Favorite Sin

Favorite Sin
ADRIAN'S CONFESSION (Part 2)


__ADS_3

AUTHOR POV


"I suffered from PTSD,"


Satu kalimat Adrian yang membuat hati Nadine


"I'm a mess Nadine. Sejak kecil, aku sudah hidup di lingkungan yang toxic. Pernikahan kedua orang tua kandungku tidak seindah cerita dongeng. Perceraian mereka memberikan dampak yang negatif pada masa kecilku."


"Aku berpisah dengan Papa bertahun-tahun lamanya, memaksaku harus hidup dengan ibu kandungku--Imelda dan Galih yang kerap kali melakukan tindak kekerassan. Hidupku hancur. Kebahagiaan hanyalah angan-angan semata kala aku tinggal bersama mereka."


"Puncaknya adalah ketika aku melihat dengan mata kepala sendiri, Galih melayangkan nyawa Imelda dengan cara yang tragis. Aku masih berumur 10 tahun saat itu."


Tangis Nadine mulai pecah. Air mata yang telah ditahannya luruh juga pada akhirnya. Nadine mengiba pada masa lalu Adrian yang begitu kelam. Diraihnya tangan Adrian, lalu Nadine menciumnya pelan dan mendekatkan tangan tersebut untuk menangkup pipinya.


"Kamu enggak perlu meneruskan ceritanya kalau kamu--"


Adrian memotong perkataan Nadine, "No, aku akan ceritakan semuanya. Ini murni keinginanku untuk memberitahu kamu."


Sesungguhnya Nadine hanya ingin membuat Adrian merasa nyaman. Memang benar Nadine ingin tahu segala sesuatu detail yang ada di diri Adrian, tapi dia juga tak mau menekannya.


"Setelah Imelda meninggal, Papa mengambil alih hak asuhku. Dari situlah, aku mulai mengalami perubahan. Kehidupanku dengan keluarga baru Papa sangat berbanding terbalik ketika aku bersama dengan Imelda."


"Namun, semua itu tak serta merta membuat segalanya menjadi simple. Aku sudah terlanjur terluka dan mengalami trauma. Pasca kejadian, mimpi-mimpi buruk berdatangan setiap malam. Emosiku tak terkendali membuatku sering tantrum dan memiliki rasa cemas yang berlebih."


"Karena tindakan impulsifku yang menjadi-jadi, aku sampai harus home-schooling. Terkecuali saat kuliah, aku menyelesaikan pendidikan sarjanaku di Inggris. Papa dan Mama rutin membawaku ke psikiater. Hingga saat ini pun, aku masih sering konsultasi kesana tanpa sepengetahuan kamu," lanjut Adrian.


"Kenapa kamu enggak bilang? Aku kan bisa menemani kamu pergi kesana.." timpal Nadine.


"Aku tidak mau membuatmu takut. Naomi saja hampir meninggalkanku saat dia tahu penyakit mentalku." ucap Adrian seraya menghapus genangan air di pelupuk mata Nadine.


Naomi.

__ADS_1


Mendengar namanya saja sudah membuat Nadine terbakar api cemburu. Rasanya, Nadine ingin uring-uringan jika harus mendengar cerita masa lalu Naomi dengan Adrian nantinya. Ditambah lagi dengan hormon kehamilan tak menentu, membuatnya semakin kesal saja.


"Berbicara tentang Naomi, seserius apakah hubungan kalian berdua? Kalian saling mencintai?" Nadine bertanya hati-hati.


Adrian mengangkat kedua bahunya, "Iya bisa dikatakan seperti itu."


"Kenapa begitu jawabnya?" Nadine penasaran karena gestur Adrian menunjukkan sebuah keraguan.


"Rasa cinta itu mungkin saja ada, karena aku pernah merasakan kebahagiaan saat menghabiskan waktu bersamanya. Aku pun hancur ketika ia pergi meninggalkan dunia ini. Saat itu, aku selalu meyakinkan diriku sendiri bahwa aku cinta pada Naomi. Tapi semakin hari, aku semakin sadar kalau aku bisa saja tidak cinta padanya, aku hanya menyukai gagasan jatuh cinta padanya."


"Aneh! Membingungkan tahu enggak, kenapa bisa begitu? Kalau tidak saling cinta kenapa kalian berdua berniat untuk menikah?" sindir Nadine.


