
AUTHOR POV
Sementara kini, Nadine sedang bersama kedua mertuanya di dalam pesawat pribadi milik Adrian untuk melakukan perjalanan menuju ke Los Angeles.
Nadine tak dapat menyembunyikan kegelisahannya dan tak henti-hentin memainkan jari-jemarinya, menandakan bahwa hatinya diliputi oleh kegamangan.
Pikiran Nadine terfokus akan suaminya, Adrian. Dimana dia sekarang? Bagaimana keadaannya? Apakah dia sudah makan dan dalam kondisi yang sehat atau sedang menghadapi marabahaya?
Begitulah kira-kira pertanyaan yang kerap kali terngiang-ngiang di dalam otak Nadine. Saat ini dia tak bisa berpikir jernih. Pengaruh hormon kehamilan, ditambah lagi dengan banyaknya drama yang terjadi akhir-akhir ini membuatnya cemas.
Sudah hampir beberapa jam terlewati, tak ada kabar sedikitpun tentang Adrian. Berulang kali Nadine menelpon dan mengirimkan pesan, namun tak ada balasan. Begitupun juga dengan Ray, yang sulit untuk dihubungi.
Bahkan kedua mertuanya saja hampir celaka ketika hendak menjemput dirinya di rumah sakit. Maka jangan salahkan Nadine yang bersikap overthinking.
"Sayang...kamu makan dulu ya, dari tadi kamu belum mengisi perut dengan makanan lho! Kan baru saja keluar dari rumah sakit. Harus dijaga staminanya, apalagi sekarang kamu sedang hamil.." celetuk Mama Diana yang duduk berada disamping Nadine.
"Aku enggak selera makan Mah...rasanya hatiku belum tenang kalau belum dapat kabar dari Adrian. Aku takut Mah..."
Mama Diana menggenggam tangan Nadine. "Kita berdoa bersama untuk keselamatan Adrian ya sayang..Mama percaya kok, Tuhan akan selalu melindungi putra Mama diluar sana. Yakinlah akan hal itu."
"Nadine..Adrian itu pria yang kuat, Papa yakin tidak akan ada sesuatu yang buruk terjadi sama suami kamu itu. Dia akan kembali pada kita secepatnya. Papa bisa jamin itu 100 persen. Jangan pernah ragukan kemampuan suami kamu. Dia pasti bisa mengatasi Galih malam ini juga." sahut Papa Alan percaya diri.
Nadine mengangguk. "Baik Pah..Nadine percaya Adrian akan baik-baik saja."
"Nah gitu dong, berpikir positif akan lebih baik daripada berasumsi yang tidak-tidak. Sekarang, yang terpenting kamu fokus aja dengan kehamilan kamu. Papa sudah tidak sabar menanti kehadiran cucu di rumah."
Papa Alan begitu bersemangat. Sudah sejak dulu, ia mengharapkan untuk menimang seorang cucu. Awalnya Papa Alan pikir, penantiannya akan lama sebab Arjuna belum cukup matang untuk mengarungi biduk rumah tangga. Sedangkan Adrian menolak untuk menikah atau memiliki keturunan.
Namun tak disangka-sangka, Tuhan punya rencana lain untuk mengubah takdir hidup Adrian sehingga Nadine bisa hadir di tengah-tengah kemelut keluarga mereka. Kebahagiaan papa Alan semakin bertambah kali-kali lipat.
__ADS_1
"Sekarang makan ya sayang...kasihan nanti bayi yang ada di perut kamu kelaparan karena ibunya belum makan." bujuk Mama Diana sembari mengelus perut rata Nadine.
"Iya Mah..aku mau makan.." Nadine mengiyakan.
"Maunya makan apa? Mungkin ada pregnancy craving, kamu pingin makan sesuatu? Ini bisa pilih menunya sendiri kok sesuka hati kamu Nadine..."
"Apa aja Mah...aku terserah, yang penting perut aku keisi makanan dan baby jadi senang." Nadine tersenyum tipis.
"Okay Mama pilihkan yang enak. Pokoknya jangan yang mentah kayak sushi atau sashimi ini, karena enggak boleh untuk ibu hamil. Nanti kalau pesanan sudah datang, biar Mama yang suapin. Kamu masih lemas gini badannya."
"Iya Ma..boleh. Makasih ya Mah, udah sayang sama Nadine. Aku jadi bisa merasakan kasih sayang dari seorang Ibu yang enggak pernah aku dapatkan sedari kecil."
Kedua bola mata Nadine berkaca-kaca. Dirinya begitu emosional dan ingin menangis kencang rasanya. Sudah lama sekali ia mengidam-idamkan sesosok ibu yang mampu memberikan kenyamanan. Dan kali ini, dia dapatkan itu dari Mama Diana.
