasa disambar petir. Tubuhnya menegang kaku bagai patung. Matanya terbelalak lebar, dan mulutnya ikut menganga. Bukan hanya Adrian, rombongan yang ikut bersamanya pun merasa terkejut mendengar penjelasan Ajik Adit.
MENIKAH??!!!