
AUTHOR POV
"Siapa yang tadi datang?" tanya Adrian yang baru saja keluar dari walk in closet.
"Room service, mereka mengantarkan makanan untuk sarapan pagi ke kamar,"
"Ohhh..." Adrian mengangguk sambil mengancingkan lengan kemejanya.
Sejumlah menu makanan untuk sarapan pagi memang telah ditata rapi diatas meja balkon, atas permintaan Nadine tadi. Ada croissant, ricotta honey pancakes, vegetables frittata, sausage, caesar salad, crispy bacon, beberapa lembar bread toast, serta buah-buahan potong yang terlihat segar dan siap untuk disantap.
Adrian menarik kursi dan duduk bersebrangan dengan Nadine, "Ini kamu yang minta agar sarapannya di setting di balkon?"
"Iya, aku sengaja meminta pramutamu hotel menyiapkannya disini. Mumpung udara pagi di Turin sedang bagus, jadi kayaknya lebih enak sarapan di balkon. Bosen juga kan di dalam kamar terus!" ucap Nadine antusias.
"Kamu tidak sarapan?" tanya Adrian saat melihat-lihat menu yang tersedia.
"Lagi enggak selera..kamu aja yang sarapan, biar aku temenin,"
Perut Nadine masih terasa kenyang karena dia sudah makan lebih awal dari jam yang semestinya. Demi untuk bisa minum pil kontrasepsi, Nadine rela untuk makan terlebih dahulu pada pukul 4 dini hari tadi, setelah selesai berendam air hangat.
"Kamu mau sarapan sama makanan apa?" tawar Nadine.
"Frittata and bread toast, perhaps..saya enggak terlalu suka makanan manis,"
"Okay..."
Ada alasan dibalik Adrian yang tidak mau mengkonsumsi makanan manis terlalu sering. Dari gen Papanya, Adrian memiliki riwayat penyakit diabetes yang tinggi. Mulai dari kakek buyutnya, Opa-nya, kemudian Papa-nya, ketiganya sama-sama memiliki diabetes di usia yang cukup dini.
Itu sebabnya Adrian membatasi dan menjaga pola makannya agar sehat. Setiap seminggu dua kali, Adrian juga menyempatkan diri untuk berolahraga sehingga kesehatan tubuhnya bisa stabil.
Nadine mengambil dua lembar bread toast, dua potong frittata, dan crispy bacon untuk disajikan di piring Adrian.
"Kamu tidak perlu repot-repot Nad, saya bisa ambil sendiri."
"Nope, biar aku aja yang menyiapkannya! Sayur mau enggak?" tanya Nadine yang dibalas anggukan oleh Adrian. Dua sendok besar caesar salad ditambahkan dalam piring Adrian.
"Sudah Nad cukup, jangan terlalu banyak!" protes Adrian yang melihat isi piringnya hampir penuh karena Nadine mengambil porsi yang terlalu banyak.
Nadine melirik sekilas dan menyodorkan piring tersebut pada Adrian, "There you go..nih makan!"
__ADS_1
"Thank you." Adrian langsung saja menyantap makanan yang disiapkan oleh Nadine.
Nadine senang sekali karena ini adalah kali pertama dirinya dan Adrian menikmati sarapan bersama. Biasanya, Adrian tak pernah tampak batang hidungnya di pagi hari. Hanya pada waktu dinner saja wujud Adrian muncul di peradaban.
Suasana hati Nadine hari ini bertambah bagus dengan udara pagi yang sejuk dan suara kicauan merdu burung menemani mereka pagi ini.
Untuk mengusir rasa kebosanan karena menunggui Adrian yang sedang makan, Nadine mengambil sebuah buku novel miliknya yang ada di koper. Buku itu sengaja dibawa sebagai hiburan selingan untuk Nadine agar tidak bosan.
Nadine sendiri jarang bermain handphone kalau tidak terlalu penting. Di waktu senggangnya dia lebih suka membaca buku sastra ketimbang scroll laman media sosial.
Setelah mengambil buku itu dari koper, Nadine kembali duduk di kursi balkon untuk menemani Adrian yang masih asyik memakan sarapannya.
"Kamu suka baca buku?" tanya Adrian pada Nadine disela-sela makannya.
