
(Chapter ini disarankan untuk dibaca oleh readers yang sudah cukup umur dan usianya matang. Bagi yang belum, bisa langsung di skip saja 😁)
AUTHOR POV
"Iya..aku mau..." pipi Nadine merah merona saat mengiyakan ajakan Adrian.
Mendapatkan lampu hijau dari sang empunya, Adrian tak lagi ragu untuk menerkam Nadine malam ini. Diraihnya punggung tangan Nadine seraya memberikan usapan halus. Malam ini, Adrian tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas. Jangan sampai Nadine berubah pikiran.
"Awww...." Nadine memekik kaget saat Adrian tiba-tiba menggendong tubuhnya ala bridal style. "K-k-kamu m-mau ngapain?" tanya Nadine yang mengalungkan kedua tangannya di leher Adrian.
"I just want to do it in the right way.." lirih Adrian yang menatap lekat kedua netra Nadine.
(Saya hanya ingin melakukannya dengan cara yang benar)
Dengan perlahan, Adrian menggendong tubuh Nadine dan membaringkannya di kasur. Jari-jemari Adrian bergerak menyapu tulang pipi Nadine, lalu bibir mereka menyatu kembali. Nafas keduanya terengah-engah dan begitu mengejutkan hingga rasa hangat menjalar di kulit mereka.
Bibir Adrian mulai turun di lekukan leher Nadine seraya membenamkan kepalanya disana. Puas menyatukan bibir satu sama lain, Adrian menyibak helaian anak rambut yang menutupi mata Nadine ke belakang telinga.
Emosi dalam pupil mata hijau-kebiruan milik Adrian nampak bersinar ketika menatap wajah cantik istrinya itu. Satu hal yang baru Adrian sadari, Nadine adalah perempuan yang sangat cantik dan murni. Dirinya merasa rugi karena baru menyadari hal itu sekarang. Kemana saja kemarin-kemarin?
"Nad..do you want me to stop?" tanya Adrian disela-sela aktivitas mereka.
Nadine mengusap lembut pipi suaminya, "I don't."
Karena sudah telanjur larut dalam buaian manis Adrian, Nadine mengabaikan semua keraguan yang ada dibenaknya. Dia sudah tidak perduli lagi dengan apa-apa.
Bagi Nadine, apapun yang terjadi nanti, dia memiliki satu keyakinan bahwa dia dan Adrian akan baik-baik saja. Semua akan terasa baik-baik saja bukan?
Adrian mencoba untuk meyakinkan Nadine sekali lagi, "Apa kamu sungguh yakin? Saya tidak mau kita berhenti ditengah jalan kalau kamu masih ragu. Karena sekali kita melakukan ini, maka semuanya tak lagi sama." Nadine seketika merenungkan ucapan Adrian.
"Kamu masih virgin kan Nad?"
"Apa maksud kamu? Tentu saja aku masih virgin!" Nadine sedikit tersinggung atas pertanyaan Adrian yang terdengar konyol itu.
"Saya tidak bermaksud untuk mendiskreditkan kamu. Niat saya hanya bertanya. Kamu tahu sendiri kalau pernikahan kita ini hanyalah sebatas kontrak yang akan berakhir setelah dua tahun. Apa kamu siap untuk memberikan 'V Card' mu pada saya?"
Setelah mereka bercerai, tidak menutup kemungkinan Nadine akan mencari pria lain lagi untuk mengisi hatinya. Adrian berpikir, akan lebih bijak bila Nadine kehilangan mahkota berharganya dengan orang yang tepat. Orang yang benar-benar bisa mencintainya setulus hati.
"Aku sudah yakin dengan keputusan yang aku buat...aku tak ingin menundanya!" tegas Nadine yang memiliki pandangan berbeda dengan Adrian.
Terlepas dari kontrak pernikahan yang mengikat mereka berdua, Nadine sama sekali tak menginginkan adanya perceraian. Meski dia belum mencintai Adrian sepenuhnya, jauh di dalam lubuk hati Nadine dia memiliki keinginan untuk mencoba membuka hati.
__ADS_1
Kali ini Nadine pantang mundur. Apapun halangannya, tekadnya sangat kuat untuk terus melanjutkan percintaan tadi. Justru bagi Nadine, hal itu bisa dijadikan langkah yang bagus untuk pernikahan mereka berdua. Untung-untung mindset Adrian bisa berubah.
"Saya tidak memiliki persiapan apa-apa untuk malam ini. Apa kamu berkenan jika kita melakukan hubungan suami-istri tanpa pengaman?"
Nadine tertegun sejenak, bingung dan tak tahu harus menjawab apa. Dia paham betul apa yang dimaksud oleh Adrian karena dia bukan perempuan polos, meski minim pengalaman. Setidaknya Nadine mengetahui satu atau dua hal mengenai edukasi percintaan.
Kini dirinya dihadapkan oleh dua dilema. Menurut yang dia tahu, bercinta tanpa menggunakan pengaman rasanya akan lebih nikmat. Bukankah begitu? Beberapa review yang dilihatnya di internet berkata demikian.
