
AUTHOR POV
"Please have a room Kak, kalau mau gitu-gituan! Banyak anak kecil belum cukup umur disini!" protes Arga sambil meletakkan papan surfing miliknya di pojokan ruangan.
Arjuna dan Arga telah kembali selepas puas bermain jetski dan surfing. Begitupun juga dengan Athena dan Fiona yang juga telah bergabung kembali di ruang makan. Mereka datang membawa piring-piring kosong beserta sendok dan garpu yang bersih.
"Siapa yang anak kecil?" tanya Adrian sambil menurunkan Nadine dari pangkuannya.
Adrian dan Nadine kembali pada tempat duduk mereka masing-masing seperti semula tanpa melepaskan genggaman tangan mereka.
Nadine masih senantiasa bergelanyut manja di lengan kekar Adrian. Meskipun tadi sempat malu karena telah kepergok bermesraan, Luna tidak malu untuk menunjukkan afeksinya pada Adrian didepan para adik iparnya.
"Nih..nih..ada dua anak gadis kecil disebelahku!" Arga menujuk Athena dan Fiona dengan dagunya. "Mereka kan masih bocah!"
"Enak aja! Kita udah gede kali, udah sama-sama kuliah! Lagi juga kecil-kecil begini, kita berdua udah ada cowok! Emangnya Kak Arga yang bujang lapuk?" sindir Fiona.
"Ngeselin banget emang Kak Arga, biasa lah...mulut-mulut nganggur dari orang single ya begitu bentukannya!" timpal Athena sambil mengangkat sebuah kotak yang berisikan sendok dan garpu.
Mendengar bahwa Athena dan Fiona telah memiliki kekasih, sontak membuat Adrian menatap keduanya dengan tajam. Ada perasaan tidak suka kala mengetahuin fakta jika kedua adik perempuannya telah menanggalkan status single mereka.
"Kalian sudah punya pacar?" tanya Adrian dengan nada yang datar dan dingin.
Wajah Athena dan Fiona berubah menjadi pias. Keduanya saling memandang satu sama lain dengan perasaan gugup. Fiona tak sengaja keceplosan berkata kalau mereka telah memiliki kekasih. Cepat atau lambat, habislah mereka di interogasi oleh Adrian.
"Kenapa diam? Jawab pertanyaan Kakak!" tanya Adrian lagi.
Arjuna dan Arga hanya bisa menahan tawa melihat kedua adik perempuannya yang sedang di ospek mendadak oleh Adrian. Tak ada niat sama sekali untuk membantu. Mereka lebih suka menikmati hiburan kilat dimana Athena dan Fiona terlihat mati gaya didepan Adrian.
"Ekhmmm...itu Kak, cuman bercanda! Kita enggak ada pacar kok!" Fiona berdehem dan mengusap pipinya yang tidak gatal saking gugupnya.
"Terus kenapa bilang 'udah ada cowok' tadi?" Adrian sengaja melakukan penekanan pada kata udah ada cowok tersebut.
"Iy--iya, maksudnya udah ada cowok itu..kita kan cantik-cantik nih, cakep lagi..nah karena itu, banyak banget cowok yang ngejar-ngejar kita di kampus!" Athena beralasan.
"Jangan mencoba untuk mengelak, jujurlah! Kalau kalian bohong, Kakak semakin penasaran dan akan mencari tahu siapa kekasih kalian."
Degh...
Bagaikan disambar petir, jantung Athena dan Fiona berdegup begitu kencang tak karuan. Hati mereka terasa ketar-ketir hingga keringat dingin mulai bercucuran, padahal angin di pantai sedang bersemilir memberikan hawa sejuk.
"Kakak tidak main-main! Mencari informasi tentang background para kekasih kalian itu bisa dilakukan dengan mudah secara cepat."
Athena dan Fiona diam membisu tak bisa menjawab karena nyali mereka seketika menciut.
