
...ADRIAN...
Flashdisk milih Pak Harun sudah berada di tanganku. Sekarang aku sudah selangkah lebih maju dari Galih. Bagaimana caraku mendapatkannya? Tentu setelah aku berhasil menikahi Nadine, aku mengajaknya untuk langsung menemui Ajik Adit keesokan harinya. Aku meminta Nadine untuk segera mencairkan harta warisan peninggalan Ayahnya itu.
Awalnya Ajik Adit ragu akan kejelasan status kami. Beliau mengira bahwa pernikahanku dan Nadine hanyalah gurauan. Untungnya akta nikah ku dan Nadine sudah keluar, jadi bisa langsung ku tunjukkan pada Ajik Adit. Dan beliau akhirnya percaya kalau pernikahan kami bukan sekedar bualan semata.
Setelah warisan Nadine cair, aku ikut serta membantunya untuk mengurus penyimpanan harta itu ke dalam bank dan mengurus pengalihan nama. Dia memutuskan untuk membuat deposito di bank, dan aku mengikuti saja karena aku tidak berhak atas harta warisannya. Uangku sudah banyak, aku hanya butuh Safe Deposit Box yang berisikan flashdisk dan hardisk milik Pak Harun.
Saat ini, aku sedang duduk di sofa ruangan pribadi kantorku bersama Ray dan tim IT perusahaan-ku. Aku meminta mereka untuk meretas dan membobol flashdisk dan hardisk milik Pak Harun untuk mengetahui apa isinya.
"Pak Adrian, harus lihat ini...Bapak pasti akan terkejut.." ujar Andro, salah satu anggota tim IT-ku.
"Kamu sambungkan ke smart TV biar bisa dilihat semua," perintahku.
"Baik Pak."
Tak lama, sebuah cuplikan video yang berisi percakapan antara dua orang ditampilkan. Aku menduga, video yang diambil dari dashboard cam ini memiliki kaitan yang erat dengan kecelakaan yang menimpa Papaku beberapa tahun lain.
"Aku sudah memutus pipa selang rem mobil Alan. Bahkan aku merusak ring piston mesinnya supaya kompresinya menurun drastis dan mengalami kebocoran. Setelah itu, kita tinggal membuat benturan agar mobilnya akan meledak."
"Kamu yakin dengan rencana ini?"
"Yakin, Alan pasti bisa merasakan adanya ketidakberesan pada mobil yang ditumpanginya. Untungnya tidak ada iring-iringan bodyguards yang menjaganya. Kalau ada kesempatan langsung saja, aku akan tabrakan mobil ini dengan mobil miliknya. Membuat seolah-olah dia yang menabrak terlebih dahulu. Di skenario terburuk jika dia selamat, maka dia akan tetap disalahkan nantinya. Perintah dari Galih begitu "
"Aku gak yakin kita selamat Her..."
"Udah kepalang tanggung Man, kita udah sampai tahap ini. Toh juga kita bakal dapat duit setelah rencana ini berhasil."
"Okelah, gas aja!"
BRAKKKK...PYARR...
Terjadilah sebuah tabrakan dahsyat yang tak bisa dielakkan dan video berhenti. Aku baru saja menyaksikan sebuah video tabrakan yang hampir merenggut nyawa Papa.
Akibat dari rencana gila Galih yang dieksekusi oleh Heru dan Bani, Papa mengalami koma selama satu bulan dan dinyatakan lumpuh sementara karena tulang belakangnya yang retak pasca benturan kecelakaan. Aku bersyukur Papa masih diberi keselamatan dan perlindungan dari Tuhan, sedangkan supir Papaku meninggal di tempat.
Heru dan Bani.
2 nama pelaku yang akhirnya aku dapatkan setelah 5 tahun penantian. Kenapa baru sekarang? Itu karena kemurahan hati Papa yang menganggap bahwa kecelakaan yang menimpanya adalah musibah yang bisa terjadi kapan saja. Papa menutup kasus ini rapat-rapat dan tidak memperkarakan ke pengadilan.
__ADS_1
Saat itu aku memiliki pandangan yang berbeda dengan Papa. Dari awal aku sudah bisa mencium adanya bau-bau pengaturan akan kecelakaan itu. Dan benar saja, terbukti Heru dan Bani adalah pelakunya.
"Dua orang itu adalah Heru Cahyono dan Bani Siregar, sahabat Papa saya sejak SMA sekaligus rekan bisnisnya."
"Bukankah mereka berdua adalah pemilik PT Saratama Jayaka, Pak?" sahut Ray.
"Benar. Memang mereka orangnya. Kamu selidiki latar belakang keduanya lebih dalam lagi, Ray! Cari tahu soal keluarganya dan ruang lingkup perusahaan mereka. Hari ini harus beres, dan saya mau temuan profil data-data mereka sudah ada di meja saya setelah makan siang nanti."
"Baik, Pak..akan saya siapkan" Ray menyanggupi perintah Adrian.
"Apalagi yang kamu temukan Ndro?" tanyaku pada Andro.
"Untuk hardisk, saya mohon maaf karena belum bisa membukanya Pak. Kalau yang flashdisk, sistem kami menemukan titik-titik lokasi tempat Galih melakukan bisnis persenjataan ilegal dan obat-obatan terlarang. Bahkan sekelompok jaringan yang terlibat juga disebutkan disini nama-namanya," jawab Andro.
Belum sempat Aku membalas ucapan Andro, anggota tim IT-ku yang lain bernama Pito menginterupsi.
"Pak Adrian maaf saya memotong pembicaraannya sebentar. Ada sesuatu yang penting Pak, baru saja saya melacak rekening milik Galih. Disini terdeteksi bahwa beliau habis melakukan transaksi untuk pembelian senjata api dan beberapa peledak. Barang yang dibeli bukanlah barang sembarangan. Pak," jelas Pito.
