
AUTHOR POV
"Welcome home, our dear grandsons!" Mama Diana begitu antusias menyambut kedatangan kedua cucu laki-lakinya.
Setelah hampir 1 bulan lebih lamanya Kian dan Kai dirawat khusus secara intensif di rumah sakit, kini mereka sudah dinyatakan clear dan diperbolehkan untuk pulang. Kondisi kesehatan kedua bayi mungil itu juga menunjukkan peningkatan yang pesat.
"Hello Grandma, Kian and Kai are coming home!!" ucap Nadine yang berpura-pura menirukan suara anak kecil.
Kebetulan sekali, kedua baby boys Nadine ini sudah sama-sama bangun setelah puas memejamkan matanya di mobil sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit.
"Nadine, Mama boleh gendong kan? Mama enggak tahan nih gemas banget pengen peluk cucu-cucu ganteng ini!" ucap Mama Diana.
"Boleh dong Mah..." Nadine yang sedang menggendong Kai langsung memberikan si bungsu itu dalam dekapan ibu mertuanya.
Papa Alan tidak mau kalah. "Kalau gitu Papa juga mau ikutan gendong. Masa cuman Mama aja sih..Papa juga dong, sini-sini!"
Papa Alan membentangkan tangannya lebar-lebar dan bersiap menggendong cucu sulung satunya. Dengan senang hati Adrian memberikan Kian kepada sang ayahanda.
"Ya Tuhan, anak-anak kamu benar-benar tampan Adrian! Persis sekali seperti kamu waktu bayi!" ingatan Papa Alan akan wajah Adrian kecil masih terbenam dengan jelas dalam otaknya.
"Dihhh...Papa nangis? Tua-tua kok nangis, malu ih!" Arjuna iseng menggoda Papanya yang sedang dalam mode emosional.
"Papa kan terharu saja! Rasanya seperti baru kemarin menggendong bayi Adrian yang kala itu kulitnya masih merah. Dan sekarang malah sudah gendong cucu, anaknya Adrian lagi!" kedua mata Papa Alan berkaca-kaca menahan tangis.
"Eh Pah coba lihat..ini cucu kita yang namanya Kai, menurut Mama kok malahan mirip sama Nadine ya?
"Masa sih Mah?"
"Iya Pah..coba dilihat wajahnya! Persis Nadine kan?! Kemiripannya sama Adrian sedikit.." Mama Diana menoel-noel pipi gembul Kai yang begitu bulat seperti buah persik.
"Iya juga ya Mah...tapi kalau Kian wajahnya mirip Adrian."
Athena ikut mengomentari, "Berarti bagus dong Pah..Mah...biar adil sama rata! Enggak ada iri-irian. Kalau Kian mirip sama Kak Ian, gantian Kai yang wajahnya fotokopian dari Kak Nadine. Hihihi...pas kan?"
"Dokter pernah menjelaskan kalau Kian dan Kai bukanlah bayi kembar identik. Istilah lainnya sesquizygotic, yang mana bisa dikatakan semi identik. Itulah sebabnya kenapa Kian lebih mirip aku sedangkan Kai mirip Nadine. Atau kadangkala wajahnya bisa berubah jadi campuran dari kami berdua." jelas Adrian sambil merangkul bahu Nadine.
__ADS_1
"Ohh gitu ya? Aku pikir kalau anak kembar wajahnya bakal otomatis sama. Ternyata tidak ya?" Fiona baru paham jika bayi kembar ternyata memiliki beberapa jenis tersendiri.
"Dan benar juga lho, kalau diperhatikan dari dekat wajah mereka seperti gabungan antara Kak Ian dan Kak Nadine. Hanya saja hampir 70 persen dominan Kak Ian!" Arjuna ikut menimbrung.
"Tapi ada untungnya juga sih! Dengan mereka yang semi identik begini, kita bisa lebih mudah membedakan mana yang Kian dan mana Kai!" tukas Athena.
Nadine kemudian mendekat pada kedua mertuanya serta adik-adik iparnya sambil mengobrol santai tentang perkembangan baby twin boys dan kondisi kesehatan terkini mereka, mengingat bahwa dua bayi mungil itu lahir secara prematur.
Berbeda dengan Nadine yang sibuk memperkenalkan baby twins kepada para anggota keluarga, mata Adrian malah tertuju melihat pemandangan di rumahnya yang tampak begitu heboh dan ramai.
Ruang tamu yang biasanya terlihat tenang dan estetis, kini berubah menjadi penuh akan dekorasi yang gemerlap berkilauan dengan nuansa blue-grey. Adrian kembali mengedarkan pandangannya dengan mengamati secara seksama.
"Mansion Adrian kenapa jadi didekor begini? Siapa yang buat?!" tanya Adrian ketus.
Seperti biasa, Adrian paling tidak suka jika tatanan rumahnya digubah begitu saja tanpa izin darinya. Nadine pengecualiannya, hanya dia satu-satunya orang yang bebas melakukan apapun di mansion.
"Jawab, siapa yang melakukan ini?" tanya Adrian sekali lagi.
Semuanya langsung kompak menunjuk Arga dengan jari telunjuk masing-masing, membuat Adrian sontak menatap Arga nyalang. Sudah diduga, semua ini pasti tidak lepas dari perbuatan Arga.
