Favorite Sin

Favorite Sin
GROCERIES SHOPPING (Part 1)


__ADS_3

AUTHOR POV


"Menurut aku ini terlalu banyak deh, kita kan cuman bertiga. Toh juga kamu sama Ray bakal jarang ada di rumah kan? Jadi, lebih baik kita ambil secukupnya." Nadine agak sedikit melongo melihat Adrian yang main asal comot bahan-bahan makanan dalam jumlah besar.


"Jangan protes, ambil banyak juga sekalian buat persediaan. Biar nanti enggak perlu repot-repot keluar lagi, semua sudah tersedia di rumah. Apalagi kamu akan tinggal disana dalam waktu yang tidak pasti sampai kapan."


Rumah yang akan mereka tinggali sekarang aksesibilitas-nya sedikit sulit dan jauh kalau mau kemana-mana. Pikir Adrian, ini adalah cara efektif untuk menimbun persediaan makanan.


Saran Nadine memang tidak diindahkan sama sekali. Adrian malah menyuruh Nadine untuk menambah barang belanjaannya. Berbagai olahan frozen food, makanan kaleng, makanan cepat saji instan, dan beberapa minuman kemasan disapu bersih oleh Adrian begitu saja dari display dan langsung diletakkan dalam troli.


"Uang kamu banyak juga ya...bisa belanja sebanyak ini! Apalagi semua yang dijual di supermarket ini harganya mahal-mahal."


Price tag yang tertera pada rak tidak luput dari pandangan Nadine. Jiwa wanita nya meronta-ronta melihat harga-harga bahan makanan yang bisa dibilang cukup merogoh kantong, apalagi sedang tidak ada diskon. Dan secara sembrono-nya Adrian main ambil-ambil saja tanpa melihat harga terlebih dahulu.


Deghh..


Adrian menghentikan langkah kakinya. Untuk yang kesekian kali dia kecolongan lagi. Wajar jika Nadine berbicara seperti itu, orang-orang yang biasa belanja di supermarket ini memang dari kalangan menengah keatas.


Mama Diana dan asisten rumah tangganya juga kalau berbelanja kebutuhan sehari-hari pasti disini. Nadine saja awalnya kaget saat Adrian membawanya belanja di tempat ini, tapi dia baru berani berkomentar sekarang.


Kebiasaannya yang pergi belanja di supermarket mewah membuat Adrian lupa. Harusnya dia mengajak Nadine pergi berbelanja ke supermarket yang sekiranya ramah kantong. Kalau ke pasar tradisional Adrian akan menolaknya mentah-mentah. Alasannya karena dia tidak biasa.


Ini adalah kali kedua Adrian berbelanja dengan Nadine. Keduanya pernah belanja bersama saat di Jogja, dan itu di pasar. Sepulangnya dari sana Adrian langsung merasa pusing kepala melihat keramaian pasar.


"Kebetulan saya baru dapat bonus dari bos, makanya kita bisa belanja disini."


"Oh gitu..baik banget bos kamu. Kalau boleh saya tahu, memang sebenarnya kamu dan Ray itu kerjanya apa? Semacam bodyguard kah atau kaki tangan orang penting?"


Mendengar hal itu, Adrian yang sedang berjalan lima langkah didepan Nadine langsung memutar kepalanya dengan cepat. Tatapannya berubah tajam. Enak saja dirinya dibilang seorang asisten atau bodyguard! Adrian merasa tidak terima. Kalau Ray sih memang iya profesinya sebagai seorang asisten sekaligus kaki tangan. Sedangkan Adrian, dia sebenarnya adalah seorang CEO dan businessman yang sukses.


Kali ini Adrian harus bisa menurunkan egonya. Demi kelancaran atas semua rencananya, dia harus rela untuk menyamar sampai harus dikatai sebagai bodyguard. Sebisa mungkin Adrian harus menahan diri untuk tidak membongkar identitasnya pada Nadine meski dalam hati dia sedang merutuk kesal.


"Memang tampang saya kelihatan kayak bodyguard?" ketus Adrian.

__ADS_1


Tidak salah Nadine juga sebenarnya. Karena dalam beberapa hari terakhir ini Adrian berpenampilan sebagai orang biasa. Dia sengaja melepaskan setelan jas 2 piece dan 3 piece suit-nya yang biasa dikenakan sehari-hari. Sekarang hanyalah jaket kulit dan kemeja slim fit yang menempel tubuhnya.


"Dari perawakannya terlihat begitu. Badan kamu kan tinggi tegap dan kekar begini. Kamu juga jago bela diri. Terus dari kemarin-kemarin, kamu dan Ray selalu membawa-bawa nama atasan kamu di setiap perbincangan kita. Makanya saya punya asumsi kamu kerja sama orang penting..."


Nadine menjadi salah tingkah sendiri melihat sikap dingin yang ditunjukkan Adrian. Apakah dirinya tadi salah berbicara ya..?


"Terserah kamu mau menganggap pekerjaan saya seperti apa. Jika profesi saya kelihatannya seperti itu di mata kamu, ya maka anggaplah seperti itu saja!!" Adrian memalingkan wajahnya lagi dan kembali berjalan dengan pandangan lurus menyusuri lorong-lorong supermarket.