"Hey...kamu itu anak Mama. Putri Mama. Tentu Mama sayang sama kamu. Papa juga iya, begitupun adik-adik kamu yang lain. Jangan pernah merasa kamu sendiri, kami semua sayang kamu. We'll always be there for you..."
Nadine terharu mendengar ucapan Mama Diana yang begitu menyentuh hatinya. Ketulusan ibu mertuanya tidak perlu diragukan lagi. Tidak salah jika Papa Alan begitu terpesona dan langsung menikahinya.
***
Meski Galih telah menandatangani semua surat pernyataan pengalihan atas hak dan kepemilikan kepada Adrian, semua itu nampaknya tidak cukup membuat Adrian puas begitu saja.
Belum ada tanda-tanda dari Adrian yang menunjukkan bahwa dia akan melunak dan segera melepaskan Galih dan putrinya. Dia masih ingin bermain-main.
Raut wajah Adrian yang tersenyum menyeringai seakan-akan menunjukkan kekuasaan dan keangkuhannya, membuat Galih ketar-ketir. Dalam benaknya, ia sudah harus bersiap untuk rencana buruk yang lebih besar akan segera datang menghampirinya.
Antara dijebloskan ke dalam penjara atau kematian, Galih tidak tahu. Tapi satu hal yang pasti, Adrian pasti akan memanfaatkan kondisinya yang telah terpojok dan melemah saat ini.
Adrian memunguti satu persatu surat yang telah ditandatangani dengan sempurna oleh Galih. Sebelumnya, Adrian telah mengecek semuanya agar tidak ada yang terlewat. Setelah rampung, ia langsung menyerahkannya pada Ray yang berada di belakangnya.
__ADS_1
"Ray, segera bawa semua berkas surat-surat ini ke tempat yang lebih aman. Ajaklah 2-3 orang bawahan kita untuk mendampingi kamu. Sudah hapal cara kerjanya bukan?"
Ray menunduk. "Siap, mengerti Pak."
"Untuk Pak Miko dan Pak Graham, saya apresiasi atas keberhasilan kerja sama kita yang berjalan dengan lancar. Untuk itu, sesuai janji kita sebelumnya..saya langsung transfer uangnya."
Adrian mengutak-atik ponselnya untuk mengirimkan uang imbalan ke rekening Graham dan Miko, masing-masing bernilai ratusan juta. Adrian sedang dalam suasana hati yang baik saat ini, itulah kenapa dia bersikap royal.
"Kalian bisa kembali malam ini juga ke rumah tempat asal masing-masing. Jangan khawatir dengan keselamatan anda berdua, saya yang akan jamin. Ray bisa mengantar kalian sekaligus berdiskusi perihal legalitas dari surat yang telah ditandatangani Galih." lanjut Adrian.
"Baik Pak Adrian, terima kasih atas perhatiannya." balas Miko dan Graham berbarengan.
"Saya permisi dahulu Pak, saya akan langsung mengantar Pak Graham dan Pak Miko ke hotel setempat. Penerbangan mereka akan dijadwalkan sekitar pukul 8 besok pagi." Ray berbisik-bisik pelan di telinga Adrian agar yang lain tak mendengar.
"Okay. Lakukan apa yang perlu untuk dilakukan."
Ray segera pamit undur diri dari keramaian dan mengajak serta Graham dan Miko bersamanya. Tak lupa, ada iring-iringan bodyguards juga yang mengawal kepergian mereka menuju hotel.
"Jangan mengabaikanku Adrian! Aku benar-benar menyerah. Semua tumpukan surat itu dan kontrak perjanjian kita sudah aku tandatangani, apa lagi sekarang? Lepaskan putriku!" ucap Galih yang menimbrung.
Adrian menyuruh anak buahnya untuk melepaskan Kayla dan menggiringnya pada Galih. Dan ketika ikatan di tangan Kayla telah terlepas, perempuan itu langsung berlari sekencang-kencangnya memeluk Galih dan menangis tersedu-sedu di dalam dekapan Ayahanda-nya. Keduanya begitu emosional.
Tapi sayangnya permainan belum berakhir disini.
Adrian lalu memerintahkan para bawahannya untuk menghajjar Galih habis-habisan tanpa ampun. Kenapa bukan Adrian sendiri Jawabannya karena Nadine. Istrinya itu sedang hamil sekarang. Adrian tidak bisa mengotori tangannya sembarangan.
***
Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up😊
__ADS_1
Jangan di unfav ya.. beberapa hari ini off, karena aku sibuk untuk mematangkan ceritanya agar seru, aku bikinnya perjuangan nih 😆 Terimakasih, sudah mau setia untuk baca!