
AUTHOR POV
"Roni, tolong kamu kroscek ulang program Corporate Social Responsibility yang digagas perusahaan kita dalam annual report tahun lalu..ada beberapa yang mau saya benahi untuk pembaruan program tahun ini..."
"...saya mau dokumen itu sudah ada di meja saya besok pagi jam 9 tepat!"
"Baik pak, akan saya laksanakan. Saya permisi dulu, selamat sore."
Roni, sang karyawan yang mendapatkan perintah dari Adrian langsung bergegas mempersiapkan diri untuk mengerjakan tugas tersebut tanpa mau menundanya. Meskipun diberikan deadline sampai besok, Roni tetap saja berinisiatif untuk mencicilnya dari sekarang. Dia tahu betul bahwa sang atasan adalah orang yang perfeksionis dan selalu bekerja dengan cepat.
Waktu sudah menunjukkan sore hari dan matahari sudah mulai tampak terbenam dari ujung barat. Meski langit sudah berubah warna menjadi sedikit gelap, hal itu tak membuat Adrian bergeming sedikitpun. Dia masih betah berdiam diri dan melamun setelah memberikan tugas pada Roni, seperti tidak ingin cepat-cepat beranjak dari tempatnya saat ini.
Dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam dua sisi saku celananya, Adrian menikmati pemandangan sore hari sambil melihat banyak kendaraan berlalu lalang dan suasana hiruk pikuk kota yang dapat terlihat jelas dari kaca tembus pandang di ruangan kantor pribadi miliknya.
Tak lama setelah itu, lamunan Adrian terbuyarkan karena adanya suara pintu yang terbuka.
"Kalau mau masuk ke ruangan saya itu dipakai etikanya! Tekan dulu tombol yang disamping kanan pintu, jangan asal masuk sebelum saya izinkan!" tegas Adrian.
Tidak perduli siapapun itu orangnya, Adrian mewajibkan dan mengharuskan para karyawan di perusahaannya untuk memencet tombol merah yang sudah tersedia didekat pintu sebelum masuk ke ruangannya itu. Ini juga berlaku untuk Ray, yang notabene orang kepercayaan Adrian sendiri.
Dia paling tidak suka ada orang yang sembarangan masuk ke ruangannya tanpa izin yang jelas. Sebab didalam ruangan Adrian tersebut banyak data-data, dokumen, serta berkas-berkas perusahaan yang sangat penting. Meski Ray tahu password pintu masuk ruangan Adrian, tetap saja dia harus mengikuti peraturan yang sudah ditetapkan.
"Maaf kalau saya lancang masuk tanpa memencet tombol terlebih dahulu Pak Adrian, saat ini ada sesuatu yang urgent" Adrian bisa melihat kepanikan yang tampak jelas di wajah Ray.
"Memang ada hal mendesak apa?" tanya Adrian pada Ray.
"Galih sudah menemukan Pak Harun terlebih dahulu pak!"
__ADS_1
"Hah?! Kok bisa?" Adrian memekik kaget dengan fakta yang baru saja didengarnya. Lagi dan lagi dia selalu kalah langkah dari Galih.
Adrian langsung berjalan menghampiri Ray
"Lalu bagaimana Ray sekarang?" tanya Adrian kembali.
"Tim kami baru saja menemukan titik lokasi keberadaan Pak Harun, Pak! Selama ini beliau tinggal di Yogyakarta bersama kedua anak-anaknya. Tapi bersamaan dengan itu, kami mendapat informasi baru bahwa Galih sudah menginvasi rumah Pak Harun dengan 6 anak buahnya. Dia menggeledah rumah Pak Harun secara paksa untuk mencari dokumen-dokumen, flashdisk, serta hardisk yang didalamnya terdapat bukti kejahatan yang pernah dilakukan Galih" jelas Ray.
Adrian hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendengar penuturan Ray. Ketika Adrian merasa bahwa dia sudah lebih jauh melangkah daripada Galih, ternyata dugaannya salah besar. Galih bermain cantik kali ini.
"Berdasarkan informasi terakhir yang saya peroleh, saat ini Pak Harun sedang kritis dan dirawat di rumah sakit karena terkena luka tembak di bagian dadanya. Untuk anak laki-laki Pak Harun juga menghilang secara tiba-tiba pak, kemungkinan besar dia disandera oleh Galih dan antek-anteknya. Hanya tersisa anak perempuan Pak Harun yang selamat, sebab saat kejadian dia tidak ada di TKP" Ray lanjut menjelaskan panjang lebar.
Terbukti sudah bahwa Harun ternyata memang memiliki bukti konkrit atas kejahatan Galih. Dan itu semua tersimpan rapi dalam bentuk hardisk atau flashdisk yang disimpan Harun sendiri. Itu sebabnya Galih mencoba mencelakai Harun dan keluarganya.
Dalam pikiran Adrian saat ini, dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, "Apakah Galih sudah berhasil mendapatkan bukti itu?" gumamnya dalam hati.
Dulu Adrian pernah mencoba melaporkan kasus Galih ke polisi atas kasus pembunuhan Imelda, saat usianya masih menginjak 17 tahun. Dengan sedikit bantuan dari orang dalam dan juga papanya, Alan, Adrian mampu membekuk Galih beserta komplotannya kedalam penjara.
