
AUTHOR POV
Sejak terakhir kali Nadine menelpon Adrian, entah kenapa dia terus menerus merasakan gelisah. Hatinya gundah gulana tak menentu hingga ia berjalan mondar-mandir..menanti kehadiran pria yang ada dalam mimpinya semalam itu.
"Kenapa perasaanku tidak enak yah...apa terjadi sesuatu dengan Adrian?" gumam Nadine dalam hati.
Tak lama..decitan suara ban mobil yang berhenti memekik di telinga Nadine. Dalam hati dia menebak..yang datang pasti Adrian!
Ceklek...knob pintu diputar
Nadine menoleh ke arahnya. "Adrian..." lirihnya.
"I'm home, as your wish.." (Aku pulang, sesuai permintaanmu)
GREPP....
Nadine berlari kecil ke arah Adrian dan langsung memeluk tubuh kekarnya. Adrian cukup tersentak. Dia tak mengira jika reaksi yang diberikan Nadine akan seperti ini. Yang bisa dilakukannya hanya berdiam diri. Tak ada niat sedikitpun untuk membalas pelukan Nadine atau bahkan mencegahnya. Otak dan pikirannya masih memproses ini semua.
"Tolong lepaskan.." rasa tidak nyaman mulai merasuki Adrian karena pelukan mereka yang terlalu lama.
"Ohh..maaf. Aku enggak bermaksud lancang. A-Ak-aku cuman ngerasa senang aja, karena kamu akhirnya pulang."
Adrian mengernyitkan dahinya. "Padahal kemarin saya pulang!"
"Itu beda...habis pulang, kamu pergi lagi kan? Artinya enggak kehitung!"
"Terserah. Yang penting argumen saya tetap benar, karena saya memang pulang kemarin."
"Iya.." Nadine mengalah.
"Oh ya, ngomong-ngomong luka kamu udah sembuh belum?" tanya Nadine.
"Sudah," jawab Adrian singkat.
Seketika Nadine lupa kalau perut Adrian masih terluka. Tapi dengan cerobohnya, ia malah memeluk pria itu secara erat. Pasti perutnya terasa nyeri sekarang.
Luka sayat itu sebenarnya sudah mulai membaik. Waktu terkena air saat mandi sudah tidak perih lagi. Tapi karena tadi pagi ia berkuda dengan adiknya, Arjuna, luka itu terasa sakit kembali meski masih bisa ditahan. Mungkin karena efek terlalu cepat memacu kuda, tubuh dan perut Adrian terpantul-pantul.
Adrian beruntung karena seluruh anggota keluarganya tidak ada yang curiga. Bekas lebam di wajah dan pelipisnya sudah menghilang samar-samar, jadi sekilas tidak akan terlihat. Sedangkan luka sayat di perut, tertutup oleh baju.
Pelayan yang membangunkannya tadi pagi juga sudah dibungkam mulutnya untuk tidak bercerita pada keluarganya. Sebab sang pelayan sempat melihat perban yang menempel di perut Adrian.
Setelah adegan pelukan tadi, Adrian berjalan melewati Nadine dan berjalan ke sebuah ruangan. Nadine yang penasaran mencoba untuk bertanya. "Kamu mau kemana?"
__ADS_1
"Ke ruang CCTV. Saya mau lihat dua pria yang tadi datang ke rumah ini."
Nadine membelalakkan matanya. "Di rumah ini ada CCTV?"
"Iya, sengaja saya pasang untuk mengawasi rumah sekaligus mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan."
Sebuah ruangan kecil yang sempat dikira Nadine hanyalah gudang atau tempat penyimpanan biasa, ternyata bertransformasi menjadi ruangan CCTV. Terdapat 2 layar monitor besar dan Digital Video Recorder disana.
"Ini orangnya?" Adrian meng-klik sesuatu dan memperbesar gambar yang tertera di monitor.
"Iya..yang itu. Kamu mengenal mereka?""
"Tidak. Nanti saya akan coba cari tahu apa motif mereka mencari saya."
"Hmm..Adrian, sebenarnya beberapa hari yang lalu saat aku pergi ke minimarket..aku melihat ada dua orang sedang mengikuti aku. Perawakannya sama seperti orang yang tadi datang ke rumah, hanya saja mereka adalah dua orang yang berbeda."
Adrian mulai berpikir. Ini tandanya Galih sudah bergerak. Tadi pagi saat Adrian masih berada di farm house, Ray mengabarkan berita penting pada dirinya. 2 pelaku yang menjadi dalang kecelakaan Papa Alan yaitu Heru Cahyono dan Bani Siregar, sudah ditangkap dan ditangani di markas.
Informasi terakhir, keduanya sudah dalam posisi babak belur dan tak sadarkan diri karena dihajar habis-habisan oleh orang-orang Adrian. Tapi mereka belum mati. Kematian terlalu mudah untuk mereka, Adrian ingin bermain-main terlebih dahulu dengan keduanya. Pasti akan lebih menarik.
