Favorite Sin

Favorite Sin
WHAT A FEELING


__ADS_3

AUTHOR POV


Adrian memukul gagang setir mobilnya dengan keras. Akal sehat dan pikirannya sedang melayang entah kemana. Mungkin saja dirinya sudah mulai tidak waras.


Yang bisa dilakukannya saat ini hanyalah duduk termenung di kursi kemudi dan merenungkan tentang apa yang baru saja terjadi.


"Aku dan Nadine..k-kami..kami berciuman? Astaga Tuhan, ini rumit sekali!" Adrian meracau sambil menyentuh bibirnya.


Berada didekat Nadine selalu membuat hati Adrian bergejolak tak karuan dan dia tidak bisa menjelaskan alasan spesifiknya.


Normalnya, Adrian selalu bisa menahan diri saat berhadapan dengan wanita. Bahkan dia adalah kategori pria yang sama sekali tidak berselera dengan wanita.


Memiliki wajah yang tampan dan rupawan serta kekayaan yang melimpah tidak menjadikannya seorang casanova. Justru ia jengah kalau harus berdekatan dengan wanita dan bersikap sangat antipati akan hal itu.


Tapi dengan Nadine? Kenapa tiba-tiba berbeda? Adrian merasa bahwa dirinya dan Nadine memiliki koneksi dan chemistry yang kuat saat sedang berduaan.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Lebih baik aku kembali ke mansion saja dan mengurungkan niatku untuk menginap. Aku takut akan kebablasan kalau aku dan Nadine ada di satu ruangan yang sama" gumam Adrian dalam hati.


Saking terburu-burunya dan ingin cepat-cepat meninggalkan rumah, Adrian sampai lupa memakai baju atasan dan mengganti celana panjangnya yang kotor. Untungnya dia selalu siap sedia baju dan celana bersih di bagasi mobil.


Saat di perjalanan, Adrian menaikkan volume musik yang sedang terputar di tape mobilnya. Dengan begitu, mungkin pikirannya bisa teralihkan sejenak.


Satu lagu diputar, dua lagu diputar, dan sampai tiga lagu diputar....nyatanya tidak mempan juga. Pikiran Adrian masih tetap tertuju pada perempuan bermata hazel itu. Kalau dia tahu..jika berciuman dengan Nadine membuatnya kelimpungan seperti ini, tahu begitu tidak usah sekalian. Perasaan yang merepotkan!


***


Saat ini Nadine merebahkan tubuhnya dan bergelung dengan selimut tebal di kasur. Niat hati ingin melanjutkan membaca buku sastra yang tadi sempat terhenti, tapi nanti pasti tidak fokus. Sebab dalam ingatan Nadine, bayang-bayang akan perbuatan panasnya dengan Adrian di ruang tamu rumah masih sangat membekas.


Bayangan ketika Adrian membawa tangannya ke wajah Nadine dan menangkup pipinya yang memerah, membuat Nadine terbang ke langit ke tujuh. Sentuhan lembut dari ibu jari Adrian saat mengelus pipi Nadine sungguh memabukkan.


"Kalau dipikir-pikir, Adrian manis juga.." Nadine membatin dan tersenyum-senyum sendiri.


Semakin kesini, sosok Adrian membuat Nadine jadi penasaran karena tidak banyak informasi yang ia ketahui tentang pria itu.


Nadine menarik laci nakas disamping tempat tidurnya, kemudian mengambil sebuah pigura foto yang mana menampilkan gambar Ayah dan kakaknya. Lama termenung memikirkan Adrian, malah mengingatkan Nadine pada kedua pria yang sangat dicintainya itu.


"Ayah, Kakak..aku rindu kalian. Andai saja kalian ada disini bersamaku...mungkin aku akan merasa lebih baik.."


Tak terasa kedua mata Nadine mulai terpejam. Rasa kantuk dan lelah yang menderanya sudah tidak bisa ditahan lagi. Alhasil, dia pun tertidur dengan memeluk pigura foto itu hingga fajar menyingsing.

__ADS_1


🍂🍂🍂🍂🍂


TOKK..TOKK..TOKK


Pintu kamar Adrian diketuk secara pelan dari luar oleh seorang pelayan.


Adrian yang merasa tidurnya telah terganggu terpaksa harus bangun karena suara ketukan yang berkali-kali itu sangat mengganggu.


"Ckk....pagi-pagi sudah ganggu saja!" kesal Adrian dengan suara serak ala orang yang baru bangun. Tubuhnya masih betah menggeliat di kasur seakan tak ingin cepat beranjak.


TOKK..TOKK..TOKK


"Iya..iya..tunggu!!!" teriak Adrian.


Disibaknya selimut hangat yang membungkus tubuhnya semalaman, lalu ia bergegas menuju pintu. Dia ingin mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar pada siapa yang telah berani membangunkannya di Minggu pagi.


Tidak tahu apa jika dirinya tak bisa tidur semalaman karena memikirkan Nadine? Ehh....tidak...tidak..lupakan!


