Favorite Sin

Favorite Sin
NEGOTIATION


__ADS_3

...ADRIAN...


Hari ini Opa akan mendatangiku ke kantor. Beliau bilang, ada yang perlu dibicarakan denganku dan itu bersifat penting. Aku sudah bisa menebak kalau ini pasti tidak jauh-jauh dengan urusan men-takeover Natadipura Group. Opa pasti akan memaksa. Si Tua Bangka itu mengganggu saja, dia belum menyerah meski sudah 3 bulan lamanya tidak aku gubris.


Hubungan kami sedang meregang saat ini. Bisa jadi, salah satu faktor yang membuat datang karena dia ingin memperbaiki relasi kami. Tapi pertanyaannya, kapan hubungan kami pernah baik-baik saja? Baik Opa dan aku, dari dulu kerap berseteru satu sama lain karena perbedaan visi.


"Permisi Pak Adrian, Tuan Willy sudah sampai dan beliau sekarang ada di ruang tunggu meeting."


Huhh..cepat sekali sampainya, kupikir dia terlambat. Kalau bisa bahkan tidak usah datang sekalian.


"Suruh beliau untuk datang kemari saja, saya sedang malas ke ruang meeting."


"Mengerti Pak." Ray segera melangkahkan kakinya keluar setelah mendapat perintah dariku.


Kini, aku menarik napasku dalam-dalam untuk menetralisir emosiku. Mendadak timbul perasaan tidak nyaman jika aku harus bertemu dengan Opa. Untung saja barusan Nadine menelponku dan itu membuatku sedikit tenang. Suara lembut Nadine seakan-akan memberiku kekuatan dan kedamaian dari jauh sana.


Istriku itu menelpon hanya untuk meminta dibuatkan kamar khusus penyimpanan barang-barang pribadinya. Alasannya, walk in closet di kamar kami sudah penuh katanya. Akhir-akhir ini dia memang suka sekali belanja hingga barangnya menumpuk.


Apakah aku keberatan? Jawabannya tidak. Nadine istriku, bukan orang lain. Dia berhak untuk menikmati fasilitas yang kuberikan dan membeli apapun dengan uangku tanpa limit. Aku bekerja dari pagi hingga larut malam juga untuk siapa lagi kalau bukan dia?


Aku senang memanjakannya. Apalagi melihat senyum manisnya ketika dia sedang sumringah bahagia karena aku menuruti permintaannya untuk belanja. Rasanya seperti ada kepuasan tersendiri dalam diriku yang sulit untuk aku gambarkan.


Jujur saja, aku tidak pernah bersikap royal seperti ini pada wanita lain bahkan pada mantanku--Naomi sekalipun. Bukan karena aku pelit. Tapi memang aku yang jarang menghabiskan waktu berdua dengannya.


Gaya berpacaran kami tidaklah normal kala itu. Aku tidak pernah mengajaknya kencan rutin. Tidak pernah mengajaknya pergi liburan. Tidak pernah juga memberikannya hadiah.


Yang kami lakukan hanyalah melakukan dinner biasa dan pernah sekali ONS hingga Naomi mengandung karena kecerobohanku yang tak memakai pengaman.


Percayalah, aku hanya melakukan itu untuk pertama dan terakhir kalinya dengan Naomi. Berbeda dengan Nadine yang setiap jam, menit, dan detik selalu meningkatkan gairahh lelakiku sehingga aku ingin terus menerkamnya bila ada kesempatan.


Bersama Nadine, aku selalu kehilangan kendali dan sanggup untuk menentang semua aturan serta prinsip hidup yang ada di dunia ini. Hanya dia.


"Ahhh...cucuku tersayang, Adrian Rhys Natadipura. Akhirnya kita bertemu lagi setelah lama tidak jumpa." Opa menyapaku sambil merentangkan tangannya lebar, berharap aku akan memeluknya.


Bermimpilah Pak Tua, tidak akan kulakukan hal itu.


Sadar karena telah aku abaikan, beliau akhirnya menurunkan tangannya kembali dan tersenyum canggung.


"Halo Kak..." Arjuna yang mengekor dibalik punggung Opa kini bersuara.


"Arjuna, kamu datang kesini?" aku terkesiap seraya mengernyitkan dahiku.


Dari semua orang yang ikut dengan Opa, aku tidak expect jika Arjuna adalah salah satunya. Bagaimana bisa adikku itu bersama Opa?

