
AUTHOR POV
3 Hari Kemudian.....
Hari yang sebelumnya tidak pernah Adrian bayangkan terjadi juga pada akhirnya. Sebuah pernikahan. Ya, Adrian akan melangsungkan pernikahannya dengan Nadine tepat pada hari ini. Dalam hitungan jam, Adrian dan Nadine akan menyandang status sebagai suami dan istri yang sah.
Selama 30 tahun hidup di dunia, Adrian selalu menanamkan mindset pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah menikah selamanya. Kegagalan kedua orangtuanya dalam berumah tangga membuat Adrian mengalami trauma berat. Dampaknya, masa kecil Adrian dihabiskan untuk berkonsultasi dengan psikiater bukan bermain-main selayaknya anak normal.
Kalau bukan karena terpaksa demi ambisinya untuk mendapat flashdisk dan membalaskan dendamnya pada Galih. Adrian tidak akan pernah mau menikah walau sekedar menikah kontrak sementara sekalipun.
Tapi, ada sebuah keanehan yang mengganjal di hati Adrian. Yaitu ketika dirinya membicarakan tentang pernikahan pada Nadine, tubuhnya tidak bereaksi apa-apa. Semua terlihat normal dan biasa saja.
Padahal, biasanya Adrian akan mengalami panic attack saat membahas soal pernikahan dengan keluarganya atau orang-orang lain. Dan malamnya saat tidur, dia akan mengalami mimpi buruk berkepanjangan.
Serangan panik? Tidak ada.
Sakit kepala dan pusing? Tidak ada.
Rasa mual dan ingin muntah? Tidak ada.
Ini aneh. Sangat-sangat aneh. Adrian tidak merasakan after effect apapun saat berbicara tentang pernikahan dengan Nadine. Membuatnya berpikir apakah trauma-nya sudah benar-benar hilang? Mungkin saja iya.
***
3 hari belakangan ini, Adrian dan Nadine disibukkan dengan kegiatan mengurus dokumen-dokumen pernikahan. Mulai dari mengikuti kelas pra nikah, mengajukan permintaan pemberkatan ke gereja, sampai mendaftarkan pernikahan mereka ke kantor catatan sipil. Kebetulan, Nadine dan Adrian memiliki keyakinan yang sama sehingga membuat rencana mereka semakin mudah.
Proses pengurusan dokumen pernikahan mereka berjalan dengan lancar. Karena Adrian dan Ray benar-benar mempersiapkan semuanya secara instan. Umumnya proses pernikahan seperti ini akan memakan waktu yang lama untuk mengurusnya. Tapi karena Adrian memiliki channel lalu ditambah dengan bantuan orang dalam, jalan yang mereka tempuh tak ada hambatan.
Kemarin, seharian penuh Adrian menemani Nadine untuk berbelanja beberapa kebutuhan jelang pernikahan mereka. Meski pernikahan yang digelar jauh dari kata istimewa dan megah, setidaknya Adrian tetap membelikan Nadine sebuah cincin dan dress yang terlihat simple. Sebagai syarat agar pernikahan mereka tidak terlihat menyedihkan, walau faktanya memang dilakukan atas dasar keterpaksaan.
__ADS_1
Untuk Adrian, dia tak perlu lagi membeli setelan jas, sepatu pantofel, dan lain-lain sebab dia telah punya banyak di mansion. Dia tinggal memerintahkan Ray untuk membawa itu semua dari walk in closet miliknya, lalu beres. Adrian tidak mau ambil pusing untuk pernikahan yang notabene hanya sebatas nikah kontrak.
Nadine hanya menggunakan simple white midi-dress selutut untuk outfit pernikahannya. Riasan make-up yang menempel di wajahnya dipoles se-natural mungkin. Lalu hairdo rambut-nya dibuat ala braided style yang dicepol biasa. Terlihat sederhana memang, tapi ini cukup. Dan hebatnya semua itu ditangani sendiri oleh Nadine tanpa harus pergi ke salon atau memanggil seorang make up artist. Nadine memang piawai dalam hal ini, karena dasarnya dia adalah perempuan yang suka bersolek.
Lain halnya dengan Adrian, yang penampilannya tidak membutuhkan banyak usaha karena dia seorang laki-laki. Hanya navy-blue suit yang membalut tubuhnya serta celana kain yang berwarna senada dan dasi hitam sebagai pemanis. Dengan tampilan yang begini, Adrian terlihat tampan dan gagah.