"Berikan saya list nama-nama yang terlibat dalam jaringan ilegal bisnis Galih. Saya mau lihat.."
Andro menyerahkan laptop yang dipegangnya padaku. Kuamati satu persatu nama-nama yang terpampang dalam list itu, siapa tahu aku mengenal satu atau dua orang. Dan gotcha!! Aku menemukan satu nama yang menarik perhatian...
Aset Galih sudah dibekukan sejak lama. Dia juga tidak bekerja saat ini, jadi tidak mungkin dia punya penghasilan untuk membeli barang-barang ilegal itu..kecuali ada yang mendanainya. Apalagi rekening bank nya aktif kembali. Aku yakin David ada andil dalam aksi ini.
David adalah musuh bebuyutan Papa sejak dulu, sedangkan anaknya yang bernama Sean adalah pesaing bisnisku. Sungguh klise bukan? Aliansi ayah dan anak yang sama-sama membenciku dan Papa. Aku yakin Galih pasti sudah mempengaruhinya untuk bekerja sama menghancurkan keluargaku.
"Ini masalah yang sangat serius, Pak. Jika Galih sudah membeli barang-barang terlarang itu, maka besar kemungkinan akan ada pembantaian atau peledakan besar-besaran." ucap Pito
Yang dikatakannya barusan ada benarnya. Galih adalah orang yang sulit untuk ditebak. Cepat atau lambat aku harus mengetahui apa motif rencana selanjutnya. Aku harus bergerak cepat.
"Pak, ada foto Nona Nadine bersama anak David Malik-Santoso," Ray berbisik padaku.
"Mana?" tanyaku penasaran. Bagaimana bisa ada foto Nadine dengan Sean?
"Ini Pak, saya sedang mencoba untuk menelisik background keluarga Malik-Santoso. Tak sengaja saya menemukan foto Sean bersama Nona Nadine yang bergandengan tangan di sebuah taman hiburan."
Aku memperbesar ukuran foto itu untuk melihat lebih jelas apakah itu benar Nadine atau bukan? Ternyata benar. Itu memang Nadine.
Sangat menarik. Apa hubungannya Nadine dengan Sean? Aku harus mengorek informasi ini pada Nadine.
__ADS_1
"Rencana apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Pak?".tanya Ray.
"Saya tahu apa yang harus saya lakukan", ucapku santai dengan kedua tanganku yang menopang dagu.
***
"Bangun...!!!" aku meneriaki seorang pria yang sedang terbaring lemah di sebuah gudang markas milikku.
Di tempat kumuh ini, aku biasa menyiksa para pengkhianat dan siapa saja orang yang berani macam-macam padaku dan keluargaku. Kejam? Memang. Siapa suruh mereka mengusik ketenanganku!
"Bangun hehh!! Jangan malas tidur-tiduran!!!", teriakku sekali lagi..
Pria itu akhirnya memaksakan diri untuk bangun meski tubuhnya sudah lemas terkulai. Matanya hanya bisa mengerjap-ngerjap. Seluruh wajahnya pun masih dipenuhi oleh luka lebam akibat pukulan yang kuberikan beberapa hari yang lalu.
Mau tahu kenapa alasanku mengurungnya di gudang tua ini dan menyiksanya habis-habisan?
Karena orang yang terduduk lunglai dihadapanku ini adalah dalang dibalik upaya percobaan penculikan adikku saat kami berlibur di beach house keluargaku. Dia adalah Sugeng...antek-antek David, orang yang diutus untuk menculik adik-adik perempuanku.
"Tolong jangan siksa saya lagi..saya sudah tidak sanggup!!" lirihnya.
Tapi aku tidak perduli.
"Apa yang kamu tanam, maka kamu juga akan menuainya."
"Saya hanya orang suruhan David Malik-Santoso...saya hanya mengikuti perintahnya...tolong bebaskan saya!! Kasihanilah saya...anda sudah membebaskan anak buah saya, tapi kenapa saya masih disini..??!" pria tua ini rupanya masih belum menyerah memohon ampun dariku.
Aku menarik kerah baju Sugeng dan mendekatkan wajahnya padaku.
"Ada satu hal yang membuat saya masih menahan kamu disini. Yaitu karena kamu yang memiliki pikiran untuk melecehkan adik-adik saya setelah menculiknya. David hanya memerintahkanmu untuk menculik..tapi otak kotormu itu punya persepsi yang lain...".kesabaranku sudah mulai habis melihat wajah jeleknya ini.
"Tapi saya tidak berhasil. Jadi saya mohon, ampuni kesalahan saya! Saya berjanji untuk tidak mengulanginya. Maafkan saya..saya akan lakukan apapun untuk menebus kesalahan itu..!!" ucap Sugeng tertatih-tatih seraya memegangi dadanya yang kesakitan.
Aku tersenyum menyeringai menatap Sugeng. Inilah yang kutunggu-tunggu. Aku akan memanfaatkan Sugeng, orang kepercayaan David...dan aku akan memancingnya keluar dari sarang supaya aku bisa mengetahui apa rencana jahatnya.
"Saya punya tugas untuk kamu. Jika kamu berhasil melakukannya...maka saya akan bebaskan kamu. Ingat!! Jangan macam-macam...saya punya kartu AS kamu. Berani kamu melanggar aturan yang saya buat..maka kedua putri kamu akan menjadi taruhannya."
Aku puas melihat wajah Sugeng yang mendadak tegang. Dia memanglah pria yang b*jat, tapi kelemahannya terletak pada kedua putrinya.
"B-b-baikk...s-saya akan lakukan..tapi tolong, jangan sentuh putri saya.."
__ADS_1