
AUTHOR POV
"Ada untungnya juga loe datang kesini..kita gak perlu repot-repot lagi menculik loe seperti saat di apartemen tadi, yang berujung gagal. Sekarang..loe sendiri yang malah datang ke kandang singa.." pria berkepala plontos dan bertubuh gempal yang tadi berbincang bersama Kelvin mulai berbicara.
"Jadi..teror di apartemen tadi ulah kalian juga?" mata Nadine berkaca-kaca
Kelvin menyunggingkan senyuman nakal, "Enggak usah kaget gitu dong Nad, kamu pikir siapa kalau bukan aku? Sudahlah..intinya semua kejadian buruk yang menimpa kamu dan keluargamu, itu semua karena hasil perbuatan tangan panasku ini."
"Sekarang katakan, dimana flashdisk itu?" lanjut Kelvin.
"Apa maksud kalian?" Nadine berpura-pura tidak tahu.
"Jangan berlagak polos dan bodoh, cepat kasih tahu kita!" teriak pria plontos tadi.
"Tapi saya memang tidak tahu, semua kuncinya ada di Ayah saya...tapi kalian malah membunuhnya jadi bagaimana saya bisa tahu?" elak Nadine.
Mendengar jawaban Nadine, Kelvin dan pria plontos itu pun memilih mundur sedikit ke belakang untuk berdiskusi. Entah apa yang sedang dibicarakan, Nadine tidak tahu karena mereka hanya berbisik-bisik.
Sekarang ini yang Nadine fokuskan adalah mengambil kunci mobil miliknya. Pagar rumah garasi Kelvin sudah terbuka lebar. Jika kunci mobil sudah di tangan, Nadine bisa langsung melesat pergi membawa mobilnya ikut serta.
Pucuk dicita ulam pun tiba. Tak perlu repot mencari, ternyata kunci mobil Nadine sudah terpampang jelas diatas meja kecil yang berada persis di belakang Kelvin. Nadine tinggal mencari cara bagaimana mendapatkannya.
Mumpung Kelvin dan rekannya itu sedang sibuk sendiri, Nadine mengambil kesempatan ini untuk meraih kunci mobil tersebut.
Sayangnya, setelah Nadine berhasil mengambilnya..Kelvin dan pria plontos menyebalkan itu malah mengetahui niatnya.
"Mau kemana hey? Jangan buru-buru dulu" pria plontos itu memegang pergelangan tangan Nadine.
"Urusan saya sudah selesai dengan kalian..jadi biarkan saya pergi!" teriak Nadine
"Tidak semudah itu..manis.."
"Udahlah Romy, lepasin dia..dia kan udah bilang tadi kalau dia gak tahu apa-apa soal flashdisk itu.." Kelvin menarik pria plontos yang ternyata bernama Romy itu, dan memintanya untuk melepaskan tangan Nadine.
"Cihh..jangan mau tertipu sama perempuan model begini, bisa aja wajahnya polos tapi sebenarnya dia menyembunyikan sesuatu!!"
Melihat peluang didepan mata, Nadine langsung mengarahkan kakinya untuk menendang junior milik Romy. dan...DUGHHH!!!
__ADS_1
"Auwww..dasar perempuan sialan! Berani-beraninya loe tendang bola gue..." Romy menunjuk wajah Nadine dengan jarinya.
Sedang Nadine melenggang pergi menuju garasi. Tubuh Romy diliputi kekesalan, diambilnya tongkat baseball milik Kelvin yang terpajang di ruang tamu.
"Rom, jangan Rom...kita udah sepakat untuk tidak menggunakan kekerasan. Jangan sampai perempuan itu terluka.." Kelvin menahan dada Romy.
Namun karena Romy keras kepala, ia menghempaskan tangan Kelvin dan tetap melanjutkan aksinya. Ketika pintu mobil terbuka dan Nadine hendak masuk kedalamnya, Romy mencengkram rambut Nadine dengan kasar dan menariknya. Diayunkan lah tongkat baseball di tangan kanannya untuk dilayangkan ke kepala Nadine.
"Jangan..Romm!!!!!" Kelvin berteriak untuk mencegah Romy agar tidak melakukan hal diluar batas.
BUGGHHH...
Tongkat baseball itu malah mendarat tepat di kepala Kelvin. Pukulan Romy ternyata begitu keras, sehingga darah segar keluar dari belakang kepala Kelvin.
Hal tersebut membuat Nadine kebingungan, Kelvin yang tadinya bersikap jahat malah tiba-tiba menjadi tameng bagi dirinya agar dia tidak terkena pukulan Romy. Akibat pukulan yang dilayangkan padanya, Kelvin menjadi tidak sadarkan diri sekarang.
"Kelvinn.." lirih Nadine pelan.
Ingin sekali dia mendekat pada Kelvin dan membantunya. Tapi mengingat perlakuan buruk yang dilakukan Kelvin terhadap Ayah dan Kakaknya, membuat Nadine urung melakukan hal itu.
