Favorite Sin

Favorite Sin
SHE DRIVES ME CRAZY


__ADS_3

...ADRIAN...


Ketika bibirku bersentuhan dengan bibir Nadine, aku tidak tahu bagaimana caranya menghentikan diriku untuk tak melahapnya.


Seperti sekarang ini...


Aku menyambar bibir manis Nadine karena sudah tak tahan lagi. Rasanya nikmat! Sama seperti yang aku bayangkan saat terakhir kali kami berciuman.


Kuberikan sedikit gigitan kecil di bibir bawahnya agar dia membuka mulut, dan itu berhasil! Lidah kami bertautan tanpa aba-aba, dan sama-sama saling mengalirkan gelanyar hangat.


Tanganku tak mau diam begitu saja. Aku mulai melucuti pakaian yang dikenakan Nadine dengan menarik resleting gaunnya kebawah. Tinggal menyisakan kain penutup untuk kedua bukit kembar sintall dan juga segitiga bermuda miliknya.


Bibirku turun untuk mulai menciumi dagunya, rahangnya, lalu lanjut menyusuri leher jenjangnya. Aku bisa merasakan tubuh Nadine yang bergetar hebat saat aku mendaratkan bibirku tepat di bawah telinganya.


Tangan kananku bergerak meremaass bongkahan aset depan Nadine seraya kubenamkan wajahku disana. It feels so good. Sangat pas dalam genggaman tanganku.


Nadine mengeraang dan mendorongku untuk melakukannya lebih dalam lagi sehingga aku menghisap kuat kulit putihnya itu.


"Arghhh...Adrian"


God..I can't handle this


Suara serak Nadine terdengar seperti alunan melodi di kupingku. Seluruh tubuhku terasa seperti dinyalakan setelah lama mati tenggelam dari kegelapan.


Bagaimana bisa ini terjadi? Aku tidak pernah merasakan seperti ini sebelumnya. Dan ini sudah kali ketiga aku tak bisa mengontrol diri bila berada didekatnya.


Deru nafas kami keluar dengan tajam saat aku dan Nadine menjeda sejenak kegiatan panas yang kami lakukan. Kedua tangan kanan dan kiriku masih betah melingkar masuk di pinggulnya.


Kemudian aku membawa tangan kananku ke wajah Nadine untuk memberikannya sapuan lembut dan menangkup sisi pipinya yang terlanjur memerah seperti buah persik.


Kedua kening kami menyatu sekarang karena aku menarik tengkuk kepalanya. "Apa yang sebenarnya sedang kita lakukan Nad?"


"Aku tidak tahu Adrian, tapi yang jelas..aku tidak ingin kita berhenti." Nadine menyunggingkan senyuman tipis di sudut bibirnya membuatku mencuri kecupan kecil dari situ.


Aku menarik sedikit kepalaku ke belakang. Kutatap manik matanya beberapa saat. Mata indah yang telah merebut hatiku.


Nadine bagaikan magnet yang mampu menarikku masuk ke dalam dunianya. Aku tidak tahu apa, kenapa, dan mengapa aku memiliki keberanian untuk bertindak jauh bersama Nadine. Ada sesuatu dalam dirinya yang tak bisa aku tolak ataupun kuhindari.


"Apa yang kamu inginkan?" tanyaku pada Nadine saat aku merebahkan tubuhnya di sampingku.


"Kamu." jawabnya singkat.


Nadine sungguh menginginkanku? Tidak mungkin rasanya.


Seketika aku melepaskan diriku dari Nadine dan segera beranjak dari kasur, meninggalkannya tergeletak disana dengan hasraatt nya yang masih memuncak.

__ADS_1


"Kamu lapar?" aku melirik Nadine yang masih terdiam dengan ekspresi wajah yang sulit untuk dijelaskan. Apa dia kecewa karena aku tak melanjutkannya?


Nadine tak menjawab pertanyaanku, dia hanya menggeleng saja.


Kutarik selimut bed cover keatas untuk menutupi seluruh tubuhnya yang semi polos itu dan kukecup keningnya sejenak.


"Tidurlah, kamu butuh istirahat. Saya mandi dulu."


Aku menapakkan kakiku di kamar mandi. Ya, aku butuh mandi sekarang. Selain untuk membersihkan diri dari sisa keringat dan darah yang melekat, kucuran air dingin dari shower adalah jawaban yang tepat untuk meredakan hasratt ku yang tertunda.


Bukan tertunda, lebih tepatnya aku yang tak bisa melanjutkannya. Pikiranku masih terngiang-ngiang dan terbayang akan Nadine.


Aku menengadahkan kepalaku keatas sambil memejamkan mataku dan mengusap kasar rambutku ke belakang.


Nadine really drives me crazy...


Selesai sudah aku membersihkan diri. Sayangnya, tak ada baju ganti yang bisa kupakai karena memang tidak ada persiapan apa-apa sebelumnya. Satu-satunya cara untuk menutupi tubuhku, ya dengan melilitkan handuk di pinggul.


Saat aku kembali, kulihat Nadine sudah tidur berbaring pulas. Dia pasti lelah, itu terlihat jelas sekali dari guratan garis di dahinya.


TING...TONG...


