
AUTHOR POV
"Adrian sudah pulang, Sin?" Nadine menanyai salah satu pelayan di rumah, barangkali Adrian sudah datang.
"Sudah Nya, Tuan ada di rumah. Tapi, tadi saat pulang...Tuan dalam keadaan marah-marah," jawab Sinta jujur.
Nadine menghela nafasnya lega ketika mengetahui bahwa Adrian sudah sampai rumah. Dia sempat khawatir ada sesuatu yang buruk terjadi pada Adrian di jalan. Walaupun Adrian sedang dalam mood yang buruk, setidaknya Adrian pulang dengan selamat.
"Sekarang dia ada di kamarnya?" tanya Nadine lagi.
"Iya Nya..Tuan naik keatas. Sepertinya masih ada di kamar. Sejak sampai di rumah tadi hingga detik ini, Tuan belum juga keluar dari sana. Saya belum mengecek karena tidak berani naik,"
"Ya sudah, saya naik dulu keatas!" Nadine menapakkan kakinya pada tangga spiral untuk segera menghampiri Adrian.
"Ja--ja--jangan Nya..!!! Ehmm..sebaiknya Nyonya disini saja," Sinta menarik tangan Nadine hingga tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang.
"Kenapa kamu larang saya Sinta?" Nadine sedikit tak suka dengan tindakan Sinta yang terkesan menghalanginya bertemu Adrian.
Sinta menunduk canggung. Dia bingung bagaimana menjawab pertanyaan majikannya itu. Apa yang dilakukannya semata-mata hanya karena menuruti amanat berdasarkan kontrak kerjanya.
Pasalnya saat pertama kali Sinta resmi bekerja menjadi pelayan di rumah ini, dia kerap kali diwanti-wanti oleh para pelayan senior termasuk Bibi Magda, untuk jangan pernah berani menampakkan diri pada Adrian kala Tuannya sedang mengamuk.
Menurut pengakuan para pelayan yang lama bekerja disini, Adrian akan bertindak impulsif dan tak segan-segan berbuat kasar apabila ketenangannya diusik ketika PTSD Nya sedang kambuh.
"Nya..sungguh saya tidak ada maksud apa-apa. Tapi alangkah baiknya Nyonya menunggu disini dulu sebelum bertemu Tuan. Kondisinya sedang tidak baik," kata Sinta.
"Sin, dia itu suami saya. Apapun resikonya saya akan tanggung sendiri..saya tidak perduli apa yang akan terjadi ketika nanti saya naik keatas. Yang jelas, saya hanya ingin bicara empat mata dengan Adrian."
"Nyonya yakin..saya enggak menjamin Nya, Bibi Magda juga sedang pergi keluar."
"Kamu jangan cegah saya untuk ketemu suami saya sendiri dong! Pokoknya kamu dan yang lain tetap disini, tunggu aba-aba saya. Jangan naik sebelum saya panggil!"
"Baik, Nya.." Sinta menurut.
Pasutri yang menjadi majikannya itu ternyata sama-sama keras kepala, pantas saja berjodoh.
***
Nadine membuka pintu kamar Adrian tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu. Urusan Adrian yang akan marah atau tidak, itu belakangan. Dia tidak perduli. Yang terpenting saat ini, Nadine ingin buru-buru bertemu dengan Adrian.
PRANGGGG..!!!
Suara pecahan kaca menggema di seluruh ruangan, akibat tindakan impulsif Adrian yang melemparkan vas bunga.
__ADS_1
"Adrian...stop it!" Nadine berteriak pada Adrian untuk menghentikan aksi brutalnya yang memporak-porandakan barang-barang sekitar.
PRANGGGG..!!!
Permintaan Nadine sama sekali tak diindahkan oleh Adrian. Dia tetap terus membanting-banting barang apapun yang sekiranya dapat dilihat kasat mata.
Kamar mewah Adrian yang bernuansa hitam kegelapan seketika berubah 180 derajat menjadi kapal pecah dalam beberapa detik saja. Nadine tak kuasa melihat kondisi kamar Adrian yang sangat berantakan.
Sprei dan bedcover di kasur terlentang tak beraturan di lantai bersama dengan serpihan-serpihan kaca kecil. Sofa kamar terguling, kasur berpindah tempat. Rak koleksi buku Adrian ikut terjatuh, hingga buku-buku miliknya rusak tertekuk dan tidak berbentuk.
"PERGI...NADINE...!!!" Adrian meninggikan suaranya dan membentak Nadine hingga ia tersentak. "Pergi dari kamar ini...sebelum aku berbuat sesuatu hal yang akan membuatmu celaka!!" perintah Adrian.
"Aku enggak mau keluar, aku mau disini!" jawab Nadine lugas. Sebelum Nadine masuk menemui Adrian, dia sudah siap dengan segala konsekuensi yang ada.
"Arghhhhh..... arghhhhh!!!!" Adrian mengerang keras. Dia terlihat sangat frustasi hingga menjambak rambutnya sendiri.
"Adrian, tenang! Hey...look at me, lihat aku!!" Nadine menangkup penuh kedua sisi wajah Adrian dengan sentuhan lembut tangannya. "Please, just look at me for a while..."
Adrian menghempaskan tangan Nadine kasar, "Lepaskan tangan kamu dari aku!!"
