
AUTHOR POV
"Nadine..." panggil Adrian dari kejauhan.
"Hey sayang! Good Morning.." Nadine yang sedang asyik menunggui baby twins di taman belakang langsung menoleh, membalas kembali sapaan suaminya.
Tangan Nadine dilambai-lambaikan keatas dan kebawah, memberi isyarat untuk sang suami agar berjalan cepat dan segera mendekat.
"Morning too." Adrian tersenyum, kemudian ia berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan double strollers milik Kian dan Kai.
"And good morning as well to my baby boys," digenggamnya jari-jemari mungil kedua bocah lucu itu dengan lembut dan tak lupa diciuminya puncak kepala mereka satu persatu oleh Adrian.
Seakan mengerti jika Daddy-nya datang, baby twins menggeliatkan tubuh mereka sambil mengeluarkan suara-suara ala bayi pada umumnya. Kedua tangan mereka juga aktif bergerak kesana kemari.
"Hmm..cuman anaknya aja nih yang dicium? Mommy-nya enggak?" goda Nadine yang memiringkan kepalanya sambil berkacak pinggang.
Adrian memutar bola matanya jengah, namun selanjutnya ia berdiri untuk membubuhkan sebuah kecupan pada kening Nadine, lalu turun ke kedua pipinya, dan yang terakhir mendarat di bibir. Lengkap sudah semua kecupan diberikan pada seluruh permukaan wajah Nadine. Tak ada satupun yang terlewat.
Adrian menarik pelan pipi chubby Nadine, "Sudah kan..puas sekarang?"
"Hehe..gitu dong! Baru aku puas." Nadine tersenyum lebar seraya menunjukkan deretan rapi giginya yang putih bersih. Tentunya itu hasil dari rutin perawatan ke dokter gigi.
Adrian bertanya, "Sendirian saja dari tadi?"
"Nope, kan aku bertiga sama Kian dan Kai yang menemani pagiku disini!" canda Nadine dengan santainya.
"Bukan itu maksudnya," Adrian menghela nafas. "Maksudku itu, apa tidak ada satupun pelayan yang menemani kamu disini?"
__ADS_1
"Enggak ada, mereka aku suruh istirahat saja di paviliun. Hari ini kan tidak terlalu banyak agendanya. Lagipula aku juga masih sanggup untuk handle anak-anak sendirian," jawab Nadine.
Adrian tak perlu bertanya lagi kalau soal bodyguards. Karena tanpa sepengetahuan Nadine, para pengawal tersebut sudah ditempatkan di berbagai sudut-sudut mansion. Alias sembunyi-sembunyi. Karena kalau Nadine tahu, bisa-bisa dia akan protes sebab privasinya terganggu.
Berhubung Nadine sedang dalam masa breastfeeding, bodyguards yang ditugaskan khusus menjaga Nadine dalam jarak dekat pastinya berjenis kelamin perempuan. Kecuali untuk area luar, lain lagi ceritanya.
"Kenapa kamu jagain mereka sambil berdiri begitu? Lebih baik duduk anteng di gazebo kan bisa!" Adrian mengangkat baby Kian dari stroller-nya, kemudian menimangnya dengan penuh kasih sayang.
Nadine mengikuti langkah Adrian dengan menggendong baby Kai juga, "Aku memang sengaja sayang, capek tahu kalau duduk terus! Harus mulai membiasakan diri untuk dipakai jalan dari sekarang, biar enggak kaku."
"Tapi jahitan kamu kan belum sepenuhnya kering, Nadine. Aku ngeri sendiri jadinya!" ujar Adrian.
Nadine membantahnya, "Enggak sayang..aku udah mau sembuh kok! Ini sudah lewat 7 minggu-an juga, warna jahitannya aja udah berubah merah muda dan mulai menyatu sama kulit."
Adrian berdehem sambil memasang wajah datar, "Hmmm..."
"Kian dan Kai tidak rewel kan saat aku tinggal kemarin?" Adrian mengalihkan pembicaraan mereka sejenak.
Nadine menggelengkan kepala. "Mereka bobonya anteng semalaman. Setelah minum ASI habis tiga botol sama kamu pas jam 9-nya, mereka enggak bangun-bangun lagi sampai pagi!" suara tawa kecil keluar dari mulut Nadine.
Adrian pun ikut terkekeh dibuatnya. Baby boys-nya ini memang sama-sama kuat dalam urusan minum susu. Beruntung ASI Nadine stoknya begitu melimpah dan lancar tanpa hambatan, sehingga nutrisi si kecil terpenuhi.
"Sayang...kamu belum jawab pertanyaan aku tadi, kamu dari mana semalam? Kenapa baru pulang pagi ini?" tanya Nadine lagi.
Adrian terpaksa mengeles, "Ada urusan di kantor yang mengharuskan aku untuk lembur semalaman."
Hening.
__ADS_1
Hening.
Hening.
Sampai Nadine berkata, "Urusan di kantor apa yang membuat buku-buku tangan kamu sampai lebam memerah begitu?" cibirnya sinis dengan pandangan yang mengarah pada tangan Adrian.
Sebenarnya Nadine sudah menyadari hal itu sejak Adrian meraih tubuh Kian dari stroller. Tapi ia sengaja menunggu momen yang pas agar suaminya bercerita sendiri. Namun tersangkanya malah memilih bungkam. Alhasil Nadine sindir saja biar mempan.
Sedangkan tubuh Adrian terpaku sejenak. Lagi-lagi dia ketahuan. Semenjak menikah, ia selalu memiliki kelemahan dalam urusan membohongi Nadine. Wanita itu seakan selalu tahu saja semua urusannya meski tak ada yang membocorkan.
"Jawab aku jujur sayang...kamu habis dari man--"
"Markas." sela Adrian dengan cepat.
Nadine sedikit melemas. Pundaknya merosot turun sambil nafasnya dihembuskan secara kasar. "Kamu memangnya jadi memberi pelajaran ke anak buahnya Kelvin?"
"Jadi. Kamu lihat sendiri kan, darahh yang mengering di tanganku ini. Itu karena aku baru saja menghajar mereka habis-habisan semalam suntuk."
"Apakah kamu mendapatkan kepuasan setelahnya?" tanya Nadine yang masih setia menggendong baby Kai dalam dekapannya.
"Tidak. Aku tidak puas, karena balasan itu belum seberapa. Mereka pantas mendapatkan yang lebih dari ini." balas Adrian tenang.
"Aku seratus persen yakin, kalau kamu tidak hanya memberikan mereka bogem mentah saja. Pasti ada yang lainnya kan? Katakan, kamu apakan lagi mereka?" Nadine blak-blakan mendesak suaminya untuk mengaku.
Adrian menyunggingkan sudut bibirnya menyeringai, "Hanya sedikit memberi guncangan pada masing-masing istri dan anak-anak mereka."
****
__ADS_1