Favorite Sin

Favorite Sin
REPORTING


__ADS_3

AUTHOR POV


Setelah menempuh perjalanan udara selama hampir satu jam setengah dari Denpasar menuju Yogyakarta, akhirnya jet pribadi yang ditumpangi Adrian dan Ray berhasil landing dengan sempurna.


Kedatangan Adrian dan Ray disambut baik oleh para pengawal yang sudah sedari tadi standby menunggu mereka di arrival gate khusus untuk penerbangan private jet.


Nampak terlihat Ray sedang berbincang dengan seseorang via telepon saat para rombongan Adrian tersebut berjalan melangkah menuju mobil.


"Kenapa Ray?" tanya Adrian pada Ray saat mereka sudah berada didalam mobil.


"Saya dapat informasi pak, kalau Pak Harun baru saja selesai dioperasi. Namun kondisinya masih tetap kritis, bahkan sekarang beliau harus dirawat di ruang ICU. Dan saat ini jam besuk di rumah sakit sudah berakhir, jadi baru bisa besok mengunjunginya."


"Ckkk...memangnya tidak bisa sekarang?"


"Mohon maaf Pak, tapi memang kebijakannya seperti itu."


"Terus ngapain kita bela-belain datang kesini kalau ternyata ujung-ujungnya baru bisa besok dibesuk!" gerutu Adrian.


Melihat kekesalan yang terlihat jelas di raut wajah Adrian, Ray mengusulkan jika alangkah baiknya mereka bermalam di hotel dulu untuk sementara waktu. Hitung-hitung sekalian istirahat sejenak, sebab seharian penuh ini Adrian dan Ray disibukkan dengan berbagai urusan kantor.


Sayangnya Adrian menolak usulan itu karena tidak ingin perjalanan nya berakhir sia-sia. Dia bertekad kuat bahwa hari ini juga dia harus ke rumah sakit menemui putrinya Harun. Mengingat kondisi Harun yang tidak memungkinkan untuk diajak bicara sebab beliau sedang kritis, harapan Adrian satu-satunya adalah putrinya Harun.


"Pak Harun dirawat di rumah sakit mana, Ray?"


"Di Rumah Sakit Greenich Health Care, Pak" jawab Ray.


"Greenich Health Care?" Adrian mengerutkan kedua alisnya.


"Iya Pak, itu nama rumah sakitnya."


"Kalau gitu gampang, saya kenal dengan kepala rumah sakitnya! Kamu ingat teman SMA saya, Doni Hendrata?"


"Masih ingat pak, kalau tidak salah Pak Doni memang pernah mengajukan proposal investasi untuk bidang kesehatan ke perusahaan bapak dan sudah acc juga."


"Benar, Doni menawarkan saya untuk berinvestasi di rumah sakit yang dikelola keluarganya di Jogja. Dan rumah sakit itu ya..Greenich ini..dia pemiliknya" ucap Adrian

__ADS_1


Adrian tidak kehilangan akal, tentunya dia memanfaatkan privilege nya dengan dalih 'kenal dekat dengan kepala rumah sakit', otomatis dia akan diberi kemudahan untuk mendatangi rumah sakit itu meski jam besuk sudah lewat.


"Kalau gitu saya akan telpon Doni untuk minta bantuan supaya kita diberi akses kemudahan untuk masuk ke rumah sakit itu."


Ray hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah mengikuti perintah atasannya itu.


***


Di lain tempat, Nadine nampak terlihat melepaskan gaun protektif dan penutup kepala khusus untuk membesuk pasien di ruang ICU. Nadine memang baru saja keluar dari sana untuk mengecek keadaan ayahnya pasca operasi. Sedangkan Kelvin sengaja menunggu diluar saja dan tidak ikut masuk kedalam, sebab dia tahu kalau Nadine butuh privasi.


"Gimana Nad?"


"Masih sama Vin, operasinya aja baru selesai beberapa jam yang lalu, jadi ya gitu-gitu aja..belum ada kemajuan.." lirih Nadine dengan murung.


"Optimis Nad, mungkin Om Harun masih lelah ingin beristirahat. Jadi beliau belum mau membuka matanya sekarang. Tetap berdoa sama yang diatas..."


Lagi dan lagi, Kelvin tak henti-hentinya memberikan dukungan pada Nadine agar dia tidak terlalu larut dalam kesedihan.


"Oh ya Vin, aku terlalu fokus dengan Ayah sampai aku lupa sama Kak Nathan yang menghilang. Dimana ya dia sekarang..aku khawatir kakakku diapa-apain sama orang jahat. Tadi aja pas ditelpon aku denger dia teriak kesakitan..."


"Terakhir aku udah telpon dia sebelum Ayah operasi tadi..tapi enggak bisa, karena ponselnya enggak aktif. Sekarang belum kucoba lagi."


"Sekali lagi deh kamu telpon coba! Siapa tahu aja sekarang bisa."


Nadine mengiyakan saran Kelvin dan mulai mendial nomor Nathan. Besar harapannya agar Nathan bisa menerima dan mengangkat panggilannya itu.


Tapi ternyata hasilnya sama...ponsel Nathan sedang tidak aktif.