__ADS_1


Arjuna tersenyum dan menghampiriku untuk memeluk. Tentu saja aku membalasnya kali ini, sebab Arjuna adikku. Dari samping, aku bisa melirik ekspresi Opa yang tersenyum masam melihat kedekatanku dan Arjuna.


"Silahkan duduk di sofa situ saja, kita akan mengobrol disana!" aku mempersilahkan kedua tamuku untuk duduk bersantai.


Karena aku tidak ingin berbelit-belit, langsung saja aku menembak Opa dengan pertanyaanku. "Ada perlu apa Opa datang kemari?"


Opa Willy menundukkan kepalanya untuk tertawa kecil, "Hmmm..kamu tahu saja kalau Opa kesini untuk meminta bantuan..."


"Pasti. Tidak mungkin jika Opa datang untuk menemuiku karena rindu. Itu mustahil bukan?" sarkasku. "Katakan saja, apa keinginan Opa?"


Opa melirik kearah Arjuna sekilas sebelum berucap padaku. "Apakah kamu kenal dengan Tiffany Young?"


"Tidak kenal tapi aku sedikit tahu. Dia adalah putri pewaris satu-satunya dari kerajaan bisnis Young Enterprise setelah orangtuanya meninggal dua tahun yang lalu karena kecelakaan mobil."


"Tepat sekali, kamu sepertinya sudah melakukan background-check terhadap Tiffany."


Aku mengedikkan bahuku. "Tidak juga, menurutku itu pengetahuan umum karena namanya terpampang di laman berita manapun."


"Baiklah, Opa akan to the point saja."


Itulah yang kutunggu dari tadi.


"Seperti yang kamu tahu, Adrian. Opa kenal betul dengan keluarganya Tiffany dan kami memiliki hubungan yang sangat baik. Dari segi bisnis dan juga kekeluargaan. Saat Papamu dulu bangkrut karena ditinggal oleh Mamamu Imelda, ayahnya Tiffany-lah yang ikut menyokong perekonomian Alan."


"Lantas, Opa ingin aku untuk apa?"


Opa menyunggingkan sudut bibirnya keatas. "Tiffany sudah lama tinggal di New York, dan besok Selasa dia akan datang ke Bali. Bolehkah Opa minta agar Tiffany tinggal di rumahmu sementara?"


Degh...


Yah, ini adalah puncak dari batas kesabaran yang sejak tadi kupendam. Opa keterlaluan.


"Tidak bisa. Aku tidak mau," aku menolaknya lantang.


"Kenapa Adrian?"


"Opa ini sudah tidak waras ya? Dimana akal sehat Tuan Willy Natadipura yang terhormat? Dengan entengnya Opa meminta Tiffany tinggal di rumahku..atas dasar apa?"


"Hidup Tiffany saat ini terancam, dia sedang dikejar-kejar oleh seorang pria bernama Hans--mantan kekasihnya. Tiffany dalam bahaya karena Hans adalah orang yang cukup persisten. Setiap hari Tiffany diteror dan diancam untuk bersedia menikah dengan Hans," Opa menjelaskan.


"Hubungannya dengan aku apa? Opa ini aneh! Sukanya menambah masalah hidupku saja. Sudah betul Opa itu tinggal di Belanda dan tidak lagi menginjakkan kaki di Bali. Dengan begitu hidupku tenang!" emosiku benar-benar mendidih bagaikan air yang baru saja dimasak api.


"Kak, tenanglah dulu...bicarakan ini baik-baik." Arjuna mencoba menengahi perdebatanku denga Opa, dia menahan tubuhku untuk berdiri tegak menghadapi Opa.

__ADS_1


"Bagaimana bisa dibicarakan baik-baik? Dari jaman Valerie saja, Opa sudah melewati batasannya dengan meminta Valerie tinggal di rumah. Padahal dia tahu betul bagaimana reputasi seorang Valerie yang notabene adalah kriminal?!! Dan sekarang Tiffany?" aku menatap nyalang kearah Opaku.


Saking tajamnya, tatapanku bisa saja mengeluarkan batuan kristal tajam seperti di kutub utara. Orang tua ini menguji kesabaranku.


Opa kembali menyanggah, "Keluarga Tiffany sudah banyak membantu keluarga kita Adrian. Tiffany datang pada Opa dan menangis meminta pertolongan. Tidak ada salahnya kita menolongnya saat dia kesusahan seperti ini, sebagai bentuk balas budi! Opa tak tega melihatnya..."


