Favorite Sin

Favorite Sin
CONVINCING


__ADS_3

AUTHOR POV


Adrian mengamati tempat yang sekarang ditinggali sementara oleh Nadine ini dengan sangat detail. Dilihatnya interior dan penataan apartemen mulai dari atas sampai ke bawah, sebelum dia dan Ray mendudukkan diri mereka ke sofa.



"Maaf ya, cuman ini aja yang bisa saya suguhkan untuk kalian. Saya sendiri baru pindah kemari beberapa jam yang lalu, jadi belum ada persiapan." ucap Nadine yang datang dengan membawa dua botol air mineral untuk kedua tamunya itu.


"Bukan masalah! Kami sendiri juga tidak akan berlama-lama disini. Kedatangan kami hanya untuk mengkonfirmasi beberapa hal." Adrian tidak ingin berbasa-basi lagi, dia ingin langsung mengutarakan niat dan tujuannya kemari.


Nadine menganggukkan kepalanya. "Okay, kalau gitu apa yang bisa saya bantu?"


"Apa kamu mengenal orang yang ada di foto ini? Namanya Galih Damara." Adrian menunjukkan Nadine sebuah foto berukuran 4R, yang mana terdapat gambar Galih sedang berpose mengenakan kemeja warna maroon.


Nadine mengambil foto Galih dari tangan Adrian. Diamatinya foto itu betul-betul. Pria yang terlihat seusia Ayahnya, dengan perawakan tubuh yang tinggi dan tegap, kulit sawo matang, dan wajah yang tegas.


"Maaf, saya enggak merasa kenal dengan orang yang ada di foto ini." Nadine menjawab pertanyaan Adrian.


"Apa kamu yakin?" tanya Adrian lagi.


"Yakin..saya belum pernah bertemu dengan orang itu sama sekali" Nadine benar-benar yakin 100% kalau dia tidak pernah bertemu dengan orang yang bernama Galih itu.


"Galih Damara adalah seorang buronan yang sedang kami cari-cari hampir selama 10 tahun lamanya. Saat ini dia termasuk dalam daftar pencarian orang oleh pihak kepolisian. Kejahatannya sudah terkenal dimana-mana."


Sedangkan Adrian mencoba memancing Nadine untuk memberi keterangan lebih lanjut. "Kalau kamu tidak keberatan, bisa tolong ceritakan pada kami mengenai insiden Ayah kamu?"


Hati Nadine sedang dilanda kebimbangan sekarang. Disatu sisi, dia ingin mencoba untuk terbuka pada Adrian dan Ray. Tapi disisi lain, dia juga sedikit ragu-ragu tentang jati diri mereka.

__ADS_1


Yang Nadine takutkan, dia memberikan informasi pada orang yang salah. Secara, Adrian dan Ray adalah orang asing bagi Nadine. Sehingga tidak mungkin bagi Nadine untuk menyebar kronologi insiden penembakan yang terjadi pada ayahnya sembarangan.


"Saya janji, saya akan membantu kamu!! Keterangan dari kamu akan sangat berguna, karena dengan itu saya bisa menjerat Galih dan antek-anteknya kedalam jeruji besi. Mereka akan dihukum sepantasnya!!"


Tekad Adrian sangat kuat untuk meyakinkan Nadine yang masih memilih untuk bungkam.


"Saya tidak bisa bohong kalau saya masih ragu untuk menceritakannya. Tapi saya akan coba untuk percaya dengan kalian."


Jurus Adrian dalam meyakinkan Nadine membuahkan hasil pada akhirnya. Perlahan Nadine mulai terbuka dan mau menceritakan kronologi dari insiden yang menimpa Ayahnya pada Adrian dan Ray.


Mendengar cerita Nadine tidak membuat Adrian dan Ray terkejut. Dari awal mereka sudah yakin, bahwa bukan rahasia umum lagi jika Galih melakukan hal-hal yang berada diluar batas untuk mencapai tujuannya.


Secara garis besar, penjelasan dari Nadine pun sebenarnya sudah diketahui oleh Adrian. Hanya saja dia ingin mengorek informasi lebih dalam, jika barangkali ada detail yang tertinggal.


"Boleh sekarang saya yang gantian untuk bertanya?" kata Nadine.


Adrian mengangkat tangan kanannya sebagai gesture untuk mempersilahkan Nadine.


Adrian menatap lekat manik mata milik Nadine yang tanpa disadari tergenang dengan air mata.


