Favorite Sin

Favorite Sin
JACKPOT


__ADS_3

...ADRIAN...


Setelah kami puas menikmati pemandangan sunset dan hari dirasa nampak semakin gelap, aku memutuskan mengajak Nadine kembali ke bungalow kecil dekat pantai yang aku sewa khusus untuk tempat istirahat. Karena besar kemungkinan, kami akan menghabiskan waktu sampai malam disini.


Sementara Nadine sedang sibuk menelpon Nathan, aku memilih untuk menghampiri adik-adikku saja yang tengah berkutat menata makanan.


"Hey..." sapaku pada Fiona dan Athena.


"Hai Kak Ian...udah balik ya habis lihat sunset, kak Nadine-nya mana?" tanya Fiona seraya meletakkan dua piringan besar berisi Tuna Salad dan French Fries.


"Masih telepon sama kakaknya. Arga sama Arjuna kemana? Belum balik mereka?" aku mendudukkan diri di kursi makan yang tersedia.


Kami memang perginya bersama-sama, namun aku dan Nadine berpencar dengan keempat adikku karena masing-masing dari kami memiliki kesenangan sendiri-sendiri saat di pantai.


"Entahlah Kak, mungkin masih main jetski!" giliran Athena yang menjawab sambil datang membawa Pasta Chicken Alfredo dan Calamary.


Aku mengangguk sembari menaikkan kedua tanganku di meja untuk menopang dagu. "Ini semua kalian sendiri yang masak?" tanyaku penasaran.


Seingatku, kedua adik perempuanku ini tidak bisa memasak semua. Mereka berdua selalu mengandalkan Mama Diana.


"Bukan Kak...ini tadi Mama yang beli di restoran cepat saji dekat rumah, terus aku bawa kesini. Jadi tinggal dihangatkan, praktis kan!" kata Athena.


"Sudah kuduga, Kakak tahu kalian berdua itu tidak bisa masak.."


Athena menepuk pundakku. "Ishh...meledek terus! Gini-gini juga aku dan Fio masih belajar..sabar!" gerutu Athena.


Aku menggelengkan kepalaku dan tertawa kecil. "Fiona, kamu telepon Arga dan Arjuna. Suruh mereka kembali cepat, ini sudah petang. Tidak baik berkeliaran di jam segini!"


"Okay Kak, tunggu sebentar..aku cari ponselku dulu." Fiona bergegas mengambil tasnya.


Sedangkan Athena mengambil minuman kaleng dari lemari pendingin es dan memberikannya padaku.


"Kak Nadine kok lama banget teleponan-nya, ngobrolin apa aja tuh sama kakaknya?" celetuk Fiona.


Aku mengedikkan kedua bahuku pertanda tidak tahu. Mungkin saja Nadine kena omel habis-habisan, mengingat Nathan adalah orang yang overprotektif--sama sepertiku.


"Kenapa jadi kamu yang penasaran? Biarlah itu jadi urusan mereka!" jawabku sambil membuka tutup minuman kaleng.


"Iya-iya Kak...orang cuman tanya, serius amat sih!"


Pucuk dicita, ulam pun tiba. Baru saja aku dan Athena membicarakan Nadine, orangnya sudah datang sekarang.


"Hai, maaf ya menunggu lama dan enggak ikut bantu...aku baru selesai telepon Kak Nathan." Nadine menarik kursi yang persis ada di sebelahku dan mendudukkan dirinya disana.


"It's okay Kak, aku dan Fio bisa handle kok! Kakak udah lapar belum? Kalau sudah langsung makan aja, mumpung udah siap!" tawar Athena.


Nadine menggeleng. "Enggak deh, nunggu Arga sama Arjuna aja sekalian. Biar kita bisa makan sama-sama."


"Okedeh, aku mau ambil piring dan sendok garpu dulu!" ujar Athena.

__ADS_1


Setelah Athena masuk ke dalam, aku menolehkan pandanganku pada Nadine. "Bagaimana tadi, apakah Nathan marah?"


"Bukan marah lagi, tapi super duper marah campur dengan emosi yang meledak-ledak! Kak Nathan mengomeli aku tanpa jeda, sampai pusing dengarnya!" Nadine memijat pelan kedua pelipisnya.


