
AUTHOR POV
Semalaman Adrian tidak tidur memikirkan saran dari Ray untuk menikahi Nadine. Secara logika, apa yang dikatakan Ray memang masuk akal. Itu sebabnya Adrian gelisah. Di tengah keterbatasan waktu yang mereka miliki, mereka dituntut untuk bergerak cepat. Sehingga menikahi Nadine adalah pilihan terbaik saat ini.
Tapi bagi Adrian ini tidaklah mudah. Jika dia menikahi Nadine, dia merasa telah melanggar sumpahnya sendiri yang berjanji untuk melajang seumur hidupnya.
Kini Adrian tengah duduk di ruang tengah bersama Nadine dan Ray. Tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut mereka. Nyatanya, hangatnya sinar mentari pagi tidak membuat kehangatan di ruangan itu. Suasananya lebih ke arah mencekam karena sikap dingin dan tatapan tajam Adrian yang tidak bisa dijelaskan kata-kata.
"Saya tidak mau bertele-tele Nadine. Kita bertiga berkumpul disini untuk membahas perihal surat wasiat Ayah kamu."
"Memang kamu sudah menemukan solusinya Adrian?"
"Sudah."
"Apa itu?"
"Saya akan menikahi kamu."
DEGGHHH!!!!!
Jantung Nadine berdegup kencang bagaikan genderang perang. Tubuhnya limbung dan kedua lututnya lemas seketika. Solusi yang diberikan Adrian sama sekali tidak sesuai ekspektasinya.
"Apa maksud kamu?" mata Nadine nyalang menatap Adrian.
"Saya tidak akan mengulanginya lagi Nadine. Yang saya ucapkan sudah jelas. Saya akan menikahi kamu!!" tegas Adrian.
Nadine menggeleng-gelengkan kepalanya dan tertawa mengejek seakan tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.
"Kamu mau menikahi aku, hanya karena surat wasiat?" bulir air mata luruh dari pipi Nadine.
"Kita berdua hanyalah orang asing yang baru saja kenal kurang lebih selama seminggu. Lalu dengan seenaknya kamu mengajak aku untuk menikah secara tiba-tiba?" emosi Nadine mulai tersulut.
"Tidak ada pilihan lain lagi. Syarat untuk mendapatkan flashdisk itu, kamu diharuskan untuk menikah. Waktu yang kita miliki terbatas. Semakin cepat kita mendapat flashdisk itu, maka semakin cepat pula Galih dapat diringkuk..sebelum dia keluar dari jangkauan" jelas Adrian.
"Apa yang membuat kamu percaya diri kalau aku mau menikah dengan kamu?! Dan dari sekian banyak populasi laki-laki yang ada...kenapa harus kamu yang menikahi aku?"
Kedua tangan Adrian mengepal erat dan rahangnya mengeras. Sebisa mungkin dia menahan emosinya itu yang hampir dipuncak ubun-ubun. Secara tidak langsung, perkataan Nadine barusan adalah bentuk dari sebuah penolakan. Adrian merasa harga dirinya tersentil.
"Kita berdua sama-sama single. Andai kamu memiliki pasangan, tanpa basa-basi saya pasti akan membiarkan kamu menikahi laki-laki pilihanmu sendiri. Tapi karena saat ini kamu sedang tidak menjalin hubungan dengan siapapun, maka tidak ada salahnya."
"Ray sudah memiliki kekasih. Mencari pria mapan yang mau menikahimu dalam waktu dekat juga tidaklah mungkin. Jadi suka tidak suka, opsi terakhir yang kamu miliki yaitu menikah dengan saya!!"
Nadine memijat pelipisnya. "Apa enggak ada cara lain lagi?"
__ADS_1
"Sayangnya hanya itu yang bisa saya tawarkan. Lagipula, pernikahan ini hanyalah sebatas pernikahan kontrak."
"Pernikahan kontrak? Kontrak apalagi ini Adrian?! Kamu anggap pernikahan itu mainan?!!"
"Saya tidak mungkin mengurung kamu selamanya dalam ikatan pernikahan. Itu sebabnya saya menawarkan pernikahan kontrak padamu. Ketika Galih sudah ditangkap, maka semua urusan selesai dan kita bisa bercerai setelahnya."
"Apa kamu sudah menyiapkan kontrak pernikahan tersebut?"
