
AUTHOR POV
"Siapa itu?" tanya Adrian yang sedang berbaring di kasur.
Nadine menjawab, "Bibi Magda."
"Ada perlu apa dia?"
"Orang tua kamu datang.."
"Cckkk.." Adrian berdecak sebal.
"Kenapa kamu terlihat kayak enggak suka kalau keluargamu datang? Kan bagus...itu tandanya mereka sayang dan perduli, kamu lagi sakit begini dijenguk."
Umumnya, seorang anak pasti akan merasa senang jika ayah dan ibunya mendatangi mereka. Tapi Adrian malah menunjukkan reaksi yang berbeda.
"Saya tidak kasih tahu apa-apa sama mereka."
Nadine keheranan, "Berarti mereka datang dadakan?"
"Hmm.." Adrian merespon dengan berdehem saja.
"Terus gimana..kamu bisa temui mereka ke bawah enggak? Atau mau disini aja?"
"Saya turun saja..sudah kepalang tanggung."
"Tapi apa mereka enggak kaget lihat kondisi kamu yang begini?"
Sudah bisa ditebak jika mereka pasti histeris melihat tubuh Adrian yang penuh luka.
"Mereka juga udah biasa." Adrian bersikap santai karena orang tuanya sering melihat Adrian yang terlibat banyak masalah hingga pulang dengan bekas bonyokk.
Bukan Adrian namanya kalau tidak luka-luka. Nadine saja yang orang asing, hampir selalu melihat Adrian dalam keadaan babak belur setiap bertemu. Apalagi orang tuanya.
"Kamu mau pakai baju apa? Biar aku ambilkan!"
"Ambilkan kaos hitam saja untuk saya"
Nadine pun melangkahkan kakinya ke walk in closet milik Adrian.
Source: Pinterest
Beruntung, kaos yang dimaksud oleh Adrian tidak susah untuk dicari karena sudah ada di bagian atas.
"Ini bajunya.."
Adrian bangkit dari kasur dan segera mengambil kaos yang ada di tangan Nadine. Dia membalikkan badannya untuk memakai kaos tersebut. Membuat punggung belakangnya terlihat oleh Nadine.
__ADS_1
Tattoo?
Tampak jelas sekali terdapat goresan tinta hitam permanen yang menghiasi punggung Adrian. Gambar seekor naga terpampang nyata disana, disertai dengan quotes yang tulisannya kecil dibawahnya.
"Kamu punya tattoo?" Nadine memberanikan diri bertanya.
"Kenapa..ada masalah?" Adrian yang sudah mengenakan pakaiannya berbalik menatap Nadine.
"Cuman tanya aja..karena terakhir, aku enggak terlalu memperhatikan kalau punggung kamu bertato. Padahal udah dua kali aku lihat--"
"Lihat saya shirtless?" Adrian memotong ucapan Nadine.
"I..iya, it..itu!" Nadine terbata-bata.
"Tidak penting saya bertato atau tidak, lebih baik kita turun sekarang. Jangan membuat keluarga saya menunggu lama!"
"Okayy.."
***
Adrian menggandeng erat tangan Nadine saat keduanya turun dari tangga. Ini hanyalah bagian dari sandiwara agar keluarga Adrian tidak curiga tentang kenyataan pernikahan mereka yang hanya sebatas kontrak.
"Ehh...pengantin baru..lama bener turunnya!", ledek Arga dari kejauhan.
"Shtt...jahil banget sih! Baru aja datang, jangan bikin ulah!" Mama Diana menegur Arga.
Mama Diana beranjak dari tempat duduknya dan langsung menghampiri Adrian dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu kenapa sayang...ini kok luka-luka berdarah, siapa yang membuat kamu begini! Cerita sama Mama!" Mama Diana menangkup wajah Adrian seraya mengelus rambutnya.
Papa Alan dan adik-adik Adrian juga sama terkejutnya. Mereka tak kalah panik dengan kondisi Adrian.
"Kak Ian udah periksa ke rumah sakit?" tanya Fiona.
"Enggak perlu, diobatin di rumah bisa. Ini enggak terlalu parah dan gak sakit. Jangan diambil pusing!"
"Kamu ini kebiasaan Adrian! Selalu menganggap remeh sesuatu! Bilang sama Papa, siapa yang buat kamu begini?" Papa Alan tersulut emosi. Dia sangat yakin jika anaknya ini habis dicelakai seseorang.
"Pah...aku sudah mengatasi semuanya kok! Kita duduk saja. Aku sudah tidak apa-apa, ada Nadine yang bantuin."