Nadine tidak memahami situasi yang terjadi. Beberapa menit yang lalu Kelvin bersikap jahat padanya, tapi sekarang mengapa Kelvin seolah-olah seperti orang yang ingin melindunginya?
Belum sempat Nadine berhasil kabur, lagi dan lagi Romy mengangkat tongkat yang dipegangnya kearah Nadine. Karena tidak ada Kelvin yang melindunginya lagi, sebisa mungkin Nadine menghindari serangan Romy.
PRRANNGGGG!!!!
Pukulan Kelvin kali ini mengenai kaca mobil milik Nadine, membuat kacanya pecah dan spionnya terlepas. Body samping mobil pun ikut menjadi korban keganasan pukulan Romy hingga peyok. Tubuh Romy yang tambun membuatnya memiliki tenaga yang besar.
"Arghh..." pecahan kaca-kaca tadi mengenai tangan Nadine. Mau berdiri pun Nadine tak bisa, sebab tubuh besar Romy mengurungnya.
Romy rupanya masih tidak puas. Percobaan yang ketiga ini, dia akan melayangkan pukulannya lagi. Kesempatan emas baginya sebab Nadine sedang terkapar di lantai saat ini. Ketika tangan Romy mulai diangkat...
BUGHHHH.....
Tengkuk kepala Romy disikut dan tubuhnya ditendang dari arah belakang oleh seseorang.
Dan orang itu adalah, Adrian.
__ADS_1
Ya, entah dari mana datangnya...yang jelas saat ini Adrian sudah berada di hadapan Nadine. Melindunginya dari amukan Romy si kepala plontos yang menyebalkan. Adrian menyeret tubuh Romy untuk menjauh dari Nadine. Dia langsung menarik kerah baju Romy dan mendaratkan pukulan di wajahnya.
Tanpa banyak berbicara, Adrian menghajar Romy secara brutal hingga darah mulai mengalir di lubang hidungnya. Pipi Romy mendadak lebam berwarna keunguan.
Seganas-ganasnya Romy, ternyata Adrian lebih ganas lagi. Bahkan dia terlihat jauh lebih menyeramkan 5x lipat dari Romy atau penjahat-penjahat yang menyerangnya di apartemen siang tadi.
Nafas Romy mulai tidak beraturan dan tersengal-sengal akibat menerima hadiah manja dari tangan Adrian. Tubuhnya langsung lemas tak berdaya. Romy benar-benar sudah payah. Hanya tinggal menunggu waktu bagi dirinya untuk pingsan.
Mata Adrian dan Nadine saling bertemu. Mereka menatap satu sama lain dengan tatapan yang dalam, namun tajam.
"Jangan banyak tanya, langsung ke mobil!" perintah Adrian.
Nadine mengangguk tanpa banyak protes. Biar nanti saja dia akan bertanya pada Adrian bagaimana bisa dia kembali dan tidak jadi pergi. Dengan langkah tertatih-tatih, karena kaki Nadine sedikit keseleo saat menghindari Romy dan tangannya yang berdarah, dia pun bergegas menuju mobil Adrian.
Untuk mengurangi kecurigaan masyarakat setempat, Adrian menyeret tubuh Romy dan Kelvin masuk ke dalam rumah. Kemudian keduanya ditinggalkan tergeletak begitu saja disana.
Menengok kearah jalanan sekitar, keadaannya cukup sepi. Area perumahan disini tergolong baru, sehingga banyak rumah-rumah yang masih kosong di kanan kiri. Dan sepertinya kamera CCTV tidak terpasang di area sini, jadi semoga saja aman.
Adrian akhirnya menyusul Nadine yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil. Bisa dilihat oleh Adrian, tubuh Nadine bergetar hebat dan tangisnya pecah. Matanya mulai memerah sembab. Suara rintihannya terdengar sangat jelas di telinga Adrian.
Rintihan tersebut bukanlah sembarang rintihan kesakitan karena tangan Nadine yang berdarah ataupun kakinya yang keseleo. Melainkan rintihan tangis dari rasa sakit hati yang begitu dalam, ketika mengetahui perlakuan busuk dari Kelvin. Orang yang sudah dianggapnya sebagai kakak dan sahabat. Orang yang telah diberikan kepercayaan yang tinggi olehnya.
Nadine tidak menyangka bahwa Kelvin akan berbuat sejauh ini, menyakiti dia dan keluarganya. Selama hampir satu tahun setengah saling mengenal, tidak ada kecurigaan sedikitpun mengenai gerak-gerik Kelvin. Tidak diragukan lagi bahwa Kelvin adalah seorang penipu yang ulung.
Hancur...
Sakit...
Kecewa...
Itulah 3 hal yang dirasakan Nadine saat ini...
...\***Bonus Visual Adrian dan Nadine lagi** :)\*...
__ADS_1