"Gak bisa Vin, kayaknya ponsel Kak Nathan gak diaktifkan. Terus aku harus gimana ini..apa aku lapor polisi aja ya? Sekalian juga aku mau laporin kasus ayah yang mengalami insiden ini supaya bisa diselidiki siapa pelakunya."


"Bisa Nad, alangkah baiknya memang kita serahkan aja kasus ini ke kepolisian. Cuman masalahnya, kasus pencarian orang hilang itu setahuku harus nunggu 1x24 jam atau 2x24 jam..apa gimana gitu! Kalau gak salah ya tapi, karena aku minum hukum jadi kurang paham. Tapi kalau untuk kasus Om Harun, pasti bisa diproses cepat karena dia menjadi korban dari tindakan kriminal. Apalagi ada barang bukti pelurunya tadi" kata Kelvin.


Yang dikatakan Kelvin benar, prosedur pelaporan orang hilang memang harus menunggu minimal seharian. "Aduhh..tapi kalau nunggu segitu lama, keburu Kak Nathan udah diapa-apin..aku takut Vin.."


"Kamu punya bukti enggak? Yang sekiranya menunjukkan kalau Kak Nathan sedang dalam bahaya..seperti yang kamu bilang tadi, katanya Kak Nathan berteriak kesakitan terakhir kamu telpon. Andai percakapan kalian ditelpon bisa direkam, itu bisa dijadikan bukti supaya proses pencarian dipercepat!"

__ADS_1


Pernyataan Kelvin barusan memberikan angin segar bagi Nadine. Dia jadi ingat kalau dalam ponselnya memiliki fitur yang dapat merekam panggilan lewat telpon, dan sudah sejak lama fitur tersebut diaktifkan olehnya.


"Vin, kebetulan aku mengaktifkan fitur di hp aku yang bisa merekam percakapan telepon. Jadi setiap kali aku melakukan panggilan ke nomor lain, rekaman percakapan itu otomatis tersimpan di voice notes-ku" dengan semangat 45, Nadine memberitahukan hal tersebut pada Kelvin.


"Nah kenapa ga dari tadi aja sih! Ya udah sini mana HP kamu.."


Nadine memberikan ponsel miliknya ke Kelvin dan membiarkan Kelvin untuk mengutak-atik ponsel canggih itu. Setelah menemukan histori rekaman tersebut di file, Kelvin dan Nadine mencoba untuk memutar ulang rekaman percakapan tersebut untuk mendengarkan lebih jelas lagi tentang apa yang terjadi saat itu.


Karena dirasa sudah cukup mendapatkan sedikit bukti untuk melapor ke pihak berwajib, Kelvin segera menggandakan file rekaman tersebut untuk berjaga-jaga.


"Gini aja deh Nad, biar cepet clear..mending langsung aja lapor ke kantor polisi sekarang agar cepat diproses kasus ini. Tadi juga kan kita sempat mengambil beberapa foto Om Harun. Kamu gak keberatan kan kalau aku menyerahkan foto itu sebagai barang bukti?"


"Aku sih gak keberatan Vin, tapi kalau kita berdua yang ke kantor polisi..gak ada yang jaga Ayahku disini. Kak Nathan kan gak ada, ART ku di rumah juga dari seminggu yang lalu pulang kampung..gimana dong?"


Sejatinya Nadine memang ingin segera mengurus kasus ini, namun apa daya...dia tidak bisa meninggalkan Ayahnya sendirian. Takut-takut ada hal urgent yang akan terjadi.


Kelvin memegang kedua pundak Nadine dan mengelusnya perlahan, "Biar aku aja yang ke kantor polisi sendirian. Kamu disini aja.. jagain Ayah kamu, simple kan!"


"Mana bisa begitu Vin, aku ngrepotin kamu itu namanya" Nadine merasa tidak enak karena Kelvin selalu direpotkan oleh berbagai masalah yang menimpanya sejak mereka bertemu sampai saat ini.


"Apaan sih pake sungkan segala..kamu itu udah aku anggep kayak adikku sendiri. Udah sewajarnya saling bantu! Aku yakin kok, kalau posisi kita tertukar sekalipun..kamu pasti juga akan melakukan hal yang sama untukku. Benar begitu?"


"Iya Vin, itu pasti.."


"Nah kan, ya udah..no worries, aku pergi kesana sama temanku kok. Aku akan mulai selidiki dari kompleks perumahan kamu dulu. Barangkali sekitar situ ada CCTV, jadi kita bisa dapat petunjuk mengenai kronologi nya dan kemana kakak kamu pergi. Aku akan minta bantuan ke Pak RT setempat."


"Thank you so much...that means a lot to me" ucap Nadine.


"Pleasure, Nad! By the way, kirim juga ke aku ya..foto kedua peluru tadi. Kan barang bukti itu belum bisa dibawa ke polisi karena masih di observasi oleh rumah sakit ini."


"Iya ini aku kirim langsung" angguk Nadine.


"Aku berangkat sekarang aja, biar gak terlalu malam. Nanti aku pasti follow up ke kamu beritanya lebih lanjut."


"Oke Vin, makasih ya. Kamu hati-hati di jalan."

__ADS_1


Nadine pun mengantarkan Kelvin sampai ke parkiran mobil rumah sakit.


__ADS_2