"Untung sudah punya istri! Jadi kakak ada yang mengurus kan..kalau enggak ada Kak Nadine, Kak Ian pasti bakal cuek dan ngebiarin lukanya." sahut Athena.
Mereka pun saling bersalaman dan bercipika-cipiki terlebih dahulu sebelum duduk di sofa.
"Mama sama Papa ada apa kesini? Aku perhatikan...kalian seringkali datang menemuiku. Enggak bosan?"
"Adrian..." Nadine menatap Adrian tajam dan mencubit lengannya.
"Kenapa..?!"
__ADS_1
"Jangan begitu sama orang tua, enggak sopan!" Nadine berbisik mengingatkan Adrian akan sopan santun.
Arga yang melihat gelagat aneh dari Kakak dan iparnya jadi memiliki ide untuk menggoreng mereka.
"Pah..Mah..kayaknya kita momennya kurang tepat nih datang kesini. Mungkin Kak Ian lagi ngadon, makanya dia kesel kita samperin!" ucap Arga.
"Jangan sembarangan kalo ngomong! Ngadon..ngadon..apa itu? Kamu enggak punya mata apa gimana..Kakak lagi sakit mana bisa begitu!"
"Oh berarti kalau udah enggak sakit..bisa langsung gas dong! Hahahaha!" ocehan Arga mampu mengundang gelak tawa mereka semua, kecuali Adrian dan Nadine.
Nadine bukanlah perempuan yang polos, dia tahu betul apa yang dimaksud oleh Arga. Wajahnya memerah karena menahan malu. Adik iparnya itu memiliki mulut yang tidak ber-filter ternyata.
"Hmmm..sebentar lagi kan mau jam makan siang, nanti kalian semua akan makan disini kan?" Nadine berusaha mengalihkan pembicaraan tadi.
"Iya Nad..kita akan makan siang bersama disini, kamu enggak keberatan kan?" jawab Mama Diana.
"Enggak dong Mah..aku malah seneng karena rumahnya jadi ramai. Kalau gitu aku mau siap-siap masak dulu untuk makan siang nanti..."
"Di mansion ini kan ada koki pribadi dan pelayan yang banyak sayang...biar mereka aja yang handle!"
"Biar aku aja Mah..aku lebih senang untuk masak sendiri buat kalian. Akan lebih spesial rasanya, hitung-hitung untuk menyambut kedatangan kalian kesini."
Papa Alan dan Mama Diana tersenyum bahagia. Menantunya ini sangat perhatian sekali ternyata.
"Wahh mantap tuh, sekali-kali coba masakan Kakak ipar!" timpal Arjuna.
"Kalau gitu Mama bantu ya..kita masak sama-sama sambil mengobrol!" tawar Mama Diana.
"Boleh Ma...kita ke dapur sekarang?"
"Oke dehh..."
Nadine melirik suami kontraknya itu untuk meminta izin memasak di dapur. Adrian pun langsung mengangguk mengiyakan permintaannya. Karena Adrian juga butuh berbicara privat dengan Papa Alan.
"Aku sama Fiona jadi tim hore aja ya Mah..lihatin Mama sama Kak Nadine masak tapi enggak ikutan..hihihi!" ujar Athena.
"Iya enggak apa-apa, Mama malah lebih seneng kalau kalian diem aja. Dapur malah jadi kapal pecah kalau kalian pegang utensils dan masak! Mending jangan.." Mama Diana bercanda mengejek kedua putrinya.
Papa Alan, Arjuna, dan Arga tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal Athena dan Fiona yang diledek tidak bisa memasak. Mereka berdua memang selalu sensitif kalau berurusan dengan masak-memasak. Bukan karena tidak bisa, tapi hasil masakan mereka rasanya tidak enak..membuat mereka malas berlama-lama di dapur.
"Jangan sedih, nanti kan bisa belajar..semua butuh proses kok. Kalian kan masih muda, kalau dilatih terus nanti masakannya enak-enak sendiri." Nadine menenangkan Fiona dan Athena dengan memegang telapak tangan mereka.
Athena bersuara, "Tuh Mah..dengerin Kakak ipar ngomong, kita butuh proses!"
"Nikmatnya punya Kakak ipar baik seperti ini..." puji Fiona seraya memeluk Nadine.
"Ayo ke dapur sekarang.." ajak Nadine pada kedua adik ipar perempuannya itu.
Dalam sekejap saja dan di waktu yang singkat. Kelembutan dan kebaikan hati Nadine mampu mengambil hati mereka semua, tak terkecuali Adrian...yang sedari tadi menatap lekat ke arah Nadine tanpa mau melepaskan pandangannya sedetik pun.
__ADS_1