"Kok jadi Papa? Kamu sendiri padahal yang maksa-maksa minta uang ke Papa, katanya mau bikin surprise buat Adrian. Akhirnya Papa kasih lah, meski entah itu buat apa sebenarnya. Jadi Papa hanya kontribusi dalam menyumbang uang saja. Yang urus EO dan lain-lain kan kamu Arga, ngaku!" ujar Papa Alan yang masih asyik menimang baby Kian.
"Betul tuh, emang Kak Arga tersangkanya. Padahal Fio udah ingetin lho untuk jangan ngadain pesta penyambutan yang heboh! Eh..dianya bebal dikasih tahu!" Fiona ikut-ikutan mengompori.
"Kamu pasti menyusup ke mansion Kakak sembarangan ya? Mentang-mentang dikasih akses masuk sebentar saja, langsung ambil kesempatan!" cibir Adrian.
Terakhir kali, Adrian sempat meminta tolong pada adiknya untuk mengambil baju serta perlengkapan Adrian lainnya di mansion untuk dibawa ke rumah sakit, yang mana sudah dipersiapkan rapi oleh pelayan didalam koper.
Dari situ, Adrian memberikan kartu akses masuk ke mansion miliknya pada Arga yang sampai sekarang belum dikembalikan. Mungkin karena faktor itu, Arga bisa merencanakan untuk mendekor diam-diam.
Nadine segera mengalungkan tangannya pada lengan Adrian dan menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Diusapnya secara lembut lengan kokoh suaminya itu.
"Ya udah sih, perkara dekor aja dibikin ribet. Harusnya itu kita berterimakasih sama Arga karena udah berbaik hati mau bikin welcome home party tipis-tipis gini! Kenapa jadi marah-marah?" celoteh Nadine yang kini balik mengomeli Adrian.
"Look at the bright sight, ruang tamunya jadi bagus kan? Banyak balon biru. Sama lihat itu kesana, ada letter standee dengan nama-nama baby boys kita! Bisa dipakai untuk foto keluarga." Nadine tampak begitu semangat menjelaskannya.
__ADS_1
Ibu dua anak itu justru senang dengan dekorasi yang dibuat oleh Arga. Tak henti-hentinya ia tersenyum melihat banyaknya kotak hadiah, balon-balon besar, buket serta karangan bunga berukuran jumbo.
Tak lupa, ada juga cake tumpuk dengan berbagai figur dinosaurus yang berdiamater kira-kira 30 senti. Pikir Nadine, lumayan bisa untuk foto-foto sekalian dalam rangka penyambutan baby boys.
Melihat Nadine yang begitu bahagia, Adrian jadi sedikit melunak dan menurunkan egonya sejenak. Tak apalah jika rumahnya diapakan saja hingga berubah berbagai bentuk asalkan Nadine happy. Meski agaknya menentang ide ini, karena niat awal Adrian mengundang keluarganya datang ke rumah, itu untuk sekedar makan-makan biasa antar keluarga inti saja.
"Tuh kan, kakak ipar aja suka sama ideku! Tapi kakakku sendiri yang malah menolak secara mentah-mentah! Cemerlang kan ideku.." Arga mulai menyombongkan diri karena gagasannya diapresiasi dengan baik oleh Nadine.
Adrian memutar bola matanya malas karena kelakuan Arga yang menjadi-jadi. Baru dipuji sebentar, langsung serasa terbang tinggi ke langit ketujuh.
Arjuna menyindir, "Kak Ian kalau udah ada pawangnya langsung terdiam membisu, hebat juga Kak Nadine! Bikin kakakku yang galak ini jadi bucin! Hahahah!"
Semuanya pun tertawa mendengar candaan Arjuna itu.
"Oh ya..by the way, setelah Papa dan Mama gendong cucu, nanti giliran aku ya gendong keponakanku! Tidak sabar rasanya, gemas!" celetuk Arga yang kemudian tak diindahkan oleh saudara-saudaranya yang lain.
"JANGANN!!!"
Suara lantang Arjuna, Athena, dan Fiona memekik berbarengan. Mereka menunjukkan reaksi seperti itu karena mereka tahu Arga tidak akan mungkin teteh menggendong bayi.
Pasalnya Arga adalah satu diantara mereka lima bersaudara yang kerap kali melakukan hal ceroboh. Kalau memegang sesuatu sering jatuh. Bahkan Athena kembarannya suka menjuluki Arga dengan sebutan clumsy. Bisa repot kalau dia sok-sokan gendong baby boys lalu tiba-tiba hal yang tak diinginkan terjadi.
Owekkk...owekkkk...
Suara tangisan bayi seketika menggema memenuhi seluruh sudut-sudut mansion megah bak istana milik Adrian. Mungkin karena teriakan dari para uncle dan aunty-nya yang menggelegar, si kembar otomatis terkejut dan menangis.
"Apa-apaan sih pakai teriak-teriak segala! Jadi nangis kan mereka gara-gara suara cempreng kalian!" Adrian mengomeli ketiga adiknya yang tampak tertunduk.
Adrian lalu mengambil alih baby Kian dan Kai yang semula berada dalam gendongan kakek-neneknya, kini berpindah tangan dalam dekapannya.
"Kena lagi deh kita..." gumam Arjuna pelan.
"Gara-gara Kak Arga nih semua!" lirih Athena.
...
__ADS_1