"Iya, Galih adalah pelakunya. Semua bukti mengarah pada dia. Dulu, orang yang bernama Galih ini bersahabat dengan Ayah kamu. Bahkan mereka sempat menjalankan suatu usaha bisnis bersama. Tapi setelah beberapa tahun kemudian, mereka mulai memiliki visi yang berbeda dan Galih menjadi orang yang menyimpang. Terjadilah cekcok yang berakhir dengan pertengkaran. Hubungan keduanya memanas sejak kejadian itu."


Nadine mencoba untuk mencerna pelan-pelan informasi yang baru saja didapatnya dari Adrian. Dia baru tahu kalau Ayahnya pernah memiliki sahabat. Cukup mengejutkan, tapi itu adalah faktanya. Selama ini Nadine hanya tahu jika Ayahnya hidup sendirian.


"Berdasar informasi terakhir, Ayah kamu itu punya bukti kejahatan Galih yang tersimpan dalam flashdisk atau hardisk miliknya. Itu sebabnya kenapa Galih mengincar Ayah kamu. Dia dan anak buahnya menyergap rumahmu untuk mencari flashdisk itu."


"Galih pasti memaksa Ayahmu untuk memberikan flashdisk itu padanya. Dan sudah bisa ditebak kalau Ayah kamu menolaknya. Sehingga Galih menyerang Ayahmu sampai dia harus meregang nyawa. Bahkan kakak laki-lakimu juga ikut menghilang" lanjut Adrian.

__ADS_1


Lutut Nadine seketika melemas saat harus mengingat kembali tentang insiden kemarin. Saat ini dirinya masih dalam kondisi berduka.


Kematian Ayahnya, menghilangnya sang Kakak. Kejadian itu masih segar dalam ingatannya, apalagi Ayahnya baru saja dikebumikan tadi pagi.


Tidak pernah Nadine sangka bahwa semuanya akan serumit ini. Apa ini alasan Ayahnya dan Kak Nathan bersikap aneh selama beberapa bulan terakhir? Karena ada sesuatu yang disembunyikan?


"Segitu pentingnya ya isi flashdisk itu, sampai-sampai Ayah saya harus mengorbankan nyawanya untuk melindungi benda kecil itu!"


"Sangat penting! Bukan hanya bukti kejahatan Galih saja yang ada didalam flashdisk itu, tapi ada misteri dan rahasia lainnya yang harus terpecahkan. Jika flashdisk itu ditangan kami, Galih bisa dijebloskan kedalam penjara dengan mudah. Itu sebabnya kenapa kami berdua datang kemari" jelas Adrian.


"Tapi sayangnya saya tidak tahu-menahu soal flashdisk itu. Bentuknya bagaimana, tempat disimpannya dimana..saya tidak tahu." Nadine menjawab.


Adrian tidak kaget lagi, dari awal memang dia sudah bisa menebak kalau Nadine tidak tahu apa-apa. Harun pasti melindungi putri semata wayangnya itu, sehingga dia menutup rapat rahasia tentang masa lalunya dan lain-lain pada Nadine.


Adrian terlalu percaya diri dan bersikeras memaksa untuk bertemu Nadine, dengan harapan dia tahu sesuatu. Padahal sebenarnya tidak.


"Apa tidak ada sedikit petunjuk Nona? Barangkali Ayah anda pernah memberikan sedikit clue?" Ray yang sedari tadi hanya diam melihat interaksi antara Adrian dan Nadine, mulai ikut menimbrung dalam percakapan keduanya.


Nadine mencoba mengingat-ingat lagi apakah ada yang sedikit terlewatkan olehnya.


"Sebenarnya, sebelum ayah saya meninggal..dia sempat berpesan kalau dia meminta saya untuk membawa dokumen surat berharga dan brankas yang terdapat didalam lemari miliknya" kata Nadine.


"Untuk yang dokumen berharga, saya tahu betul itu isinya cuman kayak ijazah-ijazah, KK, sertifikat rumah, buku tabungan, serta surat kepemilikan cafe dan usaha travel milik keluarga saya...."


"..tapi untuk yang brankas, saya belum pernah membukanya. Saya bahkan enggak tahu, kalau ayah saya menyimpan brankas seperti itu di rumah."


Gotcha!!!

__ADS_1


Brankas.


Ini dia petunjuk yang dimaksud oleh Adrian. Bisa jadi, isi dari brankas milik Harun itu dapat menuntunnya untuk menemukan Galih.


__ADS_2