Minusnya terletak pada resiko potensi kehamilan yang sewaktu-waktu bisa terjadi, sedangkan Nadine dan Adrian sudah sepakat untuk tak menghadirkan seorang anak dalam pernikahan kontrak mereka.
"Aku enggak masalah. Kamu bisa mengeluarkan diluar bukan?" jawaban Nadine membuat Adrian puas.
Tanpa berlama-lama lagi, Adrian langsung menyambar bibir mungil Nadine dengan liar. Sejak tadi ia bersusah payah menahan hasratt yang membara di jiwanya.
Nadine tak ingin bersikap pasif. Dia pun juga ikut bergerak aktif untuk membalas ciuman Adrian yang membuatnya mabuk kepayang.
Posisi Nadine sudah terkungkung sempurna dibawah tubuh kekar Adrian. Kedua tangannya terkunci rapat diatas kepala. Lidah keduanya saling bertarung di dalam mulut tanpa mau mengalah. Lumatann demi lumatann dilesakkan penuh gairahh.
Dengan cepat, Adrian menanggalkan bahtrobe yang melekat pada tubuh Nadine. Handuk yang melilit di pinggangnya pun ikut terlepas dengan sendirinya. Kini tubuh mereka sama-sama polos.
Mata Nadine terbelalak lebar melihat aset milik Adrian yang ukurannya begitu besar. Apakah bisa muat? Nyalinya mendadak ciut seketika.
"Ahhhh...." suara lenguhan Nadine menggema di seluruh ruangan.
"Katakan pada saya bagaimana rasanya?!"
"Enak."
Adrian menyunggingkan sudut bibirnya, "Good girl..."
Tak puas sampai disitu saja, kini jari jemari Adrian bergerak turun menyentuh lembah surgawi milik Nadine yang telah mengeluarkan cairan.
"Sepertinya kamu sudah siap tempur, jadi saya tidak perlu repot-repot melakukan pemanasan!" kata Adrian.
Wajah Nadine tertunduk malu. Pipinya bersemu merah merona.
"Ini akan terasa sakit untuk pertama kalinya, jadi kamu tahan dulu sebentar! Saya akan melakukannya dengan perlahan agar kamu tidak kaget.."
Nadine mengangguk paham. Dari ucapan yang keluar dari mulut Adrian, pria itu terdengar sangat berpengalaman dalam hal ini.
"Kalau terasa sakit atau ingin berhenti, kamu tinggal bilang..saya serius akan hal ini!" ucap Adrian lembut sembari menatap lurus mata Nadine untuk menunggu jawabannya.
__ADS_1
"Iya...aku siap!"
Adrian mengecup Nadine lagi untuk mengurangi ketegangan diantara mereka. Tak lama, Nadine merasakan junior Adrian mulai dilesakkan kedalam tubuhnya.
"Awww...." Nadine merintih kesakitan seraya menancapkan kuku panjangnya di punggung Adrian.
Meski milik Adrian belum sepenuhnya masuk, Nadine sudah mengerang kesakitan hingga mengeluarkan air mata di sudut ekor netranya.
"Sakit..??"
Nadine merintih, "Aku bisa tahan...lanjutkan saja!"
"Okay...as your wish!"
Dan setelah melalui beberapa percobaan, junior Adrian akhirnya mampu menembus dinding pertahanan Nadine.
BLESSS...
"Aww..hhmmm..." mata Nadine terpejam karena merasakan perasaan asing yang sulit dijelaskan. Perasaan nikmat yang membuatnya terbang menuju langit ketujuh. Adrian menghentikan aksinya sementara untuk membiarkan Nadine beradaptasi dengan ukuran junior miliknya.
Sejujurnya, butuh kekuatan besar bagi Adrian untuk mengendalikan dirinya sendiri agar tetap bermain dalam tempo lambat. Ini adalah pengalaman malam pertama bagi Nadine. Dia tidak ingin berbuat kasar atau menyakiti Nadine.
Rasa sakit yang mendera bagian inti Nadine sudah berkurang meski masih tidak nyaman. Dengan gentle, Adrian mulai menggerakkan lagi juniornya dengan tempo yang sedikit meningkat namun tetap stabil.
Setelah keduanya mulai nyaman, rasa sakit tersebut telah tergantikan dengan rasa kenikmatan. Adrian kembali memompa tubuh Nadine dengan irama cepat.
"Oh God...that feels good, baby!" lirih Adrian.
Suara lenguhan keduanya yang terdengar keras dan manja pun tak terelakkan lagi, hingga memenuhi seluruh isi ruangan kamar yang begitu luas.
"Keep going Adrian..." Nadine semakin merapatkan kedua tubuh mereka.
"With my pleasure..." ucap Adrian yang semakin menekan miliknya untuk melesat masuk memenuhi Nadine.
Dan terjadilah....
Malam itu di Kota Turin, kamar presidential suite hotel menjadi saksi bisu atas penyatuan kedua insan yang sedang dimabuk asmara.
***
Jangan lupa ya untuk teman-teman agar memberi like, vote dan hadiah sebanyak mungkin..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Terima kasih.
__ADS_1