"Wajarlah, karena dia sayang sama kamu..."


"Benar juga, aku bahkan menyesal karena membuatnya khawatir. Dia satu-satunya keluarga yang aku punya saat ini. Harusnya aku lebih peka dan menghubunginya, tapi masalah yang menimpa kita akhir-akhir ini membuatku kalut," sesal Nadine menundukkan kepalanya.


Aku tersenyum tipis dan mengulurkan tangan kiriku untuk menggenggam kedua tangan Nadine di pangkuannya.


"Kondisi Nathan bagaimana? Sudah sembuh tangan dan kakinya?" tanyaku untuk mengalihkan perhatiannya agar Nadine tidak bersedih.


"Sudah kok, tiga hari yang lalu Kak Nathan sudah lepas gips dan bisa berjalan normal. Tidak perlu pakai kruk lagi. Tangannya juga sudah sembuh total."


"Baguslah! Semakin cepat sembuh, maka semakin cepat dia bisa kembali bekerja mengurus cafe dan usaha travelnya yang sempat terbengkalai. Aku sudah bicarakan ini dengan Nathan sebelumnya."


"Hmmm..Kak Nathan juga mau mengucapkan terima kasih, berkat perawat yang kamu kirim untuk mengurusinya, proses penyembuhannya berjalan dengan cepat!"


"Tentu saja..aku tidak mungkin salah memilih orang!" ucapku percaya diri membuat Nadine terkekeh pelan.


"Iya..Tuan Adrian Rhys Natadipura yang terhormat, selalu benar." ejeknya sembari tertawa.


Nadine terlihat manis sekali saat senyuman di bibirnya merekah seperti ini. Apalagi ketika kedua pupil matanya melebar setiap kali ada pancaran kebahagiaan menyeruak di hatinya.


Aku tidak menyesali keputusanku untuk kembali pulang dalam pelukan Nadine dan mencoba untuk memulai semuanya dari awal. Karena sejatinya, wanita cantik yang ada disampingku ini adalah rumahku, tempatku pulang.


"Apa Nathan sudah tahu kalau kamu sedang mengandung?" tanyaku dengan hati-hati.


"Kamu benar, Nathan akan memaksamu untuk cepat pulang sekarang kalau dia tahu." ucapku sambil menyibakkan rambut panjang Nadine ke belakang, karena sepertinya dia terlihat kegerahan.


"Lalu, kita kapan pulangnya? Apa masih lama di LA?" Nadine kini bergerak untuk mengikat rambutnya dengan jepitan.


"Kenapa buru-buru, kamu sudah tidak betah tinggal disini?"


Nadine merapatkan kursi duduk kami dan menyandarkan kepalanya di bahuku. Tangannya bergerak untuk melingkar di lengan kokohku dan mengusapku pelan.


"Bukan gitu, aku cuman kangen aja sama mansion kamu! Aku juga rindu dengan Kak Nathan...mungkin aku kena homesick.." lirihnya.


"Secepatnya kita akan kembali. Mungkin minggu depan. Dan sebelum kita pulang, aku mau ajak kamu liburan dulu ke beberapa destinasi wisata disini."


"Really? Seorang Adrian Natadipura...mau ajakin aku jalan-jalan? Are you even serious?"


Nadine mendongak kesamping dan mendaratkan dagunya di bahuku. Tatapan matanya memicing, menatapku curiga.


"I'm being serious. Hitung-hitung supaya kita punya quality time berdua. Aku belum pernah mengajak kamu pergi honeymoon diawal pernikahan kita, jadi sekalian saja mumpung disini."


Tubuh Nadine langsung terjengkat dan tangannya menguraikan pelukan kami. "Kamu tidak bercanda kan?" Nadine memastikan sekali lagi.


Aku mengangguk mengiyakannya, membuat mata Nadine berbinar-binar dan senyumnya mengembang membuat pipi gembulnya berubah warna kemerahan.

__ADS_1


"Dengan catatan, kita harus ke dokter terlebih dahulu untuk mengecek kandungan kamu. Kalau dirasa semuanya aman, dan dokter mengizinkan kamu bepergian..maka kita akan pergi!" tukasku.