"Adrian sudah dong...adik kamu sampai ketakutan begitu! Biarin aja mereka pacaran, mereka kan masih muda!" Nadine mencoba menengahi agar suasananya tak berubah menjadi canggung.
__ADS_1
"Masalahnya, kedua adik perempuan tersayangku ini sama-sama naif! Setiap kali mereka berdua punya pacar, ujung-ujungnya selalu berakhir patah hati. Entah itu diselingkuhi, ditinggal di tengah jalan, dimanfaatkan uangnya--"
Nadine memotong pembicaraan Adrian, "Kamu berbicara seperti itu seakan-akan kamu tidak pernah bikin aku patah hati!"
Arga langsung menyemburkan air minuman dari soda kaleng yang sedang diteguknya. Sedangkan Arjuna, Athena dan Fiona juga memalingkan wajah mereka menahan gelak tawa karena kakak sulungnya itu baru saja di skak mat oleh sang istri.
"Wait, what?" Adrian melirik Nadine cepat. Matanya memicing tak suka karena pernyataan Nadine barusan.
"Ya. Kamu kan sering bikin aku nangis." Nadine menyeringai. "Maka dari itu jangan bersikap sok seperti malaikat. Kamu juga punya kekurangan kan?"
"At least I do not cheat." tegas Adrian. (Setidaknya aku tidak pernah selingkuh)
"Still..the things that you do makes me upset sometime," keluh Nadine. (Tetap saja..hal-hal yang kamu lakukan, membuatku kecewa terkadang)
Adrian memejamkan matanya menahan emosi. Dia mengepalkan erat tangannya. Berdebat dengan sang istri adalah hal yang paling ingin Adrian hindari saat ini. Mengingat beberapa menit yang lalu mereka baru saja berciumann dengan panasnya.
"Wah..jenis-jenis suami takut istri nih!" cibir Arga yang disambut dengan gelak tawa oleh semua orang yang berada disana.
HAHAHAHAHAHAH....
Tawa mereka terdengar begitu riuh membuat Adrian semakin kesal saja.
"DIAMMMM!!!!" Adrian membentak dengan suara keras sehingga tawa tersebut berhenti seketika.
Hening. Suasana berubah sunyi karena Adrian sedang memasang mode dengan wajah suram. Tak ada yang berani lagi mengeluarkan suara jika Adrian sudah bertitah seperti itu. Sebegitu menakutkannya memang dia.
"Iyy--iya Kak," sahut keduanya bersamaan.
Petang itu juga, mereka berenam sama-sama menikmati santapan makan malam yang lebih awal dari jam biasanya. Sesekali Nadine juga mengajak ngobrol adik-adik iparnya, agar suasananya tidak terlalu kaku.
Malamnya, mereka berkumpul bersama menggelar tikar diatas pasir serta membuat api unggun sembari bermain Jenga. Arga juga tak lupa membawa gitar dan memetik senarnya untuk mengalunkan sebuah lagu indah yang dapat menemani malam mereka.
Jujur, sudah lama sekali Adrian tak menikmati momen-momen seperti ini. Bercengkrama dengan keluarga dan menghabiskan quality time bersama sangat jauh dari angan-angannya.
Berbeda dengan keempat adiknya yang sedang asyik bermain, Adrian dan Nadine memilih untuk sedikit melipir menjauh dari mereka agar keduanya bisa mendapatkan privasi. Tapi masih dalam satu area yang sama.
"Pakai ini, angin malam tidak terlalu bagus untuk kesehatan." Adrian memakaikan jaket tebal miliknya pada Nadine.
"Terima kasih." Nadine menyandarkan kepalanya di bahu Adrian, "Kamu lagi mikirin apa?" Nadine melirik Adrian yang tatapan matanya tampak kosong.
"Nothing." Adrian merapikan rambut Nadine yang berterbangan terkena angin malam.
"Bohong...kamu pasti sedang memikirkan sesuatu kan?" Nadine memaksa Adrian mengaku.