"Ray sudah membuatnya. Tapi itu masih bisa di revisi. Saya sarankan, kamu baca terlebih dahulu kontrak itu. Jika ada poin yang membuatmu tidak berkenan, kamu bisa mengutarakannya pada saya untuk dipertimbangkan."
Kemarin malam setelah Ray tiba di rumah ini, Adrian langsung memerintahkan dirinya untuk membuat surat perjanjian serta kontrak pernikahan. Tanpa sempat beristirahat, Ray terpaksa lembur untuk menggarapnya demi menuruti bos kesayangan.
Ray sendiri cukup tercengang ketika Adrian mau mendengar sarannya. Padahal niat hati Ray hanya sekedar coba-coba berhadiah. Pasalnya, selama bertahun-tahun dia bekerja dengan Adrian...bos-nya itu akan langsung marah dan sensitif jika mendengar kata-kata pernikahan.
"Jika kita memang benar-benar melakukan pernikahan ini..itu berarti kita akan menikah tanpa dasar cinta. Lalu, rumah tangga macam apa yang akan kita jalani Adrian?"
Pertanyaan menohok yang dilontarkan Nadine tidak bisa dijawab oleh Adrian.
***
Kini mereka beralih tempat dari ruang tengah ke meja makan, karena alasan meja yang lebih tinggi akan memudahkan Adrian dan Nadine untuk melakukan hal tulis-menulis atau penandatanganan.
Surat perjanjian kontrak pernikahan yang telah dibuat Ray semalam suntuk telah disodorkan pada Nadine. Sudah 15 menit lamanya terhitung, Nadine membaca isi kontrak tersebut. Dia ingin memastikan bahwa semua poin yang ada didalamnya tidak terlewatkan untuk dipahami.
Adrian mengernyitkan dahinya. "Kenapa?"
"Aku mau kontrak pernikahan kita berjalan selama 2 tahun" ucap Nadine.
Adrian mengetukkan jari-jarinya diatas meja. "2 tahun itu terlalu lama! Setelah flashdisk didapatkan, saya punya goals dan menargetkan penangkapan Galih bisa diselesaikan dalam kurun waktu kurang dari 4 bulan. Kalau berhasil, kamu bisa langsung terbebas dari pernikahan kontrak ini."
"Lalu bagaimana dengan masa depanku? Tentunya setelah kita berpisah, aku akan melanjutkan kehidupan yang baru bukan? Lalu apa kata calon suamiku kelak jika aku bercerai setelah 4 bulan menikah? Akan ada anggapan yang tidak baik nantinya tentangku. Society is full of misogyny (masyarakat penuh dengan misogini)."
Ketika seorang perempuan menjadi janda karena pernikahannya yang baru seumur jagung berakhir, maka masyarakat akan melakukan diskriminasi terhadap gender perempuan. Mereka akan dipandang rendah, dibenci, dan disudutkan. Berbeda dengan laki-laki yang masih bisa bebas melenggang manja. Nadine tidak mau itu terjadi, maka 2 tahun adalah penawaran yang tepat.
"Lagipula, kamu terlalu percaya diri untuk bisa menangkap Galih hanya dalam kurun waktu 4 bulan, bisa saja kan rencana tidak sesuai ekspektasi? Jadi 2 tahun itu sudah benar!!" ucap Nadine telak.
"Usulan yang masuk akal.Tapi 2 tahun tetaplah lama, 1 tahun?!" tawar Adrian.
Nadine menggelengkan kepalanya. Suka tidak suka, pernikahan kontrak ini harus berjalan selama 2 tahun.
Adrian menghela nafasnya sejenak. "Oke akan saya ubah. Lanjut!"
"Dan lagi, disini tertera kalau kamu akan menafkahi saya sepenuhnya secara finansial?" lanjut Nadine.
__ADS_1
"Iya. Selama kamu menjadi istri saya, semua biaya hidup dan kebutuhan kamu akan saya tanggung. Meski saya bukan orang kaya, tapi saya sanggup untuk mencukupi kamu."
"Apa aku diperbolehkan bekerja?"
"Tidak. Keadaan sedang tidak kondusif, mengingat beberapa hari yang lalu ada percobaan penculikan dan teror terhadapmu."
"Kalau aku butuh hiburan gimana? Aku enggak mungkin selamanya terkurung disini selama 2 tahun!!"