Bagaimanapun juga, aku tetap menghawatirkan kondisi bayi kami meski aku belum sepenuhnya merasa siap dengan kehadirannya. Aku masih butuh waktu untuk menstabilkan emosiku yang naik turun.


Aku harus segera menjalani terapi untuk menyembuhkan tantrumku ini. Demi Nadine, demi bayi kami, dan pastinya demi diriku sendiri. Aku ingin berubah dan melanjutkan hidupku bersama mereka dengan perasaan yang tenang.


"I'm so happy!!!" pekik Nadine. "Kalau gitu, kita pergi ke Disneyland..boleh kan?"


"No! Kamu sedang hamil Nadine, mana bisa menaiki wahana yang ada disana!" aku menolaknya.


"Tapi aku pengen!! Percuma dong kita jalan-jalan tapi enggak kesana! Aku mau beli bandana yang ada gambar karakter kartun princess!" rengeknya manja.


"Nanti aku hanya akan naik permainan yang sekiranya aman untuk ibu hamil kok!" lanjut Nadine menaikkan jari kelingkingnya mengisyaratkan sebuah janji.


"Tidak bisakah kita pergi ke tempat yang normal-normal saja? LA itu besar, masih ada opsi tempat lain yang bisa dikunjungi!" Aku mencoba membujuknya sekali lagi.


"Please...?!" Nadine memohon dengan nada memelas serta menunjukkan puppy eyes-nya.


Ini dia yang membuat pertahananku melemah. Aku tidak mungkin menolaknya kalau dia sudah memasang raut wajah yang seperti ini. Hanya Nadine yang bisa meluluhkan aku.


Bahkan disaat aku masih bersama dengan Naomi, aku tidak pernah mengabulkan semua keinginan perempuan itu. Justru dia yang kerap kali mengalah dan merendahkan egonya untuk menurutiku.


Aku memutar bola mataku malas dan mengangkat tanganku menyerah.


"Fine.." sengaja aku mengalah. "Tapi ingat, jangan aneh-aneh! Kamu hanya boleh naik wahana yang aman!"


Saking senangnya, istriku itu langsung berdiri dan berteriak kencang sambil bertepuk tangan, "Yeayyy!!!! Thank you..."


Kemudian, Nadine berjalan mendekat dan berpindah duduk di pangkuanku. Tangan Nadine meraih wajahku, dan bibirnya bergerak untuk menciumii seluruh wajahku. Mulai dari dahi, kedua mataku, hidung, serta pipi kanan dan pipi kiri, lalu berakhir di bibir. Lengkap sudah semua.


Tak puas dengan ciumann yang terasa singkat itu, aku kembali menarik tengkuk leher Nadine dan menciumii bibirnya dengan ganas. Nadine tak menolak, dia justru gencar membalasnya.


Kami berdua bercumbuu satu sama lain dengan panasnya. Lidahh kami saling bertaut dan bergantian untuk mencecap. Angin sepoi-sepoi pantai ikut membawa kami hanyut dalam kemesraan ini.


Aku bisa mendengar suara desahann Nadine kala tanganku mulai turun untuk meremass kedua bongkahan gunung kembarnya. Aku semakin mengeratkan pelukan tanganku yang melingkar di pinggangnya. Begitupun juga dengan Nadine yang mengalungkan tangannya di leherku.


Beberapa menit berlalu, ketika kami berdua masih sama-sama menikmati cumbuann ini dan larut terbawa suasana, tiba-tiba saja terdengar sebuah suara pekikan yang keras dari arah belakang kami.


"ASTAGAAA..." teriak mereka.


Aku dan Nadine sontak menghentikan ciumann kami dan menoleh kearah sumber suara. Ternyata, ada keempat adikku yang sedang berdiri berjajar di belakang sedang memergoki kegiatan panasku dengan Nadine.


Kulihat Arjuna, Fiona, dan Athena sama-sama menutup mata mereka dengan tangan. Berbeda dengan Arga yang masih sedikit mengintip dari balik-balik jarinya.


"WADUHHH... DAPAT JACKPOT NIH!!" celetuk Arga tanpa tahu malu.


***


Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up 😊

__ADS_1


Maaf kalau belum bisa upload rutin karena kesibukan di real life..Terimakasih, sudah mau setia untuk baca! Kedepannya bakalan lebih seru kok...hihi


__ADS_2