Jawaban yang terdengar ambigu di kuping Nadine, sebab Adrian tidak menyangkal ataupun mengkonfirmasi pertanyaannya. Atau mungkin Adrian merasa tidak nyaman karena profesinya disinggung?


Nadine pernah mendengar jika pada beberapa orang tertentu biasanya tidak suka kalau ditanya-tanyai soal pekerjaan atau umur. Sebab itu adalah hal yang privasi.


Tapi sungguh, Nadine tidak bermaksud apa-apa. Dia hanya sekedar bertanya untuk mengusir rasa penasarannya. Lagipula Nadine juga tidak memandang rendah pekerjaan Adrian kalau memang betul dia seorang bodyguard.


Pekerjaan apapun itu tidak masalah, asalkan jelas dan uang yang dihasilkan murni bukanlah hasil rampokan atau tipu-tipu.


"Kamu suka pasta enggak? Boleh ambil yang ini?" Nadine menunjukkan sekotak pasta instan pada Adrian.


"Enggak penting saya sukanya apa. Kalau kamu mau ya ambil!"


Tak lama setelah itu, dering ponsel Adrian yang ada di saku berbunyi. Melihat ID caller di layar ponselnya membuat Adrian mengerutkan keningnya. "Saya angkat telepon dulu."


Nadine mengangguk mengerti karena sepertinya panggilan telepon itu dari orang penting. "Kalau gitu saya jalan ke bagian buah dan sayuran ya, boleh kan?" maksud Nadine biar tidak membuang waktu.


"Oke, saya susul kesana nanti" timpal Adrian. Akhirnya mereka berdua berpencar sementara.


***


Nadine sedang melihat-lihat sayuran yang terpajang di chiller. Dia akan membeli sayur yang sekiranya bisa diolah menjadi sebuah masakan. Selama tinggal bersama Adrian dan Ray nanti, Nadine bertekad untuk memasak makanan sendiri untuk ketiganya. Daripada beli makanan diluar terus, enakan makan di rumah. Lebih irit dan lebih higienis.


"Kak Nadine...?"


Saat Nadine sedang asyik memilih-milih sayur, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya. Arahnya dari sebelah kanan, Nadine seketika menoleh.

__ADS_1


"Ini kak Nadine kan?" ucap gadis itu seraya ia mendekat.


Nadine yang agak sedikit lupa-lupa ingat mencoba merefresh memorinya. "A..the..na, bukan?" Nadine terbata-bata karena dia agak tidak yakin.


"Iya..kak ini aku Athena, masih ingat kan? Kakak yang waktu itu nolongin aku dan adikku di pantai..." dugaan Nadine benar.


"Ahhh..ya ampun. Maaf tadi agak lupa-lupa ingat takut salah sebut nama...tapi Kakak masih ingat kok." Keduanya bercipika-cipiki sejenak untuk mencairkan suasana. "Kamu apa kabar sekarang, Fiona adikmu juga gimana kabarnya?" tanya Nadine dengan pancaran senyum ramahnya.


"Aku baik kok kak, Fiona juga. Cuman sekarang anaknya lagi kuliah, kalau aku karena lagi enggak ada matkul makanya sekarang nemenin Mama belanja."


"Ohh..lagi sama Tante Diana juga ya.."


"Heem kak sama Mama, dan ada mbak ART juga, tapi mereka masih di lorong 4...lagi cari-cari peralatan masak. Kakak juga belanja ya disini, sendirian aja?"


"Enggak kok, ada temen kakak..tapi orangnya lagi angkat telepon disana. Kakak tinggalin sementara soalnya ini nih, mau lihat-lihat sayur..hehe.."


"Hmmm gitu, by the way aku enggak nyangka lho bisa ketemu kakak lagi. Kakak tinggalnya disini ternyata, satu kota sama aku dan keluarga. Soalnya kemarin kita kan enggak sempet ngobrol banyak yah...bingung ngerasain sakit hahahahah..." Athena terkekeh.


"Sebenarnya kakak juga baru pindah ke kota ini, baru hari ini malah. Makanya tuh lihat, belanja bahan-bahan dapur buat stock.."


"Woww, kebetulan banget yah..tapi aku seneng deh kakak sekarang disini. Bisa sering-sering ketemu kita. Kakak tinggalnya dimana?"


Nadine tertegun sejenak akan pertanyaan Athena. Nadine yakin Adrian tidak akan mengijinkannya untuk mengumbar-umbar privasi pada orang asing, termasuk menyebarkan alamat rumah pada Athena.


"Ada lah...nanti kalau mau ketemuan lagi, Kakak aja yang samperin kamu."


"Wahh boleh tuh, keluargaku pasti seneng banget. Boleh tukeran nomor telepon Kak? Biar komunikasi kita gampang."


"Iya boleh kok."


Athena mengeluarkan ponsel di tas nya dan menyerahkannya pada Nadine. Maksud Athena, biar Nadine sendiri yang mengetik dan memasukkan nomor tersebut ke kontaknya.


Meski awalnya ragu, Nadine mengiyakan permintaan Athena yang meminta nomornya. Baginya Athena adalah gadis yang baik dan tidak mungkin macam-macam.

__ADS_1


Tidak ada salahnya juga dia memiliki koneksi baru di kota ini ini. Secara, Nadine hanyalah pendatang yang tidak kenal dengan siapa-siapa.


__ADS_2