"Entahlah, aku hanya merasa bahwa aku sedang dalam keadaan yang baik saja saat ini. Berada di tengah-tengah keluargaku, menghabiskan waktu bersama, aku sudah lama tak melakukannya. Bahkan aku lupa bagaimana caranya untuk bahagia selama ini. I'm to messed up, Nadine." Adrian menjeda ucapannya.
__ADS_1
"Dan sekarang, perlahan aku mulai merasakan hidupku stabil. Galih dan David sudah ditangkap, dendamku terbalaskan sudah. Beban di pundakku sedikit terangkat dengan sendirinya," lanjut Adrian.
"And how does that feel? Kamu puas dengan pencapaian itu?" Nadine mendongakkan kepalanya menatap netra indah Adrian yang memikat.
"Aku lega. Tapi untuk kepuasan, belum. Sifat beracun dalam diriku mengatakan jika Galih dan David seharusnya mendapatkan hukuman yang lebih dari itu. Bahkan menghilangkan nyawa mereka pun rasanya tak cukup untuk membalas perbuatan mereka di masa lalu."
Nadine meraih telapak tangan Adrian dan menempelkan tangan tersebut di pipi kanannya. "Adrian, masing-masing orang telah memiliki porsinya sendiri untuk mendapatkan karma atas perbuatan buruk yang mereka lakukan."
"Hanya Tuhan yang berhak mengadilinya, you have no power against that! Mungkin kamu merasa tidak puas, but God has other plans. Tugas kamu selesai sampai disini." Nadine menasehati.
Dia tak mau suaminya masih jatuh terjerembab dalam kubangan dendam yang tak akan ada habisnya.
Nadine memang tidak pernah mengalami masa kecil yang buruk dan tidak tahu bagaimana rasanya menjadi Adrian kecil yang selalu hidup dalam kegelapan.
Tapi Nadine berjanji akan terus mendampingi Adrian melewati masa-masa sulit dalam hidupnya. Nadine akan berusaha menjadi support system suaminya agar bisa sembuh dari trauma yang dimilikinya.
"Lepaskan Adrian..heal with me! Kita akan melalui ini bersama. Kita akan menjadi orang tua, ingat?"
Nadine membawa tangan kokoh Adrian untuk memegang perutnya. "Di dalam sini, ada sebuah janin kecil yang sedang menanti waktunya untuk bertemu dengan kita, Mommy dan Daddy-nya."
"Anak ini akan menjadi penguat untuk hubungan kita, dan sebagai pertanda bahwa kita akan menjajaki kehidupan yang baru."
Nadine tak pernah bosan-bosannya untuk meyakinkan Adrian dan mengusir keraguan dalam hatinya yang masih memiliki prinsip untuk enggan memiliki momongan.
"Kamu bersedia kan? Mengarungi indahnya kehidupan bersamaku?" tanya Nadine.
"Sudah kepalang tanggung, bukankah terlambat untuk menghindarinya sekarang?" canda Adrian menyeringai.
Nadine tertawa pelan dan menubrukkan tubuhnya ke dalam dekapan hangat suaminya itu. Adrian dengan senang hati membalas pelukan Nadine begitu erat, lalu mengecupi kening istrinya bertubi-tubi.
Adrian tidak perduli akan apa yang terjadi dengan masa depannya bersama Nadine nanti esok. Entah mereka akan bertahan bersama atau tidak, Adrian tidak pernah tahu.
Tapi baginya, momen ini adalah sebuah bukti bahwa Nadine adalah satu-satunya wanita yang menjadi kekuatannya sekarang.
"She is everything to me, beyond everything..." ungkap Adrian dalam hati.
***
VISUAL ATHENA & FIONA
***
Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up 😊
__ADS_1
Maaf kalau belum bisa upload rutin karena kesibukan di real life..jangan di unfav dulu. Terimakasih, sudah mau setia untuk baca! Kedepannya bakalan lebih seru kok...hihi