Namun setelah 3 tahun merasakan pahit getirnya hidup sebagai tahanan, Galih bisa tiba-tiba bebas secara bersyarat. Katanya ada seseorang yang menjamin Galih saat itu, yang diduga kuat oleh Adrian..pasti Rhian orangnya.
Bukti yang dimiliki Adrian dan Alan mengenai kasus Imelda, tidaklah lengkap waktu itu karena mereka hanya mengandalkan orang dalam saja. Apalagi Alan terkesan tidak ingin melanjutkan kasus tersebut ke penyelidikan yang lebih dalam karena bagi Alan dia tidak mau berurusan dengan yang namanya Imelda dan Galih lagi.
Alan ingin menutup semua kenangan tentang dua orang yang mengkhianatinya dan ingin membuka lembar baru. Tentunya hal itu memudahkan aksi Galih untuk bisa bebas dengan jaminan karena tidak terbukti bersalah sepenuhnya. Sekuat apapun orang dalam Adrian, ternyata Galih sudah punya rencananya sendiri.
Setelah keluar dari penjara, Galih mengasingkan diri dan melakukan pelarian dari satu kota ke kota lain..dan melalang buana hingga ke luar negeri untuk bersembunyi.
Berbeda dengan Alan, Adrian sangat berambisi untuk menjebloskan Galih ke dalam penjara. Itu sebabnya dia sangat bergantung pada flashdisk atau hardisk yang dimiliki oleh Harun untuk memperkuat bukti yang bisa menahan Galih, agar Galih bisa dihukum dan diadili yang sepantasnya.
Tak hanya itu, Adrian sendiri pun juga penasaran dengan file dan data yang terdapat didalam disk terkait. Usut punya usut, didalam disk-disk tersebut terdapat petunjuk mengenai dalang dibalik kecelakaan yang pernah menimpa Alan beberapa tahun lalu. Disanmp itu, didalamnya terdapat data jaringan mafia dan titik lokasi tempat Galih dan kawan-kawannya melakukan transaksi atas penyelundupan obat-obatan terlarang. Bisnis yang pernah digeluti Galih selain mengelola perusahaan entertainment-nya itu.
__ADS_1
Ray yang sedang berdiri di seberang meja kerja Adrian, sudah bisa membaca pikiran bosnya itu. Dia tahu bahwa Adrian mengkhawatirkan soal bukti-bukti yang disimpan Harun.
"Tolong kamu atur penerbangan kita ke Jogja sekarang juga, kamu harus ikut saya kesana Ray...bisa kan?"
"Saya bisa pak, kebetulan saya tidak ada janji dengan calon istri atau keluarga saya" Ray dengan sigap menyanggupi permintaan Adrian itu.
"Ya sudah langsung hubungi Tora sekarang juga, bilang ke dia untuk segera siapkan jet pribadi saya! Suruh cepat sedikit!"
"Baik pak, saya akan telepon Tora dulu."
Sebenarnya Adrian tidak tahu pasti apakah Galih berhasil mendapatkan disk itu atau tidak, tapi yang jelas tidak ada salahnya Adrian pergi ke Jogja untuk mencoba menemui Harun di rumah sakit.
Harun mungkin saja kritis, anak laki-lakinya juga menghilang dan kemungkinan sedang dibawa oleh Galih. Tapi bukankah masih ada anak perempuan Harun yang tersisa?
Mungkin saja gadis itu tahu mengenai sesuatu hal yang terjadi pada ayahnya. Kali-kali saja saat Adrian bisa mendapat sedikit pencerahan dan petunjuk dari gadis itu.
Ray kembali ke ruangan milik Adrian setelah menelpon Tora serta pihak berwajib yang bersangkutan untuk mengantongi izin operasional melakukan penerbangan dengan jet pribadi.
"Pak semuanya sudah siap, maintenance jet pribadi bapak juga aman. Hanya saja kita baru diizinkan terbang pada jam 7 malam nanti."
"Oke, masih ada waktu untuk siap-siap. Kalau gitu saya akan bersih-bersih dulu dan mempersiapkan beberapa barang yang akan saya bawa kesana. Kamu juga mandi dulu sana di kamar mandi kantor...biar terlihat segar! Jam setengah 7 kita berangkat ke bandara."
"Saya pamit izin ke ruangan saya dulu untuk bersiap pak."
Adrian dan Ray memang kerap kali melakukan perjalanan bisnis ke berbagai kota dan negara. Itu sebabnya mereka sengaja menyimpan beberapa pakaian dan perlengkapan di ruangan kerja mereka.
Jikalau ada sesuatu hal yang mengharuskan mereka untuk pergi mendadak, seperti hari ini, mereka bisa langsung menyiapkan semuanya dari kantor. Sehingga tidak perlu repot-repot lagi kembali ke rumah masing-masing, karena barang-barangnya sudah tersedia.
Setelah mereka selesai packing dan mempersiapkan diri, mereka berdua segera berangkat menuju bandara untuk lepas landas menuju kota Yogyakarta. Tujuannya satu, yaitu menemui Harun dan anak perempuannya guna mencari petunjuk tentang Galih. Pencarian mereka sudah akan dimulai kembali.....
__ADS_1