Ceklekkk..pintu terbuka.


Seorang pelayan laki-laki yang usianya masih muda dengan pakaian rapi berwarna putih, sedang berdiri tegap didepan pintu kamar Adrian.


"Ngapain kamu disini? Ganggu tidur saya saja! Ini baru jam 6 pagi dan saya masih mengantuk. Kamu tahu kan peraturan di rumah ini...kalau saya tidak minta dibangunkan ya jangan diganggu!!" Adrian mengomeli pelayanannya yang diam tergugup dan meneguk ludahnya kasar.


"M-m-maaf Pak, kalau sayang lancang. Saya tidak bermaksud untuk mengganggu ketenangan bapak di Minggu pagi. Saya hanya ingin memberi tahu kalau Tuan, Nyonya besar, dan adik-adik dari Pak Adrian sedang menunggu bapak di bawah. Mereka ada di ruang tamu" ucap pelayan itu.


"Haduh..ada-ada aja. Ya sudah, saya turun sebentar lagi, kalau saya sudah keluar kamu langsung beresin kamar ini. Kamu pergi dulu sekarang..."


"Siap, Tuan. Saya pamit undur diri."


Adrian mengibas-ngibaskan tangannya menyuruh pelayan itu cepat pergi.



Source: Pinterest


Adrian melangkahkan kakinya menuruni anak tangga sembari memakai kaos hitam polos untuk menutupi body sixpack-nya. Sudah menjadi kebiasaan bagi Adrian untuk tidur tanpa menggunakan atasan. Alasannya karena dia merasa gerah dan tidak nyaman saja.


Apalagi saat dirinya kerap mengalami fase-fase mimpi buruk. Tubuhnya akan berkeringat dingin dan baju tidurnya menjadi basah. Mulai saat itu, dia tak pernah mengenakan atasan lagi saat tidur karena percuma saja.

__ADS_1


"Hello my boy...good morning!!" Alan menyapa putra sulungnya itu dengan senyuman ramah.


"Iya..Pah!" jawab Adrian malas. Dia masih dalam tahap mengumpulkan nyawa karena baru bangun tidur.


Adrian memeluk Papa Alan secara singkat, kemudian bergantian dengan Mama Diana serta keempat adiknya.


"Kok lemas begitu sih? Yang semangat dong.. semangat Minggu pagi.." Papa Alan menepuk kasar pundak Adrian.


"Adrian capek Pah...kemarin habis lembur. Tadi malam baru pulang jam 2 pagi.."


"Ya, ampun Kak..jangan terlalu diforsir. Sesekali break itu penting, istirahat atau liburan gitu!" seru Arga.


"Maunya juga istirahat, tapi kalian semua datang kesini.. jadinya aku batal tidur!" ketus Adrian yang mendudukkan diri di sofa.


Arga menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Hmm..pagi-pagi dah kena semprot! Pedes amat tuh mulut."


"Makanya..jangan mancing singa keluar kandang! Kena kan tuh! Hahaha" gelak tawa Fiona menggema di seluruh ruangan, diikuti dengan tawa renyah Arjuna dan Athena.


"Udah Arga, jangan digodain ah kakaknya!" Mama Diana memancarkan aura positif seperti biasanya. Senyum tulusnya sehangat mentari pagi. "Apa kabar sayang..kamu sehat-sehat aja kan? Kami semua kangen sama kamu, udah lama enggak pulang. Makanya kami datang kesini," tanya Diana pada Adrian.


"Adrian sehat mah...all is well."


"Mama kamu ini, saking enggak sabarnya ketemu kamu...semua orang di rumah sampai heboh dibangunin pagi-pagi. Jam 5 pagi udah diobrak mandi. Padahal belum tentu kan kamu ada di rumah...untungnya kamu udah pulang!" Papa Alan menimpali.


"Karena feeling seorang Mama itu kuat...tuh buktinya Adrian udah di rumah kan..feeling Mama ga pernah salah."


Adrian tersenyum tipis melihat perdebatan kedua orang tuanya itu di pagi hari.


"Nih sayang..Mama bawain banyak makanan buat kamu. Lumayan buat teman camilan kalau lagi kerja atau lembur.." Mama Diana mulai mengeluarkan makanan-makanan dari tas besar pamungkas-nya itu.


"Mah..Adrian kan jarang ada di rumah, enggak terlalu suka juga makan camilan beginian. Enggak perlu lah bawa sebanyak ini.."


Adrian adalah pria yang selalu menjaga pola makannya. Dia sangat ketat dan disiplin dalam menerapkan hidup sehat.


"Kalau enggak kemakan ya tinggal dibagi-bagi sama asisten atau karyawan kamu..kasih ke Ray kan bisa!!"


"Iya Mah.." Adrian mengalah. Dirinya tak mungkin menang kalau harus berdebat soal makanan.


Lagi-lagi weekend kali ini, waktu senggang Adrian akan dicurahkan untuk bercengkrama dengan keluarganya....

__ADS_1


__ADS_2