Perusahaan yang dibangun oleh Heru dan Bani juga sudah berhasil diakusisi oleh perusahaan Adrian, atas bantuan Ray. Rencananya hari ini dia akan ke markas, setelah menemui Nadine.
"Adrian, bagaimana perkembangan kasus soal kakakku? Kamu bilang, kalau flashdisk dan hardisk itu sudah didapatkan..maka kakakku akan ketemu? Dimana dia sekarang?"
"Tapi kalau kita terlalu lama menemukannya aku takut hidupnya akan berakhir seperti Ayahku. Aku enggak mau itu terjadi!"
"Saya bisa jamin 100% kakakmu masih hidup. Mereka tidak akan berani macam-macam padanya."
"Seberapa yakin kamu?"
Adrian menoleh. "Kakakmu itu sebuah aset bagi mereka. Saya yakin kakakmu hanya disandera."
"Memang apa sebenarnya isi dari flashdisk dan hardisk itu Adrian?" Nadine memberanikan diri untuk bertanya.
Selama ini dia lebih memilih bungkam dan Adrian juga tidak berinisiatif untuk terbuka padanya. Tapi kali ini, Nadine tak bisa menahan rasa keingintahuan-nya lagi.
"Didalamnya terdapat daftar rincian tentang titik-titik lokasi tempat jaringan bisnis ilegal yang dilakukan Galih, seperti bisnis persenjataan dan obat-obatan terlarang. Dari bisnis itu Galih dapat memiliki senjata api yang digunakan untuk menembak Ayahmu."
Adrian sengaja tidak menceritakan perihal bukti video dashboard cam kecelakaan Ayahnya yang ada di flashdisk. Dia merasa itu tidak perlu, karena masalah keluarga Adrian bukanlah urusan Nadine.
Sedangkan Nadine yang mendengar nama Ayahnya terseret, hatinya merasa kembali remuk dan perih. Sampai detik ini dia selalu menyangkal tentang kepergian Ayahnya yang terlalu cepat itu.
"Saya pernah mengambil sampel peluru yang bersarang di dada Ayahmu untuk dianalisa. Dan hasilnya, peluru itu memiliki pembungkus uranium kelas militer. Susah untuk didapatkan dan sangat mahal. Maksud saya, tentu dibalik aksi brutal yang dilakukan Galih..ada orang dibaliknya yang mendanai."
__ADS_1
Nadine menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia masih tak percaya kalau masalahnya akan sebesar itu.
"Aku enggak pernah mengerti kenapa Ayah sempat harus berkecimpung di dunia kegelapan seperti ini..masa lalunya terlalu gelap," Nadine terisak. "Andai saja Ayah tidak terlibat dengan ini semua, dia pasti masih hidup sekarang," lanjutnya.
"Apa kamu kenal David Malik-Santoso?" Adrian bertanya untuk mengalihkan pembicaraan mengenai Pak Harun.
Nadine tersentak ketika Adrian menyebutkan nama Ayah dari mantan kekasihnya.
"Kenapa?" Nadine keheranan.
"Jawab saja, apa kamu mengenalnya?"
"Aku kenal, tapi kami tidak dekat. Dia itu ayahnya mantan kekasihku. Beberapa kali kami sempat bertemu, saat aku main ke rumah mantanku. Ada hubungan apa kamu dengannya?" jelas Nadine.
"Hanya bertanya saja." Adrian belum mau membongkar kedok David pada Nadine. Dia ingin mencari tahu lebih dalam lagi sebelum bertindak. "Jadi Sean Malik-Santoso itu mantan kekasih kamu?" Adrian bertanya lagi.
"Iya..kami berkencan selama 4 tahun, dan sudah putus sekitar 5 bulan yang lalu."
"Ohh.."
Hanya itu reaksi yang diberikan Adrian.
SREKKKK...SREKKK
"Kayak ada suara gesekan, kamu dengar enggak?"
Adrian memerintahkan Nadine untuk diam dengan membenamkan telunjuknya di bibir Nadine.
Di ruangan CCTV itu terdapat jendela kecil yang mengarah ke luar. Mereka berdua dapat melihat dari situ siapa yang tengah menyusup.
"Itu dua pria yang kemarin mengikutiku di minimarket!" lirih Nadine.
"Kita jalan pelan-pelan dan jangan mengeluarkan suara," Adrian berbisik.
Adrian berjalan menghampiri sebuah lukisan yang terpajang di sebelah meja monitor dan menurunkannya. Dibalik lukisan besar itu, ternyata tersimpan sebuah kotak brankas. Ketika berhasil dibuka setelah kodenya dimasukkan. Adrian mengeluarkan sebuah pistol tangan kecil berjenis revolver dari kotak itu.
"Kk-kamu...punya barang itu?" Nadine terbata-bata.
"Kamu percaya saya?"
Lidah Nadine menjadi kelu tak bisa berbicara apa-apa. Habis sudah kata-kata yang ingin dikeluarkannya...seperti tertahan di kerongkongan.
"Tuhan...apa yang harus aku lakukan.." gumamnya dalam hati.
__ADS_1