Nadine menggelengkan kepalanya, "Semuanya akan baik-baik saja, okay? Aku disini...aku bersamamu!" lirih Nadine dengan mata yang berkaca-kaca.
Adrian memalingkan wajahnya dari pandangan Nadine.
Wajah Adrian terlihat dingin dan datar. Rahangnya mengeras, menunjukkan sinyal bahwa ia sedang menahan gejolak amarah yang membuncah di dadanya.
"Kamu tidak takut melihat aku?" mata Adrian menatap Nadine nyalang.
"Apa yang harus aku takutkan dari kamu?" Nadine menjeda ucapannya. "Aku enggak akan menghakimi kamu, Adrian. Aku enggak akan marah. Everything will be alright," Nadine mengusap peluh keringat yang mengucur di dahi berkerut Adrian.
Nadine menggandeng tangan Adrian untuk mendudukkan diri mereka di lantai, mengabaikan semua pecahan kaca yang masih berserakan.
"Breathe in..breathe out.." Nadine meminta Adrian untuk menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan.
Setelah mengatur nafas selama kurang lebih 5 menit. Mereka berdua terdiam, tenggelam di lautan keheningan yang tak bertepi. Tak ada yang memulai pembicaraan, karena keduanya terlanjur larut dalam kesunyian.
"Apa kamu mau menceritakan semuanya sama aku?" Nadine bertanya dengan hati-hati sambil memeluk Adrian dan mengusap-usap punggungnya.
"Tidak," jawab Adrian singkat.
"Aku enggak akan memaksa kamu. Aku bersedia untuk menunggu sampai kamu siap. Cukup kamu tahu, aku akan selalu ada buat kamu..mendengarkan keluh kesahmu..I'm here.."
Adrian enggan untuk menanggapi Nadine kembali, yang ada..ia malah mengeratkan pelukannya pada Nadine. Satu yang baru saja Adrian sadari, ternyata pelukan dari istrinya itu dapat membangkitkan sebuah perasaan aneh yang tidak dapat Adrian jelaskan.
__ADS_1
Entah itu sebuah kehangatan atau kenyamanan, Adrian tidak mengerti itu apa? Dia bahkan tidak bisa mengetahuinya.
Seumur hidup, ia tak benar-benar mengenal apa itu arti sebuah kasih sayang atau cinta yang tulus. Tidak menyalahkan, bagaimana bisa dia merasakan hal itu apabila dalam hidupnya dia selalu mendapatkan kekecewaan dan pengkhianatan?
Hidup Adrian terlalu lama dihabiskan untuk memupuk rasa kebencian dan dendam yang tidak pernah tuntas.
"Aku berantakan Nadine...aku berantakan.." lirih Adrian pelan.
DEGHH...
Hati Nadine hancur mendengarnya, apalagi melihat pemandangan Adrian yang rapuh seperti ini. Sosok Adrian yang biasanya terlihat superior, tegas, kuat, dan kejam..bisa berubah menjadi seekor anak kucing yang ketakutan dalam sekejap.
"Mengapa kamu bisa berpikiran seperti itu?"
"Memang itu kenyataannya, aku memiliki anger issues. Aku sulit untuk mengendalikan diri saya ketika marah," Adrian mengaku.
Nadine tidak menyela. Dia membiarkan Adrian mengeluarkan semua uneg-uneg di hatinya.
"Aku benci dia Nadine! Dia telah mengkhianatiku, menghancurkan hidupku. Apakah aku benar-benar tidak pantas untuk mendapatkan ketenangan sejenak? Aku hanya ingin hidup damai, tanpa adanya bayangan masa lalu. Dan dengan seenaknya dia kembali, lalu..." Adrian tak kuasa melanjutkan kalimatnya.
"Jangan lanjutkan ceritanya kalau kamu enggak kuat.."
Adrian melepaskan pelukannya dari Nadine. Kini wajah keduanya saling bertatapan dengan intens. Nadine mengusap pelan pipi kanan Adrian seraya merapikan anak rambutnya yang sedikit terkena kucuran keringat.
Nadine memiringkan kepalanya, "Kenapa Adrian? Kenapa melihatku seperti itu?"
Tanpa menjawab pertanyaan Nadine, tiba-tiba saja Adrian langsung menyambar bibir merah menggoda milik Nadine.
Cup...
Adrian menahan tengkuk kepala Nadine agar ciuman mereka bisa lebih rapat dan dalam. Nadine pun dengan senang hati membalasnya. Dia tak ingin kalah dalam hal ini.
Adrian lalu mengangkat tubuh Nadine dan membawanya ke dalam pangkuannya tanpa melepaskan ciuman mereka. Kedua sejoli ini terus mencecap satu sama lain seakan-akan tak ada hari esok.
"Apakah kamu memikirkan hal yang sama denganku Nadine..??" tanya Adrian dengan nafasnya yang tersengal disela-sela ciuman panas mereka.
Nadine mengangguk kemudian menundukkan kepalanya, dia sudah mengerti kemana arah pembicaraan Adrian kali ini.
"Tell me..what do you want?" Adrian menaikkan dagu Nadine agar mata keduanya bertatapan.
"You...I want all of you...Adrian..."
***
__ADS_1
Mohon kesediaannya untuk teman-teman agar memberi like, vote dan hadiah ya..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Kritik dan saran yang membangun juga akan sangat membantu dan diperlukan. Terima kasih.