"Suka banget, aku rasa ini turunan dari Ayah. Pas aku masih sekolah dasar, beliau selalu mencekoki aku dengan banyak buku-buku geografi dan pengetahuan. Ketika beranjak dewasa, aku mulai beralih untuk membaca buku sastra,"
"Selera yang bagus."
Nadine mengerutkan alisnya, "Maksudnya?"
"Persuasion by Jane Austen. Itu buku yang sedang kamu baca kan?" tunjuk Adrian pada buku yang dipegang Nadine.
"How do you know?"
"Padahal font judulnya kecil lho?!"
Adrian meletakkan garpu dan pisau makannya, "Saya punya buku yang sama denganmu."
"Oh ya? Kamu juga suka baca buku sastra?"
"Spesifiknya bukan punya saya, tapi Mama Diana. Sejak kecil, Mama suka memberikan saya buku bacaan. Dari ringan sampai yang berat sekalipun. Dia bahkan punya perpustakaan kecil di rumahnya."
"That sounds amazing! Kapan-kapan ajak aku kesana ya! Selama kita menikah, kamu belum pernah ajak aku ke rumah Papa dan Mama!"
"Rasanya tidak perlu menunggu saya dulu, kamu kan bisa langsung kesana sendiri! Mama dan Papa pasti heboh.."
"Iya juga sih, Mama dan Papa kamu itu baik banget! Kamu tahu, hampir setiap hari Mama selalu mengirimiku pesan untuk sekedar bertanya kabar.."
"Iya..Mama dan Papa lebih sayang kamu daripada aku sepertinya!"
__ADS_1
"Habisnya kamu terlalu cuek dan dingin sama mereka! Coba aja kamu bisa bersikap lebih hangat dan ramah, kamu pasti bisa merasakan kalau kasih sayang mereka itu tulus!"
Adrian mengalihkan pembicaraan mereka, "Aku sudah kenyang. Setelah ini kita ke rumah sakit untuk menjemput kakakmu pulang, sebaiknya kamu siap-siap!"
"K-k-kak Nathan udah boleh pulang?" Nadine tak dapat menyembunyikan keterkejutannya.
"Pihak rumah sakit sudah mengabari saya tadi, mereka bilang kakakmu sudah siuman bahkan sudah dipindahkan ke ruang rawat inap biasa."
"Kamu serius kan? Ini benar tidak mimpi?"
"Sejak kapan saya pernah bercanda?!" Adrian mengelap mulutnya dengan sapu tangan setelah menandaskan sarapan yang disiapkan Nadine tadi.
Raut kebahagiaan tersirat jelas di wajah Nadine. Setelah penantian hampir tiga bulan lamanya, akhirnya dia bisa menemukan keberadaan kakaknya dalam keadaan selamat.
Nadine menggenggam tangan Adrian, "Okay, aku ganti baju dulu!!"
"Hmm...saya tunggu, tidak pakai lama!"
"Aku pasti cepat kok!" Nadine langsung terburu-buru beranjak dari tempat duduknya untuk berganti pakaian.
Sebelum berjalan masuk, Nadine menghentikan langkahnya dan berbalik menghampiri Adrian.
Adrian menatapnya bingung, "Ada apa?"
CUUPPP...
Nadine mengalungkan kedua tangannya di leher Adrian sembari mengecup pipi kanannya dengan sentuhan bibirnya yang lembut.
"Thank you for everything that you've been done for me, it really means a lot!" senyuman manis tersungging di sudut bibir mungil Nadine.
(Terima kasih atas semua yang telah kamu lakukan untukku, semuanya sangat berarti)
Dengan jalan berjinjit dan terbirit-birit, Nadine kembali bergegas masuk ke dalam untuk menyembunyikan rasa malunya karena sudah bersikap agresif untuk mencium Adrian duluan.
Perlakuan manis yang baru saja dilakukan Nadine membuat jantung Adrian berdebar tak karuan. Adrian sungguh tak menyangka jika efek getaran yang timbul akibat berdekatan dengan Nadine, bisa terasa kuat seperti ini.
Hatinya yang telah lama mati mendadak bangkit tanpa permisi. Apalagi setelah keduanya melakukan aktivitas percintaan semalam, Adrian menjadi salah tingkah dibuatnya.
Hanya Nadine, satu-satunya perempuan yang bisa membuat hatinya menjadi goyah tak menentu...
__ADS_1
***
Mohon kesediaannya untuk teman-teman agar memberi like, vote dan hadiah ya teman-teman..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Terima kasih.