"Mansion kamu itu kan punya tingkat keamanan ketat, itu sebabnya Opa mau Tiffany tinggal dulu sama kamu. Setidaknya untuk beberapa hari demi menghindari kejaran Hans," lanjutnya lagi.


Aku berdecih mengejek, "Kenapa tidak lapor pihak berwajib atau sewa orang bayaran untuk menangkapnya?"


"Sudah dilakukan, tapi gagal. Hans begitu kuat dan bisa lolos dari kejaran. Dia bukan orang biasa."


Kuangkat jari telunjukku dan kuarahkan tepat pada Opa, "Dengar ya Opa, rumahku itu bukan tempat penampungan. Tapi untuk tempat tinggalku dan istri, tempat dimana aku bisa merengkuh ketenangan dan kenyamanan. Masalah dia dikejar Hans itu urusannya, bukan tanggung jawabku. Ada banyak hal yang lebih penting untuk diurus daripada ini!"


"Jangan ketus seperti itu Adrian!" Opa tak suka dengan nada bicaraku yang terkesan kasar. Dia menepis jemariku dihadapannya.


"Aku bicara fakta. Tiffany hanya orang asing, tidak perlu ribut. Kalau mau bicara soal balas budi, disini yang pernah dibantu dan diuntungkan itu Natadipura Group. Jadi itu tugasnya Opa, Tante Mawar, Om Farhan dan Papa sekalipun untuk membalas budi padanya..."


"Aku tidak terlibat, karena aku tidak pernah merasa dibantu dan tidak pernah minta bantuan juga. Jadi tidak ada hutang balas budi diantara kami. Kalaupun ada, aku juga tetap tidak izinin dia tinggal di mansionku."


Aku tentu tidak mau kalah debat mempertahankan argumenku. Sudah gila apa mengizinkan wanita lain tinggal di mansion. Apa si Tua ini lupa aku sudah beristri?


"Opa mohon Adrian, turuti saja permintaan Opa kali ini. Opa tidak meminta banyak. Kemarin kamu sudah menolak tawaran Opa untuk men-takeover Natadipura Group. Untuk yang ini Opa mohon, bantu Opa. Izinkan Tiffany menginap di rumahmu," raut wajah Opa memelas.


Pintar sekali dia berakting untuk mendapatkan belas kasihan dariku. Tidak semudah itu Pak Tua.


"Jangankan Tiffany, para pekerja yang sudah mengantongi kepercayaanku saja tidak aku izinkan masuk ke mansion sembarangan. Mereka harus tinggal di paviliun karyawan yang berjarak 50m dari kediaman utama yang aku tempati. Opa tahu aku sangat menjunjung tinggi privasi. Aku tidak suka ada orang asing berkeliaran di rumah. Hanya keluarga inti yang boleh datang dengan bebas. Keputusanku sudah final!" cerocosku keras sampai Opa memundurkan wajahnya kaget.


Tensi diantara kami cukup tegang. Suasananya begitu sunyi dan memanas. Kalau aku tidak ingat Nadine di rumah, mungkin aku akan memporak-porandakan seisi ruanganku dan menghancurkan benda apa saja yang terlihat mata.


Aku sudah janji pada Nadine untuk tidak gampang terpancing emosi baik ketika aku bersamanya, atau saat aku sedang berjauhan dengannya.


"Opa akan buat penawaran. Jika kamu mau membantu Opa dalam menyelesaikan masalah Tiffany ini, Opa akan segera mengalihkan 55% aset Natadipura Group untuk adik-adikmu..Arjuna dan Arga."


Sontak Arjuna menoleh dengan cepat bagaikan petir kilat menyambar. Dia kaget Opa-nya membuat statement diluar dugaan. Tak ayal, Adrian juga memberikan respon yang sama kagetnya. Ada angin apa Opa-nya ini terlihat pasrah. Dia jadi curiga.


"Seperti yang kamu minta bukan? Opa akan tanda-tangani pemindahan asetnya dengan cepat. Dan Opa tidak akan lagi memaksamu mengambil alih kepemimpinan, asalkan kamu mengizinkan Tiffany untuk tinggal di mansion kamu."


Aku tak bisa berkutik dan bingung harus merespon apa. Pasalnya, urusan pemindahan aset Natadipura Group itu cukup pelik dan banyak halangannya. Sudah 3 bulan urusan ini mangkrak, jauh dari prediksi yang kukira bisa selesai dalam kurun waktu kurang dari 1 bulan, seperti yang pernah kujanjikan pada dua adik laki-lakiku.


Apakah harus aku terima tawarannya?


***

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up😊


__ADS_2