Adrian mengerutkan keningnya. Kini dia mengerti darimana Nadine bisa tahu tentang Naomi, pasti ini ada sangkut paut dengan keluarganya. Mama Diana.


"Pasti Mama kan yang kasih tahu kamu?" Adrian mengangkat salah satu alisnya.


"Kk--kamu.. jjj-jangan marah sama Mama," Nadine merapatkan kedua tangannya dengan ekspresi memelas.


Pernyataan Adrian membuat Nadine terkejut.


"Tapi--"


Adrian mengangkat tangan kanannya sebagai tanda untuk menghentikan Nadine berbicara.


"Kamu salah sangka. Aku dan Naomi memang punya perasaan cinta saat itu, tapi semuanya juga masih abu-abu. Aku tidak memiliki cukup keberanian untuk memperistrinya padahal kami sudah berpacaran 5 tahun. Selama kami berkencan, tidak ada kepastian yang bisa aku berikan untuknya."


"Berbeda denganku ya, sebulan kenal..kamu langsung mengajakku menikah!" ledek Nadine.


Keduanya pun sama-sama tertawa kecil mengingat memori awkward itu.


"Aku pikir kamu enggak jadi menikah dengan Naomi karena dia selingkuh!"

__ADS_1


Adrian menggeleng. "No, it's not. Itu salah, Naomi tidak selingkuh."


Nadine menjadi bingung. Asumsi tentang Adrian dan Naomi yang ada di kepalanya selalu dipatahkan oleh fakta-fakta baru. Mama Diana dan Adrian memberikan keterangan yang bersilangan. Nadine mencoba objektif kali ini, meskipun Adrian adalah sumber aslinya.


"Naomi hanya dijebak oleh Valerie, itulah sebabnya kenapa aku membencinya. Tak hanya itu, ia juga ikut terlibat dalam perencanaan kecelakaan tunggal yang merenggut nyawa Naomi. Makanya, aku menjebloskan Valerie ke balik jeruji besi," tegas Adrian.


"Kalau Naomi tidak mengkhianati kamu, berarti saat itu..d--ddia hh--hamil anak k--kamu?" ucap Nadine terbata-bata.


"Benar. Dia hamil anakku. Aku pernah melakukannya dengan Naomi tanpa ikatan pernikahan. Ketika kecelakaan itu terjadi, aku tidak tahu kalau dia mengandung."


Timbul perasaan sakit hati ketika mengetahui fakta bahwa Naomi pernah mengandung anak Adrian. Tapi itu semua hanya masa lalu. Asalkan Adrian tidak mengulanginya lagi selama pernikahan mereka berlangsung, maka Nadine bisa memakluminya. Apalagi mereka sudah sepakat di kontrak untuk tetap setia.


Karena apabila Adrian melakukan perbuatan aneh-aneh, Nadine tidak segan-segan meninggalkan Adrian jauh pergi ke tempat yang pelosok hingga seujung kuku pun Adrian tak bisa menemukannya. Nadine paling benci diduakan, seperti kasusnya bersama Sean dulu.


"Bagiamana perasaan kamu saat tahu Naomi hamil?"


Nadine ingin tahu reaksi Adrian karena Nadine tak mau jika dia dan bayinya bernasib sama seperti Naomi.


"Sebaiknya kita tak membahas itu..lupakan saja, anggap masa lalu biarlah berlalu!" Adrian memalingkan wajahnya.


Nadine sebenarnya masih penasaran dengan hubungan antara Adrian dan Naomi di masa lalu. Masih banyak hal yang ingin ia tanyakan, tapi ia tak berani mendesak Adrian lebih lanjut.


Hari ini Nadine merasa sudah cukup dengan penjelasan Adrian yang terdengar jujur dari hati. Perlahan, fondasi hubungan mereka mulai ada kemajuan.


"Intinya, kegagalan pernikahan orang tua kandungku membuat aku takut untuk menikah dan berkomitmen, Nad. Sedangkan perlakuan kasar yang kuterima dari Imelda dan Galih, membuatku takut untuk memiliki anak. Aku takut tidak bisa menjadi suami dan ayah yang baik untuk keluarga kecilku karena diriku sendiri sudah terlanjur toxic.."


***


Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up😊


Sempatkan juga untuk membaca karya author yang lain ya, judulnya "Om Duda I'm Coming", di apk ini juga kok. Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2