"Kamu sudah siap?" tanya Adrian pada Nadine dengan wajah yang datar.
"Siap tidak siap, tetap harus dilakukan bukan? Aku tidak punya pilihan" Nadine tersenyum tipis untuk menyembunyikan perasaan gugup yang menderanya.
Disinilah sekarang Nadine dan Adrian berdiri. Sebuah gereja sederhana, tempat dimana mereka akan mengikat sebuah janji suci yang akan dipertanggungjawabkan seumur hidup mereka. Meski ironisnya, Nadine dan Adrian sendiri yang seolah-olah mempermainkan sebuah pernikahan dan menukarnya untuk nilai kontrak semata.
Hati kecil Nadine sedang gusar saat ini. Dia tidak tahu apakah jalan yang dia ambil ini sudah benar atau tidak. Dalam lamunannya Nadine sering berpikir, mengapa Ayahnya membuat surat wasiat dengan syarat yang tak normal seperti itu.
Nadine memang berkeinginan untuk menikah dan berkeluarga. Tapi dia tak mengira bahwa pernikahannya akan berlangsung secepat ini. Dia memiliki planning untuk menikah saat usianya menginjak 25-26 tahun. Tapi Tuhan punya rencana lain, di usianya sekarang yang 22 tahun..dia akan melepaskan masa lajangnya.
Pernikahan ini hanya disaksikan oleh Ray dan Roni, tanpa kehadiran orang tua dan sanak saudara dari masing-masing kedua belah pihak. Adrian sengaja menutup pernikahannya secara rapat-rapat.
Ray dan Roni sudah disumpah dan menandatangani surat perjanjian untuk tidak membocorkan ini kepada siapapun, karena hanya mereka berdua yang tahu. Adrian tidak mau hal ini sampai tercium oleh orang tua dan adik-adiknya, bahkan media sekalipun.
***
Upacara pemberkatan akan dimulai, setelah mereka menjawab pertanyaan peneguhan dari pendeta. Selanjutnya, baik Adrian maupun Nadine..keduanya diharuskan untuk mengucapkan janji nikah yang dipandu oleh pendeta dan disaksikan oleh Ray dan Roni.
Adrian dipersilahkan untuk yang pertama mengucapkan janji nikah.
"Saya Adrian Rhys mengambil engkau menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita."
__ADS_1
"Saya Nadine Zerina Bimantara, mengambil engkau menjadi suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita."
Nadine mengucapkan janji nikah dengan suara lantang yang bergetar menahan tangis.
"Sekarang saya nyatakan kalian sebagai pasangan suami dan istri," ucap sang pendeta.
Setelah upacara pemberkatan selesai, Adrian dan Nadine mulai mendekat dan membalikkan badan untuk berhadap-hadapan. Kedua bola mata indah mereka beradu pandang. Saling menatap lekat satu sama lain. Tidak ada satu patah kata yang terucap dari bibir mereka. Hanya kesunyian dan keheningan yang mengiringi jalannya pernikahan.
Adrian mengambil inisiatif untuk menggenggam tangan Nadine seraya mendaratkan kecupannya tepat di kening Nadine.
CEKREKKK...
Tak jauh dari tempat Adrian dan Nadine berdiri, tampak seseorang kedapatan sedang memotret momen pernikahan mereka.
"Heh...kenapa di foto?!" Ray menegur Roni yang seenaknya memfoto Adrian dan Nadine tanpa izin.
"Ya kan ini buat kenangan sekaligus bukti.." Roni sama sekali tidak merasa bersalah mengambil foto atasannya yang menikah diam-diam.
"Tapi Pak Adrian kan enggak minta begitu!!", sahut Ray.
"Telat lo ngomongnya, orang dari tadi udah gue dokumentasiin juga!!" sahut Roni.
"Pokoknya awas ya! Lo simpen itu foto baik-baik. Jangan sampai ada yang tahu, kalau enggak lo bisa digorok Ama Pak Adrian, dan gue enggak akan ikut bantuin!!" ancam Ray pada Roni.
"Iya-iya bawel..percaya deh, pasti aman sama gue! Entah kenapa gue pengen aja untuk mengabadikan momen ini. Kali aja nanti diperlukan gitu..."
Saat yang bersamaan...
Di hari ini..di jam ini, dan detik ini juga...
__ADS_1
Adrian dan Nadine resmi menjadi sepasang suami istri yang disatukan oleh Tuhan dan sah dimata hukum negara.