Bel kamar berbunyi...pasti itu Ray. Dia pasti sudah menerima pesanku tadi.


Ceklek...


Isinya pasti pakaian ganti untukku dan Nadine. Aku memang sudah memerintahkannya pada Ray via chat.


"Kamu langsung naik ke rooftop dan tunggu saya disana, saya akan pakai baju sebentar."


"Baik, Pak..saya permisi dulu." Ray menundukkan kepalanya hormat.


***


Di rooftoop.


"Kamu sudah membereskan semuanya Ray?" aku merentangkan kedua tangan dan mencengkeram pembatas rooftop.


"Sudah Pak, saya sudah membawa kelima jenazah tersebut dan mengirimkannya pada keluarga mereka. CCTV juga telah saya retas dan semuanya bersih. Bukti yang di TKP saya hilangkan."


Aku mengarahkan pandanganku bebas pada lampu-lampu kota, "Pastikan jangan sampai ada yang curiga! Apa sudah kamu katakan pada keluarga bahwa kecelakaan kendaraan menjadi penyebab kematiannya?" tanyaku lagi.


"Sesuai perintah, Pak...sudah dilaksanakan."


"Bagus. Saya suka kerja cepat kamu! Lalu bagaimana soal Sean dan David? Nadine sudah menempelkan sebuah dot kecil di bahu jas-nya. Sudah kamu sadap percakapan mereka?" aku menoleh Ray.

__ADS_1


"Ini hasil rekamannya, Pak."


Ray menekan tombol play pada notebook untuk memutar rekamannya.


📀


"Ini semua karena keegoisan Papa dan Mama yang membuatku kehilangan cinta dalam hidupku! Gara-gara kalian yang menjebak Gadis masuk ke ruanganku, Nadine langsung memutuskan hubungan kami. Dan sekarang dia sudah menikah Pa..dia meninggalkanku!"


^^^"Bukan Papa yang tidak merestui hubungan kamu sama Nadine, tapi mamamu! Dia yang menjodohkan kamu dengan Gadis."^^^


"Omong kosong! Papa juga ikut andil dalam masalah itu! Aku tahu kalau Papa tidak suka dengan Ayahnya Nadine kan..Om Harun?! Maka dari itu Papa memisahkan aku dengan Nadine."


^^^"Papa memang membenci Harun, tapi tidak dengan Nadine..karena dia bukan anak kandungnya! Papa tidak mungkin macam-macam pada Nadine karena Papa juga tahu kamu mencintainya. Itu sebabnya Papa hanya mengusik Harun dan anak laki-lakinya itu!!"^^^


"Terus apa yang Papa lakukan pada Nathan? Aku menguping pembicaraan Papa kemarin..apa benar Papa yang menculik Nathan? Dimana dia sekarang? Papa sembunyikan dia dimana?!"


^^^"Berani kamu berteriak pada Papa? Jangan ikut campur Sean, kamu terlalu emosional. Dia sudah diamankan dan Papa sudah membawanya ke suatu tempat, jadi jangan bertanya lagi!"^^^


"Apa Papa sayang padaku?"


^^^"Tentu saja!!"^^^


"Beritahu aku dimana Nathan! Aku ingin mengambil hati Nadine kembali dengan berpura-pura sebagai pahlawan yang menemukan Nathan. Aku tahu Nadine pasti bersedih karena kakaknya hilang...aku mohon Pa! Aku akan lakukan apapun sesuai kemauan Papa asal Papa membebaskan Nathan. Papa tahu betapa rapuhnya aku jika kehilangan Nadine..."


^^^"Benar ucapan kamu?"^^^


"Iya Pa, aku sungguh...aku siap mengambil alih perusahaan Papa seperti yang Papa inginkan. Aku akan meninggalkan dunia lamaku. Sungguh aku tidak bisa kehilangan Nadine, Pah..aku mohon!!"


^^^"Nathan ada Italia, Papa menahannya di gudang bekas dekat rumah kebesaran keluarga kita disana!"^^^


"Terima kasih Pa! Aku akan kesana 2 hari lagi, karena besok aku perlu berbicara pada Gadis."


📀


Rekaman telah selesai.


"Berarti Nathan ada di kota Turin. Keluarga Malik-Santoso memiliki sebuah kediaman disana."


Aku masih ingat kalau David Malik-Santoso pernah membuat video dokumenter tentang kehidupannya. Disitu dia menyebutkan bahwa dia memiliki mansion di Kota Turin.


"Betul Pak, saya dan tim IT sudah kroscek dan mencari tahu alamat pastinya. Kami menemukan Nathan Bimantara disekap di Kota Turin. Setelah mendapat kabar itu, saya langsung mengirimkan 6 orang mata-mata Bapak ke Italia 2 jam yang lalu. Mereka harus tiba lebih dulu."


"Siapkan jet pribadi saya. Kita akan berangkat ke Turin besok pagi." perintahku.


"Laksanakan, Pak!"

__ADS_1


Aku sudah berjanji pada Nadine untuk menemukan Nathan. Dengan kedua tanganku, aku akan membawa Nathan pulang kembali ke pangkuan Nadine. Tidak ada satupun orang yang bisa menghentikan langkahku, bahkan Sean sekalipun.


__ADS_2