"Kamu sendiri yang menginginkan pernikahan kontrak ini berjalan 2 tahun, saya sudah menawarkan untuk mempersingkat waktunya tapi kamu menolak" Adrian menyunggingkan senyuman yang mengejek.
"Dengar Adrian, dari awal aku sama sekali tidak melihat adanya keuntungan dari sisiku jika aku menyetujui pernikahan kontrak ini. Jadi harusnya, sebisa mungkin kamu membuatku nyaman selama kontrak ini berjalan."
Nadine adalah perempuan yang keras kepala. Dia tidak akan melepaskan ini dengan mudah.
"Saya akan izinkan kamu untuk pergi atau jalan-jalan tapi dengan catatan, ada batasan waktu yang akan saya tentukan."
Pikir Adrian, tidak masalah jika Nadine bepergian keluar sebentar untuk mencari udara segar. Tapi untuk bekerja, jawabannya tetap tidak. Jika Nadine bekerja pada sebuah instansi, besar kemungkinan data-data miliknya yang diserahkan ke perusahaan atau kantor dapat dideteksi oleh musuh.
Nadine mendengus sebal dan merasa tidak puas. "You're a dictator!!"
Adrian tidak perduli dengan sindiran Nadine. Dia malah lanjut menyesap secangkir kopi ditangannya sambil menunggu Nadine membaca kontrak hingga tuntas.
"Kita lanjut lagi!" Nadine membolak-balikkan lembar kontrak itu sambil memainkan bolpoinnya. "Untuk poin 6 dan 7 aku enggak keberatan, tapi apa maksudnya poin 8 ini? Tidak boleh saling mencintai?" tanya Nadine lagi.
"Iya, seperti yang kita tahu. Pernikahan ini hanyalah kontrak bisnis semata. Jangan sampai kita mencampur adukkan perasaan atau urusan pribadi masing-masing kedalamnya. Saya akan respect terhadap privasimu, begitu juga sebaliknya."
"Kita juga tidak perlu melakukan hubungan suami-istri selayaknya. Cukup menikah hanya karena status. Saya tidak mau memperumit masalah, jika suatu saat kamu mengandung dan lain-lain. Adanya seorang anak hanya akan menjadi sebuah hambatan" lanjut Adrian.
Kaget adalah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Nadine saat ini. Pernyataan Adrian barusan seakan menegaskan fakta bahwa pernikahan hanyalah sebuah permainan bagi Adrian. Tapi apa boleh buat, dia memang laki-laki yang apatis.
Tapi sebenarnya Nadine juga sangat setuju untuk poin 8 dalam kontrak ini. Dia tidak mau melakukan hubungan intim dengan seorang lelaki yang tidak benar-benar mencintainya meski Adrian sudah sah menjadi suaminya nanti. Apalagi pernikahan ini akan kandas setelah 2 tahun. Tidak mungkin mahkotanya diserahkan pada sembarang orang.
Tuntas sudah pembahasan mengenai kontrak pernikahan antara Adrian dan Nadine. Setelah satu dan lain hal sudah bisa disepakati bersama, mereka berdua langsung menandatangani kontrak tersebut diatas materai bersama-sama. Disaksikan oleh Ray secara langsung.
Sedari tadi Ray hanya diam mematung berdiri dipojokkan tanpa ikut menimbrung soal perdebatan isi kontrak pernikahan antara Adrian dan Nadine di meja panas. Bagi Ray, keduanya pasti membutuhkan privasi karena mereka berdua yang akan menikah.
"Besok pagi kita akan mengurus dokumen pernikahan. Dan setelahnya kita bisa langsung menikah. Saya tidak akan menundanya lagi."
"Setuju."
Mereka berdua saling berjabat tangan sebagai tanda bahwa perjanjian yang mereka buat adalah nyata dan dilakukan atas dasar kesadaran penuh dari kedua belah pihak.
Meski kebimbangan melanda hati Nadine, dia memilih untuk tetap melanjutkan ini semua. Tidak tahu benar atau salah yang dilakukannya, tapi yang jelas Nadine juga ingin ikut andil dalam menjerat Galih dan membalaskan dendam atas meninggalnya sang Ayah. Galih harus dihukum atas kejahatannya. Dan flashdisk itulah yang akan membawa mereka menuju titik terang...
__ADS_1