
AUTHOR POV
📱
"Ada apa Nad kamu telepon aku?"
^^^"Hmm..ini, barusan ada 2 orang pria yang datang ke rumah. Mereka cari kamu!"^^^
"Cari saya? Siapa mereka?"
^^^"Aku juga enggak tahu, mereka menolak untuk menyebutkan nama. Tapi mereka sempat bilang, kalau mereka itu utusannya Mr. Victor."^^^
"Mr. Victor?"
^^^"Iya, dia cuman bilang itu aja."^^^
"Kamu enggak kasih informasi apa-apa kan ke mereka?"
^^^"Enggak, aku gak berani ngomong apa-apa. Tadi kita ngobrolnya di luar rumah, aku enggak memasukkan mereka ke dalam. Bahkan aku berpura-pura kalau kita enggak saling mengenal."^^^
"Bagus kalau gitu...kamu masih ingat dengan pesanku untuk tidak terlalu percaya dengan orang asing. Pokoknya selama aku tidak ada di rumah, kunci pintu rapat-rapat dan jangan izinkan orang asing untuk masuk."
^^^"Hmm..Adrian..b-boleh aku minta sesuatu?"^^^
"Apa?"
^^^"Bisakah kamu pulang? Jujur, aku sering merasa ketakutan. Kamu jarang ada di rumah dan sering ninggalin aku sendirian disini. Aku hanya merasa takut. Semenjak kejadian-kejadian aneh menimpaku aku sering merasa parno."^^^
Adrian tertegun sejenak.
^^^"Aku mohon. Aku benar-benar takut. Aku enggak punya siapa-siapa disini, bahkan satu pun orang enggak ada yang aku kenal disini. Cuman kamu sama Ray! Saat dua pria itu mendatangiku dengan pakaian aneh, pikiranku udah negatif kemana-mana. Untungnya mereka enggak ngapa-ngapain aku. Tapi untuk selanjutnya, kita enggak pernah tahu apa yang mereka rencanakan."^^^
Adrian sadar bahwa yang dikatakan oleh Nadine ada benarnya juga. Meninggalkan perempuan itu sendirian di rumah bukanlah pilihan yang bijak.
Mengingat dia adalah putri kandung Pak Harun, si pemegang rahasia dari seluruh rahasia kejahatan Galih dan komplotannya. Nyawanya akan selalu terancam 24/7. Jika Nadine sampai tertangkap, disandera, atau diculik..maka dia juga akan kerepotan.
__ADS_1
"Saya akan pulang sore ini dan menemui kamu. Kita akan bicarakan semuanya nanti."
^^^"Aku akan memasak untuk kita makan nanti. Apa Ray juga akan ikut pulang bersama kamu?"^^^
"Tidak, dia masih banyak urusan. Hanya saya saja yang pulang."
^^^"Okay. Aku tunggu di rumah ya..kamu hati-hati di jalan! Tidak perlu terlalu mengebut asalkan sampai dengan selamat."^^^
"Iya. Saya matikan dulu teleponnya, saya masih ada urusan. Sebentar lagi selesai dan saya akan langsung pulang."
^^^"Sampai jumpa nanti. Bye"^^^
Adrian tidak membalas lagi ucapan Nadine dan memilih untuk menekan tombol merah untuk mengakhiri percakapan mereka dalam telepon.
Bukan tanpa alasan Nadine meminta Adrian untuk pulang. Ada beberapa hal yang perlu dibahas oleh keduanya. Terutama perihal isi flashdisk dan hardisk milik Ayahnya yang sudah didapatkan Adrian. Nadine sangat penasaran apa isinya.
Disamping itu, Nadine juga berniat untuk bertanya pada Adrian mengenai perkembangan kasus pencarian kakaknya yang masih menghilang. Hingga detik ini, masih belum ada kejelasan.
Sementara dari kejauhan....
"Wahh..Kak Ian udah gak jomblo lagi nih? Bakal melepas status perjaka tua dong!", ledek Arga.
"Hushhh, ngomong apaan sih kamu. Kakak sendiri dihina begitu, belum tentu juga itu pacarnya! Bisa jadi teman biasa!" Mama menyentil kening Arga dengan telunjuknya.
"Lah..ini lebih mustahil lagi! Kak Ian mana pernah punya teman Mah...sekalinya punya, itupun cowok. Cuman ada satu lagi!" kata Athena.
"Papa memihak Mama kali ini... kayaknya bukan pacar deh! Kalau memang itu pacarnya, pasti cara ngomongnya lebih romantis dan mesra. Tadi Adrian kelihatan kaku banget..lempeng kayak jalan tol!" celetuk Papa Alan.
"Tapi Pah, dengar sendiri gak tadi..Adrian bicara tentang pulang ke rumah. Apa perempuan itu ada di rumahnya ya?" Mama Diana mulai berpikir.
"Rumah mana Mah? Penthouse atau yang mansion? Rumahnya dia banyak banget sampai Papa bingung, sekarang juga..kita lagi ada di rumah peternakannya Adrian kan!!!"
Mama Diana menoleh kesal pada suaminya. "Papa kok ikutan lemot sih! Ya jelas maksud mama itu mansion..rumah utama Adrian kan di mansion sekarang!"
"Saranku, kita sidak rame-rame aja! Untuk saat ini kita pura-pura enggak tahu kalau Kak Ian teleponan sama perempuan. Nanti sepulang dari sini, kita pergi ke mansionnya! Dengan alasan kangen pengen berkunjung, padahal aslinya kita mau pergokin perempuan yang dibawa Kak Ian ke rumah! Gimana?!" ide unik dari Arga tercetus kembali.
__ADS_1
"Boleh tuh, otak kamu encer juga dari tadi..!!" Papa Alan menyetujui ajakan Arga.
"Iya dong Pah, kalau tadi aku gak paksa kalian untuk menguping..kita mana tahu info langka seperti ini!"
Gurat wajah kekhawatiran nampak jelas di wajah Mama Diana. "Tapi Pah..Mama masih was-was, Mama takut Adrian marah. Kita semua kan tahu bagaimana kesehatan mentalnya. Mama hanya tidak ingin memancing amarah Adrian ketika privasinya diganggu."
"Kita coba dulu aja Mah, jangan menyerah! Semarah-marahnya Adrian sama kita..Papa yakin dia tidak akan berbuat tega. Demi mencari tahu siapa perempuan yang sedang dekat dengan Adrian saat ini, kita harus nekat!" Papa Alan mencoba meyakinkan istrinya itu.
"Hmm debatnya nanti aja yah Mama dan Papa unyu-ku, mending sekarang kita pergi sebelum ketahuan. Kak Ian kalau ngamuk serem, kayak banteng matador!" sahut Arga.
Mereka berempat kembali ke meja makan dengan jalan yang masih mengendap-endap. Sensasi takut ketahuan oleh Adrian rupanya membuat keempatnya bergidik ngeri.
Segalak itu memang sosok Adrian jika privasinya terusik. Ada pepatah yang mengatakan bahwa marahnya orang diam itu lebih sadis, dan fakta dari teori itu memang terpampang nyata..Adrian contohnya.
Bahkan Papa Alan dan Mama Diana yang statusnya adalah orang tuanya, tetap saja..rasa takut itu ada. Keduanya kerap kali terkena amukan dan tantrum dari si sulung dan berakhir dengan cekcok. Maka dari itu sebisa mungkin, mereka meminimalisir untuk tidak memantik api-api pertikaian.
***
"Ekhmm.." Adrian berdehem. "Maaf semuanya, tapi aku harus pergi sekarang...ada sedikit masalah di kantor yang harus ditangani saat ini juga."
"Enggak dihabisin dulu makan siangnya? Bahkan kamu belum makan sesuap lho.." Mama Diana seringkali merasa mellow jika makanan buatannya tidak dimakan atau dihabiskan. Dirinya merasa tidak dihargai, padahal sudah susah payah untuk menyajikan sebuah masakan lezat.
Supaya Mama Diana tidak merasa sedih, Adrian terpaksa duduk kembali dan menyendokkan 5 suapan makanan ke mulutnya.
"Pelan-pelan dong..nanti tersedak!" Mama Diana mengelus lengan Adrian. Segelas air putih dingin langsung diteguk habis oleh Adrian dengan tergesa-gesa.
"Udah aku makan ya Mah! Enggak aku habisin karena enggak sempat! Nanti aku akan telepon Papa dan Mama. Kalian masih bisa lanjutkan liburannya enggak masalah! Aku tinggal dulu, permisi!"
Sebenarnya Adrian masih lapar karena sejak pagi dia tidak sempat makan banyak. Tapi, tak ada yang Adrian inginkan saat ini selain pulang. Pulang untuk menemui istri kontraknya tersebut. Nadine bilang dia akan memasak makanan untuk dirinya. So? Urusan perut bisa dilanjutkan nanti.
Begitu mendengar permintaan Nadine yang menyuruhnya pulang, timbul gelanyar yang aneh dalam benak Adrian. Sebuah ungkapan ketakutan yang diutarakan Nadine berhasil membuat dirinya luluh.
Dari sebuah panggilan telepon biasa, Adrian bisa mengetahui kecemasan Nadine. Nada suaranya yang bergetar saat ia meminta Adrian untuk pulang, terucap dari bibirnya.
Bibir...
__ADS_1
Adrian mendadak ingat akan bibir Nadine yang rasanya begitu manis. Ahh..tidak..ini tidak boleh terjadi! Adrian meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang pernah dilakukannya dengan Nadine cuman angin lewat. Mereka hanya terbawa suasana...